Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“LAUT YANG MENGENANG DUA BAYANGAN Fragmen IV — Dua Tubuh yang Saling Menghantui Malam di istana jatuh seperti kapak. Angin lembab membawa bau darah yang belum mengering dari sejarah. Di ruang sepi, dua sosok berdiri— bukan lagi Tuah dan Jebat, melainkan dua luka yang mencari siapa yang harus menanggung cacat zaman ini. Keris bergetar di tangan, tapi yang sebenarnya mereka tusuk adalah pertanyaan yang tak pernah dijawab: Apakah kesetiaan adalah memberi segala pada penguasa? Ataukah kesetiaan adalah membela manusia dari penguasanya? Setiap langkah pecah seperti bongkah es di dasar sumur. Setiap tatapan adalah cermin retak yang memantulkan dua takdir yang tak bisa berhenti mencintai dan mengkhianati dunia yang sama. Fragmen V — Rakyat: Bayang-Bayang yang Tak Pernah Ditanya Di luar istana, rakyat berkumpul seperti kabut— tak terlihat, tapi menentukan musim. Mereka mengasuh luka yang diwariskan dari kerajaan ke kerajaan, dari penjajah ke penjajah, dari pemimpin ke pemimpin yang semuanya mengaku penyelamat. Di pasar malam, seorang lelaki kehilangan anaknya karena jerat pajak yang terlalu tinggi. Di kampung nelayan, perempuan-perempuan menjerang air asin untuk mengelabui rasa lapar. Rakyat menonton duel Tuah–Jebat melalui kabar yang tak pasti: siapa bajingan? siapa pahlawan? siapa pembebas? Atau mungkin pertanyaannya salah: siapa yang sebenarnya memanfaatkan keduanya? siapa yang menciptakan perpecahan ini agar istana tetap aman dan rakyat tetap tiarap? Fragmen VI — Pertanyaan yang Diwariskan Layar-layar modern berkedip seperti kapal-kapal tua yang kembali dari perjalanan jauh. Kita hidup di antara penguasa yang tak takut pada rakyatnya, dan rakyat yang diajari untuk mencintai para penguasa lebih dari dirinya sendiri. Tuah hidup di kita setiap kali kita memilih diam atas ketidakadilan yang kita lihat. Jebat hidup di kita setiap kali kita berteriak tanpa memahami bagaimana suara kita dimanfaatkan. Dan laut— ah, laut itu masih memanggil, seakan berkata: “Anak-anakku, kalian bertengkar terlalu lama di atas geladak perahu yang sama. Kalian lupa bahwa badai datang tanpa memilih siapa yang setia dan siapa yang memberontak.” Kita berdiri di sini, saksi tanpa nama, penimbang tanpa mahkota: Di manakah manusia seharusnya berdiri— pada sumpah, atau pada nurani? Desember 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“Toch is geweld in mijn ervaring niet de uiting van wie werkelijk zijn, maar van de schending daarvan. Daarom is het zo belangrijk om onszelf te leren kennen. Wanneer onze basisbehoeften - liefde, erkenning, verbondenheid, zelfexpressie, zinvol leven en het gevoel echt te leven - niet worden bevredigd, als we er niet in slagen wat onze behoeften zijn, kunnen we allemaal gewelddadig worden.”