Quotessence
Home / Quotes / Quote by Nicole Fox

Quote by Nicole Fox

“I tell myself this doesn't mean anything. I tell myself what I told Nikolai: she's just my plaything. I'm in control. But my heartbeat is strumming a different song. And it sounds like a warning. It's saying ... You're fucked.”

Quote by Nicole Fox

Work

Midnight Purgatory

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Nicole Fox

Browse famous quotes and profile details for Nicole Fox. more

You May Also Like

“The concept of fourth-generation wars simply refers to the use of disinformation, funding subversive N.G.O.s, and spreading rumours as a method for warfare, broadening the concept of war to include non-military action. This endlessly elastic concept is a godsend for conspiracy theorists and provides endless justification for state repression.” Chapter “Genesis”, page 33”

“Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt. Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka. Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin”

“Saudara saudaraku yang kumuliakan, kita tak bisa berfatwa dengan buku buku, karena buku tak bisa dijadikan rujukan untuk mengalahkan fatwa para Imam terdahulu, bukanlah berarti kita tak boleh membaca buku, namun maksud saya bahwa buku yang ada zaman sekarang ini adalah pedoman paling lemah dibandingkan dengan fatwa-fatwa Imam Imam terdahulu, terlebih lagi apabila yang dijadikan rujukan untuk merubuhkan fatwa para imam adalah buku terjemahan.”

“Dengan segala kehebatannya dalam dunia keilmuan, tengoklah bagaimana sikap 'tahu diri' seorang al-Ghazali. Beliau tetap menempatkan dirinya di bawah mazhab Shafii dalam soal metodologi ushul fiqh. Beliau tidak merasa lebih hebat dari Shafii. Banyak ilmuan besar Islam tetap memelihara sikap adil dan beradab dalam mengkaji dan menyebarkan ilmu kepada masyarakat.”

“SUNYA RURI Dalam ruang yang menelan semua suara, sebelum gema sempat lahir, aku mendengarnya— batin suwung yang lebih lembut daripada embusan roh saat keluar dari ubun-ubun bayi yang baru lahir. Ia tidak datang sebagai ancaman, tidak pula sebagai pelipur, melainkan sebagai bayangan purba yang pernah berdiri di sampingku ketika aku belum sepenuhnya menjadi manusia. "Monggo pinarak..." bisiknya lirih, selembut abu dupa yang jatuh dari piringan gerabah. "Aja sumelang. Sepi ora bakal nglarani," "kejaba tumrap jiwa kang sinangkèr ing jeroning raga." Aku tidak menjawab, hanya berusaha memahami. Suwung tidak membutuhkan jawaban. Ia telah berada dalam nadiku sejak sebelum aku sadar aku punya tubuh. Lewat tatapannya yang tidak berkelopak, aku melihat ulang diriku sendiri seperti cuplikan upacara kematian kecil-kecilan: detik ketika harapan direbahkan, detik ketika aku membunuh sesuatu dalam diriku tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kuakhiri— nyeri atau ketidakpastian. "Ngertenono..." bisiknya lembut, seolah mencatat sesuatu pada lontar tak terlihat. "Sliramu nyepélékaké akalmu, padhahal kuwi mung bocah lugu sing kok kunci ing sanggar pamujan sing suwé ora kok buka— ngantemi gapura nganti tangané dadi pringga swara." Aku menelan kekosongan itu. Suwung memiringkan tubuhnya pelan, seakan menghirup aroma ketakutanku seperti kemenyan yang baru menyala. “Apa tresna mbingungake atimu?” suara itu menelusup lembut. "Sliramu takon jujuring liyan, déné awakmu dhéwé nganggo klambiné cidra kang wus dadi jubah ngebaki raga— nganti awakmu lali, ing ngendi mapané cahyaning pasuryan asli.” "Lan ing saben dina, kok ndhudhuki wewayangan, amung nedya nemu kulit garing tanpa isèn-isèn katresnan.” Kesunyian mengental. Ia menaruh telinganya di dadaku seakan mendengarkan gending yang patah ritmenya. “Payokna..." bisiknya lirih "Amarga ana swara anom ing jeroning kalbu kang tansah kok sédani déning karepmu dadi lumrah, arep tinampa ing bebrayan agung, lan kapéngin tan ngrépotaké sapa-sapa.” "Nanging, apa artiné tentrem, yèn saben napasmu mung gema saka kersané liyan? Bukakna lawang sanggar kasepèn, sawangen cahyané dhéwé ing jeroning pepeteng." Ia menutup mata. Sunyi Ruri menyetel dirinya pada frekuensi yang bahkan para leluhur pun tak berani sentuh. “Swara kuwi…” bisiknya hampir tak terdengar, "Kaya déné cempening mendha ing padhang, kang lumayu ing palataran laramu kang lawas." "Dheweke sesambat dudu amarga arep kinurban, nanging awit dheweke wis ngerteni: yèn sliramu tan nate bali kanggo nylametke." Tubuhku gemetar. Suwung tersenyum tipis, seperti retakan kecil pada batu padas. “Lara Ati..." ucapnya lirih. “Kuwi satunggaling sato alus. Dheweke tansah ngentèni. Dheweke tan lumaku menyang ngendi-ngendi. Dheweke lungguh— kaya déné aku— kanthi sabar nunggu wektu, nalika sliramu pungkasané wani mandheg anggènira lumayu.” Aku kaku seperti arca yang siap dipahat ulang. “Sliramu kepéngin dadi béda,” suara itu meluncur lembut, “nanging, kamulyan tan lair saka panulakan. Kamulyan tuwuh saka jeroning wantèr kang wani mbukak gapura dhiri kang njalari kalbunira gumeter.” Ia bergerak mendekat. Bisikannya menusuk pori-poriku: “Yèn sliramu kepéngin sirep saka swaraning cempe kang kebak sangsara kuwi..." "Sliramu kudu bali. Mulih menyang papan kang sinengker ing ngendi rare kuwi nemoni pati kaping sepisan.” Aku memejamkan mata. Dan saat itulah aku paham— kesunyian bukan lagi musuh, bukan lagi kehampaan yang mencekik, melainkan satu-satunya suara yang sanggup menampung semua jeritan. tanpa murka tanpa pamrih tanpa vonis hanya ikhlas. Desember 2025”

“Variasi Suluk Tambangraras Buku Kesembilan : Elizabeth D. Inandiak Inilah jantra sang Amongraga: sedhakep awe-awe. Serupa lintah yang lapar dan haus tenggelam dalam api samadi, pulut ngelangut dalam pertapaan, terbuai bunyi gending Ladrang Rarangis. Tembang lamat-lamat mengalun, batin lanjur tercebur dalam suara kidung Tri Kawula Gusana. Seperti getah memikat balam, mambang terbang ngawang uwung ke jantung pulung. Merangsek rubeda. Menjimak paksa ruda pari peksa Randa Sembada. Matak aji jaran goyang: memagut bibir, menggerayang pinggang, meremas sintal buah dada. Sungguh tiada beda watak manusia atau kera. Jati ketlusupan ruyung. Seratus lembing memburai usus menembus jantung. Merasuk mabuk di bantun kidung Catur Wanara Rukem. Gamelan sakti mengukir mimpi, memaksa turun dewi hapsari, melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu. Basah lidah menganak tuak. Sloki demi sloki menantang mati. Pada bunyi gong ke-12 kidung Sapta Kukila Wresa, melupa umur, mengulur timba sembarang sumur. Lupa japa segala mantra. Lupa jampi segala kendi. Di tempur Sungai Centhini muntah api segala farji. Rubuh segala tubuh. Muspra segala radi. Obah polah segala salah. Singkap segala wadi. Klenthing wadhah masin. Bergaung kidung Nawa Wagra Lupa, menjelmalah ia jadi ular sawah yang menelan mentah-mentah seratus gajah. Bumi berputar bagai gasingan. Bulan berjumpalitan seperti monyet kena tulup. Sepuluh liman gergasi terkapar mati digempur nafsu tiada terbendung. Tapi belum lagi usai kidung pamungkas, diteluhnya purusa lingga sang gandarwa hingga mengejang di sela-sela paha. Lembing mendesing menembus langit, telanjur kepayang menunggangi malam. Menyungsang batang pisang, memamah daun keladi. Mabuk berat menimba hasrat, hingga muncrat segala hayat. Maret 2011”

“Variasi Suluk: Suara yang Tersesat dalam Tubuh Ada suara lama yang memanggilmu. Bukan tembang, bukan kidung, melainkan gema yang kehilangan asal-usulnya, mengambang di udara seperti serpihan mimpi yang tak pernah selesai ditidurkan. Kau mencoba menjadikannya doa. Tapi setiap doa adalah luka yang belum sembuh; ia menetes di antara sela-sela tulang, merembes perlahan ke sumur gelap yang kau gali selama bertahun-tahun. Tubuhmu, yang dulu kau banggakan sebagai altar, kini tinggal reruntuhan yang memantulkan kembali semua hasrat yang kau kira telah kau jinakkan. Ia berdengung pelan, seperti mesin tua yang dipaksa hidup di tengah badai yang tak memilih korban. Kau menyebutnya laku. Padahal lebih tepat disebut pelarian. Segala mantra yang kau pacu ke langit jatuh kembali ke wajahmu, meninggalkan jelaga tipis yang tak pernah sempat kau bersihkan. Ada malam-malam ketika engkau merasa disentuh sesuatu yang lebih tua dari dirimu sendiri. Bukan dewa, bukan malaikat, hanya bayang yang ingin menumpang tidur di tubuh yang kau biarkan terbuka. Setiap keinginan meninggalkan lubang baru. Setiap lubang menuntut satu lagi bagian dari dirimu. Begitu seterusnya, hingga kau tak tahu lagi mana yang lebih dalam: hasratmu, atau kehampaan yang memanggilmu pulang. Ada denting jauh— suara yang mengingatkanmu betapa kecilnya engkau di hadapan gelap yang terus tumbuh. Gelap itu tidak mengancam. Ia hanya menunggu. Seperti seseorang yang tahu bahwa semua jalan, pada akhirnya, akan kembali kepadanya. Kau pernah mengejar ekstase seperti mengejar cahaya yang jatuh dari langit. Kini engkau tahu: setiap cahaya menyisakan abu, dan abunya menempel di napasmu sepanjang malam. Ritual gagal. Bukan karena kurangnya mantra, melainkan karena tubuh tak lagi percaya pada apa pun selain retakan. Engkau mencoba melupakan, tapi bahkan lupa pun memiliki caranya sendiri untuk mengingat. Ia mengintai dari balik kelopak mata, menunggu kau lengah agar bisa merayap masuk dan menduduki detak jantungmu. Pada akhirnya, semua suara yang kau puja kembali padamu— bukan sebagai wahyu, melainkan sebagai sunyi yang tak bisa kaubunuh. Sunyi itu berdiri di ambang pintu, mengangkat wajahnya perlahan, dan kau melihat dirimu sendiri di dalam retakannya. Tidak ada ekstase. Tidak ada penebusan. Hanya tubuh yang menua di hadapan gelap. Dan gelap yang sabar menunggu kau berhenti melawan. Desember 2025.”