Quotessence
Home / Quotes / Quote by Gift Gugu Mona

Quote by Gift Gugu Mona

Work

The Gift of Thanksgiving

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Gift Gugu Mona

Browse famous quotes and profile details for Gift Gugu Mona. more

You May Also Like

“kita menjadi kabilah yang diburu dan dijadikan penjahat seperti kaum Musa as oleh agama yang kita pegang dan junjung dengan percaya dijadikan syariat dan jalan kebenaran; cahaya dan penyuluh sedang mereka dengan keangkuhan dan kesombongan Firaun menjulang pedang tajam kebebasan serta tombak kenihilan untuk merobek agama dan kebenaran Tuhan yang kita miliki atas nama hak asasi manusia, kesamarataan dan kebebasan berfikir maka al-Quran mereka jadikan buku dari tangan manusia yang boleh ditafsir akal sesuka hati dan dimaknakan semahunya suara-suara mereka lagi mengatakan bahawa nabi-nabi hanya mitos yang dicipta oleh agama - maksum itu hanya dongeng dan Islam adalah nama yang diberikan warna penuh kelabu untuk dilihat dengan penuh sinis dan prasangka gelap. (Perjalanan 2)”

“Protokol Keberadaan // (Dekonstruksi: Sartre · Camus · Derrida) Di ruang tanpa tripod penyangga— aku berdiri sendirian, kata-kata bergetar. Kebebasan? kata itu berdaki pada bibirku seperti tinta lama yang telah mengering. Kudeklarasikan: aku memilih— lalu sistem membaca ulang pilihanku, menemukan trace yang tak pernah kuketik: jejak-jejak luka, différance yang tersisa. Camus menaruh batu di pangkuanku; aku menolak mengangkatnya. Ia bilang: lakukan pemberontakan, hidup menuntut upaya menanggung absurditas. Aku bertanya: siapa yang menulis perintah itu dalam log jam; apakah log memberi status: sah atau hanya pesan error yang terulang? Sartre berbisik: kau adalah keputusan; kau bukan takdir. Tapi siapa yang menyetujui keputusan itu ketika kata 'aku' sendiri adalah naskah yang dapat dipanggil ulang, dikopi, di-paste ke tubuh lain? Kebebasan itu jadi modul: terinstal, terhapus, di-restore oleh cinta dan kerinduan. Derrida tersenyum dalam bayangannya—bukan menghina, melainkan menyodorkan sebilah pisau: “Bongkar premisnya. Baca ulang tanda-tanda. Perhatikan sisipan yang kau anggap pasti.” Sekali kuteruskan kata “hak”, ia menjadi pantulan: hak untuk memilih 》 hak yang dimaknai 》 hak yang dibaca ulang. Selalu ada kemungkinan lain di balik tiap premis—sebuah residu yang tak bisa dimusnahkan. Jadi aku menulis dengan alfabet yang tak terikat: kata seperti partikel, seperti byte; mereka bergerak, meninggalkan jejak, membentuk makna bukan sebagai titik, tapi sebagai radiasi—gelombang yang menunda kehadiran. Aku menunggu diferensiasi itu: makna yang datang telat, menunda, menggoda, melepaskan diri. Ketika aku menolak keabadian—aku merdeka; ketika aku menuntut makna—aku terjerat. Absurd bukanlah lubang kecil; ia adalah kondisi komputasi yang terus-menerus crash. Kita reboot, kita mencari error log, kita menambal dengan mitos, doa, slogan, retorika— lalu satu baris kode lagi menghapus semuanya, meninggalkan prompt: > Siapa kamu? Maka puisi bukanlah jawaban—ia adalah protokol: baca—hapus—tunda—ulang. Dalam ritme itu aku menemukan sebuah rahmat sirkuler: kebebasan yang diakui sebagai kebebasan untuk tetap ragu atau selamanya ambigu. Aku menapaki ruang antara kata dan bisikan. Di sana, warna hitam bukan nihil; ia adalah pagar yang memaksa pandang. Di sana, doa bukanlah mukjizat; ia menjadi setitik delay yang menyelamatkan kita dari aksi. Di sana, aku mengakui: aku mungkin hanya efek samping dari keputusan yang belum kumengerti. Tapi ada pula sesuatu yang tak bisa di-deconstruct: getar tak terbaca di dada, ketika aku memilih untuk menanggung, bukan hanya berargumen tentang siapa yang harus menanggung. Ada keberanian yang tidak perlu diideologikan—hanya dipraktikkan: memilih lagi, meski tahu teks bisa berubah rupa di saat kita membacanya. Di ujungnya, kita tidak akan menemukan definisi yang bertahan seutuhnya; kita menemukan sebuah kebiasaan: berani membuka kata, menunggu trace, mendengar gema. Itu bukan absurd semata; itu adalah ritual perulangan yang membawa kita pada perjumpaan— bukan dengan kebenaran yang tunggal, melainkan dengan kebenaran yang berkorelasi: kebenaran yang bersedia menjadi ruang tunggu tempat bertemu, bukan batu yang membebani. Jadi datanglah, pilih: tetap berpegang pada batu yang membuatmu runtuh, atau berdiri di ambang uraian, tempat kata-kata menjadi medan peperangan, dan kebebasan adalah aktivitas terus-menerus— sebuah kerja pikiran, bukan klaim monumental. Di sana, antara deklarasi dan keraguan, kita mendirikan puisi ini: sebuah protokol kecil untuk hidup yang tidak puas dengan kepastian, sebuah doa yang bisa di-debug, namun tak pernah sepenuhnya dapat dimusnahkan. November 2025”