“LAUT YANG MENGENANG DUA BAYANGAN Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan Laut membuka kelopaknya pelan, seperti ibu tua yang tak pernah berhenti menyebut nama kedua anaknya yang tak kunjung pulang. Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu mengiris fajar tipis— di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab, berdiri seperti kitab-kitab raksasa yang menuliskan nasib manusia. Gelombang itu tahu: sebelum Tuah lahir dari sumpah dan Jebat dari luka, ada nadi besar yang tak berhenti memanggil— nadi yang tak tunduk pada raja mana pun, nadi yang menyimpan seluruh rahasia tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat: manusia, atau rasa takutnya sendiri. Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah. Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa, menyilang di udara: serak, cepat, waspada— setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa. Di pasar ikan yang licin, tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang dari sejarah yang tak ingin dilupakan. Bocah-bocah menjerit di antara karung lada, dan seorang perempuan tua menawar kain sutra dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan. Di balik hiruk pikuk itu, para syahbandar mencatat angka-angka yang tak pernah memihak rakyat. Pelayaran besar sedang berlangsung: rempah bergerak, emas bergerak, manusia menggerak dan digerakkan. Dari tepi dermaga, Tuah kecil dan Jebat kecil memandang kapal-kapal tak dikenal, merekam napas pertama mereka kepada dunia. Fragmen III — Istana: Takut yang Menjadi Hukum Dinding istana berlantai marmer dingin menggemakan bisik-bisik yang lebih tajam dari keris. Para bendahara menggeser angka, para pembesar menggeser kesetiaan, para tabib menggeser kebenaran. Raja duduk seperti bayang-bayang yang ketakutannya menjelma jadi ritual harian. Setiap mata tertunduk— bukan hormat, melainkan ketakutan agar tidak ikut ditarik ke liang intrik. Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai, dan keadilan hanyalah pantulan cahaya dari lampu minyak yang hampir padam. Tuah tumbuh di bawah atap ini— belajar bahwa setia bisa berarti bisu, bahwa patuh bisa berarti sekarat. Sementara Jebat, di lorong lain, belajar bahwa diam adalah dosa yang diperintahkan oleh para penguasa untuk melanggengkan ketidakadilan.”
Quote by Titon Rahmawan
Author
You May Also Like
Source: Exploring the Explosive Power of Big Dreams
Source: Hm
Source: Drie vroue en ’n meisie
Source: Gehen, ging, gegangen
Source: Vrede kun je leren
Source: Vrede kun je leren