Quotessence
Home / Quotes / Quote by David Gray

Quote by David Gray

“Götter sind Voyeure, keine Bediensteten. Und was sie antreibt ist aller höchstens Neugier, nicht Mitgefühl.”

Quote by David Gray

Author

David Gray
David Gray

David Gray is a British singer-songwriter known for his emotional voice and unique musical style. Born on June 13, 1968, he has been active in the music industry since the early 1990s. Gray's music blends folk, rock, and pop elements, enjoying popularity among fans worldwide. more

You May Also Like

“Kein Toter nützt seinem Vaterland, und die Menschen fallen bestenfalls für ldeen, die sie nicht begreifen und deren Konsequenz sie nicht übersehen. Die geschundenen Krieger auf den Schlachtfeldern, die geplagten Völker waren die Opfer zänkischer, überaus eigensinniger, rechthaberischer und gänzlich unfähiger Denker, die in ihrem verdrehten armen Kopf keine Klarheit schaffen konnten und die sich außerdem gegenseitig nicht verstanden und nicht ausstanden.”

“Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) I. Bisikan Kematian Ia mendengkur dalam rupa awan kelam Malaikat Azrael turun membisikkan litani terakhirnya sayap hitam yang rontok seperti bulu-bulu burung Icarus ketika lilin ambisi mulai menguap di ketinggian. Detak nadi yang nyaris tak teraba lagi. Tatap mata pastor muda memberi sakramen perminyakan, wajahnya mengingatkan pada Padre Amaro yang memandang dosa dan kepolosan sebagai dua sisi pisau yang sama-sama memotong urat nadi. Gumam doa terdengar seperti elegi yang menangis, serupa lantunan “Lacrimosa” dari komposisi Requiem D Minor di gereja reruntuhan pasca perang. Hunjaman paku di kepala, penderitaan seperti hujan Ingmar Bergman di The Seventh Seal— di mana kematian duduk bermain catur di atas batu nisan yang dingin. Tanah basah tergenang lumpur pekat, tarian brutal menyeretnya ke ingatan masa muda— seakan ia adalah Nina, angsa hitam nan cantik dan kejam itu yang tubuhnya menolak tunduk dan menjadi musuh paling setia. Ia berdiri di perbatasan: sungai keruh yang bergolak dan tebing yang runtuh perlahan seperti ambang psike pasien Freud yang kesurupan yang memikul trauma masa kecil tak pernah diucapkan. Seekor domba jatuh terbawa arus, penanda takdir seperti dalam kitab Kejadian— ia anak yang dikorbankan, tetapi tak ada malaikat yang menahan pisau di tangan Abraham. Suara dengkuran itu: apakah itu suara hewan teraniaya? atau luka masa kecil yang meminta dilepaskan? Perjalanan dari ladang kumuh pegunungan, mengais mimpi di jalan becek menuju stasiun kota. Dengkuran itu kini terdengar seperti jeritan peluit kereta ala Kill Bill, penanda pelarian yang tak pernah berakhir. Pohon pinus berkejar-kejaran di balik jendela kereta; bayangan sayap kelam membuntuti, serupa Dementor dalam mimpi Harry Potter, penyedot debu sukacita yang hidup dari sampah ketakutan. Desah sayup-sayup terdengar, gelas pecah berkeping, hujan menuruni jembatan— semuanya tereduksi seperti adegan Tarkovsky yang memantulkan kenangan setengah-mati. Hujan yang sama selalu membawa rumah dalam ingatan: rumah yang menggigil oleh detak nadi sendiri. Dengkuran itu menggetarkan bingkai foto di dinding, membangkitkan masa lalu dalam rasa sakit yang tak kunjung pergi— seperti jiwa tokoh-tokoh Dostoyevsky yang bergentayangan, kembali pada lukanya sendiri. Agustus 2026”

“Sang Penari— (Intertextual Reconstruction) I. Bisikan Kematian Ia mendengkur dalam rupa awan kelam Malaikat Azrael turun membisikkan litani terakhirnya sayap hitam yang rontok seperti bulu-bulu burung Icarus ketika lilin ambisi mulai menguap di ketinggian. Detak nadi yang nyaris tak teraba lagi. Tatap mata pastor muda memberi sakramen perminyakan, wajahnya mengingatkan pada Padre Amaro yang memandang dosa dan kepolosan sebagai dua sisi pisau yang sama-sama memotong urat nadi. Gumam doa terdengar seperti elegi yang menangis, serupa lantunan “Lacrimosa” dari komposisi Requiem D Minor di gereja reruntuhan pasca perang. Hunjaman paku di kepala, penderitaan seperti hujan Ingmar Bergman di The Seventh Seal— di mana kematian duduk bermain catur di atas batu nisan yang dingin. Tanah basah tergenang lumpur pekat, tarian brutal menyeretnya ke ingatan masa muda— seakan ia adalah Nina, angsa hitam nan cantik dan kejam itu yang tubuhnya menolak tunduk dan menjadi musuh paling setia. Ia berdiri di perbatasan: sungai keruh yang bergolak dan tebing yang runtuh perlahan seperti ambang psike pasien Freud yang kesurupan yang memikul trauma masa kecil tak pernah diucapkan. Seekor domba jatuh terbawa arus, penanda takdir seperti dalam kitab Kejadian— ia anak yang dikorbankan, tetapi tak ada malaikat yang menahan pisau di tangan Abraham. Suara dengkuran itu: apakah itu suara hewan teraniaya? atau luka masa kecil yang meminta dilepaskan? Perjalanan dari ladang kumuh pegunungan, mengais mimpi di jalan becek menuju stasiun kota. Dengkuran itu kini terdengar seperti jeritan peluit kereta ala Kill Bill, penanda pelarian yang tak pernah berakhir. Pohon pinus berkejar-kejaran di balik jendela kereta; bayangan sayap kelam membuntuti, serupa Dementor dalam mimpi Harry Potter, penyedot debu sukacita yang hidup dari sampah ketakutan. Desah sayup-sayup terdengar, gelas pecah berkeping, hujan menuruni jembatan— semuanya tereduksi seperti adegan Tarkovsky yang memantulkan kenangan setengah-mati. Hujan yang sama selalu membawa rumah dalam ingatan: rumah yang menggigil oleh detak nadi sendiri. Dengkuran itu menggetarkan bingkai foto di dinding, membangkitkan masa lalu dalam rasa sakit yang tak kunjung pergi— seperti jiwa tokoh-tokoh Dostoyevsky yang bergentayangan, kembali pada lukanya sendiri. Agustus 2025”

“That the nobility of Man, acquired in a hundred centuries of trial and error, lay in making himself the conquerer of matter, and that I had enrolled in chemistry because I wanted to maintain faithful to that nobility. That conquering matter is to understand it, and understanding matter is necessary to understanding the universe and ourselves: and that therefore Mendeleev’s Periodic Table, which just during those weeks we were laboriously learning to unravel, was poetry, loftier and more solemn than all the poetry we had swallowed doen in liceo; and come to think of it, it even rhymed! … [T]he chemistry and physics on which we fed, besides being in themselves nourishments vital in themselves, were the antidotes to Fascism … because they were clear and distinct and verifiable at every step, and not a tissue of lies and emptiness like the radio and newspapers.”