Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“Membayangkan Surga Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay? Serupa senja yang tumbuh dari sebatang pohon di sebuah tempat yang kau bayangkan seperti surga. Cahaya lampu itu menyapu wajahmu dengan warna lembayung dan berkilau seperti pelangi. Tapi tak ada apa pun kutemukan pada seri wajahmu selain nafsu yang tertahan dan seulas senyum kemesuman. Tepat di puncak penantian dari segala perhatian yang tertuju pada dirimu. Mata yang tak pernah menyadari tersesat dalam raga belia yang entah milik siapa. Aura kemudaan yang berasa sia-sia. Telah kau reguk semua kebahagiaan dari ekspresi wajah tolol yang ditunggangi oleh nafsu alter egonya. Atau barangkali, telah habis kau hirup wangi kelopak mawar hitam yang tumbuh di ranjangmu setiap pagi. Sudah lama sekali rasanya waktu berlalu. Seperti ketika, kau masih suka nongkrong di cafe sambil meneguk cappucino dari cangkir porselen yang perlahan mulai retak. Sementara laju usia mengalir di tenggorakanmu yang bening bagai pualam. Waktu meninggalkan jejak buta di dalam handphonemu. Menyisakan tatap mata orang yang tak lagi mampu menafsirkan apa yang telah engkau lakukan. Bukankah, mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang? Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat dua puluh tahun. Siapa mendamba merah muda anggur kirmizi yang tumbuh di dadamu? Tak satu pun telinga sanggup melawan sihir dari gelak tawamu yang getir. Mata bodoh yang tak sanggup melupakan bayangan pisang matang kau kunyah dengan brutal sebagai kudapan di tengah jeda pertunjukan. Hidup tak seperti kecipak ikan di dalam aquarium transparan tertanam di dinding. Air kolam di pekarangan menjelma jadi bayangan jemari tak henti menggapai. Gelembung kekhawatiran yang tak sanggup memahami makna puisi yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu. Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya. Di sana tak ada sungai keabadian atau pangeran tampan yang menunggu kehadiranmu dengan kerinduan. Yang ada cuma kelebat kilat dan hujan airmata hitam. Mengucur seperti lendir laknat yang mengalir dari hidungmu saat kau meradang karena influensa. Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay. Hanya sedikit tersisa cerita yang busuk dan menjijikkan sebagai satu-satunya obrolan untuk perintang waktu. 2024 - 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“The pain I feel from the razor blade doesn’t even come close to what I’m feeling inside so it’s useless because the equation is messed up: because razor blade pain should be equal to or greater than the heartache, that’s just CUTTING 101. And if it’s not—well you’re fucked, my friend. It was nice knowing you, but you know what time it is? It’s time to let to let the darkness in. Quid pro quo and all that. It’s time to find something more agonizing than the touch of the blade.”

“It is necessary to choose: if you wish to be an empiricist, you must abandon the hope of founding scientific knowledge on a solid and certain basis; if you wish to have a solidly established science, you must place it under the protection of the idea of Necessity and, in addition, recognize this idea as primordial, original, having no beginning and consequently no end - that is to say, you must endow it with the superiorities and qualities that men generally accord to the S”

“Every perfume is made of top, middle, and base notes. Top notes are light, middle notes last longer, base notes last longest. A good perfume has all three, but they have to be in the proper proportions." The sentences washed over me in a wave of technicalities, but I could feel what she was talking about. It had happened with every scent-paper I'd smelled, the fragrance shifting, telling a story that deepened even as it disappeared. Even nature was that way, if you thought about it- the bright green of the trees giving way to the dark and complicated dirt beneath, the ocean holding the scent of death under all that life.”