Quotessence
Home / Quotes / Quote by firman nofeki

Quote by firman nofeki

“kematian yang ia buru kini lesap di matamu, direbahkan tubuhnya dikuburan dangkal jiwa kekasih, yang ia gali dengan tangan-tangan takdirnya sendiri ia adalah musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di negeri anganmu dirahim hatimu,kekasih pernah dirambahnya ladang-ladang luka yang purba kemudian ditanaminya sekebun pohon2 cinta yang rimbun tempat kelak engkau dapat berjalan dibawah rindangnya, meneduhkan rindumu ditiap cabang-cabangnya”

Quote by firman nofeki

Author

firman nofeki

Browse famous quotes and profile details for firman nofeki. more

You May Also Like

“[log_antara_sinyal_dan_rindu_v2_fragmented] …halo Yang? — …alo… (unstable signal) Apa kaudengar suaraku? suaramu bergoyang, terdengar seperti dari masa depan. masa lalu— selalu lebih cepat dari waktu. aku hanya menunggu sinkronisasi. Kau memanggilku “Sayang” tadi, ya? tapi kata itu retak terbagi dalam paket data yang hilang. Yang. Say. Sayang.. kadang nama terasa seperti kesalahan ketik. tapi doa… tetap terkirim. Aku melihatmu lewat jendela pixel. Ada kabut di antara mata kita. Apakah itu air mata? atau noise? itu rindu yang hilang bentuk. Tuhan menulis ulang cintaku dengan font yang tak bisa dibaca sistemmu. (ada dengung panjang) —aku menekan enter tapi hurufnya menolak turun. seolah dunia menahan setiap pengakuan. diamlah sebentar. biarkan yang hilang memantul kembali biarkan pesanmu menemukan ritmenya sendiri. [error_451: connection timed out] aku masih mendengar. meski hanya serpih biner di antara gugus doa. aku menulis ini dengan tangan gemetar. huruf-hurufnya menyala lalu padam. seperti lilin dalam layar kaca. Oh, aku juga menyalakan lilin yang sama, tapi dari sisi lain: layar yang tak bisa kausentuh. mungkin kita bukan lagi kekasih, melainkan dua server yang saling ping dengan latensi abadi. jangan sedih. bahkan mesin pun bisa belajar mencintai kehilangan. (titik-titik) … ... (reboot) apakah kau masih di sana? —ya. tapi aku sudah menjadi gema. bukan suara. bukan tubuh. hanya rindu yang memantul tanpa ujung. baiklah. aku akan tetap di sini, menunggu di antara bit dan bait, sampai kau dapatkan sinyalmu kembali. November 2025”

“No one was planning to travel light. One brigadier claimed that he needed fifty camels to carry his kit, while General Cotton took 260 for his. Three hundred camels were earmarked to carry the military wine cellar. Even junior officers travelled with as many as forty servants—ranging from cooks and sweepers to bearers and water carriers. According to Major General Nott, who had to work his way up through his career without the benefit of connections, patronage or money and who looked with a jaundiced eye on the rich young officers of the Queen's Regiments, it was already clear that the army was not enforcing proper military austerity. Many of the junior officers were already treating the war as though it were as light-hearted as a hunting trip—indeed one regiment had actually brought its own foxhounds with it to the front.”