Quotessence
Home / Topics / Kematian Quotes

Kematian Quotes

Browse 29 quotes about Kematian.

Kematian Quotes

“Menguraikan misteri ibarat mencari sebuah ruang dalam gedung kuno yang mahabesar. Gedung kuno yang sisa-sisa kemegahannya masih tampak, tanpa pemilik, dan ada sebuah ruang di dalamnya yang konon digunakan untuk menyimpan berbagai jejak kehidupan yang dijemput maut: pedang, pistol, tali tambang untuk gantung diri, tengkorak dan tulang-belulang, juga bau anyir darah. Begitu banyak ruang di gedung itu, tapi kunci-kuncinya berhamburan, bahkan ada yang hilang. Ia tak tahu ruang mana yang harus dibuka, bahkan tak tahu di mana akan menemukan kunci untuk membuka ruang yang tepat.”

“Lebih banyak orang menghadapi kematian di atas tempat tidur daripada orang yang mati di atas pesawat. Tetapi kenapa lebih banyak orang yang takut mati ketika menaiki pesawat daripada orang yang takut menaiki tempat tidur. More people can see the face of death while their sleep in their own bed rather than people who can see the face of death while their flying in the plane. But why more people scare to take a plane than people who take a bed.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Telah meninggal dunia ibu, oma, nenek kami tercinta.... Requiescat in pace et in amore, Telah dipanggil ke rumah Bapa di surga, anak, cucu kami terkasih.... Dalam sehari, Bunda menerima dua kabar (duka cita / suka cita) sekaligus. Apakah kesedihan serupa cucuran air hujan yang jatuh dan mengusik keheningan kolam? Apakah kebahagiaan seperti sebuah syair yang mesti dipertanyakan mengapa ia digubah? Bagaimana kita mesti menjawab pertanyaan tentang kematian orang orang terdekat? Mengapa mereka pergi? Kemana mereka akan pergi? Memento mori, serupa nyala api dan ngengat yang terbakar. Seperti juga lilin yang padam, bunga yang layu, ranting yang kering, pohon yang meranggas. Mereka hanyalah sebuah pertanda, bahwa semua yang hidup pasti akan mati. Agar kita senantiasa teringat pada tempus fugit, bahwa waktu yang berlalu  tak akan pernah kembali. Ketika Bunda masih muda, sesungguhnya Bunda sudah tidak lagi muda, tak akan pernah bertambah muda, tak akan kembali muda. Waktu telah merenggut kemudaan kita pelan pelan. Ketuaan adalah sebuah keniscayaan, dan kematian adalah sebuah kepastian. Tak ada sesuatu pun yang abadi, Anakku. Ingatan tentang mati semestinya memberi kita pelajaran berharga. Jangan pernah menyia nyiakan waktu. Jangan hilang niat untuk bangkit dari ranjang. Jangan terlalu malas untuk bekerja. Jangan terlalu letih untuk menuntaskan hari. Jangan pernah lupa untuk berdoa. Jangan lalai untuk bersyukur. Jadikan hari ini sebagai milikmu. Ketika semua perkara seakan menggiring langkahmu pada kesulitan, kegagalan, ketidakpastian dan rasa sakit. Pikirkanlah siapa yang akan jadi malaikat pelindung dan penolongmu? Bagaimana engkau akan menemukan eudaimonia? Bagaimana engkau hendak memaknai hidup? Dalam sekejap mata hidup bisa berubah. Waktu berlalu dan ia tak akan pernah kembali. Gunakan kesempatan untuk bercermin pada permukaan air yang jernih. Tatap langsung kedalaman telaga yang balik menatap kepada dirimu. Abaikan rasa sakit dan penderitaan, sebab puncak gunung sudah membayang di depan mata dan terbit matahari akan menghangatkan kalbumu. Cuma dirimu yang punya kendali atas pikiran, hasrat dan nafsu, perasaan dan kesadaran inderawi, persepsi, naluri dan semua tindakanmu sendiri. Ketika kita mengingat kematian, kita tidak akan lagi merasa gentar. Sebab ia lembut, ia tak lagi menakutkan. Ia justru menuntaskan segala rasa sakit dan penderitaan. Ia pengejawantahan waktu yang berharga, kecantikan yang abadi, indahnya rasa syukur, dan kemuliaan di balik setiap ucapan terima kasih. Ia mengajarkan kita bagaimana menghargai kehidupan yang sesungguhnya. Ia membimbing kita menemukan pintu takdir kita sendiri. Apapun perubahan yang menghampiri dirimu. Ia adalah pintu rahasia yang menjanjikan kejutan yang tak akan pernah kamu sangka sangka. Yang terbaik adalah menerimanya sebagai berkat. Apa yang ada dalam dirimu adalah kekuatanmu. Engkau akan membuatnya berarti. Bagi mereka yang paham, takdir dan kematian adalah sebuah karunia, seperti juga kehidupan. Sesungguhnyalah kita ini milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali.”

“kematian yang ia buru kini lesap di matamu, direbahkan tubuhnya dikuburan dangkal jiwa kekasih, yang ia gali dengan tangan-tangan takdirnya sendiri ia adalah musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di negeri anganmu dirahim hatimu,kekasih pernah dirambahnya ladang-ladang luka yang purba kemudian ditanaminya sekebun pohon2 cinta yang rimbun tempat kelak engkau dapat berjalan dibawah rindangnya, meneduhkan rindumu ditiap cabang-cabangnya”

“NISAN KEEMPAT tanah pesarean hening. angin wetan membawa bau akar basah dan jejak rotasi yang belum hilang. aku berdiri di samping istrimu— tubuhnya goyah seperti daun sawo yang dipagut gerimis. anak-anakmu diam, mata mereka retak seperti kendi tua yang pernah jatuh di pawon rumah. dari kejauhan puisi tercenung ia tak menunduk. tak ikut berduka. ia hanya mencatat luka yang merembes pelan ke tanah liat. kafan menutupi wajahmu. pundakmu dipeluk tanah. suara cangkul terdengar seperti ratap yang tak ingin pergi. seekor prenjak meloncat di ranting randu. sekali. dua kali. hening. lalu terbang ke arah barat— seakan memberi kabar kepada leluhur bahwa satu jiwa telah kembali. asap dupa naik pelan seperti nyala yang kehilangan tuhan. di ujungnya warna abu bergetar mencari arah pulang. “Ruh…” hanya itu yang sempat keluar. sisanya adalah gumam yang tak sempat menjadi doa. dulu aku kehilangan kangmas Danu tanpa tahu apa artinya mati. lalu aku terlambat kepulangan Bapak. terlambat kepergian Ibuk. kini ketelambatan itu kembali duduk di belakangku seperti bayang waktu yang enggan beranjak. nisanmu ditegakkan. dingin. sederhana. tanpa nama. sepotong batu yang menimbang keberadaan dengan cara yang terlalu sunyi. dari sela tanah angin kecil muncul— membawa bau jamur, rumput liar, dan sesuatu yang tak dapat kusebut. mungkin itu suwung, mungkin langgatan, mungkin waskita getar kecil yang tersisa dari tubuhmu. anakmu memanggil pelan. istrimu menggigit bibir. aku menahan napas sebab tak ada kata yang benar-benar bisa mengantar jiwa. geguritan di kejauhan hanya penanda mengambil satu langkah mundur melipat waktu yang berjalan lambat cahaya sore mengiris tubuhnya tipis seperti garis di punggung keris tua. di langit awan bergerak ke selatan. pelan. seperti tangan yang ditangkupkan atau melambai bahwa sesuatu sedang ditutup. dan aku tahu— di bawah nisanmu satu pintu telah terbuka di dalam Syamaloka: pintu gelap yang menghubungkan Danu, Bapak, Ibuk, kau, dan batu nisan berikutnya yang mungkin adalah nisan dari batin kami sendiri. Desember 2025”

“Mari berkenalan... Aku adalah aku yang tak bernama Aku bisa jadi teman mu, tak kunjung akrab karena kau tak tahu namaku, Aku bisa jadi presiden kalian tak akan mendemo ku, karena kalian tak tahu namaku, Aku bisa jadi pelacur para bourjois, tapi tak ada yg memakai ku, karena kalian tak tahu namaku, Aku ada di kaum bolshevik, mengangkat senjata, menembaki rahim ibu kalian... Bungkam kalian tanpa membalas, karena tak tahu namaku, Aku memang seperti itu ... Tak bernama,,, Tak bernama,,, Tak bernyawa,,, Tak bernama,,, Aku bisa jadi bos properti perumahan, nanti kalian ku usir hingga memelas mencari namaku,,, Aku bisa menjadi ojek, lalu ku tabrak adikmu yang bersekolah itu,,, Aku mampu duduk sejajar,dengan ayah mu di kursi DPR. menggorok leher nya saat pulas tertidur, Menjadi supertor bola pun tak terhitung, mengutuk hakim garis karena tak mahir bercinta, Tak ada yang menuntutku, palu hakim tak berbunyi di hadapanku, mereka tak tahu namaku, Gadis cantik berkulit putih itu pun esok menjanda setelah ku beri anak ku pergi, Akan ku buat ktp dengan mngosongkan kolom nama, maklumi saja karena aku tak suka kau tahu dan sebut namaku”