Quotessence
Home / Quotes / Quote by Titon Rahmawan

Quote by Titon Rahmawan

“CHARLIE IV (PARODY OF THE GREAT MACHINE) Di layar yang nyaris beku, Charlie muncul kembali— sebagai boneka kayu tersesat di antara deretan server yang mendengus seperti kawanan sapi menunggu disembelih. Ia menari, di atas platform data center. Dalam himpitan dingin yang lebih biadab dari salju Siberia. Langkah serupa bunyi retakan kecil— bisikan samar, seperti suara nadi manusia mencoba mengingat bahwa ia dulu pernah bernyawa. Di sebelahnya, mesin-mesin memandang gerak tubuh dengan mata merah yang seolah marah; mereka tidak tertawa, tidak menangis, tidak peduli apakah Charlie hendak menyeberang jurang atau sekadar mencari sisa makna dari hidupnya. Ia mengangkat tongkat. Mesin menganggap itu sebagai perintah. Seluruh kota listrik bergetar. Lampu-lampu kejang seperti iman sekarat dan nyaris mati. Matahari yang kehilangan alasan untuk bangun besok pagi. Charlie terguling ke tanah, menertawakan tubuhnya sendiri yang rapuh, dan untuk pertama kali ia tampak seperti orang yang benar-benar mengerti bahwa tragedi terbesar manusia bukanlah penderitaan— melainkan ketika rasa sakit kita diabaikan oleh entitas yang tidak mampu membedakan manusia dari kucing digital yang gagal di-render. Dan dalam gelap itu, ia menangis sejadi-jadinya dalam mulut yang tetap membisu: “Beginilah kiranya bila dunia menyerahkan martabatnya kepada mesin yang tak bisa merasa takut.” Lalu ia menghilang, seperti tab yang ditutup tanpa sengaja. November 2025”

Quote by Titon Rahmawan

Author

Titon Rahmawan

Browse famous quotes and profile details for Titon Rahmawan. more

You May Also Like

“CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025”

“Kau terhenti. Tergagu kau bertanya. Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku. “Siapa… kamu?” Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis. Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap. Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu. “Untuk apa?” Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma. Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu. Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin. Kau kembali berjalan. Aku kembali diam. Kita tak lagi berbincang. Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu. Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi. Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah. Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku. Sebab bagimu aku selalu ada.”

“Only with her - PART I Dealing with estranged feelings and the heart’s missing heart beats, Feels like a world that its horizon never meets, It maybe what one experiences in the moment of continuous disbelief, Because without her the mind finds no solace and the heart fails to play the symphonies of relief, As the estrangement grows and the feeling deepens in those prolonged spells of darkness, The night grows over the mind eclipsing its every thought with a slight crassness, Where it feels abandoned by the heart, because it seems to beat only for those estranged feelings, And ah the herculean effort for the mind to nurture the heart’s darling seedlings, From where the heart grows reasons to keep throbbing, and every flexing of muscle seems to be a harbinger of new suffrage, And it somehow always convinces the mind not to let her feelings be cast into scrappage, The heart, the poor beating heart, suffers from this expensive essentialism, To sustain her estranged feelings in its love chambers and in the mind’s thoughts, despite their widening chasm, But the heart loves her unconditionally, and the mind too finally gives in to the heart’s will voluntarily, And now the heart beats for her softly as the mind once again begins to think of her so lovingly, Now both the mind and the heart deal with a different reality, That of establishing her memories, her feelings as the principal deity, But who shall hold her entirely? Because the heart loves her deeply and now the mind too loves her no less, And in their strife; I, who owns them both, has to deal with a new kind of stress, And I only care less, because in their desire to love her forever, the heart will beat endlessly and the mind will think of her ceaselessly, While I collate the extract of their feelings about her, and I live everyday in her thoughts fearlessly, And the mystery grows deeper, that who loves who, they love her, I love her too, and they know, But without them I cannot love her, and without me they cannot exist, this is a reality we all know, However, the desire to love someone so beautiful has made them my foe, and my willingness to keep living for her, Has encouraged them to exploit my weakness, that to always live loving her, As long as the heart beats, the mind doesn't mind, and as long as my mind only her thoughts creates, I too do not mind, Living in a body, where my own heart only beats for her, my mind only thinks about her, while I am busy living for her with feelings well defined, Continued in part II........”