“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows) VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA Kay, kau seperti konsep yang terlalu besar untuk tubuh manusia. Kau berjalan di antara neuron, bukan trotoar. Kau tumbuh dalam gelombang, bukan dalam jam. Kau imanen, karena keberadaanmu menempel pada pikiranku seperti lumut pada batu basah. Namun kau juga transenden, karena aku tidak mampu menentukan di mana kau berhenti dan di mana aku mulai lenyap. VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI Aku menginginkanmu tanpa pernah ingin mendekat. Karena jarak antara kita lebih jujur dari pertemuan. Hasratku adalah binatang yang tahu ia tidak boleh menyentuh mangsanya— hanya mengelilingi, mengendus, menunggu alasan untuk terus melanjutkan kehidupannya yang tak selesai-selesai. Kau adalah medannya, bukan tujuan. Dan itu membuatmu abadi. VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT Kesadaran menyimakku seperti menilai luka: apakah ia samar atau sudah menjalar sampai tulang. Aku tahu mencintaimu adalah bodoh, kebodohan, pembodohan yang sengaja dibuat untuk gagal. Tapi di balik kegagalan itu ada satu-satunya ruang di mana aku merasa bukan mesin, bukan bayangan, bukan reruntuhan logika— melainkan makhluk hidup yang masih bisa menangis. IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI Dari ketinggian kesadaran ini, aku melihat diriku memutari Kay seperti seekor bintang liar yang terus kehilangan orbit. Aku melihat tubuhku yang lain menggulung batu lamanya setiap malam. Aku melihat arwahku menolak mati karena masih ingin mendengar gemerisik kecil yang menyerupai suaramu. Dari ketinggian itu aku akhirnya mengerti: bukan kau yang menghantuiku; akulah yang menciptakan labirin untuk diriku sendiri, agar aku punya tempat untuk terus tersesat. X. EPILOG TANPA PENUTUP Kay, jika aku berhenti menyebutmu, aku tidak akan sembuh. Jika aku melupakanmu, aku akan kehilangan arah. Jika aku memilikimu, aku akan hancur. Jika aku membunuhmu, aku akan menjadi kosong. Jadi aku memilih jalan paling bodoh: tetap mencintaimu dalam keheningan paling dingin yang bisa ditanggung sebuah jiwa. Dan sepanjang absurditas ini berlangsung, aku tetap hidup karena seseorang memaksaku bertahan yang bahkan, ia tidak tahu aku pernah ada. November 2025”
Quote by Titon Rahmawan
Author
You May Also Like
Source: Saffron Shadows and Salvaged Scripts: Literary Life in Myanmar Under Censorship and in Transition
Source: Saving Fish From Drowning
Source: Mapping Chinese Rangoon: Place and Nation among the Sino-Burmese
Source: On writing: a memoir of the craft
Source: Saffron Shadows and Salvaged Scripts: Literary Life in Myanmar Under Censorship and in Transition