Quotessence
Home / Quotes / Quote by David Gray

Quote by David Gray

“Im Grunde unserer Seele sind wir Raubtiere. Intelligent, unersättlich und schnell. Alles, was wir in ein paar hunderttausend Jahren Entwicklung gegen unsere wahre Natur aufzubieten haben, ist bloß eine dünne Schicht aus Ritualen, die wir Zivilisation nennen.”

Quote by David Gray

Work

Wolfswechsel

Browse quotes and source details for this work. more

Author

David Gray
David Gray

David Gray is a British singer-songwriter known for his emotional voice and unique musical style. Born on June 13, 1968, he has been active in the music industry since the early 1990s. Gray's music blends folk, rock, and pop elements, enjoying popularity among fans worldwide. more

You May Also Like

“Da die Freiheit eine Sache der Gradunterschiede ist, so besteht die große Gefahr, daß diejenigen, welche nicht durch Erfahrung immun geworden sind, unmerklich in die aufeinanderfolgenden Grade von Unfreiheit hineingleiten. Dies gilt für unsre ganze westliche Zivilisation. Die großen Geschichtskatastrophen, wie der Zerfall Roms, kamen nicht in einem lauten Krach, sondern sie waren wie ein sachtes Abwärtsgleiten, das Jahrhunderte oder Jahrzehnte andauern kann.”

“Suara Kesunyian (Whisper-Psychoanalysis, Slow, Surgical, and Intimately Terrifying ala Lecter) Dalam ruang yang tidak mengizinkan gema, aku mendengarnya— suara sunyi yang berbicara lebih pelan daripada desah napasmu sendiri. Ia duduk di sebelahku, bukan sebagai musuh, bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai saksi yang terlalu mengerti apa yang bersembunyi di balik tulang-tulang ingatan. “Duduklah,” katanya lembut, seolah menawarkan secangkir teh yang sudah menelan banyak pengakuan sebelumnya. “Tidak perlu takut. Keheningan tidak pernah melukai siapa pun… kecuali mereka yang menyembunyikan sesuatu.” Aku tidak menjawab. Ia tidak membutuhkan jawaban. Di matanya yang tak berkedip, aku melihat ulang diriku sendiri seperti rekaman yang diputar terlalu lambat: detik-detik ketika hasrat mati, saat yang tak pernah kuakui, ketika aku menusukkan belati pada diriku tanpa tahu apakah aku mencoba menyakiti atau sekadar memastikan aku masih bisa merasakan sesuatu. “Menarik,” katanya pelan, “kau menyalahkan pikiranmu seakan ia musuh. Padahal ia hanya anak yang kau kunci di ruang bawah tanah, memukul pintu dengan kepalan yang semakin kecil… sampai suaranya terdengar seperti gemerisik debu.” Aku menelan kekosongan itu. Ia miring sedikit, seolah menikmati aroma ketakutanku. “Cinta membingungkanmu,” lanjutnya, “karena kau menuntutnya jujur sementara kau sendiri hidup dalam topeng yang begitu terampil hingga kau lupa yang mana wajahmu.” Sunyi menebal. Ia menyandarkan kepala, seakan mendengarkan sesuatu yang datang dari dalam dadaku. “Dengar,” katanya, “dengarkan baik-baik. Ada suara di dalam dirimu yang selalu kau coba bunuh dengan keseragaman, dengan keinginan menjadi normal, dengan godaan untuk diterima.” Ia menutup mata, seolah menyetel antenanya ke frekuensi paling gelap. “Suara itu…” ia berbisik, “adalah suara domba yang terus berlari di padang rumput traumamu. Mereka menjerit bukan karena mereka sedang disembelih— tetapi karena mereka tahu kau tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka.” Aku menggigil. Ia tersenyum nyaris tak terlihat. “Trauma,” katanya, “adalah binatang yang sangat peka. Ia menunggu. Ia tidak pergi. Ia duduk seperti aku— tenang, sabar, mengamati kapan kau akhirnya siap untuk berhenti melarikan diri.” Aku terdiam seperti batu yang siap dipahat. “Kau ingin menjadi berbeda,” ujarnya lembut, “tapi berbeda tidak lahir dari penolakan. Berbeda lahir dari keberanian untuk membuka pintu yang membuatmu gemetar.” Ia mencondongkan tubuh, suara hampir menempel di telingaku: “Jika kau benar-benar ingin berhenti mendengar jeritan itu… kau harus kembali ke tempat di mana domba-domba itu mati disembelih.” Aku menutup mata. Dan saat itulah aku tersadar keheningan tidak lagi menjadi musuh— melainkan satu-satunya suara yang mau mendengarkanku tanpa menghujat tanpa menghakimi. November 2025”

“Una volta una ammalata mi appioppò un sonoro ceffone. Il mio primo istinto fu quello di renderglielo. Ma poi presi quella vecchia mano e la baciai. La vecchia si mise a piangere. «Tu sei mia figlia», mi disse. E allora capii che cosa aveva significato quel gesto di violenza. Di fatto, non esiste pazzia senza giustificazione e ogni gesto che dalla gente comune e sobria viene considerato pazzo coinvolge il mistero di una inaudita sofferenza che non è stata colta dagli uomini.”

“Longevi, ci chiamavamo tra noi. Eravamo una sorta di Dorian Gray ambulanti senza un ritratto marcescente in soffitta e, durante i secoli, avevamo collezionato i più stravaganti epiteti: streghe, vampiri, angeli, demoni, doppelgänger. Non avremmo mai conosciuto le gioie della maternità o della paternità, poiché i nostri figli morivano – senza eccezioni – appena venuti alla luce. Avremmo potuto tentare all’infinito, accontentarci di sentire per nove mesi i loro calci ovattati attraverso la pelle del ventre, per poi dover accettare di vederli spegnersi appena fatto capolino nel mondo. Avevo seppellito tre figli, tutti nati morti alle prime avvisaglie di autunni distanti vite intere l’uno dell’altro. Alcune sere percepivo ancora la sensazione asfissiante della terra bagnata sotto le unghie. Temere che la propria creatura, di cui non hai mai udito il pianto, possa sentire freddo sotto la terra è il primo segnale di una follia disperata. Scavare tra le lacrime per riabbracciare quel corpo inerme e bianco, che non è mai stato vivo se non nel buio del tuo grembo, e poi desistere in un barlume di lucidità è un’esperienza straziante. Si rimane con un pugno di fango in mano, la gola stretta dall’angoscia e il cuore vuoto. Ho sentito tre figli crescere e perire dentro di me. E se fossi così folle da riprovarci, un quarto, un quinto e un sesto mi farebbero singhiozzare dalla gioia e poco dopo dal tormento. Così sarà per sempre. È una delle mie tante condanne. Malachia, Robert e io non potevamo dirci amici. Tuttavia lo eravamo, quasi inevitabilmente, per una serie di eventi e per la maledizione che ci univa. Nella mia lunga carriera ne avevo profanati di sarcofagi, templi e necropoli. Così innumerevoli, che ormai avevo perso il conto. Eppure, con tutti gli anatemi che mi ero tirata addosso, nessuno di questi era ancora riuscito a farmi apprezzare quello sotto il quale ero nata.”