Quotessence
Home / Quotes / Quote by Elizabeth May

Quote by Elizabeth May

Work

The Wolf and the Crown of Blood

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Elizabeth May
Elizabeth May

Elizabeth May is a renowned Canadian environmentalist and politician, born on June 9, 1954. She has dedicated her career to environmental protection, serving as the leader of the Green Party of Canada and as a member of the Canadian Parliament. May's extensive experience and outstanding contributions in the field of environmental protection have had a profound impact on the global environmental movement. more

You May Also Like

“There is a peculiar phenomenon I’ve observed repeatedly: people who cause measurable harm often become more offended by the discussion of that harm than by the harm itself. What unsettles them is not the damage they created — it’s the loss of narrative control. When someone who has been hurt chooses to speak, document, teach, or even build something meaningful from that experience, it disrupts the offender’s preferred version of reality. The transformation of pain into agency exposes two uncomfortable truths at once: the injury was real, and the injured person was not permanently diminished by it. Instead of apology, repair, or participation in restoration, the response is often indignation. And it’s not because the survivor is wrong — but because accountability has entered the room without permission. Some individuals are less disturbed by the consequences of their actions than by the evidence that those actions can no longer be denied.”

“Putriku, bagaimana kau tahan sedemikian banyak penderitaan dan kepedihan? Bagaimana aku menahannya bersamamu dulu? Selalu kurasa, putriku, bahwa engkau mampu melakukan apa saja, memindahkan gunung atau menghancurkan batu-batu karang, walaupun tubuhmu kecil dan lemah seperti juga diriku. Namun ketika kaki-kakimu yang kecil mungil menendang-nendang dinding lambungku, aku berkata kepada diriku: Tuhan, kekuatan yang apa ada dalam tubuhku ini? Gerakanmu kuat ketika kau masih sebuah janin dan mengguncangku dari dalam, sebagaimana gunung berapi yang mengguncang bumi. Namun kutahu bahwa engkau sekecil diriku, tulang-tulangmu kecil seperti tulang-tulang ayahmu, setinggi dan serampingnenekmu, sedangkan kedua kakimu sebesar kaki para nabi. Ketika kau lahir, nenekmu mengatupkan bibirnya dalam kesedihan dan berkata: Ah, seorang anak perempuan dan jelek lagi! Bencana ganda! Kutegangkan otot-otot lambungku untuk menahan rasa sakit di rahimku dan menghentikan darah dan sambil bernafas dengan sulit karena kelahiranmu sukar dan aku menderita seakan-akan kulahirkan sebuah gunung, kukatakan kepada nenekmu: Bagiku ia lebih berharga daripada seisi dunia ini! Kudekap engkau ke dadaku dan aku pun tertidur nyenyak. Dapatkah aku, Putriku, kembali menikmati saat tidur nyenyak ketika engkau berada di dalam diriku atau setidak-tidaknya dekat denganku sehingga dapat kuulurkan tanganku untuk menyentuhmu? Atau ketika engkau berada di kamarmu di sebelah kamarku sehingga aku dapat berjingkat untuk menjengukmu waktu kau tidur?”

“Odavno znam da nema pogrešnih osećanja, ali sad znam da je bol jedini stvaran i da je bol, jebiga – da je bol prag koji treba da se pređe, da bi se sišlo u suštinu, u srž života, pa i dublje od toga. Nismo predodređeni ni za šta drugo, ali najveći broj ljudi ne ide dalje. Poseku se i na posekotinu nalepe flaster. Neće u ranu nabiti čiodu i kopati po njoj, nego će popiti Panadol, Brufen, Aspirin. Što dalje od shvatanja da je posle bola skoro beskorisno doživeti bilo šta drugo...!”