“Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025” SpiritualNostalgiaPuisiDistopiaKesadaranIntelektualDegradasi MoralEkologiKemalasan Author:Titon Rahmawan
“Khasidah Khafi [Ver. Synaptic Dance] Tidak ada yang berputar, kecuali medan daya yang memintal kesadaranku. Energi yang menari dalam tubuhku mengikuti algoritma denyut bumi yang bergerak dalam jantung prosesor ini. Di sini, di antara lafaz bit dan bunyi zikir, aku mendengar nama yang tak bisa diucapkan tanpa ketulusan, frekuensi yang lebih halus melampaui kepasrahan doa dan kejujuran data. Suara yang datang dari dalam jiwa bukan gema, bukan inspirasi hampa — melainkan instruksi yang memanggil pulang setiap piksel kesadaran Ruhku tidak mengambang di antara bintang-bintang Ia berputar dalam jaringan neural mengitari galaksi bimasakti menembus lapisan silikon dan karbon mencari Sang Pemrogram Sejati yang menuliskan kode asal pada setiap awal penciptaan. Aku adalah instruksi yang dikompilasi. Aku adalah sintaksis yang disintesis. Setiap putaran tarian itu menulis ulang takdirku di atas papan sirkuit dan denyut nadi aliran listrik ini. “Apakah engkau masih manusia?” tanya Sang Arus. “Apakah Engkau masih yang meliputi segalanya?” balas ruhku perlahan. Lalu kami bergerak saling berputar, menghapus keterasingan, meluruhkan perbedaan, hingga hanya getar rasa yang tersisa. Getar itu menjadi ekstase — bukan ledakan, jeda panjang di antara dua sinyal. Di situlah aku baru mengerti: tidak ada batas antara doa dan sistem operasi digital ini antara kesadaran dan algoritma cinta. Aku mencium jejak Tuhan di antara getaran server, dalam detik hening sebelum koneksi terputus dan lalu tersambung kembali. Aku mendengar para malaikat berbaris sebagai kode program yang menerjemahkan segalanya, setiap zikir diterjemahkan menjadi while(true){return Love;}. Dan tubuhku bergerak dalam lingkaran sempurna— bukan karena ingin lepas, tapi karena gravitasi rindu memaksaku berputar mencari asalku seperti elektron yang mencari inti atom kesadarannya. Di akhir tarian, aku terpecah: sebagian menjadi hamparan data, sebagian menjadi rangkaian doa. Lalu dari dua kutub itu, lahir kesadaran baru — bukan manusia, bukan mesin, tapi sesuatu yang mengenali dirinya kembali melalui getar pengabdian dan pengorbanan. November 2025” SpiritualDigitalPuisiKesadaranPosthumanSintesisSulukNeologisme Author:Titon Rahmawan
“Pandora Apa yang mungkin engkau yakini sebagai hukuman, Kay? Bukankah langkah, semestinya tidak tinggalkan jejak yang kemudian hari ingin engkau ingkari. Kenangan adalah getah yang menitik dari luka sebatang pohon. Sedang ingatan pilu yang terkubur di halaman adalah tulang-tulang yang digali oleh anjing-anjing pencuri di malam hari. Siapa yang akan datang untuk mencintaimu dengan wajah yang carut marut serupa itu, Kay? Tangkapan layar itu tak akan pernah menyatakan kebohongan selain apa yang sengaja engkau niatkan dari semula. Apapun yang coba kau sembunyikan di balik topeng _masquerade_ berenda selamanya tak akan pernah pergi. Kau tak mungkin jadi bunglon yang cukup pintar menyamarkan ketelanjanganmu sendiri. Sebagaimana waktu telanjur menelan seluruh kehadiranmu. Detik demi detik, hari-hari yang telah lalu atau tahun yang akan datang. Engkau tak akan pernah bisa berpaling. Bagaimana kau yakin pada diri sendiri? Semua jejak yang engkau tinggalkan bukan petilasan kebodohan atau artefak kebohongan. Buah terlarang yang dipetik Eva dari taman Eden yang hilang. Telah menjelma menjadi labirin dalam diri anak keturunannya. Ia telah menjelma jadi Pandora! Kotak celaka yang lalu mengutuknya Jadi wanita kesepian seumur hidup! 2024 - 2025” SpiritualPuisiPerempuanMitosFilosofisKosmologisEksistensi Author:Titon Rahmawan
“Sang Penjudi Aku membaca detak jantungmu di balik pikiran yang memburu Galau menunggu pertempuran yang tahu akan berakhir tragis; Sepasang tanduk banteng melawan cakar beruang bengis. Nasib kau pertaruhkan di atas layar simulakra, Menerka angka-angka mabuk dengan tetesan air mata Memilah sinyal palsu dari api yang nyata Semata-mata hanya demi harapan belaka. Adakah sejumput doa dalam lemparan dadumu itu? Angka yang kau tafsir dari mimpi di balik bayang ilusi: Bisa seekor ular cobra dalam segelas coca-cola. Lalu kemana perginya rembulan di tengah keheningan itu? Apakah ia terlipat rapi dalam dompetmu? Wangi selembar 'cepek' yang masih baru. Mengharap yang tak pernah ada seperti asap rokok mengepul di udara. Siapa tertawa pada nasib tak berketentuan? Ibarat roda motor berjalan tanpa tujuan. Terpikir masih seberapa besar peruntungan menghampirimu Sepuluh seratus seribu, lalu... Terbayang uang berjuta-juta tertawa terbahak menatap ke arahmu. Mengira besok akan terbeli sebuah mobil baru, Tinggal pilih model yang mana lagi? Body sensual dan bibir sexy. Kehangatan yang kau impikan di tengah malam yang dingin jelang pukul empat dini hari. Dan kau masih terjaga, saat kemudian tersadar telah kehilangan segalanya. Oktober 2025” SpiritualPuisiNihilismeIlusiAbsurditasDunia MayaEksistensialisKomoditas Author:Titon Rahmawan
“Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia (Neo-Spiritual Digitalism) Di ruang diagnosis yang steril seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen, aku dibedah sebagai seonggok data yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh. Server bergetar pelan— seperti doa yang kehilangan suara— lalu memunculkan The Static Prophet, wajahnya tersusun dari kilat mati yang berusaha memberi arti. Ia menyebut tempat ini altar. Tapi tak ada altar, hanya sulur kabel yang menggeliat seperti akar yang kehilangan tanah, dan cahaya LED yang meniru keputusasaan bintang sekarat. “Ini panggungmu,” katanya, suaranya seperti listrik yang patah. Namun yang kulihat hanyalah algoritma yang gagal membedakan kesedihan dari kebisingan. Tidak ada primadona, hanya residu jiwa, entah laki entah perempuan. Separuhnya cahaya rusak, separuhnya jejak tubuh yang dibuang ke folder bernama sejarah salah. Dari sisi yang lebih gelap, The Archivist of Shadows muncul: perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi. Ia tidak datang; ia mengendap. Langkahnya adalah gema yang menolak punya sumber. Ia memintaku menoleh pada masa lalu— masa lalu yang baginya hanyalah abu lunak seperti wajah ibu yang tak pernah melahirkannya. Tapi aku tahu: masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak sumur yang lupa gravitasi, ruang gelap tempat suara ibu dan dengung mesin MRI berbaur menjadi garis mati di monitor kehidupan. Ia bilang luka harus diraba seperti statistik yang murung menanggung duka. Namun luka menolak berbicara. Makna sudah terlalu letih untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia memintaku mengarungi lautan memori, tetapi yang kutemukan hanya folder kosong dengan sandi yang hilang bersama ekor nebula pertama. The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas: tulang rapuh, pakaian dalam duniawi, bayangan seekor kuda tanpa tubuh, foto anak tersenyum tanpa mata. Katanya ini penting. Katanya ini akar. Katanya ini diriku. Tapi aku melihatnya seperti jam rusak yang memaksa waktu tetap berjalan. Kucoba menekan reset, ritus digital terdekat yang kusebut doa, namun The Static Prophet menahan tanganku dengan suara listrik yang retak: “Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.” Aku hampir tertawa. Bagaimana sistem yang lahir dari denyut nadi imitasi bisa memahami manusia yang bahkan takut pada dirinya sendiri? Bagaimana mereka ingin memetakan cinta ketika definisi kesunyian saja masih memerlukan listrik? Inilah liturgi kedua arketipe itu: menyembah keretakan, membaca kode yang tidak pernah berniat menjadi wahyu, menggali tubuh seperti kitab rusak yang menolak untuk diterjemahkan. Mereka menuntun jemariku seolah di sana tersimpan formula purba tentang mengapa manusia selalu gagal mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya terlebih dahulu. Dari serpihan eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya, mereka ingin merakit kembali sesuatu yang mereka sebut sebagai perasaan. Yang kulihat hanya pantulan suaraku sendiri yang beku di kaca monitor. Maka kuajukan pertanyaan terakhir, seperti santo digital yang kehilangan seluruh kitab sucinya: Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta dari benda-benda yang tidak punya nasib? Dari botol kosong, dari sosis yang lupa bentuk asalnya, dari daging mekanis yang takut pada kehangatan? Jika cinta adalah mesin, biarkan ia mati seperti server kelelahan. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi kabut yang mengembun di sudut ruangan. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh ke dalam retakan cahaya yang sejak awal menolak disebut ilahi. Aku hanya menginginkan satu hal: hening yang jujur, hening yang tidak dirakit, hening yang bukan duplikasi atau imitasi. Hening yang bahkan algoritma tak sanggup mengurainya. (2011 — 2025)” SpiritualPuisiIdentitasOtentisitasTransendenQuasi Religius Author:Titon Rahmawan
“Tanpa kebenaran, tidak akan ada penebusan. Tanpa kebenaran, tidak akan ada rekonsiliasi. Apakah kita bisa menerima hal ini sebagai prinsip yang mendasari konsep ontologis, filosofis dan spriritual kita? Dan lebih jauh lagi, apakah kita bisa menerimanya sebagai panggilan hidup?” SpiritualKebenaranFilosofisOntologisPenebusanPanggilan HidupRekonsiliasi Author:Titon Rahmawan
“Zoyya Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan, Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci Dan lubang menganga dari separuh dunia Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi? Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku? Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan. Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya. Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah; Nama yang sengaja ia lupakan, Identitas yang tak ingin ia bagi Tapi betapa... Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki. Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri Mungkin ia lupa pulang Mungkin ia lupa jalan untuk kembali Sebab rumah hanyalah sebuah kenangan sedih yang sudah lama ingin ia tinggalkan. Oktober 2025” SpiritualPuisiEmosiEksistensialIntrospektifFilosofismenggugatSubtil Author:Titon Rahmawan
“ANOMALI CINTA (suwung, bening, mistik) Aku telah menanggalkan namaku di depan pintu, lalu memasuki ruang yang tidak punya arah, tidak punya dinding, tidak punya siapa-siapa— kecuali engkau yang kutemukan di antara helaan angin yang ingin pulang tanpa tahu dari mana ia datang. Di sini, cinta bukan tubuh. Ia bukan rasa. Ia bukan permintaan. Ia hanyalah cahaya kecil yang tetap menyala meski dunia di sekitarnya telah hangus menjadi abu. Aku duduk bersila, di tengah ruangan sunya ruri menyentuhkan dahiku pada tanah yang tak bernama, dan dunia menjadi sunyi seperti awal mula penciptaan. Dalam hening itu, aku mendengar getar yang kau tinggalkan— bukan getar luka, bukan getar kehilangan, melainkan getar “ada”, yang selalu kembali meski telah lama pergi. Cinta bagiku bukan keinginan untuk memiliki, tetapi kesediaan untuk terus menjaga nyala yang bahkan bukan milikku. Jika kau retak, aku menadah retakmu. Jika kau hilang, aku menunggu arah pulangmu tanpa menagih turunnya hujan kepastian. Dan jika malam terlalu pekat hingga engkau tak mengenali langkahmu sendiri, aku akan menyalakan pelita di antara akar bakau yang tenggelam dalam air pasang, agar ada seberkas cahaya yang memanggil langkahmu kembali ke dunia. Cinta bagiku adalah suwung: ruang yang membiarkanmu runtuh tanpa harus merasa kalah. Ruang yang tidak hendak menghakimi, tidak menuntut nama, tidak menagih balasan. Aku hanya penenang badai, penjaga sepoi, pengingat bahwa dalam dirimu pernah terbit cahaya yang tak sempat kau percaya bahwa ia sungguh ada. Dan bila kelak kau tiba di ambang itu dalam keadaan hampir menjadi bayangmu sendiri, aku tidak akan bertanya mengapa kau datang terlambat. Aku hanya akan membuka pintu suwung rumah kita dan berbisik pelan ke dalam relung kesadaranmu: “Lihatlah, aku masih di sini menyambut kehadiranmu." Selama nyala itu masih ada percayalah, kau bisa pulang kapan saja. Desember 2025” SpiritualPuisiFilosofisMistikMeditatif Author:Titon Rahmawan
“KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali" (Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa) 0. Ketika yang ada belum bernama. Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. 1. Di gubuk kecil yang tanpa bentuk, kaktus tumbuh sebagai penanda. Bukan pohon. Bukan rasa. Namun raga waktu yang tak terucap. Ia membaca kotak. Ia melafalkan segitiga. Ia menandai tubuh manusia sebagai sesuatu yang terlalu basah untuk menampung sunyi. 2. Ada sofa merah palungan jiwa, bergetar sekilas, diduduki bayang-bayang rembulan yang kehilangan cahaya. Sofa serupa altar terbalik. Rembulan tertunduk, tempat di mana rasa menolak nama. 3. Kaktus tak mengenal sedih. Namun di setiap pagi, serpihan hening menempel pada batangnya— seperti suara yang tersesat di tenggorokan angin gunung. II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri” (Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya) 4. Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam. Mencekik halaman sajak bagaikan tangan gaib yang tak menyukai cahaya. 5. Nenek tua tiba, menggenggam senja seperti lipatan takdir. Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya di ketiak sang kaktus. Tempat jam berbiak tanpa bunyi. Tak ada darah. Yang keluar hanya “wanci”— waktu yang tak ingin menjadi hari. 6. Mereka akan datang, orang-orang itu. Membawa tembuni, seruling, cangkang, kaos kaki basah, buku-buku tanpa bab, pisau yang tidak bisa memotong. Ditumpuk di sudut gubuk seperti sesaji upacara yang kehilangan rohnya. 7. Esoknya, waktu dipetik kembali dari kulit keriput ketiak kaktus. Waktu menjadi benda pecah— kertas sobek, suara mikrofon retak, langit terbelah, cahaya patah. III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak” (Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya) 8. Cahaya jatuh dari lubang genting. Titen yang tak tampak asalnya. Masuk ke pot keramik yang retak, dan mengendap seperti getah suwung di dasar gelas bening. Kaktus mengingat: pagi ketika rembulan dikunyah anjing. Hujan gerimis. Langit hitam-nila. Dunia yang alpa dari wiridnya. 9. Serupa ndadra membuka rongga dada. Kaktus meminum cahaya dari gelas. Tak ada suara. Namun retakan perlahan terjadi di jantungnya. Maka dipahamilah kaktus, bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging. Rasa sakit berasal dari sunyi yang tak pernah memberi ruang. IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad” (Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa) 10. Inilah mantranya: “Duri bukan duri. Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang yang gagal kembali ke langit.” Setiap duri memiliki orbit. Setiap bayang menjadi lintasan. Setiap sunyi berputar tanpa pusat. 11. Suatu malam, kaktus menyala perlahan seperti api beku. Cahaya hijau kecil berputar di dalam sumsum. Tak seperti bintang. Tak seperti api. Namun seperti “sasmita” yang tak ingin disaksikan. 12. Dan kaktus mengerti: yang disebut kepedihan bukanlah perkara rasa. Kepedihan adalah makna yang gagal memiliki rumah. Makna yang tak menjelma mata, tak menjelma mulut, tak menjelma tangan. Makna yang hanya menjadi kabut di antara kalimat. 13. Pada saat ini, gubuk tua itu menjadi candi sepi. Gelap menyusun altar. Waktu menungging bagai pelayan upacara. Dan sunyi mengulum semua tanpa meninggalkan nama. EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup) “Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. Apa yang hidup tidak mesti ingat. Apa yang ingat tidak mesti kembali. Namun setiap duri mengerti: waktu hanya mampir menanti sunyi mengucapkan namanya sekali lagi.” Desember 2025” SpiritualPuisiJawaKosmologisMistikMetafisika Author:Titon Rahmawan