Quotessence
Home / Quotes / Quote by Gitte Nilsson

Quote by Gitte Nilsson

Work

Historien om Micke Dubois - På Liv Och Död

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Gitte Nilsson

Browse famous quotes and profile details for Gitte Nilsson. more

You May Also Like

“Han fyller sexton år idag, och hela sitt liv har han blivit retad och trakasserad. Utsidan, insidan, talet, adressen. Överallt. I skolan, i omklädningsrummet, på nätet. Det nöter ner en människa till sist, det syns inte så tydligt, för folk omkring ett mobbat barn inbillar sig att man blir väl van till sist. Aldrig, man vänjer sig aldrig. Man brinner hela tiden. Det är bara ingen som vet hur lång stubinen är, inte ens man själv.”

“»Halt! Nicht schießen!«, rief plötzlich einer der Gehilfen des Jagdmeisters laut. »Das ist ein Gestaltwandler!« Die übrigen Mitglieder der Jagdgesellschaft fingen an zu murmeln. Er sah, wie sie abwechselnd ihn, Kudonio und Akurio anstarrten. Doch der Jagdmeister ließ sich von ihrer Verunsicherung nicht erschüttern, sondern kam langsam auf ihn zu. Der Herzogssohn jedoch wirkte genauso verdutzt wie der Rest der Jagdgesellschaft. »Ein Gestaltwandler? Ist das wahr? Wer bist du? Sprich!«, forderte Akurio. Der Blick Kudonios wanderte über das Muster seines Fells, erfasste jedes Detail und mit einem mulmigen Gefühl im Magen ahnte er, was jetzt kommen würde. »Das ist Lerio. Der Hässliche«, verkündete der Jagdmeister laut und das Gewisper der anderen verstummte für einen kurzen Moment, bevor es zu aufgeregtem Geraune wurde. Dann begannen die Ersten zu lachen.”

“Di taman itu, bau laut tertutupi aroma daun-daun yang gugur dan mati. Kalian tahu, kematian selalu membuatku memikirkan Kesepian. Ketika Nenek mati, aku merasa ribuan Kesepian mendatangi pemakaman. Satu per satu dari mereka meminta untuk menumpang di rumahku, tidur di tempat tidurku. Ketika aku melarang, mereka justru menentang. Mereka kemudian mengambil alih singgasana secara paksa. Bertahun-tahun mereka menguasai rumahku. Sampai akhirnya aku lari ke sini. Namun, dengan orang ini aku tahu Kesepian akan segera memerah, menguning, mencokelat, dan akhirnya tanggal pelan-pelan, seperti daun-daun. Mungkin aku tak akan bertemu para Kesepian itu lagi. Mungkin angin akan membawa mereka terbang jauh. Mungkin juga jauh sekali. Semoga mereka tidak mendarat di halaman rumah seseorang yang sebatang kara. Semoga.”

“Perempuan adalah kota yang sepi, tetapi tidak mati. Ia memiliki banyak persimpangan, mobil tua yang kadang terparkir rapi, tidak jarang pula sembarangan di sudutsudut jalan. Gedung-gedung yang menjulur tinggi, pemukiman, jalan yang lengang, lampu merah hijau di perempatan, sangat sepi. Namun tidak mati. Dia hanya menunggu, seseorang tinggal di dalamnya. Maka jangan pernah meninggalkan seorang perempuan dalam kesepian.”