Quotessence
Home / Quotes / Quote by Barbara Pease

Quote by Barbara Pease

Work

Why Men Can Only Do One Thing at a Time Women Never Stop Talking

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Barbara Pease
Barbara Pease

Barbara Pease is a renowned author whose works cover a range of topics including interpersonal relationships and communication skills. Her books are widely popular around the world, offering readers rich knowledge and practical advice. more

You May Also Like

“Nabzın yayılıyor korku akan damarlarıma. Heyecana öyle alışıyorum ki yanında, yeryüzünün kalanı sallanmak için rüzgarı bekleyen tekdüze bir başak tarlası. Kokun her yanımı sallıyor ve kalp atışların gereksizlikleriyle gürültüye boğulan bir dünyada saklanınca asla çıkamayacağım keyifli bir saklambaç gibi geliyor. Elektrik bu. Dudaklarına yaklaşıyorum. Bu ateş. Gözlerin loş ışıkta parlıyor. Buz. Nefesin sıcak, öyle har dolu ki ve yaklaştıkça korlanıyor. Kıvılcım bu. İhtiyacım olan her şeyin utanmaz bir temsilisin ve sana sahip olamadıkça kıvranıyorum. İşte boşluk. Düşüyorum. Dudaklarındayım. Üzüm nefesin ve içtiğin şarap gibi çarpılıyorum. Bu bir ilk. Bize adını öğretmedikleri bir his dudakların. Onlar da bilmiyor. Kısa devre bu. Felç oluyorum. Israrla salgıladığım bir yasaksın: Bu, damla adrenalin. Hastalıksın ve iyileşmemek için dua ediyorum. Kanımdasın. Verem bu.”

“Eindelijk kwam Gauvain. Hij zette zijn auto aan de rand van de klif, ik hoorde het portier dichtslaan en raadde zijn omtrekken in de duisternis. Hij zal me wel in het licht van de koplampen hebben gezien, want hij holde meteen de rotsachtige helling af. Ik was met mijn rug tegen een op het zand getrokken bootje gaan zitten om me tegen de wind te beschutten, de armen om mijn knieën geslagen in een pose die me zowel sportief als romantisch toescheen... Als je twintig bent let je heel erg op je houding. Gauvain greep mijn beide handen om me sneller op te trekken en voordat ik een woord had kunnen uitbrengen, drukte hij me heftig tegen zich aan, zijn been meteen tussen de mijne, zijn mond opende de mijne, mijn tong klampte zich vast aan zijn kapotte tand, mijn hand voor het eerst onder zijn jasje, in zijn geurige warmte, mijn vingers drongen door in de ontroerende holte die ontstaat tussen de broeksband en de welving van de rug, tussen de spieren van de lendenen, bij sommige mannen. Geluidloos begon het te regenen en we bemerkten het niet ogenblikkelijk, zo ver waren we heen.”

“Sementara Aureliano menggosok buah dada Amaranta Úrsula yang terangsang itu dengan putih telur atau melembutkan perutnya dengan mentega, maka Amaranta Úrsula akan bermain-main dengan makhluk penting dan berarti milik Aureliano, seakan-akan benda itu adalah boneka dan memberikan mata badut di atasnya dengan lipstiknya dan juga kumis orang Turki dengan pensil alisnya serta melilitkan simpul organ sebagai dasi dan topi kecil dari kertas timah.”

“Sri menatapku tak berkedip. Satu per satu dia melepas baju saya. Satu per satu saya melepas bajunya. "Aku rindu sekali, Sayang," bisik saya. "Lebih-lebih aku, Mas, desisnya di lubang telinga saya. Sawah yang luas itu pun menyibak. Mendorong kebutuhan yang dalam sang bajak. Di haribaan yang saling lekat, kesampaian jadi pekat. Desahan itu, desahan itu, seperti lama benar aku tak mendengarnya. Lautku. Angkasaku. Bumiku. Yang memberikan segalanya. Aku menyelam tak puas-puasnya. Ada yang kurang. Ada yang kurang. Apa itu? Minta diulang? Tambah waktu.”

“Lalu, muka Narso yang berlabuh di lehernya itu menundukkan dalam penyerahan dan pejam mata. Waktu itu apa lagi yang akan dikerjakannya lain daripada itu. Ia tak berdaya apa-apa. Ia bertindak atas naluri dan detak jantungnya. Sesuatu yang telah ia bawa sejak lahir dan tiba-tiba menuntut jalannya keluar. Begitu mendesak dan segalanya itu di luar kuasanya. Dan, cintanya yang besar makin memudahkan ia luruh dalam penyerahan yang bulat tanpa tanggung-tanggung.”