Quotessence
Home / Quotes / Quote by Jonathan Harnisch

Quote by Jonathan Harnisch

Work

Sex, Drugs, and Schizophrenia

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Jonathan Harnisch

Browse famous quotes and profile details for Jonathan Harnisch. more

You May Also Like

“I do not know all things. I might not believe some things. But I know what my mom believes; I have heard her testimony. I know her faith, and that has fed my faith on many grim occasions. Sometimes we do well to lean on the faith of others to pull us through until our own faith increases enough to sustain us.”

“I suppose I became a ghost long before I died. Or maybe I was never born at all. Georgie Gust—my puppet, my echo, my alibi—he lives the life I never could. And Ben? Ben is the disease, the master puppeteer. Together we dance. Alone, we rot. It’s not schizophrenia, really—it’s an orchestra without a conductor. Some days I am all the instruments at once. Other days, I am silence. But always, always, the music aches.”

“Membayangkan Surga Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay? Serupa senja yang tumbuh dari sebatang pohon di sebuah tempat yang kau bayangkan seperti surga. Cahaya lampu itu menyapu wajahmu dengan warna lembayung dan berkilau seperti pelangi. Tapi tak ada apa pun kutemukan pada seri wajahmu selain nafsu yang tertahan dan seulas senyum kemesuman. Tepat di puncak penantian dari segala perhatian yang tertuju pada dirimu. Mata yang tak pernah menyadari tersesat dalam raga belia yang entah milik siapa. Aura kemudaan yang berasa sia-sia. Telah kau reguk semua kebahagiaan dari ekspresi wajah tolol yang ditunggangi oleh nafsu alter egonya. Atau barangkali, telah habis kau hirup wangi kelopak mawar hitam yang tumbuh di ranjangmu setiap pagi. Sudah lama sekali rasanya waktu berlalu. Seperti ketika, kau masih suka nongkrong di cafe sambil meneguk cappucino dari cangkir porselen yang perlahan mulai retak. Sementara laju usia mengalir di tenggorakanmu yang bening bagai pualam. Waktu meninggalkan jejak buta di dalam handphonemu. Menyisakan tatap mata orang yang tak lagi mampu menafsirkan apa yang telah engkau lakukan. Bukankah, mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang? Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat dua puluh tahun. Siapa mendamba merah muda anggur kirmizi yang tumbuh di dadamu? Tak satu pun telinga sanggup melawan sihir dari gelak tawamu yang getir. Mata bodoh yang tak sanggup melupakan bayangan pisang matang kau kunyah dengan brutal sebagai kudapan di tengah jeda pertunjukan. Hidup tak seperti kecipak ikan di dalam aquarium transparan tertanam di dinding. Air kolam di pekarangan menjelma jadi bayangan jemari tak henti menggapai. Gelembung kekhawatiran yang tak sanggup memahami makna puisi yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu. Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya. Di sana tak ada sungai keabadian atau pangeran tampan yang menunggu kehadiranmu dengan kerinduan. Yang ada cuma kelebat kilat dan hujan airmata hitam. Mengucur seperti lendir laknat yang mengalir dari hidungmu saat kau meradang karena influensa. Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay. Hanya sedikit tersisa cerita yang busuk dan menjijikkan sebagai satu-satunya obrolan untuk perintang waktu. 2024 - 2025”

“The pain I feel from the razor blade doesn’t even come close to what I’m feeling inside so it’s useless because the equation is messed up: because razor blade pain should be equal to or greater than the heartache, that’s just CUTTING 101. And if it’s not—well you’re fucked, my friend. It was nice knowing you, but you know what time it is? It’s time to let to let the darkness in. Quid pro quo and all that. It’s time to find something more agonizing than the touch of the blade.”