Quotessence
Home / Quotes / Quote by Epaphras Ericson Thomas

Quote by Epaphras Ericson Thomas

“TERIAK SI BISU Sore itu, aku berdiri di pinggiran lorong gelap tidak bernama; meraba buta mencari sisa-sisa harmoni yang lama hilang bersama ketukan waktu, hingga akhirnya aku harus berpisah dengan bayang-bayangku sendiri.”

Quote by Epaphras Ericson Thomas

Author

Epaphras Ericson Thomas

Browse famous quotes and profile details for Epaphras Ericson Thomas. more

You May Also Like

“Kembali menggelora akan nestapa Biarlah tenggelam namun yakinku tak pernah berubah padamu Saat bulan tersenyum menegur sapa menampakkan diri saat hangat mulai menyinari secercah cahya dalam hati namamu membias di sanubari Sela siang mendamba surya panas memanggang senyummu sirnakan kerontang, basahi jiwa yang sedang meregang sejukkan jiwa yang sedang meradang Kala senja menutup masa, bersama semburat lembayung di ujung cakrawala, didekap oleh awan kelabu, semoga mengerti akan maksud hati yg meronta.”

“CHARLIE II (METAMORPHIC VERSION) Ia muncul bukan dari layar, melainkan dari sela-sela gelap di antara kedipan mata kita— tempat pikiran gagal memutuskan siapa sedang menatap siapa. Tubuh kecil itu kembali, bukan sebagai gelandangan komikal, melainkan sebagai pertapa abstrak yang menertawakan seluruh peradaban tanpa membuka bibir. Setiap langkahnya adalah mantra yang salah dieja, menggoyang panggung dengan gerak paling canggung; jatuh-bangun yang kita sebut komedi, padahal itu adalah cara semesta menunjukkan betapa rapuhnya kita: para penonton yang ingin percaya hidup adalah aliran peristiwa yang patut dirayakan layaknya pesta. Ia tidak sedang berjalan. Ia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikit—perlahan-lahan seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor dari dunia yang centang-perentang. Dalam keheningan hitam-putih itu, kitalah yang menjadi pantomim: komik yang berbicara tanpa suara, mengerti tanpa pemahaman, tertawa tanpa tahu siapa yang sedang ditertawakan. Charlie, atau siapapun ia telah menjelma, telah melampaui nama; ia menjadi ruang kosong yang memantulkan wajah cermin kotor yang menunggu kita terpeleset dusta topeng mana yang kita kenakan? kedunguan apa yang kita perankan? Ia tak memanggil kita. Ia mengintai kita. Ia tahu betapa seriusnya kita menjalani hidup, betapa tragisnya kesungguhan itu, betapa bodohnya kesedihan yang mengira dirinya istimewa. Tongkat kecilnya bukan properti panggung— itu garis batas antara imajinasi dan kenyataan yang ingin kita sembunyikan dan yang ingin dunia telanjangi. Setiap putaran adalah meditasi destruktif: sebuah zen yang retak, sebuah pencerahan yang salah arah, sebuah humor yang menusuk jantung sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa. Di titik ini, tidak ada lagi komedi, hanya ironi. Bukan ia yang tampil untuk kita. Kita yang tampil untuknya. Kitalah karakter minor, figuran tak penting yang sedang terpampang di layar yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup. Kita menyaksikan ia menghilang, padahal yang raib sebenarnya adalah ilusi tentang diri kita sendiri: nama, peran, luka-luka yang kita pelihara, semua runtuh dalam irama yang tak pernah ia mainkan, tetapi selalu kita dengar dalam kebisuan. Ketika layar akhirnya memudar, kita mengira ia telah pergi— padahal ego yang tersisa sebagai jejak bayangan dalam dunia yang sejak awal menonton kita dengan keheningan yang lebih tajam daripada sayatan pisau. Tirai menutup. Namun kesadaran tinggal menggantung di udara seperti debu perak seluloid: kering, dingin, tak bernama— persis seperti apa yang kita cari dan takutkan selama ini. 2022 - 2025”

“CHARLIE IV (PARODY OF THE GREAT MACHINE) Di layar yang nyaris beku, Charlie muncul kembali— sebagai boneka kayu tersesat di antara deretan server yang mendengus seperti kawanan sapi menunggu disembelih. Ia menari, di atas platform data center. Dalam himpitan dingin yang lebih biadab dari salju Siberia. Langkah serupa bunyi retakan kecil— bisikan samar, seperti suara nadi manusia mencoba mengingat bahwa ia dulu pernah bernyawa. Di sebelahnya, mesin-mesin memandang gerak tubuh dengan mata merah yang seolah marah; mereka tidak tertawa, tidak menangis, tidak peduli apakah Charlie hendak menyeberang jurang atau sekadar mencari sisa makna dari hidupnya. Ia mengangkat tongkat. Mesin menganggap itu sebagai perintah. Seluruh kota listrik bergetar. Lampu-lampu kejang seperti iman sekarat dan nyaris mati. Matahari yang kehilangan alasan untuk bangun besok pagi. Charlie terguling ke tanah, menertawakan tubuhnya sendiri yang rapuh, dan untuk pertama kali ia tampak seperti orang yang benar-benar mengerti bahwa tragedi terbesar manusia bukanlah penderitaan— melainkan ketika rasa sakit kita diabaikan oleh entitas yang tidak mampu membedakan manusia dari kucing digital yang gagal di-render. Dan dalam gelap itu, ia menangis sejadi-jadinya dalam mulut yang tetap membisu: “Beginilah kiranya bila dunia menyerahkan martabatnya kepada mesin yang tak bisa merasa takut.” Lalu ia menghilang, seperti tab yang ditutup tanpa sengaja. November 2025”