Quotessence
Home / Topics / Kintsugi Quotes

Kintsugi Quotes

Browse 12 quotes about Kintsugi.

Kintsugi Quotes

“Beauty can transform the fragments of a lost heart into poetry, reconstruct it spiritually, and reimagine brokenness into a new reality. Just as in Kintsugi, the Japanese art of repairing pottery by embracing its breaks rather than attempting to conceal them, we celebrate its history and acclaim its imperfections. (“Absence of Beauty is like Hell“)”

“Ada luka sumbing serupa gempil bibir poci di hati semua orang. Cacat yang berusaha keras mereka sembunyikan dari dunia. Tapi tak semestinya kita mengenakan topeng hanya demi menutup secebis luka. Tak semua hal mesti kita cerna dengan tatapan mata curiga serupa itu. Maka dari itu, coba dengarkan apa kata Bundamu ini, Nak. Manusia tak perlu harus jadi sempurna agar ia dihargai. Sebagaimana keindahan bisa muncul dari hal kecil dan sederhana. Termasuk apa yang tampak pada selembar kain batik yang lusuh atau cangkir teh yang somplak ujungnya. Kita bisa belajar dari kintsugi, menjadi bijak tanpa harus bergegas menjadi tua; bagaimana menorehkan pernis emas pada sebuah cawan tembikar yang terlanjur retak. Betapa sesungguhnya, sebuah guci porselen yang jatuh, pecah dan bahkan rusak tak berarti kehilangan semua nilai yang dimilikinya. Ketidaksempurnaan tidak akan mengecilkan arti dirimu. Sebab hanya ketangguhanmu melewati bukit penderitaanlah yang akan membuatmu menemukan cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya. Bagaimana kamu bisa belajar menghargai kekurangan pada diri sendiri. Bagaimana kamu bisa menerima kesalahan dan bahkan kegagalan. Sebagaimana alam memaknai wabi sabi, ketidak sempurnaan bukan sesuatu yang harus ditolak atau disangkal. Ia mesti disambut sebagai air telaga yang jernih, kesegaran embun di pagi hari, atau aroma petrichor di musim penghujan. Setiap kali engkau jatuh dan menjadi rapuh, engkau bisa merangkaikan kembali serpihan serpihan hatimu. Tak akan pernah kehilangan tujuan yang engkau perjuangkan. Sebab setiap bekas luka seperti juga keringat dan airmata, adalah permata yang lahir dari segenap jerih payahmu. Ia terlalu berharga untuk kamu sia siakan. Manik manik gemerlap yang dapat engkau rangkai menjadi perhiasan unik nan cantik yang akan selamanya jadi milikmu. Jangan pernah takut terantuk batu. Jangan sekalinya jeri dicerca burung. Jangan merasa ngeri terempas badai. Sebab saat nanti engkau sampai ke puncak, kau akan bisa melihat dunia sebagai miniatur lanskap yang permai dan elok untuk dikenang. Karena demikianlah semestinya hidup, ia adalah keindahan yang tercipta dari kekurangan dan ketidaksempurnaan diri kita.”

“Kintsugi is a Japanese art, that takes broken pottery and delicately places it back together by sealing the cracks with gold lacquer. I found myself admiring the metaphor it represents. It reminded me of you. Maybe you feel like you are broken inside, maybe you’re worried that you will disappoint me. Just like this pottery, life will never be perfect, but it can be beautiful. But we have to choose to see the beauty of it, not despite it’s cracks or imperfections but because of it. I get that you may not want to show me the side of you that’s less than perfect, but don’t you see? I don’t want perfect. Perfect is overrated. All I want is you. All that you are. Exactly as you are. I want you to know that I will wait for you, for as long as it takes. Take your time. (but not too long)”

“Alice recalled one of the books Dylan had read to her, a collection of Japanese fairytales. In one, a woman artist practiced kintsugi, repairing broken pottery with lacquer mixed with powdered gold. There'd been an illustration of a woman bent over a pile of broken pottery pieces, laid out to fit together, with a fine paintbrush in her hand, its bristles dipped in gold. It had enchanted Alice, the idea that breakage and repair were part of the story, not something to be disdained or disguised.”

“At a café in Tokyo I order cheesecake. It comes in a thick slice with a lightly caramelized crust in the centre of a small white plate, the glaze gradually darkening to a deep cream towards the middle. To the top of the plate is what at first I take to be a logo, a golden crest. It dawns on me as I eat and sip my tea that it is in fact a carefully mended crack. A delicate piece of kintsugi, an exquisite golden repair.”

“...I was reading that, in some cultures, they don't throw away a piece of pottery just because it breaks. They pour gold into the cracks, and the piece is even more beautiful than it was before it broke." He turned his head and stared into me. "You broke our marriage. I'm hoping, after all this, we can end up with something beautiful.”