Quotessence
Home / Topics / Wabi Sabi Quotes

Wabi Sabi Quotes

Browse 11 quotes about Wabi Sabi.

Wabi Sabi Quotes

“Wabi sabi teaches us to be content with less in a way that feels like more. Less stuff, more soul. Less hustle, more ease. Less chaos, more calm. Less mass consumption and more unique creation. Less complexity, more clarity. Less judgment, more forgiveness. Less resistence, more resilience. Less bravado, more truth. Less control, more surrender. Less head, more heart.”

“[Donald] Keene observed [in a book entitled The Pleasures of Japanese Literature, 1988] that the Japanese sense of beauty has long sharply differed from its Western counterpart: it has been dominated by a love of irregularity rather than symmetry, the impermanent rather than the eternal and the simple rather than the ornate. The reason owes nothing to climate or genetics, added Keene, but is the result of the actions of writers, painters and theorists, who had actively shaped the sense of beauty of their nation. Contrary to the Romantic belief that we each settle naturally on a fitting idea of beauty, it seems that our visual and emotional faculties in fact need constant external guidance to help them decide what they should take note of and appreciate. 'Culture' is the word we have assigned to the force that assists us in identifying which of our many sensations we should focus on and apportion value to.”

“There is an expression in Japanese that says that someone who makes things of poor quality is in fact worse than a thief because he doesn't make things that will last or provide true satisfaction. A thief at least redistributes the wealth of a society.”

“Ada luka sumbing serupa gempil bibir poci di hati semua orang. Cacat yang berusaha keras mereka sembunyikan dari dunia. Tapi tak semestinya kita mengenakan topeng hanya demi menutup secebis luka. Tak semua hal mesti kita cerna dengan tatapan mata curiga serupa itu. Maka dari itu, coba dengarkan apa kata Bundamu ini, Nak. Manusia tak perlu harus jadi sempurna agar ia dihargai. Sebagaimana keindahan bisa muncul dari hal kecil dan sederhana. Termasuk apa yang tampak pada selembar kain batik yang lusuh atau cangkir teh yang somplak ujungnya. Kita bisa belajar dari kintsugi, menjadi bijak tanpa harus bergegas menjadi tua; bagaimana menorehkan pernis emas pada sebuah cawan tembikar yang terlanjur retak. Betapa sesungguhnya, sebuah guci porselen yang jatuh, pecah dan bahkan rusak tak berarti kehilangan semua nilai yang dimilikinya. Ketidaksempurnaan tidak akan mengecilkan arti dirimu. Sebab hanya ketangguhanmu melewati bukit penderitaanlah yang akan membuatmu menemukan cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya. Bagaimana kamu bisa belajar menghargai kekurangan pada diri sendiri. Bagaimana kamu bisa menerima kesalahan dan bahkan kegagalan. Sebagaimana alam memaknai wabi sabi, ketidak sempurnaan bukan sesuatu yang harus ditolak atau disangkal. Ia mesti disambut sebagai air telaga yang jernih, kesegaran embun di pagi hari, atau aroma petrichor di musim penghujan. Setiap kali engkau jatuh dan menjadi rapuh, engkau bisa merangkaikan kembali serpihan serpihan hatimu. Tak akan pernah kehilangan tujuan yang engkau perjuangkan. Sebab setiap bekas luka seperti juga keringat dan airmata, adalah permata yang lahir dari segenap jerih payahmu. Ia terlalu berharga untuk kamu sia siakan. Manik manik gemerlap yang dapat engkau rangkai menjadi perhiasan unik nan cantik yang akan selamanya jadi milikmu. Jangan pernah takut terantuk batu. Jangan sekalinya jeri dicerca burung. Jangan merasa ngeri terempas badai. Sebab saat nanti engkau sampai ke puncak, kau akan bisa melihat dunia sebagai miniatur lanskap yang permai dan elok untuk dikenang. Karena demikianlah semestinya hidup, ia adalah keindahan yang tercipta dari kekurangan dan ketidaksempurnaan diri kita.”

“Each tile is curved and has an attractive rough texture. The colour varies from bright vermilion to dull Venetian red. They have the patina of almost two centuries of English sunshine and rain and are patterned with mosses in a wide range of emerald, apple and viridian greens. Any one of them, tastefully framed and hung in a London art gallery, would get rave notices from the critics.”