“Angin tak pernah mengeluh, menghempas debu jalanan. Hujan tak pernah lalai, dalam rinai syahdu pun teruntai. Dawai. Damai. Bumi enggan mengaduh, barangkali sudah jengah diinjak dan diludah. Barangkali demikian aku. Dalam rindu kuku terendap waktu.” RinduWaktuHujanAnginDebu Book:Elipsis Source: Elipsis
“Kau terhenti. Tergagu kau bertanya. Mungkin pada diri sendiri, mungkin kepadaku. “Siapa… kamu?” Namaku Bumi, ketika langitmu perlu wadah untuk menangis. Namaku Bulan, saat kau terlelap, kujaga duniamu dalam gelap. Namaku Telaga, kan kubasuh lusuh di sekujur tubuhmu itu. “Untuk apa?” Untuk partikel udara yang kau hirup dengan cuma-cuma. Untuk desau angin yang bisiknya kau halau dengan daun pintu. Untuk kepul terakhir secangkir kopi yang kau hirup sebelum mendingin. Kau kembali berjalan. Aku kembali diam. Kita tak lagi berbincang. Aku tetap menjadi bumi, bulan, dan telagamu. Kau masih menghirup udara, menghalau angin, dan menyeduh kopi. Kita masih melakukan hal yang sama, masih di tempat yang terpisah. Dan tak pernah kau pertanyakan lagi keberadaanku. Sebab bagimu aku selalu ada.” PuisiKopiAnginBulanBumiUdaraKeberadaanTelaga Book:Elipsis Source: Elipsis
“Bagaimana mungkin kamu pergi begitu saja setelah semua hal yang terjadi? Kamulah yang terburuk! Karena kamu datang serupa angin, mengisi yang hampa, untuk kemudian pergi begitu saja, seakan tidak terjadi apa-apa.” CintaAnginHampaBuruk Book:Maya Maia Source: Maya Maia