“Jejak ini mengendap sudah. Tersapu habis buih. Terpecah karang, demikian tangis ini. Peluk aku sebisamu. Layaknya pasir pantai membenamkan mata kakiku. Selagi kaki ini masih menjejak. Selagi jantung masih berdetak. Selagi bisa kita menderak jarak. Menjadikannya serupa bisik serak. Koyaklah waktu! Jadikan ini milikmu! Rengkuh… Seharusnya ini milikmu. Seandainya kamu tahu! Bodohnya kamu…” WaktuPerpisahanTangisPelukRengkuh Book:Elipsis Source: Elipsis
“Angin tak pernah mengeluh, menghempas debu jalanan. Hujan tak pernah lalai, dalam rinai syahdu pun teruntai. Dawai. Damai. Bumi enggan mengaduh, barangkali sudah jengah diinjak dan diludah. Barangkali demikian aku. Dalam rindu kuku terendap waktu.” RinduWaktuHujanAnginDebu Book:Elipsis Source: Elipsis
“Mengapa Tuhan menciptakan waktu? Waktu hanya akan merintangi banyak hal, seperti batasan usia dan lain sebagainya. Waktu juga mampu menciptakan jarak tak kasat mata.” WaktuJarakUsia Book:Elipsis Source: Elipsis
“Mayang, apa kamu akan membunuhku detik ini juga? Kamu siap ke hilangan aku sekarang? Bukankah kita masih punya waktu untuk bersenang-senang? Kenapa tidak dinikmati dulu?” WaktuKehilanganDetikBunuhBersenang Senang Book:Februari: Ecstasy Source: Februari: Ecstasy
“Mungkin kopi itu terlambat momennya untuk dinikmati. Cairan itu mendingin dan sensasi kafein di dalamnya sudah memudar ditelan waktu. Kopi tersebut ditinggalkan begitu saja. Terabaikan.” WaktuKopiMomen Author:Devania Annesya