Quotessence
Home / Quotes / Quote by Goenawan Mohamad

Quote by Goenawan Mohamad

Work

Catatan Pinggir 7

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad, born on July 29, 1941, is a renowned Indonesian poet. His poetry is deeply influenced by Indonesian culture, showcasing rich emotions and profound thoughts. Goenawan Mohamad's works hold an important position in the Indonesian literary world and are considered one of the representatives of modern Indonesian poetry. more

You May Also Like

“Rasul Islam itu sekarang ini dianggap di dalam minda sekular moden sebagai seorang manusia, tidak lebih dari seorang manusia luaran sahaja, seorang yang bersifat bashari, seperti manusia lain juga oleh kerana bagi minda moden seseorang tidak akan lebih daripada realiti fizikal seperti yang direkai oleh konsep manusia menurut aliran pemikiran sains moden yang palsu. Jika dia digambarkan di dalam tradisi pemikiran lampau sebagai lebih daripada hakikat fizikal ini maka ini segera dianggap sebagai hakikat psiki, sebahagian pemikiran dan minda yang negatif, sebuah mimpi, dirinya yagn tersirat yang bersifat bayang-bayang belaka, penakkulan yang salah tentang sifat dan ciri dari diri akalnya di mana diri luarannya yang satu-satunya dianggap 'diri'.”

“Tak ada harga mati di sepanjang lorong sejarah manusia, kecuali satu: evolusi. Ia adalah keniscayaan. Semua yang tak berevolusi, punah. Dan berevolusi bukan berarti menanggalkan identitas, tetapi merekayasanya agar kompatibel dengan realitas baru. Karena itulah asimilasi, integrasi, dan sinkretisme menjadi penting. Ia adalah cara manusia menyambung masa lalu ke masa depan, tanpa menelan bulat narasi usang, tetapi juga tanpa menghilangkan akar.”

“Tuhan adalah resultan dari absurdnya metode berpikir. Ia lahir di celah-celah ketidaktahuan, menjelma sebagai jawaban atas pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan pada zamannya. Rigiditas ketuhanan adalah fosil dari ketakutan manusia pada kekacauan, pada kekosongan. Ia hidup dalam benak yang enggan bergerak, yang membatu dalam kejumudan. Tuhan, dalam bentuknya yang paling purba, bukanlah entitas yang dicari karena kasih, melainkan yang dipahat karena cemas. Ia bukan pencipta, tetapi ciptaan—oleh imajinasi, oleh trauma kolektif, oleh keterbatasan kognitif yang memerlukan makna.”