Quotessence
Home / Quotes / Quote by Finn Skårderud

Quote by Finn Skårderud

“Turime būti atsargūs skelbdami kokį nors elgesį patologišku vien todėl, kad patys esame per kvaili suvokti jo logiką.”

Quote by Finn Skårderud

Book:Uro

Work

Uro

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Finn Skårderud

Browse famous quotes and profile details for Finn Skårderud. more

You May Also Like

“Rasul Islam itu sekarang ini dianggap di dalam minda sekular moden sebagai seorang manusia, tidak lebih dari seorang manusia luaran sahaja, seorang yang bersifat bashari, seperti manusia lain juga oleh kerana bagi minda moden seseorang tidak akan lebih daripada realiti fizikal seperti yang direkai oleh konsep manusia menurut aliran pemikiran sains moden yang palsu. Jika dia digambarkan di dalam tradisi pemikiran lampau sebagai lebih daripada hakikat fizikal ini maka ini segera dianggap sebagai hakikat psiki, sebahagian pemikiran dan minda yang negatif, sebuah mimpi, dirinya yagn tersirat yang bersifat bayang-bayang belaka, penakkulan yang salah tentang sifat dan ciri dari diri akalnya di mana diri luarannya yang satu-satunya dianggap 'diri'.”

“Tak ada harga mati di sepanjang lorong sejarah manusia, kecuali satu: evolusi. Ia adalah keniscayaan. Semua yang tak berevolusi, punah. Dan berevolusi bukan berarti menanggalkan identitas, tetapi merekayasanya agar kompatibel dengan realitas baru. Karena itulah asimilasi, integrasi, dan sinkretisme menjadi penting. Ia adalah cara manusia menyambung masa lalu ke masa depan, tanpa menelan bulat narasi usang, tetapi juga tanpa menghilangkan akar.”

“Tuhan adalah resultan dari absurdnya metode berpikir. Ia lahir di celah-celah ketidaktahuan, menjelma sebagai jawaban atas pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan pada zamannya. Rigiditas ketuhanan adalah fosil dari ketakutan manusia pada kekacauan, pada kekosongan. Ia hidup dalam benak yang enggan bergerak, yang membatu dalam kejumudan. Tuhan, dalam bentuknya yang paling purba, bukanlah entitas yang dicari karena kasih, melainkan yang dipahat karena cemas. Ia bukan pencipta, tetapi ciptaan—oleh imajinasi, oleh trauma kolektif, oleh keterbatasan kognitif yang memerlukan makna.”