Quotessence
Home / Quotes / Quote by Samama Reza

Quote by Samama Reza

“How could they make me fall in love with a city I called home, a city where I stitched my heart and soul into, only to make me rip it all out and leave? The breeze that brought me happiness, the waves of the beach where I found peace, the people who felt more like family than my own, how could they ask me to leave it all behind? The city where I laughed, cried, grew up, and truly lived... How could they expect me to walk away, knowing it would be the last time I strolled through these familiar streets that to me felt like heaven?”

Quote by Samama Reza

Work

To Hell With You

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Samama Reza

Browse famous quotes and profile details for Samama Reza. more

You May Also Like

“​"Ogni racconto è una finestra aperta sul mondo, un invito a guardare oltre ciò che appare, senza pregiudizi o preconcetti. Lasciando solo socchiusa la porta del proprio, unico Sé." [Intenti dell'Autore] ​"L'invisibile si confondeva con l'evidenza, e nessuno sapeva spiegare la serenità dipinta sul volto del carrettiere." [Da Il Carretto del Mistero] ​"Ora, nella quiete del bosco, come il muschio si intrecciava tra le radici, cresceva il più dolce dei misteri." [Da Il Silenzio dei Segreti] ​"L'ombrellaio, custode di un'arte e di un tempo ormai lontano, continuava il suo lavoro, quasi a raccogliere le ultime briciole di un'esistenza passata." [Da Il Custode delle Piogge] ​"Anche gli altri dovevano poter guardare nell'interno di quella vecchia scarpa logora e consunta, per scoprirne i segreti e vedere quei mondi incantati." [Da Il Viandante e lo Scarpone] ​"Nel fragile equilibrio tra vita e morte, ogni passo diventa un far suo di una vita terrena, ogni respiro una danza tra speranza e destino." [Da Passi nel Nulla]”

“Is there anything, apart from a really good chocolate cream pie and receiving a large, unexpected cheque in the post, to beat finding yourself at large in a foreign city on a fair spring evening, loafing along unfamiliar streets in the long shadows of a lazy sunset, pausing to gaze in shop windows or at some church or lovely square or tranquil stretch of quayside, hesitating at street corners to decide whether that cheerful and homy restaurant you will remember fondly for years is likely to lie down this street or that one? I just love it. I could spend my life arriving each evening in a new city.”

“Kita Telah Menjadi Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu? Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga. Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu? Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana. : Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu. Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya. Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas. Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan. Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu? Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu. Mendadak saja kau merasa; Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri. Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati. Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu? Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca; Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal. Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal. Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal. Kita telah menjadi bukan siapa-siapa. Oktober 2025”

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji”