Quotessence
Home / Quotes / B Quotes

B Quotes

Browse famous quotes beginning with B. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All B Quotes

“Baking with a salt crust! Salt is mixed with egg whites and then spread over the top of the dish to form a thick crust. This ensures no moisture escapes during baking, keeping the goodness of the ingredients concentrated inside. It's said that centuries ago, when Shogun Hideyoshi Toyotomi was deployed on maneuvers, he'd cover his fish in a salt crust to prevent it from rotting. Because of the insulating wall of salt, the dish is heated gently and evenly while in the oven... ... its juiciness and deliciousness slowly growing within its protective shell. The dish is considered complete... ... when you crack open the now golden-brown salt crust.”

“Bakunin, on the other hand, considered himself a revolutionist of the deed, "not a philosopher and not an inventor of systems, like Marx." He adamantly refused to recognize the existence of any "a priori ideas or preordained, preconceived laws." Bakunin rejected the view that social change depended on the gradual maturation of "objective" historical conditions. On the contrary, he believed that men shaped their own destinies, that their lives could not be squeezed into a Procrustean bed of abstract sociological formulas. "No theory, no ready-made system, no book that has ever been written will save the world," Bakunin declared. "I cleave to no system, I am a true seeker." Mankind was not compelled to wait patiently as the fabric of history unfolded in the fullness of time. By teaching the working masses theories, Marx would only succeed in stifling the revolutionary ardor every man already possessed—"the impulse to liberty, the passion for equality, the holy instinct of revolt.”

“Bakunin perceived the authoritarianism inherent in a so-called dictatorship of the proletariat. The state, he insisted, however popular in form, would always serve as a weapon of exploitation and enslavement. He predicted the inevitable formation of a new "privileged minority" of savants and experts, whose superior knowledge would enable them to use the state as an instrument to rule over the uneducated manual laborers in the fields and factories. The citizens of the new people's state would be rudely awakened from their self-delusion to discover that they had become "the slaves, the playthings, and the victims of a new group of ambitious men." The only way the common people could escape this lamentable fate was to make the revolution themselves, total and universal, ruthless and chaotic, elemental and unrestrained. "It is necessary to abolish completely, in principle and in practice, everything that might be called political power," Bakunin concluded, "for so long as political power exists, there will always be rulers and ruled, masters and slaves, exploiter and exploited".”

“Bakunin's warnings about the "Red bureaucracy" that would institute "the worst of all despotic governments" were long before Lenin, and were directed against the followers of Mr. Marx. There were, in fact, followers of many different kinds; Pannekoek, Luxemburg, Mattick and others are very far from Lenin, and their views often converge with elements of anarcho-syndicaIism. Korsch and others wrote sympathetically of the anarchist revolution in Spain, in fact. There are continuities from Marx to Lenin, but there are also continuities to Marxists who were harshly critical of Lenin and Bolshevism. Teodor Shanin's work in the past years on Marx's later attitudes towards peasant revolution is also relevant here. I'm far from being a Marx scholar, and wouldn't venture any serious judgement on which of these continuities reflects the "real Marx," if there even can be an answer to that question.”

“Bakın şimdi: Bedenin temel kısmı, iyi, evcilleştirilmiş popo temeldir; bu yüzden eylem popodan başlar. Ayrı ayrı kısımların dalları tıpkı bir ağaç gövdesinden çıkar gibi popodan ayak parmağı, eller, gözler, dişler kulaklar olarak çıkıp dal dal dağılırlarken bazı kısımlar, hassas ve mahir işlemeler sayesinde, hafiften diğerlerin içine geçerler. Küçük Polonya Vilayeti'nde "papa" da denilen insan yüzü ise taçtır; poponun gövdesinden ayrı ayrı parçalar halinde büyüyen ağacın yapraklı kısmıdır; demek ki popo tarafından başlatılmış döngüyü papa kapatır. "Papa"ya vardıktan sonra bana, onlar üzerinden yeniden popoya varmak için ayrı ayrı parçalara dönmek kalmıyorsa eğer, ne kalıyor?”

“BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan dari Pintu yang Keliru Pada malam kelahiranmu, waktu tersandung kaki sendiri. Wuku yang mestinya sunyi tiba-tiba retak seperti periuk jatuh ke tanah— pertanda luka di bibir desa: “janma ing mangsa tan ana pancer.” Ia yang lahir tanpa pusat, tanpa tempat menambat napas. Ibu menjerit tanpa suara, tali terputus penghubung jiwa tumpas ruh tak terlihat, ia yang disebut orang: buta mangili, perusak garis nasib sendiri. Langit merah mengucur darah hewan kurban disembelih untuk ruwatan. II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah Ranting-ranting kering merunduk di bawah cahaya purnama raya. Angin malam menggigil menyebut nama dalam lafal yang paling ganjil— tidak lembut, tidak akrab, dunia yang menolak mengakui kehadirannya. Makhluk sawah makhluk rimba mengembik, melenguh, melolong, lalu pergi tanpa menoleh. “Anak durjana,” bisik mulut-mulut dari balik pintu berpalang jati. “Kelahiran yang ditolak bumi, tidak dibawa lintang waluku.” Dan seorang lelaki kehilangan kewarasan, menggantung diri di pohon randu layang kendat pratanda pati. Bayang Sukerta ing mongso ketigo Suryasengkala: Anggatra Rasa Tunggal Sirna III. Sinom — Upacara Penolak Bala Para tetua menggelar sesaji: jajan pasar, kemenyan arang gosong, jenang sengkolo, tumpeng robyong, pala pendem, sego golong, banyu kendi sendang keramat, cengkir gading, kembang telon, seekor sapi tumpah darahnya dipersembahkan memetakan arah sengkala yang membayangi. Doa-doa terlontar seperti tombak, menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam. Bisik roh tanah memburu mimpi: “Dudu salahé, nanging ora ana sing wani ngakoni.” Rumah pertama mengeras pada telunjuk terbakar serupa kutuk tangan makhluk tak kasat mata. Angin selatan mengamuk, membawa hama, membawa isyarat celaka. Nama berhembus seperti dongeng petaka berbisik dari bibir ke bibir. IV. Dhandanggula — Kisah Panjang yang Tak Mau Mati Tahun berganti musim, dan cerita tumbuh seperti jamur merasuk ruh para leluhur di dinding lembab ingatan orang. Mereka bilang; ia hanya setengah manusia— setengah anak padi, setengah anak badai. Lahir dari rahim peristiwa hingar-bingar yang tak pernah benar-benar dipahami. Mitos menyebut: “janma saka papat kiblat, kang nggawa lamur saka kidul.” Seekor ular membelit takdir menampak diri di belakang bukit bukan binatang, kata mereka. barangkali saudara tua yang gagal lahir, kata yang lain penjaga kubur tak pernah tidur.”

“BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025”

“Balance and control come from healthy anger. This is just as aggressive as the unhealthy kind. But it is based on a belief and hope for change in social roles and institutions. Healthy anger demands change and creates the confrontations needed for change to occur. It also gives the other an opportunity to help make that change. “Our task, of course, is to transmute the anger that is affliction into the anger that is determination to bring about change. I think, in fact, that one could give that as a definition of revolution.”

“Balance is a tricky thing. I love my work and that helps. And I work a lot. So I spend a fair amount of time trying to make sure I'm taking time off, exercising, meditating and things like that. I also have a powerful support team (including my partner, Kelley) to keep me grounded. I don't always feel like I have the balance I want, but I have awareness about it, which I think is key.”

“Balance is the key to my serenity. I attain balance by listening to my inner wisdom and to the wisdom of others. There is no situation in which I cannot find a point of balance. There is no circumstance in which I cannot find inner harmony. As I ask to be led into equilibrium and clarity, I will find that my answers come to me. I am wiser than I know, more capable of right action and attitudes than I yet believe. In every event, I seek the balance point of God's action through me.”