Quotessence
Home / Quotes / M Quotes

M Quotes

Browse famous quotes beginning with M. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All M Quotes

“Mariko had given her notorious sweet tooth full rein. Lex stared at the table of food and could already feel the sugar eating cavities into her enamel. Banana nut bread, sesame-crusted Chinese doughnuts, almond cookies, fruit cocktail and almond custard, steamed egg cake, even honey walnut prawns. On the non-Asian side was rum cake, blueberry pecan muffins, strawberry almond rolls, and croissants.”

“Marilla felt more embarrassed than ever. She had intended to teach Anne the childish classic, "Now I lay me down to sleep." But she had, as I have told you, the glimmerings of a sense of humor--which is simply another name for a sense of the fitness of things; and it suddenly occurred to her that simple little prayer, sacred to the white-robed childhood lisping at motherly knees, was entirely unsuited to this freckled witch of a girl who knew and cared nothing about God's love, since she had never had it translated to her through the medium of human love.”

“Marilla looked at her with a tenderness that would never have been suffered to reveal itself in any clearer light than that soft mingling of fireshine and shadow. The lesson of a love that should display itself easily in spoken word and open look was one Marilla could never learn. But she had learned to love this slim, gray-eyed girl with an affection all the deeper and stronger from its very undemonstrativeness. Her love made her afraid of being unduly indulgent, indeed. She had an uneasy feeling that it was rather sinful to set one's heart so intensely on any human creature as she had hers set on Anne, and perhaps she performed a sort of unconscious penance for this by being stricter and more critical than if the girl had been less dear to her.”

“Marilla looked at her with a tenderness that would never have been suffered to reveal itself in any clearer light than that soft mingling of fireshine and shadow. The lesson of a love that should display itself easily in spoken word and open look was one Marilla could never learn. But she had learned to love this slim, gray-eyed girl with an affection all the deeper and stronger from its very undemonstrativeness. Her love made her afraid of being unduly indulgent, indeed. She had an uneasy feeling that it was rather sinful to set one's heart so intensely on any human creature as she has hers set on Anne, and perhaps she performed a sort of unconscious penance for this by being stricter and more critical than if the girl had been less dear to her.”

“Marilyn always dreamt of being an actress. She didn't, by the way, dream of being just a star. She dreamt of being an actress. And she had always lived somehow with that dream. And that is why, despite the fact that she became one of the most unusual and outstanding stars of all time, she herself was never satisfied. When she came to New York, she began to perceive the possibilities of really accomplishing her dream, of being an actress.”

“Marilyn III (The Last Room, The Last Mirror) Di ruang rias yang tak punya jendela, wajahmu terbelah menjadi tiga: yang dipuja, yang disembunyikan, dan yang dibungkam. Cermin retak memantulkan kelopak krisan di matamu seperti orbit bintang mati, terlalu lelah untuk bersinar lagi. Kau pernah disebut dewi, hasrat secuil debu digerus oleh mesin industri yang kesemuanya berkelamin laki-laki. Tubuh molek yang dijahit ulang oleh kilatan kamera, direkayasa menjadi hieroglif kecantikan namun menolak pasrah: "Aku tidak keberatan hidup di dunia pria, selama aku bisa menjadi wanita di dalamnya." Di bawah sorot lampu studio, kau berdiri seperti ritual pemanggilan arwah— senyum yang dipaksa tumbuh di tengah gurun, jiwa yang tak pernah mengenal hujan dan keteduhan. Ada catatan samar di sayap malam: “Marilyn hanyalah ide. Raga ilusi yang dipakai untuk menyihir dunia.” Bayangan yang merambat di atas panggung seperti binatang terluka mencari pintu keluar yang tak pernah ada. Kau belajar menertawakan diri sendiri sebelum dunia lebih dulu menertawakanmu. Begitulah hukum dunia pertunjukan: Ia yang hidup harus menjadi ilusi, dan ilusi harus belajar menanggung kematian. Dalam seprai satin putih, kau menghilang tanpa kabar— seperti lilin yang menolak terbakar karena api sudah lama bosan menghanguskan mimpimu. Namun dunia masih memanggil namamu dengan nada seperti doa yang kehilangan Tuhan. Mereka menyalakan replika lilin di museum Tussauds. dan menyangka itu cukup untuk menebus semua luka yang mereka tonton tanpa berkedip. Oh Marilyn— bukan tragedi yang membuatmu abadi, melainkan cara dunia menelanmu hidup-hidup dan melihatmu tetap tersenyum seperti dalam iklan pasta gigi. 2022”

“MARILYN V (AUTOPSY: DISSECTING REALITY) Tidak ada bintang. Tidak ada ikon. Tidak ada nama yang perlu disebutkan. Yang ada hanya tubuh perempuan yang diseret ke atas meja rias seperti bangkai hewan percobaan yang tak bisa menolak. Panas lampu sorot menampar kulitnya bukan untuk memuja, tapi untuk mencari bagian mana yang masih bisa dipasarkan di media massa. Rambutnya disisir seperti jerami, matanya dipaksa membuka, Bibir merah yang tak lagi basah kerongkongan kering karena suara bukanlah miliknya. Sudah lama industri tidak mencintainya— industri hanya lapar, dan wajahnya adalah komoditas murah untuk mengenyangkan mesin hiburan yang tidak pernah berhenti bermasturbasi. Tidak ada mitos. Tidak ada tragedi. Yang ada hanya operasi kosmetik yang diulang sampai wajahnya menyerupai topeng cosplay yang dicetak massal. Setiap senyum dipasang seperti plester luka, bukan untuk menutup rasa sakit tapi untuk menyamakan dirinya dengan ratusan wajah lain yang siap didaur ulang. Jika ia menangis, kamera akan merekam. Jika ia tertawa, sutradara akan menyuruhnya mengulang adegan. Jika ia pingsan, tata rias akan memperbaiki lipstick dan foundationnya. Kesadaran mengabur jiwa mengevaporasi, yang tersisa cuma daging mekanis yang hanya tahu cara berjalan ke tempat syuting berikutnya. Dunia memaknainya entah sebagai apa: dewi, rembulan atau sekadar boneka. Padahal ia hanyalah produk yang tidak pernah diminta persetujuannya. Ketika akhirnya ia rebah, dan tubuhnya berhenti meniru kehidupan, tidak ada keheningan sakral, tidak ada kesedihan global— hanya staf hotel yang mengetuk pintu, mengeluh soal waktu check-out. Tubuh itu dibawa pergi seperti koper rusak: diam, berat, dan tak lagi berdetak. Esok harinya, studio mempekerjakan wajah baru. Lebih muda. Lebih murah. Lebih pasrah. Tidak ada warisan. Tidak ada keabadian. Tidak ada pelajaran moral. Yang ada hanya dunia yang tak henti mengunyah tubuh dan wajah perempuan dan menyebut ampasnya sebagai “legenda”. November 2025”

“Marilynn...passed out black cases to everyone. I opened mine to find an iPad inside. Several candidates whistled. Despite my agitated state, it impressed me too. Maybe wizard school wasn’t going to be as lame as I had thought. “All of your schedules and assignments will be done on these,” Marilynn explained. “The whole school is on these. We’ve had them for awhile now.”