“Aku ingat lagi dalam cahaya bulan, sayup malam kau menyangkul, menanam tabah lebih awal mengejar jejak matahari. (Sajak Buat Bapaku)” AnakAyahBapa Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Perjalanan, memang akan seperti ini titik ke titik, berjeda tengah henti. (Matahari Sudah Hampir Jatuh)” KematianTakdirPerjalananKembara Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Begitulah manusia, sangat agung dalam sejarah Dan sebahagian erti sejarah itu adalah darah (Awan, Angin, Dan Bumi)” SejarahKemanusiaanPeperangan Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Segala yang berdosa itu menyelit dalam samar, berselindung di sebalik kelam, tersembunyi dalam pekat hitam. (Malam)” MalamDosa Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Mengapa alam yang hijau Akan selalu berakhir Dengan warna merah? (Gunung Akan Menggelongsor)” KemanusiaanAlam Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Saudara, kalau aku tertidur dan terdengar bunyi aku patah, tolong kejutkan aku," mungkin begitu pesan ranting. (Mungkin)” KematianAlam Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Berikanlah aku kulit kerang Untuk selalu kuingat, hidup ini sementara. Bagai pelangi akhirnya hilang Bagai matahari akhirnya terbenam. Kalau aku pergi lagi ke hadapanmu Akan tertinggal tapakku di pasir. (Ingatan Terhadap Laut Yang Jauh)” PuisiAlamPergiLautPemergian Book:Hanya Langit Meratap Source: Hanya Langit Meratap
“Kalau kukenang, dulu tidak mudah untuk bertiarap, mengengsot, merangkak, berlunjur. Alangkah payah untuk bangun berdiri menjadi manusia. Tetapi betapa mudah pula untuk menjadi tua. (Sajak 2014, Mengenang Hari Lahir)” PuisiKemanusiaanTuaUlang Tahun Book:Hanya Langit Meratap Source: Hanya Langit Meratap
“Di sekeliling kami, langit yang sudah semakin gelap. Di celah-celahnya, tersembunyi maut yang sedang menyeringai taring, berkuku panjang tajam. (Arah Yang Tidak Pernah Ada)” KemanusiaanTragediMautRohingya Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Mayat dan selangka adalah jawapan terakhir, Sesudah moral, dulu, kita anggap Hanya sebagai hujung ekor tamadun. (Tidakkah Kita Berada Di Sana?)” MoralManusiaKemanusiaanPerangPeperanganTamadun Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“usia cepat pergi, hilang seperti bayang meninggalkan kenangan, sayup-sayup di belakang. (Tangga dan Keladi)” KemanusiaanMatiKematianMaut Book:Anak Dusun Source: Anak Dusun
“Perang membakar rumah dan sekolah. Huruf dan angka menyala hangus. Yang akan ditinggalkan untuk masa depan kami bara dan arang. (Ke Manakah Lagi?)” PuisiKemanusiaanPerang Book:Hanya Langit Meratap Source: Hanya Langit Meratap
“Kalau kau berdua - Angin dan awan, bercantum dijadikan manusia Percayalah, Langit tentu sudah lama terbelah. (Awan, Angin, Dan Bumi)” ManusiaKemanusiaanPeperanganDarahPertumpahan Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Kini kau terduduk di tengah-tengah batas antara sempadan kota dan desa. Kecar dan gondang terapung di kakimu ruak dan sitar bertengger di bahumu. Sempatkah kaubangun menggenggam semaian sebelum menjelang pagi? (Baruh)” KemanusiaanMetaforaSimbolismePerlambangan Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Kita ratusan kaligrafi tercatat merah pada nisan-nisan berceracak tua. (Broome)” KemanusiaanKematianFana Book:Tidakkah Kita Berada Di Sana? Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“Kita serumpun bertanam buluh. Buluh akan patah, diserbu ribut, jika hidup sebatang. Di belakang kita masih ada seribu rebung, Kelak, semuanya boleh menjunjung langit. (Ekspresionisme di Sibolangit)” MelayuPerpaduanRumpun Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Kauberikan aku, jalan panjang, sayup-sayup samar-samar hujungnya ke baris akhir puisi. Menelusur jalan berliku menjadi berkelok makna. Kauberikan gunung, kabus menjadi huruf-huruf. (Selamat Tinggal, Indonesia)” PuisiBahasa Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Selebihnya lagi, sejumlah besar, tebal halaman sejarah penjajah yang sudah berdebu. Yang tidak boleh dipinda, dibaiki apa-apa lagi, termasuk koma dan noktah. (Istana Maimon)” PuisiPenjajahanImperialismePascakolonial Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh
“Aku tahu, di sana aku akan mudah luluh cair seperti lilin menyala. Cukup untuk terbakar, walau oleh sepatah huruf daripada kata-kata rayu, cumbuan.” ImanNafsu Book:Matahari Itu Jauh Source: Matahari Itu Jauh