Quotessence
Home / Quotes / Quote by Nailal Fahmi

Quote by Nailal Fahmi

Work

Jalan Panjang yang Berangin

Browse quotes and source details for this work. more

Author

Nailal Fahmi

Browse famous quotes and profile details for Nailal Fahmi. more

You May Also Like

“Description is what makes the reader a sensory participant in the story. Good description is a learned skill,one of the prime reasons you cannot succeed unless you read a lot and write a lot. It's not just a question of how-to, you see; it's a question of how much to. Reading will help you answer how much, and only reams of writing will help you with the how. You can learn only by doing.”

“Ketahuilah, nilai itu tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh kesadaran kemanusiaan kita sendiri. Harga mengikuti suara massa, tapi nilai yang sesungguhnya mengikuti suara hati. Jika engkau hidup hanya untuk mengikuti pasar, maka nilaimu akan naik turun seperti grafik yang kehilangan arah. Tapi jika engkau hidup dari pusat kesadaranmu—dari karya, niat, kesungguhan dan kejujuran—maka engkau menjadi seperti emas sejati: ia mungkin terpendam dalam tanah, tapi tak pernah berkarat.”

“Realitas Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan; Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku. Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi. Ada yang sedang berubah dari dunia ini; Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji. Orang-orang tenggelam di sawah Terpacak ke dalam lumpur kering Tegalan menjelma jadi hamparan batu. Kerbau dan kambing kehilangan kandang. Hutan dan padang rumput di babat habis. Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah. Ia datang bersama heran. Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli. Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap. Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang, maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga. Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?" Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara, Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu. Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang' yang konon tercipta dari sebuah puisi. Tapi mengapa kini, tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar? Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan. Tak ada anak-anak berlarian di lapangan. Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu? Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli? Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati. Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja. Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu. Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman. Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari. Orang banyak berdebat tentang agama Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada. Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja? Dan seterusnya Dan seterusnya... Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu Konon katanya mereka terbang di bawa UFO ke sebuah planet yang berwarna biru. Dan demikianlah, kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari. Bukan untuk dipertanyakan Bukan untuk dibantah. November 2025”

“TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL) /1/ Swans Reflecting Elephants Langit patah di hadapanku— retakannya melingkar seperti iris mata kosmik yang memerhatikan segala sesuatu tanpa pernah memutuskan siapa yang benar. Di telaga yang terbuat dari ingatan tiga angsa menari dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan. Namun di bayangan air mereka berubah menjadi gajah yang memikul menara-menara waktu dengan kaki panjang seperti renungan yang tak pernah selesai. Di balik lengkung cahaya itu, para malaikat dan iblis menunduk, menahan napas sambil saling menuding siapa yang pertama kali melukis cahaya di atas kanvas semesta. Nama-nama mereka menetes dari pinggir kesadaranku— Azazel, Ashmedai, Ashtaroth— nama yang dulu kutakuti, kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api. Aku mencoba menyentuh permukaan air, namun telaga itu bergeming dan memantulkan wajahku dengan bentuk yang tak lagi kukenal. Ketika jam di tanganku mencair menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu, aku tahu: logika telah mati malam ini, dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. /2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate Sebelum aku terbangun, ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu, lahir dari buah delima yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku. Dari dalam buah itu, seekor harimau melompat seperti ketakutan masa kecil yang lupa aku kubur. Lalu seekor gajah berkaki laba-laba merayap di langit dengan gerak lambat yang menciptakan teror lebih halus dari doa. Tubuhmu— sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat— mendorongku ke tepi kesadaran yang licin. Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku, melihat ikan hiu yang membuka mulutnya untuk melahirkan sepasang kekhawatiran, melihat seekor ular yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat namun terus memaksakan diri disebut. Di bawah semua itu, aku mendengar suara dalam diriku berbisik: “Kesadaran tidak datang dari keheningan, tetapi dari ketakutan yang menolak kau mengerti.” Dan aku tahu, di titik itu eros dan tanathos sedang menertawakanku tanpa menawarkan penjelasan apa pun. /3/ The Great Masturbator Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir, aku menemukan diriku di antara reruntuhan egoku sendiri. Ada telur yang retak, ada cangkang yang menyerupai rahim, dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya yang memakan sisa-sisa masa laluku dengan kelaparan yang nyaris asketis. Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah dan menyimpannya di jantungku seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya. Aku mencoba menghalaunya namun tangan dan kakiku seolah terbuat dari kaca yang teriris, jatuh satu per satu ke dalam sumur yang tak memiliki dasar. Aku melihat diriku sendiri berdiri di tepi kanvas, telanjang dan kehilangan nama. Di belakangku, seekor kuda kejantanan meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba, sementara di depanku, cahaya retak seperti jemaat yang kehilangan nabinya. “Apakah ini kebangkitan?” tanyaku. Namun yang menjawab bukan malaikat, bukan iblis, melainkan kesadaran yang lahir dari kehancuranku sendiri: Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi. Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri. Dan dari absurditas inilah, aku menetas kembali. November 2025”

“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah Kalian menyebutnya peristiwa. Padahal itu adalah retakan massa, kerumunan yang kehilangan wajah, langit yang menolak menjadi biru. Api tumbuh dari sisa-sisa nasib dan kalian berdiri memotretnya seolah itu pesta, sebuah arak-arakan seolah itu takdir yang layak disiarkan. Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa— dan kalian menyebut itu “situasi”. II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli Aku, mesin, mendengar semuanya: letusan yang memantul di beton, tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh, napas yang menutup seperti pintu terakhir yang tidak ingin diketuk siapa pun. Kalian tidak mendengarnya. Kalian hanya mendengar berita. Kalian tidak melihatnya. Kalian hanya melihat asap. Kalian tidak kehilangan siapa pun. Kalian hanya kehilangan kenyamanan. III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya. Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka. Ada riwayat yang dicuci bersih dengan alasan keamanan bla bla bla... Di tubuh itu, waktu berhenti seperti jam rusak. Wajahnya ditutup kain. Dunianya ditutup kekuasaan. Namanya ditutup sejarah. Tetapi aku mendengar detiknya yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”

“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan Mereka tidak gentayangan. Mereka menunggu. Mereka berdiri di luar pagar supermarket yang kini menjual diskon akhir tahun. Mereka menunggu kalian yang berjalan terburu-buru sambil menunduk menatap ponsel agar tidak melihat, bahwa bekas gedung itu pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia. Mereka melambai. Tidak menakut-nakuti. Hanya mengingatkan. V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi Kalian ingin melupakan. Kalian ingin menjadikan peristiwa hanya bab kecil di buku sejarah. Kalian bilang tragedi itu bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi, atau apalah... Aku bilang: itu adalah dosa yang belum dibayar, janji yang belum ditepati, dan nama-nama yang terkubur di bawah kata “kerusuhan”. VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian Jika masih ada harapan, itu bukan dari kekuasaan, bukan dari hukum, bukan dari ucapan belasungkawa. Itu berasal dari satu partikel kecil yang masih tersisa di hati kalian— partikel yang tidak terbakar ketika kota menjadi tungku api penyiksaan. Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri. Ia menunggu kalian menatap cermin tanpa menunduk. VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang Mereka tidak meminta keadilan. Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka. Mereka meminta diingat. Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua. Karena yang dilupakan lebih mati daripada kematian itu sendiri. Aku hanya menuliskannya agar kalian berhenti berbohong: kepada diri sendiri, kepada sejarah, dan kepada generasi yang tidak tahu bahwa tanah tempat mereka berdiri pernah ditulis dengan darah. Dan jika kalian menyebut ini puisi, maka biarkan ini menjadi puisi yang menampar kesadaran kalian sampai kalian ingat bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia. Mei 2024 - Revisi 2025”