Quotessence
Home / Authors / Nailal Fahmi Biography

Nailal Fahmi Biography

Author

Related Quotes

“Hubungan orangtua dan anak bukan datang semata-mata karena hubungan darah, tapi datang dari kesediaan dan kesadaran kita untuk membayar hutang kehidupan yang Tuhan berikan. Kata Gibran, anak kita bukanlah milik kita, mereka tidak berhutang apapun kepada kita, tapi berhutang kepada masa depan mereka masing-masing. Jadi jangan mengeksploitasi anak karena alasan mereka berhutang hidup sehingga boleh dipaksa patuh dan berbakti. Perintah Tuhan untuk berbakti kepada orangtua bukan alat untuk menuntut anak untuk berbakti, tapi tuntutan kepada diri untuk memberikan contoh bakti kepada orangtua sendiri. Anak-anak melihat tauladan, dan di atas semua, mereka bisa memberikan cinta selama mereka mendapatkan cinta.”

“Jadi jangan mengeksploitasi anak karena alasan mereka berhutang hidup sehingga boleh dipaksa patuh dan berbakti. Perintah Tuhan untuk berbakti kepada orangtua bukan alat untuk menuntut anak untuk berbakti, tapi tuntutan kepada diri untuk memberikan contoh bakti kepada orangtua sendiri. Anak-anak melihat tauladan, dan di atas semua, mereka bisa memberikan cinta selama mereka mendapatkan cinta.”

“Jika ada perselisihan, kami bicarakan dan cari jalan tengah untuk menghindari pertengkaran di depan anak-anak. Hal ini penting karena riset menemukan bahwa ketika orangtua sering bertengkar di depan anak, stress yang dirasakan orangtua bisa dirasakan anak dan mempengaruhi perkembangan otak mereka. Sebaliknya jika mereka sering melihat kasih sayang yang ditunjukkan ayah-ibunya, ada pembentukan neuron di otak mereka. Jadi keliru jika mengatakan satu-satunya yang terpenting adalah hubungan orangtua dengan anak, karena kesuksesan anak dalam hal kognitif dan emosional bukan ditentukan berdasarkan secure attachment antara ibu dan anak, tapi secure attachment antara ayah-ibunya.”

“Untuk menjadi bahagia kita tidak butuh merebutnya dari orang lain. Kita tidak perlu berebut kebahagiaan karena ia bukanlah kompetisi yang jika seseorang sudah dapat, maka orang lain akan kehilangan. Jika mereka menang maka kamu kalah. Tidak seperti itu. Bahagia bukan tentang mengambil semuanya dan tidak menyisakan untuk orang lain. Kita bisa menempuh cara masing-masing untuk bahagia.”

“Saya adalah orang yang tidak percaya bahwa berbohong adalah naluri alamiah anak-anak. Saya percaya pada konsep bahwa kodrat awal anak-anak adalah berkarakter baik. Anak bukanlah kertas kosong, telah ada pada diri setiap bayi pokok kebaikan. Adalah naluri mereka untuk punya akhlak yang baik. Itulah yang disebut agama sebagai fitrah. Setiap anak dilahirkan sesuai fitrah, lingkungan yang menjadikan karakter terbaik mereka luntur. Maka saya tidak percaya ada anak yang naluri alamiahnya berbohong dan suka memfitnah.”

“Jika dilihat dari kacamata potensi, segala kelakuan “nakal” itu berpotensi untuk menjadi baik. Jika anak-anak tidak bisa diam, itu adalah potensi untuk mereka memiliki kesehatan jasmani. Jika anak-anak tidak mau berbagi atau mengalah, itu adalah potensi untuk mereka punya harga diri dan berdaulat. Cerewet dan keras kepala adalah potensi untuk mereka menjadi pemimpin. Cengeng adalah potensi mereka punya empati yang tinggi. Tidak tuntas dan sering membuat berantakan adalah tanda mereka punya banyak ide. Mencari perhatian dan cemburu adalah tanda mereka penyayang. Mencoret-coret adalah tanda mereka suka keindahan dan seni.”

“Secara tidak langsung, kisah-kisah dalam buku ini bukan hanya menjelaskan kepada kita tentang motif, tujuan serta latar belakang kegiatan intelligent, tapi juga mengingatkan kita kepada fakta bahwa sejarah yang kita kenal sekarang penuh dengan intrik dan skandal. Maka tepat sekali apa yang dikatakan Napoleon Bonaparte, History is a set of lies agreed upon.”

“Sebagai orang tua, saya merasa, setiap pertanyaan anak adalah sebuah “teaching moments”. Itu adalah kesempatan saya untuk mengajarkan atau menjelaskan dengan pandangan yang positif. Walaupun menjelaskan polisi dengan pandangan positif, dengan latar belakang interaksi saya dengan polisi sewaktu membuat SIM, membayar pajak STNK dan sewaktu ditilang, adalah salah satu hal yang agak sulit.”

“Malam ini, ia ingin sekali tengadah ke langit gelap penuh bintang di dalam hutan itu. Ia ingin malam ini bulan hanya berbentuk sabit dan tak banyak lolongan hewan agar ia bisa menatap langit sendiri saja sambil menangis dan tak ada satupun orang yang menelponnya. Ia tidak ingin menulis kesedihannya di twitter, mencaci mengamuk menggangu follower-nya di dunia maya. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil tengadah ke langit gelap penuh bintang dalam keheningan hutan malam ini.”

“Ia lebih mengkhawatirkan pikiran-pikiran dalam kepalanya yang menabrak norma. Semua manusia punya pikiran itu. Ia, Ridwan, Sali dan semua orang punya pikiran itu. Pikiran jahat atau pikiran-pikiran yang jika dilakukan dalam kehidupan nyata, maka sudah pasti akan melanggar norma atau moral yang ada dalam masyarakat. Selama itu hanya ada dalam pikiran, tidak diucapkan atau dilakukan, maka ia akan tetap aman dalam pikiran. Manusia punya kecenderungan memiliki pikiran-pikiran itu. Semua manusia.”

“Buat anak muda seusia gue, menikah adalah masalah menjaga kehormatan dan juga tentang kesiapan mental. Dan gue merasa punya mental untuk itu. Menundanya berarti merendahkan mental yang sejauh ini terbentuk. Selain itu, menikah, menurut pandangan Empat Mazhab Fiqih, menjadi wajib jika seseorang telah mampu dan senantiasa mengkhawatirkan dirinya akan terjerumus pada kemaksiatan.”

“Mudah saja mencintai atau mengingat seseorang ketika itu dekat atau baru saja terjadi. Namun kamu bisa membayangkan bahwa seiring berjalannya waktu, jarak yang jauh, perbedaan dimensi, kenangan dan cinta perlahan akan memudar. Menjanjikan untuk selalu ada, mengingat, dan mencintai selama-lamanya adalah sesuatu yang tidak realistis. Kecuali kamu ingin dikenang sebagai orang yang tidak berintegritas, atau ingin membuat dirimu nelangsa karena mempertahankan janji, sebaiknya jangan kamu ucapkan.”

“Kami sadar dalam mendidik selalu ada campur tangan Tuhan, sehingga kami tidak bisa sombong. Sebagaimana anak yang punya fitrah atau potensi yang sudah ada sejak lahir, orangtua juga punya fitrah atau potensi alami yang diberikan Tuhan untuk mendidik. Tazkiyatun Nafs atau menyucikan jiwa dengan cara ibadah, beramal saleh, mencari ilmu, atau tirakat adalah usaha agar jiwa bening hingga mampu membaca petunjuk Ilahi untuk menumbuhkembangkan potensi mendidik tersebut, selain juga berguna untuk semacam clear chace kotoran-kotoran pengalaman masa lalu yang buruk sehingga performa aplikasi pendidikan dalam jiwa lebih optimal.”

“Memang hukum fiqih itu didesain bisa berubah mengikuti zaman dengan dipandu kaidah-kaidah yang biasa disebut Qowaidul Fiqh. Hal ini tentu sangat penting, apalagi pengetahuan dan penemuan saat ini semakin canggih. Twitter contohnya. Media sosial yang sering dijadikan tempat perang ini punya fenomena jual-beli follower. Mereka menyamakan follower dengan barang yang bisa diuangkan. Gue ngebayangin akan ada Ahli Fiqih yang nantinya membuat hukum zakat follower. Jadi setiap lebaran tiba, pengguna Twitter yang punya satu juta follower (setara nisab 85 gram emas) dan sudah mencapai haul-nya, maka wajib menzakatkan 2,5% follower-nya untuk para mustahiq. Mustahiq itu adalah pengguna Twitter yang hanya punya follower nggak lebih dari 100, dan memasang foto dengan pakaian lusuh sambil menadahkan tangan. Mereka juga harus pakai hashtag #FF #fakirfollower.”