Quotessence
Home / Quotes / Quote by William Shakespeare

Quote by William Shakespeare

“Domani, domani e domani, avanza a poco a poco, giorno dopo giorno, verso l’ultima sillaba del copione, e tutti i nostri ieri avranno illuminato a degli sciocchi la polverosa via della morte. Spegniti, spegniti, breve candela! La vita non è che un’ombra che cammina, un povero attore che si pavoneggia e si agita su un palcoscenico per il tempo a lui assegnato, e poi nulla più s’ode: è un racconto narrato da un idiota, pieno di rumori e strepiti che non significano nulla.”

Quote by William Shakespeare

Book:Macbeth

Work

Macbeth

This classic play explores themes of ambition, guilt, and the supernatural, following the rise and fall of the title character, Macbeth. more

Author

William Shakespeare
William Shakespeare

William Shakespeare (1564 - April 23, 1616) was one of the greatest poets of the English Renaissance, renowned for his dramatic works. His plays spanned a variety of genres, including tragedy, comedy, and history, and have had a profound impact on literature worldwide. more

You May Also Like

“Dopo che V. pronunciò le ultime parole, la percezione del mondo di B. ruotò su se stessa. Le loro ombre si tramutarono in due corpi di carne viva che si affrontavano in due dimensioni sulle piastrelle livide della terrazza. L'immagine di lei che aveva davanti si trasformò invece in un'ombra dai contorni netti, anzi piuttosto una falla, un buco a forma di donna nello spazio-tempo che lasciava trapelare il nulla assoluto che stava al di là. La mano di B. si alzò come se possedesse una volontà propria e indipendente, nera si confondeva con l'assenza di lei, così fece anche l'altra mano, si portò lentamente all'altezza dove prima stavano gli occhi e sentì, senza vederlo, che le punte delle dita si stavano sfiorando nel buio. La scintilla della coscienza di B. ardeva di una fiamma nera, incontrollabile, silenziosa, che bruciava lo sbocciare di un fiore ai limiti dell'alba, il palpitare di un cuore caldo sotto la mano, il bacio umido di una notte d'estasi, senza fumo e cenere, lasciando solo un vuoto privo di alcun ricordo. La morte scese, dolce come la primavera dell'infanzia, un lieve accenno di sorriso a un angolo della bocca, timida, pietosa come mai era stata una madre, lo strinse a sé calda come zucchero, gli sussurrò parole inudibili dietro l'orecchio che lo fecero rabbrividire come mai un'amante aveva mai fatto. Lo strinse così forte che diventò lui stesso, B. ricambiò la stretta così disperatamente che divenne lei stessa, il due diventò uno, l'amore impossibile diventò vero, ed amaro come il frutto delizioso della conoscenza. Le mani che non poteva vedere, le sue mani, si avvicinarono in una lenta danza, si strinsero una contro l'altra sempre più forte, per afferrare l'ineffabile, stringere l'amore prima che scappasse via, cogliere quell'attimo che non sarebbe mai più ritornato, la verità nella sua inconcepibile bellezza che palpitava viva tra le dita come carne viva, urlo, sudore, liscia pelle, calore bruciante, ruotare della terra nel nero assoluto del cosmo. Fu un attimo, e la percezione del mondo ruotò nuovamente su se stessa, ritornando là dove doveva stare. B. guardò le sue mani che tremavano sospese nell'aria e poi abbassò lo sguardo verso terra e lì, la vide, abbandonata sulla superficie fredda, un corpo gelido ed immobile che non respirava più, il torace che non si alzava né si abbassava, gli occhi fissi ed immobili che non lo vedevano più, una bambola di una bellezza indescrivibile abbandonata da lui stesso e dal mondo.”

“RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT (ketika jiwa dicabut dari cahaya) Ada bagian dari benak manusia yang tidak pernah ingin ditemukan, bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya, karena di sana cahaya tidak pernah tercipta. Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya: "Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar." Di sanalah kita berada sekarang. Ruang di mana mulut membuka tetapi suara tidak lahir. Ruang di mana pikiran menggulung dirinya seperti tubuh binatang sekarat di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi. Di titik itu, gelap bukan lagi warna melainkan zat— sesuatu yang melengket di kulit batin, sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf, sesuatu yang merayap dan memeluk otak seperti akar yang menemukan celah pada batu. Gelap itu tidak bisa ditafsirkan karena ia lebih tua dari bahasa, lebih tua dari dosa, lebih tua dari kesadaran manusia yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat. Tapi, tidak ada kalimat di sini. Hanya denyut. Hanya retakan. Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata, hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca, menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan. Kita sekarang berada di tempat di mana logika kehilangan gravitasi; di mana pemikiran melayang seperti jenazah yang tidak sempat diberi upacara. Dan di tengah kekacauan itu, kegilaan muncul bukan sebagai hukuman, melainkan pintu. Pintu yang menolak ditolak. Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip. Kegilaan bukan ketidaksadaran. Ia adalah kesadaran intensif yang terlalu terang untuk ditanggung, terlalu jujur untuk dilihat, terlalu dekat dengan suara asli semesta. Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga yang kita sebut “kewarasan”. Di sini, manusia tidak lagi berpikir. Manusia terbakar. Manusia tidak lagi berdoa. Manusia menggigil. Manusia tidak lagi mencari makna. Manusia menjerit tanpa suara karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh, melainkan pecahan mimpi buruk yang tak pernah bisa disatukan kembali. Dalam ruang ini, kau tidak bertanya siapa dirimu. Kau bertanya apakah kau masih ada. Dan jawabannya— seperti bisikan dari balik retakan dinding batin— “Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini. Bila kau menyerah, maka kau lenyap. Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.” Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu: “Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?” Gerbang itu tidak menjawab. Ia hanya membuka. Dan dari dalamnya, keluar bukan monster, bukan iblis, bukan suara-suara asing— melainkan dirimu sendiri, versi yang tidak pernah disinari, versi yang tidak pernah diberi nama, versi yang selama ini menulis keberadaanmu: pikiran yang mulai membusuk. Versi yang tidak meminta pertolongan. Karena ia tahu tidak ada pertolongan. Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat. November 2025”