Quotessence
Home / Quotes / S Quotes

S Quotes

Browse famous quotes beginning with S. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All S Quotes

“SUTIL ESPACIO INFINITO Cuando nuestras palabras llegan al cielo Nuestro corazón se abre Todo se expande En esta sutil consciencia Las voces no necesitan ser escuchadas Ellas son sentidas Sin un sonido Dentro de ti está la llave La llave maestra A la suite del maestro Todo lo que necesitas hacer Es abrir. Encuentra la entrada La chispa que eres tú, está siempre allí Tiempo y espacio Infinitud Tú Yo Nosotros Uno Cuando esta entrada se revele Hallada Será tu sagrado corazón Corazón espiritual Tierra Paraíso Cielo Paz Amor Todo está allí El viento Se convierte en tus labios El sol Se convierte en tus ojos La tierra Se convierte en tus pies Los ecos de tu Alma Se convierten en tus oídos Saborea Ve Siente Camina Nos encontramos.”

“Sutra Hening: Jalan Tengah di Antara Ada dan Tiada” Di titik ketika suara tak lagi membutuhkan gendang telinga, aku duduk—bukan untuk mencari terang, melainkan untuk melihat siapa yang paling gigih merindukan cahaya. Hampa menyelimuti seperti udara pagi; tidak dingin, tidak hangat— hanya ada. Bodhidharma duduk di depanku, wajahnya setegas gunung purba. Ia berkata tanpa suara: “Jika pikiran tak tenang, siapa yang ingin kau tenangkan?” Aku terdiam—bukan karena tak mengerti, tapi karena aku melihat tanganku sendiri hilang ketika hendak menggenggam pertanyaan itu. Lalu Huineng datang, bukan sebagai guru, melainkan sebagai angin yang menyingkap tirai: “Tak ada cermin. Tak ada debu. Siapa yang membersihkan apa?” Sekali lagi aku mencoba menjawab, dan sekali lagi jawabanku runtuh seperti bayang yang kehilangan tubuh. Thich Nhat Hanh datang sebagai mimpi, mengajarkan cara menatap embun tanpa menginginkan arti. Ia bilang: “Tersenyumlah pada kehadiranmu sendiri. Kesadaran itu bukan menahan apa pun, tetapi membiarkan semuanya lewat.” Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa napas bisa menjadi jembatan antara dunia yang retak dan hati yang ingin pulang. Alan Watts mengangguk, tertawa, seolah tahu bahwa tawa adalah pintu gerbang paling rahasia. “Kau bukan penumpang di dalam tubuhmu,” katanya, “kau adalah tarian antara bentuk dan kekosongan.” Aku melihat gelombang naik dan turun bukan sebagai metafora kehidupan melainkan sebagai bukti bahwa kehilangan dan penemuan selalu saling memasuki tanpa konflik. Lalu aku bertanya—dalam diam yang membungkus semuanya: Jika aku bukan murni ada dan bukan murni tiada, apa sebutan untuk jarak tipis yang senantiasa berubah antara keduanya? Jawaban yang datang bukan kata, bukan isyarat, melainkan kejernihan: bahwa paradoks bukan masalah yang harus diselesaikan melainkan lanskap yang harus ditapaki dengan sepenuh hati. Bahwa kekosongan bukan lubang tetapi ruang untuk segala kemungkinan. Bahwa kehadiran bukan beban tetapi kelahiran ulang pada setiap kedipan mata. Bahwa penyerahan bukan pasrah tetapi melihat bahwa tidak ada musuh selain cengkeram cakar sendiri. Aku menutup seluruh panca inderaku, dan untuk pertama kalinya aku memandang tanpa melihat. Aku membuka tangan, dan untuk pertama kalinya aku memiliki tanpa menggenggam. Aku membiarkan diriku diam, dan untuk pertama kalinya aku menjadi gema dari sesuatu yang jauh lebih besar dari kata “aku”. Di titik itu aku tahu: puitika paling terang lahir bukan dari hasrat yang ingin hebat, melainkan dari kalimat yang rela lenyap agar makna dapat muncul tanpa penjara. Dan di dalam lenyap itu, sebuah pertanyaan lain mengalir: Jika keheningan adalah guru yang paling jujur, siapa lagi yang harus kita dengarkan? November 2025”

“Sutra, kažeš, sutra ćeš početi da živiš, Postumije ? Sutra ? Kaži mi, Postumije, kad će već jednom doći to tvoje sutra ? Gde je ? Otkud će doći ? Da li se još krije kod Persijanaca, ili je u Armeniji ? To tvoje sutra, Postumije, staro je već kao Prijam. Za koliko se, recimo, može, to tvoje sutra, da kupi ? Sutra ćeš početi da živiš ? Danas već da počneš, Postumije, dockan je. Mudar je onaj koji je živeo juče.”

“Sutra: Moreover, Subhuti, this Dharma is level and equal, with no high or low. Therefore it is called Anuttarasamyaksambodhi. To cultivate all good dharmas with no self, no others, no living beings and no life is to obtain Anuttarasamyaksambodhi. Subhuti, good dharmas are spoken of by the Tathagata as no good dharmas. Therefore they are called good dharmas.”

“Sutton sensed resurrection and he fought against it, for death was so comfortable. Like a soft, warm bed. And resurrection was a strident, insistent, maddening alarm clock that thrilled across the predawn chill of a dreadful, frowzy room. Dreadful with its life and its bare reality and its sharp, sickening reminder that one must get up and walk into reality again. But this is not the first time. No, indeed, said Sutton. This is not the first time that I died and came to life again. For I did it once before and that time I was dead for a long, long time.”

“Suttree surfaced from these fevered deeps to hear a maudlin voice chant latin by his bedside, what medieval ghost come to usurp his fallen corporeality. An oiled thumball redolent of lime and sage pondered his shuttered lids.Miserere mei, Deus ...His ears anointed, his lips ... omnis maligna discordia ... Bechrismed with scented oils he lay boneless in a cold euphoria. Japheth when you left your father's house the birds had flown. You were not prepared for such weathers. You'd spoke too lightly of the winter in your father's heart. We saw you in the streets. Sad.”

“Suurin osa lähimmistä työtovereistani oli kaltaisiani koulutettuja väliinputoajia, jotka olivat lähteneet Suomesta työttömyyttä pakoon. Heidän ammatillisessa osaamisessaan ei ollut mitään vikaa, vaikka esimerkiksi yritysvalmentaja Jari Sarasvuo on sanonut, että ammattitaidon tunnusmerkki on se, että sille löytyy ostaja, eikä ilman ostajaa ole ammattitaitoakaan. Olisipa Sarasvuo ollut kertomassa tämän viisauden vaikkapa Vincent van Goghille, joka myi eläessään vain yhden taulun.”

“Suyla yıkanmak ne kadar Müslümanlıksa, yıkanmamak da o kadar Hristiyanlıktı. Trajikomikti, çünkü Hristiyanlığın hamiliğine soyunmuş Katolik Isabel, 'İç çamaşırlarımı Granada düşene kadar değiştirmeyeceğim' demişti. Eh, kraliçeleri öyleyse ordunun geri kalanını siz düşünün. 1492'de Granada düştüğünde, Elhamra yakınlarında kimse bulunmak istemezdi heralde!”

“Suzanne had a room on a waterfront street in the port of Montreal. Everything happened just as it was put down. She was the wife of a man I knew. Her hospitality was immaculate. Some months later I sang it for Judy Collins over the telephone. The publishing rights were lost in New York City, but it is probably appropriate that I don't own this song. Just the other day I heard some people singing it on a ship in the Caspian Sea.”

“Suzuki also liked to compare Zen to Western philosophy, to Zen's advantage: "The philosopher according to whom cogito ergo sum is generally weak-minded. The Zen master has nothing to do with such quibbles" (Suzuki 1970, 408). We may also question the accuracy of his understanding of Western philosophy. If Meister Eckhart, despite (or because of) his undeniable spirituality, cannot be said to represent the entire Christian tradition, neither can the intellectualist strain emphasized by Suzuki be said to represent the entire Western philosophical tradition. From the pre-Socratics, Socrates and the Stoics, all the way to Kierkegaard and Nietzsche, philosophy was a path of self-transformation, not merely the intellectual pastime that Suzuki describes.”