Quotessence
Home / Topics / Indonesia Quotes

Indonesia Quotes

Browse 424 quotes about Indonesia.

Related topics

Indonesia Quotes

“The widely mis-interpreted 1998 'meltdown' of East Asia was a financial symptom of the renewed reality: In fact, it was the first round the world recession again to begin in East Asia and spread from there to the West, instead of vice versa. That marked the beginnings of the return back 360 degrees around the world of the world economic center to Asia where it had always been before those two eighty-year period of temporary Western ascendance. The stock market crash in Hong Kong and the devaluation of the Thai baht and the Indonesian rupia took only 80 seconds to make themselves felt in the London City and on New York's Wall Street. How much of a cultural lag do we still need for popular perception and social theory to catch up with global reality?”

“The whole of Java is immediately subject to the Netherlands. There is no question of tribute, or levy, or alliance. The Javanese is a Dutch subject. The King of the Netherlands is his king. The descendants of his former princes and lords are Dutch officials. They are appointed, transferred, promoted, dismissed by the Governor-General, who rules in the name of the King. The criminal is convicted and sentences under a law made in The Hague. The taxes the Javanese pays flow into the Exchequer of the Netherlands.”

“Kelak, sendainya ketika pulau Jawa tak lagi punya hiasan berupa musim semi yang berlangsung sepanjang masa, tak lagi punya panorama alam yang memesona, juga tak lagi punya rimbanya yang perawan, pula tak lagi ada kota-kota yang ramai oleh beragam suku bangsa, di mana bisa kau jumpai perpaduan keanggunan ala India dan kemewahan khas Eropa; atau pada akhirnya ketika pulau itu bisa bersih dari para bidadarinya yang menggairahkan, dan menyisakan hanya kawanan burung gelatik, maka sudah seharusnya kunjungan ziarah ke tanah Jawa tetap dilakukan demi mempelajari samai pada tingkat mana alam liar ini bisa menandingi kemampuan manusia dalam mencipta irama.”

“Malangnya, aku adalah seorang yang teramat buruk dalam hal ilmu alam, karenanya aku kerap mengabaikan banyak peristiwa ajaib melalui pengamatan yang hanya sepintas. Aku tak bisa menceritakan padamu berapa jumlah bulu sayap makhluk nan puitis ini, tak pula bisa menjelaskan di mana persisnya letak lubang hidung dalam paruhnya, atau apakah kedua rahangnya terhubung baik maupun bagaimanakah wujud tulang kakinya. Tapi bagaimanapun juga, gelatik ini adalah milikku...! Dia punyaku. Hanya aku yang mampu mendengar dan mengerti. Betul, burung ini, paling tidak pada kicauannya, adalah sebentuk rahasia antara jiwaku dan langit, seperti syair sendu terlukis dalam catatan Webber yang tetap menyimpan misteri antara dua orang yang saling mencintai.”

“Once again, I was conscious of the paradox of the compound: that here, at the heart of the unfolding events, we could catch no more than a glimpse of them. Fires were burning all over Dili; the smell was in our nostrils from the moment we wok up, and occasionally we could see columns of smoke. But the flames themselves, and the faces of the fire starters, were invisible. At the computers in the Unamet press room, we waited in turn to log on to the news websites and learn what was happening to us.”

“Anak-anak muda jaman sekarang itu lucu dan agak susah dimengerti. Mereka cukup bersemangat membuat berbagai macam proposal untuk kegiatan organisasi yang mereka ikuti. Tapi proposal hidup yang berisi visi dan strateginya meraih mimpi, justru lupa mereka buat sendiri.”

“Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terrekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungan. Itulah fungsi daripada pendidikan yang sesungguhnya.”

“Saya ngeri, umpamanya, membaca betapa Sarwito dan Sujono, yang keduanya telah mendapat pendidikan modern, telah mengenal rasionalita, akan tetap imasih pergi mencari wahyu-wahyu dari gunung ke gunung, ke dalam hutan dan gua, dan berdasarkan alamat-alamat yang mereka terima dari kayangan (di mana pula itu kayangan?) lalu mendapat keyakinan dan petunjuk untuk mengambil berbagai putusan dan tindakan. Coba bayangkan, apabila segala rupa kebijaksanaan negara, umpamanya, didasarkan pada wahyu dan petunjuk-petunjuk yang sepenuhnya irasional seperti ini, alangkah berbahayanya bagi penghidupan bangsa kita. Siapa tahu dahulu saya ditahan begitu lama di zaman pemerintah Soekarno, karena Soekarno atau dukunnya pada suatu malam mendapat mimpi, dia mendaki gunung yang amat tinggi, sampai tergelincir jatuh. Lalu esok paginya melapor pada Soekarno, awas hati-hati terhadap seorang jangkung!”

“George continued without skipping a beat, “Modern civilisation can be traced to the Middle East and particularly the area now known as Iraq and the ongoing discoveries in and around Türkiye near Gobekli Tempe takes the possible origins of civilisations much further back to around 12000 BCE and probably even further back. When you look at ancient and modern maps, it dawns on you that the region, with what is now called Syria and Lebanon right in the centre, shaped our modern world in fundamental ways, from the food we eat to how we mastered words and numbers. Like it or not, civilisation as we know and practise today arose squarely in the Middle East. It resonates with life, learning, culture, science, war, death, and conflict. Not boring. In fact, the rest of the world cannot seem to get enough of this region, or more precisely, its black gold riches. It has dominated world affairs since possibly around 12000BCE and today still captures news media every single day. It is here where we humans learned to farm and domesticate animals. Where we learnt to count and work with metals, build houses and create staggering architectural marvel. It is at once an exotic and alluring destination with aromatic and delicious foods, but also bristling with tensions, conspiracies, and centuries old feuds that don’t end. It is inescapably a fascinating region and rightly has a claim to be the centre of the world.”

“Banyak introver adalah pemalu, sebagian karena mendengar pendapat bahwa ada sesuatu yang salah dengan kecenderungan mereka untuk merenung, dan sebagian lagi karena fisiologi mereka, seperti yang akan kita lihat, memaksa mereka untuk menarik diri dari lingkungan dengan stimulus yang tinggi.”

“Banyak introver "amat sensitif", terdengar puitis, tetapi sebenarnya itu adalah istilah teknis di dalam psikologi. Anda mungkin akan lebih cepat untuk merasa muak dengan kekerasan dan keburukan, dan Anda mungkin memiliki hati nurani yang teguh dibandingkan orang lain. Saat Anda masih kecil, Anda mungkin disebut "pemalu" dan sampai sekarang merasa gugup saat Anda sedang dinilai, misalnya saat memberikan pidato atau saat kencan pertama.”

“Tetapi panduan-panduan baru mengagungkan kualitas-kualitas yang — tidak peduli bagaimana Dale Carnegie membuatnya terdengar mudah — lebih sulit untuk dimiliki. Apakah Anda memiliki kualitas-kualitas di bawah ini atau tidak: Memikat Mengagumkan Memesona Menarik Bersinar Dominan Berpengaruh Energetik”