Quotessence
Home / Authors / WAZ Books

WAZ Books

Author

No books found for this author.

Related Quotes

“kamu seperti jarum jam yg bergerak pelan dan tetep kutunggui detik demi detik bahkan aku tidak peduli sebosan apa aku melewatinya, mataku tetap fokus menatap tanpa lepas aku hanya yakin akan sampe pada masa di mana satu titik ditempati dua jarum,laksana aku dan kamu, kalimatmu dan kalimatku yang seia sekata. namun kamu bukan jarum jam yang bergerak statis kakimu kadang berputar, berbelok, merenggang menjauhkan jarak walau tetap menangkap pandangku saat itulah dudukku mulai gelisah dan kamu tidak tau itu hingga aku putuskan untuk berdiri dan pergi meninggalkan kamu yang bergerak tanpa arah aku sudah berjalan menjauh,menahan diri untuk tidak menoleh ke arahmu dan tidak tau apa kamu memanggilku atau membiarkanku. yang aku tahu, matahati di ujung jalan masih berwarna kuning mengawalku _wasiman waz”

“tejo duduk di bawah langit bergumam lirih tentang tumini Sayangku, Jangan biarkan cinta kita berhenti pada kata-kata Sekarang kita jaga untuk kita wujudkan kelak Supaya kamu bisa membangunkan tidurku dengan ciumanmu Menggantikan sinar matahari yang membunuh mataku Sayangku, Kalau hari ini aku menangis Kamu hanya bisa mendengar isak ku Membayangkan sedih dalam hatiku Namun kamu tidak mengijinkan kakimu mendekati dan memelukku damai Bahkan larimu masih tertahan Namun sayangku, Suatu hari nanti, setiap saat kamu bisa mendekapku, meluapkan rasa hatimu hingga bahkan ujung hidung kita saling beradu menghembuskan nafas yang menyentuh pori-pori Dan kita menjadi tidak terpisahkan Sayangku, Jangan meresahkan hari nanti akan seperti apa Sebab saat kuucapkan doa ini, Allah sedang menuliskan ijin-Nya buat kita Dan menunggu balasan Amin dari kita Kekasihku, Keluarlah sebentar Pandanglah rembulan di langit malam ini Dan kamu harus tau Redupnya sinar bulan tampak menghilang karena aku curi dan aku simpan buatmu kelak Bahwa ketika kamu sedang gelisah Sinar rembulan itu aku akan tembuskan ke hatimu _9277464 _wasiman waz”

“tanpa matahaRi Malam berjalan sangat lambat menandakan siksa hati yang lama dan perih seraya tetap memaksa otak menangkap kegetiran itu melalui bayangan masa lalu yang jelas tertelan sangat jauh... Secara jelas bobot penyesalan makin berat dan membesar, menghilangkan kesadaran tentang bagaimana langkah kecil telah mampu merobohkan bangunan yang didasari oleh perasaan memiliki Kemampuanku melemah seiring redupnya semangat menanyakan apa yang sedang berubah sekarang karena membayangkan saja telah terasa begitu menakutkan untuk kuhadapi. Menahan adalah pilihan terbaik Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? Lalu kuusap pelan air bening dari sudut mataku..... Malam masih enggan... _wasiman waz”

“Tejo menyelimuti malam dengan kebekuan, gelisah lama dan berbisik, "Aku tutupi sedihku Pertanda aku menyesal telah bersalah Agar marahmu seimbang Karena kutahu Marahmu karena cinta terbaikmu Dan itu alasan merapi tak bergerak Lalu saat kamu bersedih karena lukaku Air matamu bagai ombak pantai Gemuruh menindih isak tangis Namun kamu mencoba tersenyum Kuatir aku tau sedihmu Karena sedihmu adalah cinta terbaikmu buatku Relakah aku dengan kepergianmu? Merapi mungkin sedang menunduk Seraya memaafkan kebodohanku Langkah kakimu tertulis namaku Begitupun kesunyian yang kupilih Penuh wajahmu Lengkap dengan senyum dan gerak tubuhmu Merengkuhku Sederhana Tejo bergumam, " Tumini sayank, aku tidak sehidup ketika bersamamu....”

“kesedihanku terlalu berat untuk dibayar dengan memori dan penyesalan. rindu menjadi tak bertuan kehilangan tempat di hati sedangkan waktu seolah tak memperdulikan teriakanku manakala aku ingin kembali ke masa lalu untuk sekedar berandai-andai memperbaiki cara kita menjaga kebersamaan kekosongan ini terlalu luas untuk kuhuni sendirian menghamburkan keengganan tanpa batas bahwa kamu adalah kekuatan yang lepas dari rangkaian tulang dan ragaku langkah panjang ini terasa tak beranjak terserap magnet bumi sehingga kamu tetap tak terlihat tak terdengar tak tersentuh bahkan bayanganmu tejo menata kegelisahannya, ambil nafas dan berdiri tegak... _wasiman waz”