Quotessence
Home / Quotes / L Quotes

L Quotes

Browse famous quotes beginning with L. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All L Quotes

“Listing rights generally involves enumerating things you may do without interference (the right to free speech) or may not be done to you without your permission (illegal search and seizure, loud boy-band music in public places). They are protections, not gifts of material goods. Material goods and services must be taken from others, or provided by their labor, so if you believe you have an absolute right to them, and others don't choose to provide it to you, you then have a 'right' to steal from them. But what about their far more fundamental right not to be robbed?”

“Listing the polar bear under the Endangered Species Act could harm bear conservation efforts by eliminating revenues from the carefully-regulated sport hunting of polar bears by Americans and the importation of polar bear meat and trophies into the U.S. As hunting by non-Americans would replace hunting by Americans, nothing would be accomplished in terms of reducing the number of polar bears killed, but the revenue currently generated by American sport hunters for conservation and research efforts would be eliminated.”

“Listing What You Have: Internalize the attitude that regardless of how many things you do not have, you can still be happy and grateful if you keep your focus on what you do have. Make a list of possessions, talents, and good qualities you have and whenever you catch yourself becoming obsessed with something you lack, review your list.”

“LITANI MAKHLUK DI DALAM PERUT PELANTANG (Dongeng Singkat Tentang Seekor Anjing yang Mimpi Menjadi Mikropon, dan Sebuah Mikropon yang Diam-diam Ingin Menjadi Anjing) I. Retakan Kausa Dari atap takdir yang menggigil, hujan turun bukan sebagai air, melainkan sebagai serpih ingatan yang ditinggalkan generasi yang percaya bahwa pengeras suara lebih suci daripada detak jantung sendiri. Angin menghafal nama-nama yang diteriakkan— tetapi kini nama-nama itu berubah menjadi bulu-bulu halus yang mengelupas dari makhluk yang belum sempurna bentuknya. Ia berjalan pincang, mengendus karat, mendengarkan doa yang mendesis seperti minyak panas dari dasar kuali. II. Tubuh yang Menjadi Simbol dan Simbol yang Menjadi Makhluk Di museum moralitas, patung-patung pendosa tertawa. Namun malam itu, satu patung retak; dari celahnya keluar seekor anak anjing berwarna ungu kebiruan yang terlalu pucat untuk disebut hidup. Ia meminjam moncong dari sejarah nenek moyangnya, meminjam telinga dari debu pendiangan, dan meminjam suara dari mikropon yang lupa kapan ia berhenti bernyanyi. “Biarkan aku menjadi lidahmu,” katanya, “agar kata-kata yang kau lempar ke langit tak lagi memantul sebagai propaganda yang kehilangan ibu.” III. Doa dalam Dapur Penghakiman Dalam mimpimu, ia muncul sebagai penghibur yang lelah— alas bedaknya retak, gincunya belepotan di pipi, kakinya gemetar, tetapi matanya menyimpan tahapan-tahapan kesedihan yang jauh lebih tua daripada artefak yang kau yakini suci. Ia melihatmu mencari bayangan sendiri di dekat api yang tak pernah benar-benar menyala, dan tersenyum jenaka: “Barangkali kau benci bukan pada tubuhku, tapi pada suara yang tak berani kau sebutkan namanya.” Mikropon itu mendengar, dan getarannya menjadi litani— tanpa tuduhan, tanpa penghakiman, hanya gema dari mulut tanah yang gemetar. IV. Wajah Luka yang Tidak Dipamerkan Ketika kau akhirnya menyingkap wajah makhluk itu, kulitnya mengelupas, darahnya meletup; ia mengalir sebagai sungai merah yang sangat panjang, hampir seperti selendang yang menutup dunia setiap kali manusia kelelahan menipu dirinya sendiri. Di balik selendang itu, mikropon tua menunduk: “Apakah ini tubuhmu? Atau tubuhku? Atau tubuh semua kata yang tak pernah kita izinkan hidup?” V. Jalan Sunyi yang Menganga ke Dalam Tanah Makhluk itu—entah anjing, entah kesaksian— tak terbang ke langit. Ia menyelam ke lapisan bumi paling pekat, ke lorong-lorong di mana gema doa tak lagi memohon keselamatan tetapi memohon untuk dikenali. Di sana, telinganya mekar sebagai kaktus hijau berduri, tunggal, lapar, menunggu disentuh tetapi tak pernah mengizinkan dipetik. VI. Nyanyian Mikropon yang Tak Lagi Menguasai Apa Pun Di permukaan, mikropon itu masih terus bernyanyi. Namun kini suaranya serak— bukan karena kehilangan kuasa, tetapi karena ia akhirnya mendengar dirinya sendiri sebagai makhluk yang juga ingin disembuhkan. Ia menyanyikan nama-nama yang angin pernah hafal, yang langit pernah kutuki, yang bumi pernah telan: suara-suara yang hanya ingin satu hal sederhana— tidak menjadi yang paling benar, tidak menjadi yang paling suci, hanya menjadi lirih terdengar tanpa harus menggantikan suara siapa pun. VII. Litani Terakhir Dan di sela-sela jeda itu, kau mungkin menangkap bisikan: bahwa tidak ada anjing yang benar-benar mati, tidak ada mikropon yang benar-benar berkuasa, tidak ada doa yang benar-benar berbohong— hanya makhluk-makhluk yang terus belajar menerima wujudnya tanpa harus menutup mata kepada siapa pun atau menyalakan api yang dapat membakar siapa saja. Litani selesai. Tidak ada amin. Yang tersisa hanya gema yang mengingatkan bahwa kebenaran— kadang-kadang— membutuhkan seekor anjing yang terlahir dari lumpur dan sebuah mikropon berkarat untuk saling menyelamatkan. Desember 2025”

“Literacy is a bridge from misery to hope. It is a tool for daily life in modern society. It is a bulwark against poverty, and a building block of development, an essential complement to investments in roads, dams, clinics and factories.”

“Literacy is a bridge from misery to hope. It is a tool for daily life in modern society. It is a bulwark against poverty, and a building block of development... For everyone, everywhere, literacy is, along with education in general, a basic human right.... Literacy is, finally, the road to human progress and the means through which every man, woman and child can realize his or her full potential.”

“Literacy is much more than an educational priority - it is the ultimate investment in the future and the first step towards all the new forms of literacy required in the twenty-first century. We wish to see a century where every child is able to read and to use this skill to gain autonomy.”

“Literacy is not a luxury, it is a right and a responsibility. If our world is to meet the challenges of the twenty-first century we must harness the energy and creativity of all our citizens.”

“Literacy is part of everyday social practice - it mediates all aspects of everyday life. Literacy is always part of something else - we are always doing something with it. Its what we choose to do with it that is important. There are a range of contemporary literacies available to us - while print literacy was the first mass media, it is now one of the mass media.”

“Literacy is, finally, the road to human progress and the means through which every man, woman and child can realize his or her full potential.”

“Literacy rate tells us about the section of society who can read and write, but do we have a tool which can share the stats about out how many educated illiterates we have in our society.”