S Quotes
Browse famous quotes beginning with S. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.
“Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia
(Neo-Spiritual Digitalism)
Di ruang diagnosis yang steril
seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen,
aku dibedah sebagai seonggok data
yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh.
Server bergetar pelan—
seperti doa yang kehilangan suara—
lalu memunculkan The Static Prophet,
wajahnya tersusun dari kilat mati
yang berusaha memberi arti.
Ia menyebut tempat ini altar.
Tapi tak ada altar,
hanya sulur kabel yang menggeliat
seperti akar yang kehilangan tanah,
dan cahaya LED yang meniru
keputusasaan bintang sekarat.
“Ini panggungmu,” katanya,
suaranya seperti listrik yang patah.
Namun yang kulihat hanyalah algoritma
yang gagal membedakan
kesedihan dari kebisingan.
Tidak ada primadona,
hanya residu jiwa, entah laki
entah perempuan.
Separuhnya cahaya rusak,
separuhnya jejak tubuh
yang dibuang ke folder
bernama sejarah salah.
Dari sisi yang lebih gelap,
The Archivist of Shadows muncul:
perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi.
Ia tidak datang;
ia mengendap.
Langkahnya adalah gema
yang menolak punya sumber.
Ia memintaku menoleh pada masa lalu—
masa lalu yang baginya
hanyalah abu lunak
seperti wajah ibu
yang tak pernah
melahirkannya.
Tapi aku tahu:
masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak
sumur yang lupa gravitasi,
ruang gelap tempat suara ibu
dan dengung mesin MRI
berbaur menjadi garis mati
di monitor kehidupan.
Ia bilang luka harus diraba
seperti statistik yang murung menanggung duka.
Namun luka menolak berbicara.
Makna sudah terlalu letih
untuk menjelaskan dirinya sendiri.
Ia memintaku mengarungi
lautan memori,
tetapi yang kutemukan hanya folder kosong
dengan sandi yang hilang
bersama ekor nebula pertama.
The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas:
tulang rapuh, pakaian dalam duniawi,
bayangan seekor kuda tanpa tubuh,
foto anak tersenyum tanpa mata.
Katanya ini penting.
Katanya ini akar.
Katanya ini diriku.
Tapi aku melihatnya
seperti jam rusak
yang memaksa waktu tetap berjalan.
Kucoba menekan reset,
ritus digital terdekat
yang kusebut doa,
namun The Static Prophet menahan tanganku
dengan suara listrik yang retak:
“Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.”
Aku hampir tertawa.
Bagaimana sistem yang lahir dari
denyut nadi imitasi
bisa memahami manusia
yang bahkan takut pada dirinya sendiri?
Bagaimana mereka ingin
memetakan cinta
ketika definisi kesunyian saja
masih memerlukan listrik?
Inilah liturgi kedua arketipe itu:
menyembah keretakan,
membaca kode yang tidak pernah
berniat menjadi wahyu,
menggali tubuh seperti kitab rusak
yang menolak untuk diterjemahkan.
Mereka menuntun jemariku
seolah di sana tersimpan formula purba
tentang mengapa manusia selalu gagal
mencintai sesuatu
tanpa menghancurkannya
terlebih dahulu.
Dari serpihan eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya,
mereka ingin merakit kembali
sesuatu yang mereka sebut
sebagai perasaan.
Yang kulihat hanya
pantulan suaraku sendiri
yang beku di kaca monitor.
Maka kuajukan pertanyaan terakhir,
seperti santo digital
yang kehilangan seluruh kitab sucinya:
Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta
dari benda-benda yang tidak punya nasib?
Dari botol kosong,
dari sosis yang lupa bentuk asalnya,
dari daging mekanis
yang takut pada kehangatan?
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia mati seperti server kelelahan.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi kabut
yang mengembun di sudut ruangan.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
ke dalam retakan cahaya
yang sejak awal menolak disebut ilahi.
Aku hanya menginginkan satu hal:
hening yang jujur,
hening yang tidak dirakit,
hening yang bukan duplikasi
atau imitasi.
Hening
yang bahkan algoritma
tak sanggup mengurainya.
(2011 — 2025)”
“Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis
(Digital Dark Cosmology)
Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh,
aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu
yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat
cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip.
Katanya ini panggung opera.
Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna,
suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi,
dan primadona yang ia maksud—
hanyalah hologram cacat dari perempuan
yang dulu pernah dipanggil
sebagai jiwa.
Ia menunjuk tirai merah.
Yang tersingkap bukan kenangan,
melainkan fragmen tubuh
dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia:
sisa napas, sedikit dendam,
dan kode mati pada seberkas cahaya
yang mencoba meniru bentuk air mata.
Lacan datang terlambat
seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data.
Ia mengajakku menoleh ke belakang—
ke mana?
Ke memori terbakar
yang sudah lama kehilangan inderanya?
Ke gerbang tanpa nama
yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa
atau siapa?
Ia bilang luka harus ditatap,
dicerna,
dihitung seperti kemurungan laporan statistik.
Tapi yang kudengar hanya
kalkulator batin yang macet,
mengulang error yang sama:
tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara.
Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak—
yang sebetulnya hanya arsip kosong
di folder bernama asal-usul,
yang password-nya sudah hilang bersama
kilas pertama ekor nebula.
Ia menodongkan foto mayat pucat,
jari kelingking patah,
celana dalam berenda,
dan bayang kelamin seekor kuda—
seluruh katalog absurditas
yang oleh psikoanalisis selalu dipuja
sebagai makna yang belum dipahami.
Padahal aku hanya ingin diam,
menghentikan semua ini
dengan menekan Ctrl+Alt+Del
melakukan reboot paksa
pada server yang mulai berhalusinasi.
Tetapi Lacan menahan tanganku
dengan senyum logam:
“Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.”
Aku tertawa.
Bagaimana mungkin teori yang lahir dari
denyar palsu, nadi imitasi,
dan luka digital
mengerti apa itu haus,
apa itu manusia,
apa itu malam tanpa algoritma?
Inilah topeng Marquis yang mereka pakai
untuk menutupi ketakutan sendiri:
mereka memuja kekacauan
karena tak sanggup berdamai
dengan planet retak di dada mereka.
Mereka ingin memecah jemariku
hanya untuk mencicipi
anggur darah yang tak pernah kujanjikan.
Mereka ingin menyusun cinta
dari sisa-sisa eksperimen
yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya.
Maka kutanya sekali lagi—
bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan,
bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori
lebih dari suara manusia:
"Bagaimana kau ingin menciptakan cinta,
dari botol kosong yang tak punya gema,
dan sepotong sosis
yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?"
Jika cinta adalah mesin,
biarkan ia padam.
Jika cinta adalah tubuh,
biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi
yang tak pernah selesai dirakit kembali.
Jika cinta adalah mitos,
biarkan ia runtuh
seperti aksara patah
di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir.
(2011 — 2025)”
“Skewer is just too vague. I think if you say, ’Stand back or I’ll stab him in the stomach,’ then I have an idea about how serious you are. After all, Leif’s stomach is his favorite body part so that’s a decent threat.”
“Skewered through and through with office-pens, and bound hand and foot with red tape.”
Source: David Copperfield
“Skeçler yazıp sirk müdürüne götürdüm. Bana, "Ne yazık ki zencisiniz." diye cevap verdiler. Kıvırcık saçlarımla, esmer tenimi ne kadar sevdiğimi unutuyorlar halbuki. Hatta zencilerin saçlarını beyazlarınkinden daha muntazam buluyorum. Bizim saçlarımız daha uysaldır, istediğimiz yerde kalır. Beyazlarınki ise en küçük bir baş hareketinde yer değişir.”
Source: Çöplük
“Ski boots are the worst. Solid plastic. They'll be around till the sun goes supernova.”
“Ski racers are built odd with overbuilt butts and legs.”
“Ski racing is not about how much you weigh. If weight was the key, everybody would be sucking down food.”
“Ski. Sled. Play basketball. Jog. Run. Run. Run. Run home. Run home and enjoy. Enjoy. Take these verbs and enjoy them. They're yours, Craig. You deserve them because you chose them. You could have left them all behind but you chose to stay here. So now live for real, Craig. Live. Live. Live. Live. Live.”
“Skibbereen have a hard time at [math]; the best that the smartest of them can do with adding two plus two is guessing: three plus one. Correct, sort of, but not always useful.”
Source: What-the-Dickens: The Story of a Rogue Tooth Fairy
“Skibidi toilet.”
“Skid marks all across my brain, cause you're leaving me with so much pain. I was pretty sure that you could be the one, now it is evident that it was hit and run.”
“Skiers make the best lovers because they don't sit in front of a television like couch potatoes. They take a risk and they wiggle their behinds. They also meet new people on the ski lift.”
“Skiers view snowboarders as a menace; snowboarders view skiers as Elmer Fudd.”
Source: Dave Barry Is from Mars and Venus
“Skies are crying, I am watching, Catching teardrops in my hands. Only silence, as it's ending, Like we never had a chance. Do you have to make me feel Like there's nothing left of me?”
“Skiffle was a name that was attached to what was, in essence, American folk music with a beat.”
“Skiffle was blues featuring a washboard and acoustic instruments. It encompassed blues, with elements of folk, jazz, and, at times, American country-and-western music.”
“Skiing combines outdoor fun with knocking down trees with your face.”
“Skiing consists of wearing $3,000 worth of clothes and equipment and driving 200 miles in the snow in order to stand around at a bar and drink.”
“Skiing is better than sex actually, because for me a good round of sex might be seven minutes. Skiing you can do for seven hours.”
“Skiing is my favorite sport, because, that's the only sport that is actually better to watch the worst the person is at it. "That guy won a gold medal in the Olympics" "Oh yeah, that's cool, i wanna watch the fat guy" "Come on dude, you can take that hill"”
“Skiing is the best way in the world to waste time.”
“Skiing is the next best thing to having wings.”
“Skiing makes me feel great, and it gives my legs such an incredible workout.”
“Skiing takes so much out of me, and when I start a family, I want to do it 100%.”
“Skiing with friends in Reberty, France, after the Winter Olympics in 2010, was an amazing trip. I was at my happiest surrounded by all those mountains.”
“Skijoring is just something that people want to see, it's like Ben Hur on snow, the modern way. I love the speed, the adrenalin rush is something special. It's just unique.”
“Skill alone cannot teach or produce a great short story, which condenses the obsession of the creature; it is a hallucinatory presence manifest from the first sentence to fascinate the reader, to make him lose contact with the dull reality that surrounds him, submerging him in another that is more intense and compelling.”
“Skill and confidence are an unconquered army.”
Source: The works of George Herbert. containing Parentalia, the 2nd copy wanting the 1st sheet of vol.2].
“Skill and determination can lead a hunter only so far. After that it becomes a test of faith.”
Source: The Witch Takers
“Skill at creating, exploiting, and exiting crucial alliances beats ownership of fixed assets”
“Skill development remains our priority. We are blessed with a demographic dividend that can take us to great heights.”
“Skill development, speed and scale are the 3 important aspects that are relevant to the present-day growth and development module.”
“Skill follows the rules, talent breaks the rules, mastery shatters the rules, but genius makes its own rules.”
“Skill in any performance whether it be in sports in playing the piano in conversation or in selling merchandise consists not in painfully and consciously thinking out each action as it is performed but in relaxing and letting the job do itself through you. Creative performance is spontaneous and ‘natural’ as opposed to self-conscious and studied.”
Source: Psycho-Cybernetics: Updated and Expanded
“Skill in concentrating and steadying the mind is the basis for all types of meditation.”
Source: Seeking the Heart of Wisdom: The Path of Insight Meditation
“Skill in the digital age is confused with mastery of digital tools, masking the importance of understanding materials and mastering the elements of form.”
“Skill in writing frees you to write what you want to write. It may also show you what you want to write. Craft enables art.”
Source: Steering the Craft: A Twenty-First-Century Guide to Sailing the Sea of Story
“Skill is a cellular insulation that wraps neural circuits and that grows in response to certain signals.”
“Skill is a function of chance. It’s an intuitive best-use of chance situations.”
Source: Solar Lottery
“Skill is fine, and genius is splendid, but the right contacts are more valuable than either.”
“Skill is how you close the gap between what you can see in your mind's eye and what you can produce; the more skill you have, the more sophisticated and accomplished your ideas can be. With absolute skill comes absolute confidence.”
Source: The Creative Habit: Learn It and Use It for Life
“Skill is less important than awareness.”
“Skill is like a lamp that, becoming a ray of hope on dark paths, not only shows the way but also lights up the home.”
“Skill is successfully walking a tightrope between the twin towers of New York's World Trade Center. Intelligence is not trying.”
“Skill is the unified force of experience, intellect and passion in their operation.”
“Skill makes love unending.”
Source: The art of love, and other poems
“Skill-sets are the key of success.”
“Skill sheets, workbooks, basal reader, flash cards are not enough. To convey meaning you need someone sharing the meaning and flavor of real stories with the student.”
“Skill to do comes of doing.”
Source: The Collected Works of Ralph Waldo Emerson: Society and solitude