Quotessence
Home / Authors / Pramoedya Ananta Toer Books
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer Books

Author

House of Glass

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Bumi Manusia

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Jejak Langkah

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

The Fugitive

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Arok dedes

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Gadis Pantai

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Arus Balik

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Awakenings

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Bukan Pasar Malam

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Footsteps

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Mangir

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Subuh

A source page for quotes linked to Pramoedya Ananta Toer.

0 quotes

Related Quotes

“.... Dan semua itu berjalan dari detik ke detik, hari ke hari. Akhirnya orang jadi biasa juga dengan keadaannya. Dan mereka, yang tidak kena kerja paksa, tidur sehari-harian, atau berjalan-jalan mengedari pelataran dalam yang sempit itu, mengelamun, berangan-angan. Ya itu pun berjalan saja dan berjalan saja. Kadang-kadang orang tak sempat menginsyafi apa sesungguhnya yang telah dialami sehari-harian. Tapi dengan pasti hidupnya telah gompal sejam demi sejam. Kadang-kadang orang tidak sempat mengenangkan hari-depannya. Orang lebih suka memikirkan hal-hal yang dekat-dekat: makan, buang air, nyanyi, mengobrol tak berkeputusan, memaki-maki, atau mengaduh dengan tiada maksud. Atau-orang memikirkan sesuatu yang jauh, yang besar, yang takkan tercapai oleh tenaga dan tangan manusia-terutama sekali manusia yang dipenjarakan. Kemudian.. Kemudian semua berjalan saja. Berjalan saja. Berjalan saja. Juga umur manusia berjalan mendekati akhirnya. Juga balatentara kedua belah pihak berjalan mendekati keruntuhan atau kemenangannya. Dan tak ada tangan manusia yang kuasaa membatalkan proses itu ...”

“Animals are not supposed to have the power to reason and therefore don't care whether there is life after death. But imagine animals trying to cheer themselves up in the same way that our own ancestors did when faced with death, by believing that there is life after death. How would they resolve the problem that in the afterlife they might once more be eaten by man?”

“..babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya. Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan berserakan.”

“How simple life is. It's as simple as this: you're hungry and you eat, you're full and you shit. Between eating and shitting, that's where human life is found. - (Houseboy + Maid, in Tales from Djakarta)”

“Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seirang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah manusia, dan orang itu pun mencintai kita. Seperti mendiang kawan kita itu misalnya–mengapa kemudian kita harus bercerai-cerai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.”