Quotessence
Home / Topics / Opera Quotes

Opera Quotes

Browse 777 quotes about Opera.

Related topics

Opera Quotes

“SANG PENARI V — Wirasa para Bayang Penanda Pada malam di mana kota kehilangan listrik dan cahaya hanya datang dari bara rokok para gelandangan, Sang Penari memasuki ruang kosong yang seakan dibangun dari gema ribuan panggung yang pernah runtuh. Di sana, bayang-bayang empat maestro dunia menunggu seperti para begawan dari peradaban yang jauh lebih tua. —Mata kosong dari Teater Noh — “Hannya”— Topeng iblis perempuan dari Jepang kuno itu menggantung di udara seperti wajah kesedihan yang diawetkan. Setiap denting langkah Sang Penari menghidupkan memori ratusan aktor yang pernah mengabdi pada ritual panggung yang mengaburkan batas antara tubuh dan arwah. Hannya berbisik: “Kemarahan yang kau sembunyikan adalah dewa yang kelaparan.” Dan Sang Penari pun bergerak seolah sedang kerasukan, memanggil monster yang ia takutkan. —Bayang Lorca di Granada— Dari kejauhan terlihat siluet Federico García Lorca, penyair yang mati karena rezim yang membenci imajinasi. Tubuhnya yang tak ditemukan mengirimkan resonansi gelap ke dalam tarian itu. Ia membawa gitar patah, dan setiap petikan memanggil ingatan perang saudara yang pernah memakan generasi muda Spanyol. “Tarianmu bukan hiburan,” katanya, “itu adalah pemberontakan sunyi terhadap sejarah yang lupa belajar.” Sang Penari menekuk tubuhnya seperti ingin memecahkan waktu dan dari gerakan itu terpancar bintang-bintang. —Siluet Anna Pavlova — The Dying Swan— Dari kabut lampu panggung, muncul bayang ratu balet itu, gaunnya tampak koyak, sayap putihnya hitam terbakar seperti burung yang gagal melintasi api neraka. Ia menari pelan, penuh luka yang dilipat-lipat menjadi keanggunan. “Tak ada kecantikan yang lahir dari kemenangan,” bisiknya seperti bulu angsa yang tercerabut dari akarnya. “Kecantikan hanya lahir dari kehancuran yang kau terima tanpa menunduk.” Dan Sang Penari mengikuti geraknya: sebuah tarian kematian yang memurnikan diri. —Bayang Bhairava — Penari Kosmik India— Dari dasar ruangan muncul langkah-langkah keras dari Bhairava, aspek tergelap dari Śiva, penari yang menari untuk menghancurkan dunia agar dunia dapat dilahirkan kembali. Rambut gimbalnya menyulut angin hitam, lonceng-lonceng di pergelangan kakinya menggetarkan mimpi buruk yang sejak lama ia tinggalkan. “Kalau kau ingin hidup baru,” suara Bhairava membelah udara, “tarianmu harus membinasakan dirimu yang lama.” Dan Sang Penari mulai berputar dengan sangat cepat, meninggalkan serpih-serpih identitas yang terlepas dari tubuhnya seperti sisik ular yang terkelupas. Agustus 2025”

“Sang Penari VI — Perjumpaan Puncak — Litani Penanggalan Roh— Keempat empu itu mengitari Sang Penari seperti konstelasi gelap yang menolak memberikan arah. Topeng Hannya—membuka rahasia luka batin yang ia simpan sejak remaja. Lorca—memberinya bahasa untuk mengutuk ketidakadilan yang ia alami. Pavlova—mengajarinya bahwa keanggunan adalah bentuk terakhir dari keputusasaan. Bhairava—menuntut ia menghabisi semua bentuk “aku” yang masih ia genggam. Sang Penari bergerak di tengah mereka, gerakannya membentuk huruf-huruf tak dikenal seperti alfabet kuno dari peradaban yang hilang. Ia menari sampai tubuhnya bukan tubuh, waktu bukan waktu, dan seluruh ruangan berubah menjadi ruang batin. Di puncak putaran terakhir, ia merasakan dirinya terbelah: separuh menjadi angin, separuh menjadi debu, separuh lagi menjadi sesuatu yang tak memiliki wujud namun menyimpan kecerdasan tak terlukiskan. Dan tiba-tiba, sunyi. Hannya jatuh menjadi topeng kosong. Lorca lenyap seperti tembakan yang tak punya peluru. Pavlova memudar menjadi serbuk putih. Bhairava kembali menjadi cahaya merah gelap yang mengalir ke tanah seperti darah dari dimensi lain. Sang Penari berdiri sendirian. Tapi ia bukan lagi manusia. Ia adalah penanda, arsip hidup tentang apa yang terjadi ketika seseorang menari sampai inti jiwanya menghilang. Dan dari ruang gelap itu, sebuah suara tanpa bentuk terdengar: “Kini kau bukan lagi penari. Kau adalah tarian itu sendiri.” Agustus 2025”

“Such immediate sliding into fiction under the guise of history reveals a remarkable fluidity between history and fiction that, while pertinent to innumerable portrayals of historical personages of other eras and nationalities, seems to acquire a particularly transformational narrative power in the case of Don Carlos.”

“You don't win an Olympic gold medal with a few weeks of intensive training. There's no such thing as an overnight opera sensation. Great law firms or design companies don't spring up overnight... Every great company, every great brand, and every great career has been built in exactly the same way: bit by bit, step by step, little by little.”

“Museums just seem to have this borrowed cachet—if I want to seem cultural, I will design something cultural. I resist the idea that culture is only opera houses or theatres. Culture is your entire life around you: toilets, the bus, the kerb or the dump where you drag your waste. Culture has come to mean the arts, but it’s swimming pools as well.”

“Disgrace is a subtle, multi-layered story, as much concerned with politics as it is with the itch of male flesh. Coetzee's prose is chaste and lyrical without being self- conscious: it is a relief to encounter writing as quietly stylish as this. I was not totally convinced by Lurie's musical abilities, with regard to his proposed opera, but that is my sole complaint.”