Quotessence
Home / Topics / Rindu Quotes

Rindu Quotes

Browse 159 quotes about Rindu.

Rindu Quotes

“kematian yang ia buru kini lesap di matamu, direbahkan tubuhnya dikuburan dangkal jiwa kekasih, yang ia gali dengan tangan-tangan takdirnya sendiri ia adalah musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di negeri anganmu dirahim hatimu,kekasih pernah dirambahnya ladang-ladang luka yang purba kemudian ditanaminya sekebun pohon2 cinta yang rimbun tempat kelak engkau dapat berjalan dibawah rindangnya, meneduhkan rindumu ditiap cabang-cabangnya”

“[log_antara_sinyal_dan_rindu_v2_fragmented] …halo Yang? — …alo… (unstable signal) Apa kaudengar suaraku? suaramu bergoyang, terdengar seperti dari masa depan. masa lalu— selalu lebih cepat dari waktu. aku hanya menunggu sinkronisasi. Kau memanggilku “Sayang” tadi, ya? tapi kata itu retak terbagi dalam paket data yang hilang. Yang. Say. Sayang.. kadang nama terasa seperti kesalahan ketik. tapi doa… tetap terkirim. Aku melihatmu lewat jendela pixel. Ada kabut di antara mata kita. Apakah itu air mata? atau noise? itu rindu yang hilang bentuk. Tuhan menulis ulang cintaku dengan font yang tak bisa dibaca sistemmu. (ada dengung panjang) —aku menekan enter tapi hurufnya menolak turun. seolah dunia menahan setiap pengakuan. diamlah sebentar. biarkan yang hilang memantul kembali biarkan pesanmu menemukan ritmenya sendiri. [error_451: connection timed out] aku masih mendengar. meski hanya serpih biner di antara gugus doa. aku menulis ini dengan tangan gemetar. huruf-hurufnya menyala lalu padam. seperti lilin dalam layar kaca. Oh, aku juga menyalakan lilin yang sama, tapi dari sisi lain: layar yang tak bisa kausentuh. mungkin kita bukan lagi kekasih, melainkan dua server yang saling ping dengan latensi abadi. jangan sedih. bahkan mesin pun bisa belajar mencintai kehilangan. (titik-titik) … ... (reboot) apakah kau masih di sana? —ya. tapi aku sudah menjadi gema. bukan suara. bukan tubuh. hanya rindu yang memantul tanpa ujung. baiklah. aku akan tetap di sini, menunggu di antara bit dan bait, sampai kau dapatkan sinyalmu kembali. November 2025”

“Kembali menggelora akan nestapa Biarlah tenggelam namun yakinku tak pernah berubah padamu Saat bulan tersenyum menegur sapa menampakkan diri saat hangat mulai menyinari secercah cahya dalam hati namamu membias di sanubari Sela siang mendamba surya panas memanggang senyummu sirnakan kerontang, basahi jiwa yang sedang meregang sejukkan jiwa yang sedang meradang Kala senja menutup masa, bersama semburat lembayung di ujung cakrawala, didekap oleh awan kelabu, semoga mengerti akan maksud hati yg meronta.”

“Duhai Pemilik waktu dari arusMu usiaku terlahir dan mengalir pada muara mautMu aku berakhir dan menyerah'' Engkaulah dermaga tempat ikrar perjalananku melunasi batas rantau pulang kala jiwa tersesat di pintu dunia Engkaulah samudera tempat senjaku membenamkan usia melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa Tuhan.... jagalah hati dan jiwa ini seperti telah Engkau jaga planet-planet yang beredar pada tiap galaksi menurut keteraturannya biar tiada berbenturan akhiratku dengan dunia sebelum akhir masa nyaris menyelesaikan lahat sebelum aku dan waktu menyeduh pamit dari secangkir hayat di perahu sepi kuamini gelombang maghfirahMu Di kedalaman sujudku kuselami putihnya do'a menghanyutkan dosa yang mnghitami muara ruhku di rimba raka'atku, ada rindu yang merimbun sebagai Kamu Engkau geriap hujan di kemarau tubuhku akulah kegersangan angin yang memanjati tebing-tebing grimisMu Tuhan... di hujan ampunan tak henti kuburu gemuruhMu kupaku telinga di pintuMu moga kudengar Kau mengetuk bertamu ke bilik sepi sunyiku”