Quotessence
Home / Authors / Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer Quotes

Author

Filter quotes by topic

Famous Pramoedya Ananta Toer Quotes

“Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin, perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri, kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa pun.”

“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pengeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.”

“Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.”

“I came to see that man finds meaning in his existence only through the active demonstration of his human self, a cosmos comprising the entire constellation of life's factors: culture, civilization, tradition, history, ideals, facts, physical conditions, one's mental state, the ecology, and so on.”

“Such was the love of this grandson for his grandmother that two years after the death of his mother, when she herself fell gravely ill, he vowed to her that someday he would try to tell the world her life story. 'But why?' she asked humbly. 'I'm no one, just a girl from the coast' 'But you are everyone, Grandma,' the young Pramoedya told her. 'You are all the people who have ever had to fight to make this life their own.”

“I will not close my eyes, neither those in my head nor those in my soul, as the ship carries me away, along with my future, my dreams, and my beliefs. Buru Island is no happy land somewhere; it's but a way station on my journey in life—though to believe even that much will require no small measure of hope.”