Quotessence
Home / Quotes / B Quotes

B Quotes

Browse famous quotes beginning with B. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All B Quotes

“Banting’s initial idea was neither original nor successful, but he persisted in it, and his persistence led to a solution that was both original and successful. He would later say that if he had been more familiar with the literature on the subject and had known about the previous attempts, he would not have pursued his idea at all. Fortunately [..] for millions of children, he knew next to nothing.”

“Banyak insan haus akan hormat dan pujian. Tabiat ini menyebabkan biaya hidup melebihi kebutuhannya. Inilah biang kerok perilaku korupsi di Indonesia. Pola hidup ini telah berlangsung sekian lama, telah mengakar dalam budaya insan nusantara. Apa yang harus dilakukan untuk memberantas korupsi? Memburu dan menghukum koruptor itu memang harus, namun belum cukup. Lalu apa solusinya? Hemat pangkal kaya. Rajin pangkal pandai. Bersih pangkal sehat. Sehat pangkal bahagia.”

“Banyak introver "amat sensitif", terdengar puitis, tetapi sebenarnya itu adalah istilah teknis di dalam psikologi. Anda mungkin akan lebih cepat untuk merasa muak dengan kekerasan dan keburukan, dan Anda mungkin memiliki hati nurani yang teguh dibandingkan orang lain. Saat Anda masih kecil, Anda mungkin disebut "pemalu" dan sampai sekarang merasa gugup saat Anda sedang dinilai, misalnya saat memberikan pidato atau saat kencan pertama.”

“Banyak ketimpangan sosial dan ketidakadilan masih merajalela di sekitar kita, dan Saudara menghendaki hidup yang lurus-lurus saja? Saudara kira kita sudah sepenuhnya merdeka? Belum! Belanda pergi, musuh selanjutnya adalah dari orang sebangsa kita sendiri. Zaman sekarang menjadi guru tidak lagi semata mengajarkan alifbata seperti dahulu, Saudara harus lebih daripada itu. Lihatlah sekarang betapa banyak pemuda terpelajar yang telah insyaf berpolitik, sudah mula mereka mempergunakan tenaga dan akal pikiran mereka untuk membina negara yang sebenar-benar merdeka, sedang Saudara....”

“Banyak orang ingin mengubah hidupnya, tapi sedikit yang mau mengubah dirinya. Mereka lupa bahwa hidup hanyalah cermin, dan cermin tak pernah berdusta. Jika wajahmu tampak kusam di pantulan cermin, bukan kaca yang harus dibersihkan — melainkan wajahmu sendiri. Demikianlah pula kekayaan: ia bukan hadiah dari luar, melainkan refleksi dari dalam. Siapa yang menata batinnya dengan rapi, bersih, memberi kenyamanan akan melihat dunia tersenyum kembali padanya.”

“Banyak sekali sifat yang baik pada bangsa saya. Banyak sekali keindahan di dalam kepercayaannya yang menarik dan kekanak-kanakan. Barangkali kedengarannya aneh, namun walaupun demikian hal itu adalah suatu kenyataan. Kalian Bangsa Eropah telah mengajar saya mencintai tanah air dan bangsa saya sendiri. Pendidikan Eropah justru mendekatkan kami kepada bangsa kami dan tidak menjauhkannya. Membuka mata dan hati kami untuk melihat keindahan tanah air dan bangsa. Dan juga keperluannya yang mendesak melihat tempat-tempat lukanya. Kami sangat mencintai negeri dan bangsa kami! Aduhai! Seandainya kami suatu ketika dapat berbuat sesuatu untuk membantu mendatangkan kebahagiaan bagi mereka, maka alangkah bahagia kami.”

“Banyak yang berpikir baBanyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan seba- gai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.hwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”

“Banyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”

“Banyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.hwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan seba- gai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”

“banyak yang bisa aku ceritakan tentang diriku. ketika malam mulai merayap menyapu dingin, aku sering berdiam diri menatap langit dari dalam jendela di kamarku sambil berharap ada bayangmu menatapku dan tersenyum. atau ketika ada suara ombak menerjang kakiku, aku selalu menunduk menyadari bahwa aku sedang berjalan sendiri tanpa ada kamu di sebelahku. tapi satu-satunya yang bisa aku ceritakan tentang diriku adalah kehampaan yang menghantuiku ketika menunggumu. semoga kamu tau.”

“Banzai. The word rushes over me like a river. A memory of what we used to say on the streets of Japantown when we played at war. A memory we inherited from our fathers and their fathers, this word, this history, this giving of ourselves for the nation, for the emperor. Except now it's not for the emperor. I don't think, in this moment, that it's even for our nation. It's for us, our brothers, here, who have died on this hill and in dozens of battles before, for our families back home,in that dream-world of deserts and barbed wire, for our folks who had everything taken from them and still were asked for more: compliance, obedience, money, blood.”

“Bapak pernah dengar ini. You can buy clock sir, but not time. Waktu tak bisa diulang. Pembelajaran untuk lebih waspada esok lusa,” jawab sosok yang memperkenalkan diri dengan nama Julia. “Lagipula uang bukan segalanya, Pak. Ada banyak hal yang tak bisa dibeli dengan uang. You can buy blood, but not life. Lihat betapa banyak mereka yang punya uang dan kekuasaan, tapi tak pernah merasa puas. Sebaliknya mereka yang hidup bersahaja, merasa kaya. Karena syukur tak pernah lepas dari hatinya,” sahutnya makin antusias. (Bidadari Jalanan, Dunia Tanpa Huruf R)”

“Baptism by immersion for the remission of sins is an essential covenant to make with the Lord. Faith and repentance precede this ordinance. Confirmation and the gift of the Holy Ghost follow baptism. Acceptance of these first principles and ordinances may obtain for us a remission of our sins and assure our salvation. In the ordinance of the sacrament, we regularly renew this and other covenants, and by complying with our part of the covenant, we receive the Spirit of the Lord to be with us.”

“Baptism does not profit a man outside unity with the Church ... For many heretics also possess this Sacrament but not the fruits of salvation ... The benefits which flow from Baptism are necessarily fruits which belong to the true Church alone. Children Baptized in other communions cease to be members of the Church when, after reaching the age of reason, they make formal profession of heresy, as, for example, by receiving communion in a non-Catholic Church.”

“Baptism into this Church is a serious thing. It represents a covenant made with our Heavenly Father. It is much more than a right of passage. It is a gateway to a new manner of living, and a new road on which to walk that leads to immortality and eternal life. It was never intended as a dead end. It was intended to open a glorious and wonderful way of life to all who would walk in obedience to the commandments of God.”

“Baptism is a sign to God, to angels, and to heaven that we do the will of God, and there is no other way beneath the heavens whereby God hath ordained for man to come to Him to be saved, and enter into the kingdom of God, except faith in Jesus Christ, repentance, and baptism for the remission of sins, and any other course is in vain; then you have the promise of the gift of the Holy Ghost.”