Quotessence
Home / Quotes / K Quotes

K Quotes

Browse famous quotes beginning with K. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All K Quotes

“Kipo kitu kinaendelea kufanyika katika siku zetu za furaha na katika siku zetu za huzuni kwa kila mmojawetu hapa duniani bila ya upendeleo wowote. Kitu hicho ni kuingia na kutoka kwa pumzi, au kupumua. Ukiithamini pumzi inayoingia na kutoka ndani ya mwili wako utapata zawadi ya amani katika maisha yako. Utapata pia zawadi ya furaha, uelewa na ufasaha! Ijapokuwa una matatizo mengi katika maisha, kitu bora cha kufanya ni kushukuru Mungu kwa maana wewe ni mzima.”

“Kira closed her eyes, thought, and said them aloud. "Madder for red. Bedstraw for red too, just the roots. Tops of tansy for yellow, and greenwood for yellow too. And yarrow: yellow and gold. Dark hollyhocks, just the petals, for mauve...." "Broom sedge," she added, still remembering. "Goldy yellows and browns. And Saint Johnswort for browns too, but it'll stain my hands. "And bronze fennel--leaves and flowers; use them fresh--and you can eat it too. Chamomile for tea and for green hues.”

“Kira looks at the document, sees the name of the firm representing the other party. And starts to laugh. Her colleague applied for a job there once, and didn’t get it. “Okay, but the fact that you want to win this particular case . . . that wouldn’t be because you just happen to hate this particular firm . . . ?” Kira mutters. Her colleague grabs her over the desk, her eyes flashing: “No, I don’t just want to win, Kira. I want to crush them! I want to give them an existential crisis. I want them to walk out of the negotiation room and think that they might like to move to the coast and renovate an old school and open a bed-and-breakfast. I want to hurt those bastards so badly that they start meditating and trying to FIND THEMSELVES! They’ll turn vegetarian and be wearing socks with sandals by the time I’m finished with them!” Kira sighs and laughs. “Okay, okay, okay . . . give me the rest of the file and let’s take a look . . .” “Socks with SANDALS, Kira! I want them to start growing their own tomatoes! I want to ruin their self-confidence until they stop being lawyers and try to be HAPPY and shit like that instead! Okay?” Kira promises. They close the door. They’re going to win. They always do.”

“Kiran says (the shelf) is full of stories. If it is, then I like fairy stories. Fairy stories are fair. In them wishes are granted, words are enchanted, the honest and brave make it safely through to the last page and the baddies either have to give up their wickedness for ever and ever, no going back, or get ruthlessly written out of the story, which they hardly ever survive. Also in fairy stories there are hardly any of those half-good half-bad people that crop up so constantly in real life and are so difficult to believe in.”

“Kirillov remained silent. 'You know what, in my opinion, your belief is even stronger than a priest's.' In whom? In Him? Listen.' Kirillov stopped pacing, and stared straight before him with a fixed and ecstatic look. 'Listen to a great idea. There was a certain day on earth, and in the centre of the earth stood three crosses. One man on a cross believed to such an extent that he said to another: "Today you will be with me in paradise." The day ended, both died, they went and they found nothing - neither paradise nor resurrection. What had been said proved unjustified. Listen: this man was the highest on the entire earth, he comprised that which allowed it to live. The entire planet, with everything on it, is nothing but madness without that man. There has never been one like Him, either before or after, even by virtue of a miracle. The miracle is that there never has been nor will there be another such man, ever. And if that's so, if the laws of nature didn't spare even This One, didn't even spare his miracle, but compelled even Him to live amidst a lie and to die for a lie, then it follows that the entire planet is a lie and rests on a lie and on a stupid joke. It follows that the very laws of the planet are a lie and a farce put on by the Devil. What's there to live for, answer me, if you are a man?”

“Kirk...” said Kevin, finally letting go of his knees. “...I don’t think your precious friend is home right now.” Kevin drew his sword and swung it in preparation. “We’re not going to kill them,” I said. “They’re cursed.” “So are you,” Kevin rolled his eyes. “Yet you still seem to be in control of yourself... so far, anyway.”

“Kirkcudbright is attractive for its beautiful woods and flowers, but there is another beauty - that of its old world buildings and closes rapidly being destroyed. It seems a pity that the charms of the outsides of these buildings cannot be maintained with the interiors remodelled to satisfy the demand of modern ideas. Perhaps it is only the hand of the artist that can save for the future the beauty in danger of being demolished, and it lies with the fraternity to see that the romance of this old world town set in her historic stones does not become entirely a thing of the past.”

“Kirkus (starred review): A lucid, expertly researched biography of the brilliant Nikola Tesla. (Readers) will absolutely enjoy (Munson’s) sympathetic, insightful portrait. Booklist: Celebratory, comprehensive profile. ….A well-written, insightful addition to the legacy of this still-underappreciated visionary genius. Library Journal: Entrepreneurs, inventors, engineers, and futurists will find this biography inspiring. Gretchen Bakke (author of "The Grid"): Munson has provided us with an intimate tapestry of Tesla's life, personality, and inventions. Filled with quotes, and clearly researched with great care, Munson brings Tesla to life, not as a superhero but as a man—both ordinary and extraordinary. What surprised me, and proved to be one of the great pleasures of the book was to realize how much Tesla’s story is an immigrant story. Anne Pramaggiore (CEO of Commonwealth Edison): Tesla is an exactingly-researched history and wonderfully crafted tale of one of the most important and fascinating visionaries of the technological age. This book’s teachings have never been more relevant than in today’s world of digital transformation.”

“Kirusi cha SARS-CoV-2 kina akili zaidi kuliko binadamu; kwani kinajua sehemu salama ya chenyewe kuishi ni ndani ya seli ya binadamu ambapo kitajificha na kujichanganya na mfumo wa seli, kiasi cha sayansi yote ya kibinadamu kushindwa kukiua bila kwanza kuua seli nzima! Lakini binadamu ni hatari zaidi kuliko kirusi cha SARS-CoV-2, kwa sababu binadamu huyohuyo ameshindwa kumwamini Mungu japo anamjua.”

“KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 1. Kidung Duri yang Direbus Matahari (Historical—Politics) Kaktus tumbuh dari bara, dari dada bumi yang retak oleh lapar dan dahaga yang diseret angin. Ia berdiri seperti—lelaki hijau— menyimpan segenggam air seperti seorang ibu menyimpan roti untuk anak satu-satunya. Duri-durinya mengingatkan aku pada teriakan pedagang garam, pada nyanyian buruh nelayan yang patah di bawah peluit penguasa. Kaktus, tubuh kecil yang keras, yang tetap hidup ketika cinta laki-laki diseret banjir sejarah. Ia menyimpan matahari begitu lama hingga panasnya menjadi bahasa, dan aku membaca padanya sebuah puisi yang tak menginginkan apa pun selain bertahan dari luka, bertahan dengan cara paling indah. 2. Kesunyian Sukubus Hijau (Dialectical—Paradox) Di tengah gurun yang gemetar, kaktus memanggul diam. Di dalam diam itu mengalir jam pasir yang balik, menghapus langkah-langkah yang belum sempat kita buat. Duri adalah kata yang menahan napasnya sendiri. Luka yang ingin menjadi bahasa, bahasa yang ingin menjadi tubuh. Aku mendekat, dan waktu runtuh seperti bayangan tanpa raga. Kaktus membuka ruang— ruang yang menatapku kembali: sebuah mata tak bernama yang mengingatkan bahwa seluruh rasa sakit berasal dari ketidaksabaran untuk menjadi abadi. Dan di sana aku melihat wajahku yang tidak hidup, tidak mati, hanya bergerak seperti pasir dihisap rembulan. 3. Opera Duri Hitam (Hallucinatory—Symbolism) Aku melihatnya: sebuah menara hijau yang terbakar di padang pasir violet, tempat angin berteriak dengan lidah logam. Kaktus itu bangkit dari mimpi setan mabuk, mengibar seperti bendera yang pernah dicium matahari hitam. Duri-durinya melesat— meteor kecil yang menyanyikan napalm. Aku mendengar gelaknya, gelak anak yatim yang menelan badai. Dan ketika bayanganku mencoba pulang, kaktus itu menelannya, membuatku tercerai menjadi warna-warna yang tidak dikenal bunga mana pun. Aku pun berjalan tanpa tubuh, mengikuti kaktus seperti nabi gila yang kehilangan kitabnya di bawah jam yang menembak dengan peluru cahaya.”

“KISAH KAKTUS DARI 6 TARIKAN NAPAS 4. Cahaya Duri (Surreal—Minimalism) Di gurun yang tak berkepala, sebuah kaktus berdiri. Sebutlah ia yang kembali tanpa pulang. Padanya, duri menahan angka— angka yang gugur sebelum sempat dikubur. Air yang disimpan batangnya adalah nama yang tidak diucap. Nama yang mengalir melalui kebisuan yang memotong udara tanpa pisau. Setiap malam, kaktus itu menumbuhkan bayangan baru: lebih pendek, lebih hening, seperti doa yang kehilangan pemiliknya. Aku menyentuhnya. Ia tidak berdarah. Aku yang berdarah. 5. Pemakan Duri (Psychic—Introspection) Kaktus ini— aku kenal jenisnya. Tubuh yang tinggal menunggu siapa yang lebih dulu menusuk siapa. Aku melihat diriku dalam tiap duri: anak perempuanku yang gemetar di sudut kamar ketika jam berdetak seperti gigi ayahku. Kaktus memakan matahari dan kembali dengan wajah lebih pucat. Aku memakan durinya di dalam mimpi, membiarkan sakitnya menjadi mahkota kecil yang kuberi nama ketabahan. Dalam batang hijau itu ada ruang untuk seluruh tangisku yang tak pernah keluar. Maka biarlah ia hidup: satu-satunya tanaman yang mengerti bagaimana luka bisa menjadi pekerjaan harian. 6. Romansa Kaktus Malam (Tragic—Magic) Bulan berkibar di atas gurun Andalusia. Di sana kaktus bernyanyi— suara yang dicuri dari tenggorokan seorang gitano yang mati muda. Duri-durinya menari seperti penari flamenco tanpa kaki. Angin membawa napas hitam dari kampung-kampung yang dibakar takdir. Kaktus memanggilku, dan aku datang membawa biola patah yang masih mengingat lagu masa kecilku. Kami menyanyi bersama— lagu hijau, lagu sedih, lagu yang bila kau dengar akan membuat langit turun setinggi bahu anak kecil. Di akhir malam, kaktus itu mati. Tetapi suaranya tinggal di aku, seperti duende yang tak mau pergi dari dada penyair. Desember 2025”

“KISAH KAKTUS — MANTRA SUNYI KALPATARU I. Liturgi Tubuh: “Pondok yang Tak Mengenali" (Liturgi tentang raga yang belum mengenal rasa) 0. Ketika yang ada belum bernama. Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. 1. Di gubuk kecil yang tanpa bentuk, kaktus tumbuh sebagai penanda. Bukan pohon. Bukan rasa. Namun raga waktu yang tak terucap. Ia membaca kotak. Ia melafalkan segitiga. Ia menandai tubuh manusia sebagai sesuatu yang terlalu basah untuk menampung sunyi. 2. Ada sofa merah palungan jiwa, bergetar sekilas, diduduki bayang-bayang rembulan yang kehilangan cahaya. Sofa serupa altar terbalik. Rembulan tertunduk, tempat di mana rasa menolak nama. 3. Kaktus tak mengenal sedih. Namun di setiap pagi, serpihan hening menempel pada batangnya— seperti suara yang tersesat di tenggorokan angin gunung. II. Glosa Waktu: “Waktu yang Runtuh dari Duri” (Waktu yang beranak di dalam tubuh yang tidak menghendakinya) 4. Kabut gelap tirtamaya merayap masuk tanpa salam. Mencekik halaman sajak bagaikan tangan gaib yang tak menyukai cahaya. 5. Nenek tua tiba, menggenggam senja seperti lipatan takdir. Dan ditancapkannya dengan jari tipisnya di ketiak sang kaktus. Tempat jam berbiak tanpa bunyi. Tak ada darah. Yang keluar hanya “wanci”— waktu yang tak ingin menjadi hari. 6. Mereka akan datang, orang-orang itu. Membawa tembuni, seruling, cangkang, kaos kaki basah, buku-buku tanpa bab, pisau yang tidak bisa memotong. Ditumpuk di sudut gubuk seperti sesaji upacara yang kehilangan rohnya. 7. Esoknya, waktu dipetik kembali dari kulit keriput ketiak kaktus. Waktu menjadi benda pecah— kertas sobek, suara mikrofon retak, langit terbelah, cahaya patah. III. Sunyi & Cahaya Membunga: “Minum Cahaya Dari Gelas Retak” (Sunyi yang menelan cahaya untuk mengetahui dirinya) 8. Cahaya jatuh dari lubang genting. Titen yang tak tampak asalnya. Masuk ke pot keramik yang retak, dan mengendap seperti getah suwung di dasar gelas bening. Kaktus mengingat: pagi ketika rembulan dikunyah anjing. Hujan gerimis. Langit hitam-nila. Dunia yang alpa dari wiridnya. 9. Serupa ndadra membuka rongga dada. Kaktus meminum cahaya dari gelas. Tak ada suara. Namun retakan perlahan terjadi di jantungnya. Maka dipahamilah kaktus, bahwa rasa sakit bukan berasal dari daging. Rasa sakit berasal dari sunyi yang tak pernah memberi ruang. IV. Mantra Ruin Kosmologis: “Duri yang Menghidupkan Jagad” (Mantra suwung, liturgi patah, kosmologi Jawa) 10. Inilah mantranya: “Duri bukan duri. Duri adalah sastra suksma, lintasan bintang yang gagal kembali ke langit.” Setiap duri memiliki orbit. Setiap bayang menjadi lintasan. Setiap sunyi berputar tanpa pusat. 11. Suatu malam, kaktus menyala perlahan seperti api beku. Cahaya hijau kecil berputar di dalam sumsum. Tak seperti bintang. Tak seperti api. Namun seperti “sasmita” yang tak ingin disaksikan. 12. Dan kaktus mengerti: yang disebut kepedihan bukanlah perkara rasa. Kepedihan adalah makna yang gagal memiliki rumah. Makna yang tak menjelma mata, tak menjelma mulut, tak menjelma tangan. Makna yang hanya menjadi kabut di antara kalimat. 13. Pada saat ini, gubuk tua itu menjadi candi sepi. Gelap menyusun altar. Waktu menungging bagai pelayan upacara. Dan sunyi mengulum semua tanpa meninggalkan nama. EPILOG — LITANTRI SUWUNG (Mantra Penutup) “Apa yang tumbuh tidak mesti hidup. Apa yang hidup tidak mesti ingat. Apa yang ingat tidak mesti kembali. Namun setiap duri mengerti: waktu hanya mampir menanti sunyi mengucapkan namanya sekali lagi.” Desember 2025”