Quotessence
Home / Quotes / P Quotes

P Quotes

Browse famous quotes beginning with P. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All P Quotes

“Palmerston likes to put his foot on their necks! Now, no statesman must triumph over an enemy that is not quite dead, because people forget a real loss, a real misfortune, but they won’t forget an insult. Napoleon made great mistakes that way; he hated Prussia, insulted it on all occasions, but still left it alive. The consequence was that in 1813 they rose to a man in Prussia, even children and women took arms, because they had been treated with contempt and insulted.”

“Palmolive wrote the lyrics to ‘Newtown’ too. The song was originally called ‘Drugtown’, but I changed it to ‘Newtown’, thinking about all the new towns that are springing up around the edges of London, like Milton Keynes and Crawley. The young people growing up there are so bored, they take loads of drugs and drive around really fast or beat each other up at football matches, then they get up and commute to their dull jobs on Monday morning. Palmolive made up these great words like ‘televisina’ and ‘footballina’ as drug names, I think only a foreigner could do that.”

“Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version) Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu? Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara, membiarkan tubuhmu memudar perlahan di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi. Seperti ban truk meledak di tanjakan maut menyambar seperti kilat, dan tak seorang pun selamat. Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya bukan oleh tangan asing, melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya. Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu. Beberapa orang berlarian di tengah lapangan dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri, tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi. Tidak seperti pelacur yang berdiri di pinggir jalan meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci, karena tak ada yang tersisa untuk dicemari. Seekor babi berjalan terengah, sementara yang lain bergulingan di tanah seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang. Kita tak sedang membaca ode untuk bintang-bintang yang sekarat di langit. Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi, rumput kehilangan kehijauannya seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu. Mata tertutup oleh gumpalan awan dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya. Nanar matanya menghantam jendela yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban. Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah. Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam; kebisuan lebih mencekam daripada sunyi di tengah kuburan yang lupa nama-nama yang dikandungnya. Siapa yang masih berani bertanya: Mungkinkah darah tetap berwarna merah? Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung— dan burung sudah lama berhenti berkicau karena dunia menolak mendengar. Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana— di televisi, papan reklame, musik dari radio, halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek— mari kita pergi dari sini. Pergi ke mana saja: ke sebuah pulau yang kesepian, ke sealur sungai yang tak berkawan, ke laut yang kehilangan rasa asinnya, ke semenanjung tanpa nama yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda. Di tempat asing itu, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri hanya ingin memastikan bahwa ia masih ada. Seorang gadis berambut pirang menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya yang bahkan sudah lupa namanya. Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya, sementara yang lain memutar waktu seperti hendak menangkap peristiwa yang bukan miliknya. Bukankah mengherankan, dunia tidak berputar dari kiri ke kanan, orang-orang tidak berjalan mundur. Namun entah mengapa begitu banyak dari mereka kehilangan kaki dan pegangan pada diri sendiri. Merasa tua dalam sekejap, menjadi bayangan dari masa lalu yang menolak mati meski tak sungguh hidup. Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung, seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal. Para pujangga menari di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan untuk mencintai dunia. Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca. Berapa banyak artis kehilangan akal, menggadaikan harga diri demi sebuah adegan persetubuhan. Seorang suami berkata kepada istrinya, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia bersama orang lain.” Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan semacam itu. Mereka terus menebak-nebak: apakah kebahagiaan itu sebuah tangga atau sebuah sumur? Seperti pikiran lancung yang berusaha membubung ke langit namun tenggelam ke dasar samudra karena tak tahu cara berenang. Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan penjara ilusi yang mereka sebut: identitas. November 2025”

“Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025”

“Pam dropped to her knees and threw her arms around the big Lab. "You're such a good boy and Leopole is a big baby. He'll come around and love you, just like I do. It's just going to take time." Wishful Tails”

“Pam went to the refrigerator and started piling some cold cuts and cheese on the table. “Katie, honey, hand me that bread over there,” she said, pointing to the counter behind me. I handed it to her and she smiled. “Holt, I’m making your father a sandwich. Do you want one?” “I’m starved,” he said. “You just ate!” I exclaimed. “You ate all my bacon,” he accused. “I did not!” I laughed, reaching in for a slice of bread and throwing it at him. He snagged it out of the air and took a huge bite. Holt’s dad grinned. “I like this one, son. Better not let her go.” “I don’t plan on it,” he said, giving me a meaningful stare. I felt my cheeks heat and I made myself busy putting together a sandwich for him. “Katie, make one for you too,” Pam said, handing me the mayo. “Oh, no. That bacon really filled me up.” I grinned slyly.”

“Pamela, I’m in love with you. Yeah, it’s that bad. You’re so beautiful to me. Shut up! Lemme tell you. Let me. Every time I look at your face or even remember it, it wrecks me - and the way you are with me - and you’re just fun and you shit all over me and you make fun of me and you’re real. I don’t have enough time in any day to think about you enough. I feel like I’m going to live a thousand years cause that’s how long it’s gonna take me to have one thought about you which is that I’m crazy about you, Pamela. I don’t wanna be with anybody else. I don’t. I really don’t. I don’t think about women anymore. I think about you. I had a dream the other night that you and I were on a train. We were on this train and you were holding my hand. That’s the whole dream. You were holding my hand and I felt you holding my hand. I woke up and I couldn’t believe it wasn’t real. I’m sick in love with you, Pamela. It’s like a condition. It’s like polio. I feel like I’m gonna die if I can’t be with you. And I can’t be with you. So I’m gonna die - and I don’t care cause I was brought into existence to know you and that’s enough. The idea that you would want me back it’s like greedy.”

“Pamela, I'm sure you didn't mean any harm, but I intend to keep my husband. If I catch you sniffing around him again, I'll break both your legs. I swear it!" "Oh, God..." Pamela blushed furiously. "Even if he begs, don't meet with him ever again. Don't make this any worse than it already is." "No, I won't, Sarah. I promise you!" "And do me a favor?" "Anything." "Spread the word to his other paramours: I won't have him philandering. He's mine. And I'm not sharing!”

“Pamiętajcie, że to ciało już od kilku miesięcy rozkłada się w płytkim grobie, więc paskudnie śmierdzi i prawdopodobnie jest już mocno przegniłe. Wstrzymujecie oddech, chwytacie rękę trupa, ciągnięcie za nią… a ręka urywa się i zostaje wam w dłoniach. Jeśli nie jesteście wyjątkowo skrupulatni i nie macie żołądka z żelaza, to w tym momencie, pomiędzy kolejnymi głębokimi wdechami, zbieracie tylko co większe części ciała – głowę, tułów, nogi, większość rąk – a potem wynosicie się stamtąd najszybciej, jak potraficie.”

“Pan haggerty wasn't dissimilar to a gratin dauphinoise (she could almost hear Freddie crowing that the English had got there first), but was fried in a pan in hot dripping. Singing hinnies were griddle cakes, it transpired, enriched with lard, flavored with currants and eaten spread with butter. "They sizzle and sing on the girdle," Mrs. Birtley explained and smiled. There was much use of potatoes in these recipes, Stella noticed, as she turned the pages, lots of dumplings, leeks, dried peas and oats, and a wholesome sense of economy. These recipes suggested that the region had always been thrifty, but Stella heard pride, not complaint, in Mrs. Birtley's voice, a care and a particularity.”