Quotessence
Home / Quotes / P Quotes

P Quotes

Browse famous quotes beginning with P. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All P Quotes

“Perdonar ¿Por qué no puedo perdonar y odio con frenesí abatido? ¿Por qué no puedo parar de escarbar en heridas antiguas? Es tan difícil seguir cuando se vive en el pasado, el presente es sólo un rato, para el futuro tiempo no hay. Y todos los dolores, y todas las angustias pesan como piedra de un ahogado. ¿Adónde buscar una vida nueva? ¿Y cómo empezar de nuevo? ¿Hay sentido en esto? ¿Hay sentido buscar para mi alma paz si sólo soy una estrella fugaz?...”

“Peregrino del Desierto (Soneto) No un día, sino este día, es necesario vivir este día, es necesario brillar este día, es necesario caminar este día. Lleva tus heridas como corona, no mañana, sino este día. Ante tu atronadora resolución, se desvanecerán las nubes todas. Donde los labios no hablan, los ojos sí. Donde los ojos no hablan, la columna sí. Y donde la columna habla, no importa la ley, expira la represión allí. La poesía, mi nacionalidad, las palabras, mis hermanos. Para el mundo soy monzón, porque por dentro soy desierto.”

“Perempuan adalah kota yang sepi, tetapi tidak mati. Ia memiliki banyak persimpangan, mobil tua yang kadang terparkir rapi, tidak jarang pula sembarangan di sudutsudut jalan. Gedung-gedung yang menjulur tinggi, pemukiman, jalan yang lengang, lampu merah hijau di perempatan, sangat sepi. Namun tidak mati. Dia hanya menunggu, seseorang tinggal di dalamnya. Maka jangan pernah meninggalkan seorang perempuan dalam kesepian.”

“Perempuan yang Dulu Kau Kejar Hanya untuk Kau Lukai” Buat para lelaki: Apakah kau benar-benar sudah memahami istrimu? Ia bukan sekadar perempuan yang menunggumu pulang, meski tanganmu hampa dan dompetmu kosong. Ia bukan sekadar tubuh yang letih mengurus rumah, atau wajah yang perlahan kehilangan cahaya mudanya. Ia adalah doa yang tak pernah berhenti menyebut namamu, bahkan ketika kau tertidur lelap dan melupakan segalanya. Ia adalah keberanian yang meninggalkan kenyamanan tempat tinggal orang tuanya, menukar kepastian dengan harapan, hanya demi satu keyakinan, karena ia mencintaimu. Ia memintal mimpi dengan air matanya, menyalakan bara ketabahan dengan jiwanya, dan menaruh seluruh hidupnya dalam genggaman tanganmu—meski kau sendiri sering tak tahu bagaimana harus menjaganya. Dialah yang mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan darah dagingmu, dialah yang mengorbankan hidup dan waktunya demi membesarkan keturunanmu. Dialah tangan yang membersihkan rumahmu, hati yang menjaga marwahmu, pelita yang menuntunmu pulang. Ironisnya, justru dialah orang yang paling sering kau abaikan. Dialah yang paling sering kau sakiti dengan sikap diam-mu, acuh tak acuhmu dan ketidakpedulianmu. Ia yang dulu kau kejar dengan segala kerinduan, kini kau anggap biasa saja—tak lagi istimewa, tak lagi bernilai. Padahal yang ia harapkan bukan istana, bukan harta berlimpah, melainkan hal yang sederhana: perhatian yang tulus, rasa aman, kasih sayang yang hangat. Tragisnya, engkau lupa bahwa cinta adalah bara yang harus dijaga, api yang harus diperbaharui. Engkau biarkan apinya padam, lalu kau salahkan ia ketika rumah tangga menjadi dingin. Engkau tak sadar, luka yang ia simpan bukan karena tubuhnya berubah menjadi gemuk, bukan karena kecantikannya pudar, melainkan karena pengorbanannya tak lagi berarti bagimu. Engkau telah meruntuhkan marwah seorang istri, menukar air matanya dengan penyesalan, menukar pengabdiannya dengan kehampaan. Jangan salahkan dia bila akhirnya ia memilih pergi. Ia pergi bukan karena lelah mencintai, melainkan karena tak ada lagi cinta untuk dipertahankan. Ia tinggalkan rumah yang ia bangun dengan air mata, ia lepaskan kenangan yang ia ikat dengan harapan. Dan yang tragis, kau tak kehilangan sekadar seorang istri—kau kehilangan perempuan yang dulu rela menyerahkan segalanya untukmu, bahkan hidup dan kehormatannya. Mengapa lelaki begitu pandai mengejar, namun begitu ceroboh menjaga? Dahulu, ia rela menembus hujan dan badai demi seulas senyum; kini, sekadar menatap mata istrinya saja ia sudah enggan. Mata yang dulu ia puja, jernih bagai telaga tempat ia merendam dahaga cintanya, kini dibiarkannya berkabut oleh air mata. Tidakkah ia sadar, setiap tetes air mata istrinya adalah patahan kecil dari marwahnya sendiri? Lelaki sering kali lupa, bahwa cinta yang diperjuangkan dengan susah payah bisa hilang hanya karena lalai memeliharanya. Betapa ironis—mereka berlari mengejar bunga saat kuncup, namun berpaling saat bunga itu mekar, seakan keindahan tak lagi berarti ketika sudah berada dalam genggaman. Perempuan menangis bukan karena lemah, melainkan karena hatinya penuh dan meluap oleh perasaan yang tak sanggup ia bendung lagi. Ia menangis bukan karena kehilangan cinta, tapi karena cinta yang ia beri setulus hati tak lagi dipandang berarti. Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang istri selain disamakan dengan rutinitas? Diseret dalam hari-hari yang hampa tanpa lagi ada rasa kagum, tanpa lagi ada ucapan sederhana: “Sayang, aku sangat mencintaimu...” Dan beginilah tragedi buruk para istri: lelaki sibuk mencari kebahagiaan di luar rumah, padahal perempuan yang paling ia sakiti susah payah menjaga api kebahagiaan itu tetap menyala. Sementara lelaki mengira, kejayaan ada pada dunia luas yang ingin ia taklukkan. Padahal, kedamaian terbesar ada di pangkuan istrinya yang terus menunggu dengan setia, entah sampai kapan? Semarang, September 2025”

“PERENNIAL wisdom from divine revelation and human experience dictates that all earthly things great or small, beautiful or ugly, good or bad, sad or happy, fool...ish or wise must finally come to an end. It is from this sobering reality that the end of executive rule has finally come for Robert Mugabe who has had his better days after a quarter of a century in power.”

“Perestroika is an urgent necessity arising from the profound processes of development in our socialist society. This society is ripe for change. It has long been yearning for it. Any delay in beginning perestroika could have led to an exacerbated internal situation in the near future, which, to put it bluntly, would have been fraught with serious social, economic, and political crises.”

“Perestroika was an impossible idea on the face of it. The Party was setting out to employ its structures of command to make the country, and itself, less command-driven. A system whose main afflictions were stagnation and inflexibility was setting out to change itself. Worst and probably intractable was the fact that people who had spent their lives securing power and individual leverage were expected to devise change that would dismantle the hierarchy of levers and might dislodge them. The system resisted change instinctively...”

“Perez Hilton is brilliant to me. Because he’s taken something that people don’t think is valid, don’t think is important, and he’s made them obsessed with it. People are obsessed with him. They’re obsessed with his site, they’re obsessed with what he does. They love him. They all love him. They love you, they hate you, what you don’t want is indifference. The day that I put a record out that nobody says a damn thing about, that’s bad.”

“Perfect concordance among reformers is not to be expected; and men who are honestly struggling towards the light cannot hope to attain at one bound to the complete truth. There is always a danger lest the fascination of a new discovery should lead us too far. Men of science, being human, are apt, like lovers, to exaggerate the perfections and be a little blind to the faults of the object of their choice.”