M Quotes
Browse famous quotes beginning with M. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.
“Mem'ry
All alone in the moonlight
I can smile at the old days
Life was beautiful then.”
“Memaafkan adalah ramuan terpahit yang pernah kamu minum. Menelan amarah adalah jarum raksasa yang akan menguras semua racun kotor dalam darahmu. Tangisanmu adalah hidangan kemenangan, vitamin dan susu pelepas dahaga. Senyummu adalah sebuah isyarat, tanda kemenangan atas kekalahan amarah yang berusaha menaklukanmu.”
“Memahami sesuatu itu teramat sukar bukan kekasih?! Sukar sekali untuk mempelajarinya, bagi mereka yang tidak ada pembawaan.
Mengerti akan membuat orang menimbang-nimbang dengan lunak, memberi ampun dan membuat kami baik.”
Source: Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
“Memandang paras senyum cantiknya seakan tubuh ini terasa seperti memiliki kekuatan super seketika”
“memang begitulah hati manusia. Orang takut mengejar impian-impian mereka yang terpenting, sebab mereka merasa mereka tidak berhak memperolehnya, atau bahwa mereka tak mampu meraihnya. Kami, hati mereka, menjadi gentar hanya dengan berpikir tentang orang-orang tercinta yang akan pergi selamanya, atau tentang saat-saat yang seharusnya baik tapi ternyata tidak, atau tentang harta-harta yang mungkin mestinya sudah ditemukan tapi selamanya terkubur dalam tanah. Karena, saat hal-hal ini terjadi, kami sangat menderita.”
“Memang benar, hidup ini sangat murah hati pada orang-orang yang mau mengejar takdir mereka,”
Source: The Alchemist
“Memang benar, waktu adalah obat yang paling mujarab untuk mengobati masalah hati”
Source: Bintang Hati
“Memang hukum fiqih itu didesain bisa berubah mengikuti zaman dengan dipandu kaidah-kaidah yang biasa disebut Qowaidul Fiqh. Hal ini tentu sangat penting, apalagi pengetahuan dan penemuan saat ini semakin canggih. Twitter contohnya. Media sosial yang sering dijadikan tempat perang ini punya fenomena jual-beli follower. Mereka menyamakan follower dengan barang yang bisa diuangkan. Gue ngebayangin akan ada Ahli Fiqih yang nantinya membuat hukum zakat follower. Jadi setiap lebaran tiba, pengguna Twitter yang punya satu juta follower (setara nisab 85 gram emas) dan sudah mencapai haul-nya, maka wajib menzakatkan 2,5% follower-nya untuk para mustahiq. Mustahiq itu adalah pengguna Twitter yang hanya punya follower nggak lebih dari 100, dan memasang foto dengan pakaian lusuh sambil menadahkan tangan. Mereka juga harus pakai hashtag #FF #fakirfollower.”
Source: Di Bawah Bendera Sarung
“Memang kini aku sedih karena gagal. Tapi aku akan banyak makan, banyak tidur, dan ceria lagi. Aku akan mencobanya lagi, tak peduli berapa kali”
Source: アリア 10
“Memang laki–laki yang tergoda perempuan hampir pasti sudah tidak punya otak lagi.”
Source: Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku
“Memang, memuaskan hati semua orang adalah perkara yang mustahil”
Source: Bintang Hati
“Memang sangat sulit mengubah pribadi yang sudah terbentuk oleh lingkungan selama ini, tapi sekalipun sedikit bukanlah sesuatu yang tidak mungkin”
“Memang, seperti di Indonesia, daripada dilemparkan ke dalam keranjang sampah sejarah, ketidaksetaraan kelas berinteraksi dengan identitas-identitas nonkelas untuk memberi kehidupan baru kepada pembagian-pembagian etnis dan agama.”
Source: Market Cultures: Society and Morality in the New Asian Capitalisms
“Memang sulit menjadi lebih baik,
Lebih sulit lagi kalau itu hanya berakhir di pikiranmu.”
“Memang sulit menulis puisi. Dan untuk apa mempersulit diri sendiri.”
Source: Berhala: Kumpulan Cerita Pendek
“Memang tak enak untuk mengingat-ingat bahwa kebahagiaan sering perlu uang yang terkadang amis dan tenaga kasar yang keringatnya berbau aneh. Kebahagiaan sering perlu sejumlah tetangga, yang tak jarang lebih miskin.”
Source: CATATAN PINGGIR 3
“Memangnya ke mana lagi aku akan pergi? Selain kepadamu?”
Source: Elipsis
“Membaca bagiku membuka persfektif baru tentang hidup.”
Source: Surat Hujan
“Membaca belum tentu memahami. Melihat belum tentu mengetahui.”
“Membaca dan menulis membuatmu menjadi.”
“Membaca Kitab Suci buat saya adalah memasuki labirin. Ada ilusi dari sebuah jalan yang lempang dan lurus dengan sebuah 'pusat' - 'akhir yang tertebak, sementara dalam kenyataannya, labirin adalah lorong-lorong sempit. Kita hanya bisa maju atau mundur. Dinding-dinding masif di kanan kiri. Selalu berbelok dan menikung tak terduga.
... Dalam labirin itu, fakta dan fiksi berkait, dunia berkelindan dengan kata-kata. Dan kata-kata tersebut menyajikan semesta yang gumpil - tak utuh, tak sepenuhnya benar, dan menyembunyikan sesuatu yang kita belum tahu.
Kitab suci, seperti juga labirin, bukanlah sebuah peta - proyeksi dua dimensi dari garis dan kurva yang saling bertaut. Peta, hanya sebuah abstraksi, sekumpulan tanda dan legenda yang tak sanggup menggantikan pengalaman. Sementara itu dalam kitab suci, seperti juga labirin, selalu ada misteri yang tidak menuntut untuk dipecahkan, melainkan dialami. Berkali-kali.”
Source: Perempuan Yang Dihapus Namanya
“Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini, walaupun buah kebajikan itu akan dipetik oleh mereka yang baru akan lahir esok hari.”
Source: Gelombang Ketiga Indonesia
“Membacalah empat jam sehari dan menulislah empat jam sehari. Kalau kau tidak bisa meluangkan waktu untuk itu, jangan harap kau bisa menjadi penulis yang baik.”
Source: On writing: a memoir of the craft
“Membahas masalah rindu,
ia hanya perihal jarak, kekasih;
hanya ihwal jangka dan jeda.
Maka kirimkanlah daku rindu,
yang serupa tangan jauhmu
— kuasi mengancing bajuku
pada suatu pagi yang buru-buru.”
“Membahas perihal agama
itu sesederhana percaya
dan tidak percaya.”
“Membangun bangsa ini sangat penting dan harus berhasil. Kita perlu ketangguhan, kesabaran, kebersamaan dan kerja keras.”
“Membangun ekosistem belajar jauh lebih penting daripada sibuk dengan teknik-teknik belajar yang kini marak sebagai komoditi sekolah bagi para siswa dan orang tua yang keblinger pada dorongan 'kesuksesan'.”
Source: Sekolah Biasa Saja: Catatan Pengalaman Sanggar Anak Alam
“Membayangkan hidup tanpamu ternyata jauh lebih menakutkan ketimbang patah hati.”
Source: As Seen On TV
“Membayangkan Surga
Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay?
Serupa senja yang tumbuh
dari sebatang pohon
di sebuah tempat
yang kau bayangkan
seperti surga.
Cahaya lampu itu
menyapu wajahmu
dengan warna lembayung
dan berkilau seperti pelangi.
Tapi tak ada apa pun
kutemukan pada seri wajahmu
selain nafsu yang tertahan
dan seulas senyum kemesuman.
Tepat di puncak penantian
dari segala perhatian
yang tertuju pada dirimu.
Mata yang tak pernah menyadari
tersesat dalam raga belia
yang entah milik siapa.
Aura kemudaan
yang berasa sia-sia.
Telah kau reguk
semua kebahagiaan
dari ekspresi wajah tolol
yang ditunggangi
oleh nafsu alter egonya.
Atau barangkali,
telah habis kau hirup
wangi kelopak mawar hitam
yang tumbuh di ranjangmu
setiap pagi.
Sudah lama sekali rasanya
waktu berlalu.
Seperti ketika, kau masih suka
nongkrong di cafe
sambil meneguk cappucino
dari cangkir porselen
yang perlahan mulai retak.
Sementara laju usia
mengalir di tenggorakanmu
yang bening bagai pualam.
Waktu meninggalkan jejak buta
di dalam handphonemu.
Menyisakan tatap mata orang
yang tak lagi mampu menafsirkan
apa yang telah engkau lakukan.
Bukankah,
mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang?
Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat
dua puluh tahun.
Siapa mendamba
merah muda anggur kirmizi
yang tumbuh di dadamu?
Tak satu pun telinga
sanggup melawan sihir
dari gelak tawamu yang getir.
Mata bodoh
yang tak sanggup melupakan
bayangan pisang matang
kau kunyah dengan brutal
sebagai kudapan
di tengah jeda pertunjukan.
Hidup tak seperti kecipak ikan
di dalam aquarium transparan
tertanam di dinding.
Air kolam di pekarangan
menjelma jadi bayangan jemari
tak henti menggapai.
Gelembung kekhawatiran
yang tak sanggup memahami
makna puisi
yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu.
Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya.
Di sana tak ada sungai keabadian
atau pangeran tampan
yang menunggu kehadiranmu
dengan kerinduan.
Yang ada cuma kelebat kilat
dan hujan airmata hitam.
Mengucur seperti lendir laknat
yang mengalir dari hidungmu
saat kau meradang
karena influensa.
Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay.
Hanya sedikit tersisa cerita
yang busuk dan menjijikkan
sebagai satu-satunya obrolan
untuk perintang waktu.
2024 - 2025”
“Memberi itu bukan persoalan punya atau tidak punya, tetapi mau atau tidak mau.
-Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta”
“Memberi maaf itu lebih baik dan lebih mulia daripada menunggu sampai orang lain meminta maaf”
“Members are more likely to seek counsel from leaders from whom they feel sincere love emanating.”
“Members in the Commonwealth of God are not bound together by the specifics of their religion, for the nature of our interdependency does not require this. Rather we are bound by the shared recognition that when one person suffers, all suffer; when we violate one life, all lives are violated; when we pollute the earth, all living things are stained; when one nation threatens the security of another, it, too, becomes less secure; when we place the planet in mortal danger, we hazard the future of our own children as well as the children of our enemies.”
“Members of al Qaeda and other affiliated organizations spent a great deal of time blending into the populations of several nations around the world and exploring all aspects of life there.”
“Members of Congress are incredibly blessed and fortune to have the jobs that we have. Nobody makes us run. Every two years we offer for public office, and if you don't want to do it then don't run. But the notion that you can make $174,000 in this country and be underpaid is laughable.”
“Members of Congress are like the voters in one respect -- they want to go with the winners.”
Source: Only the Super-Rich Can Save Us!
“Members of Congress care about reelection most of all. And that means they care about their constituents. So you have to be a constituent to make your voice heard.”
“Members of Congress must live according to the same laws as everyone else.”
“Members of Congress on both sides of the aisle, are motivated by all kinds of issues. They're sincerely interested in the economy, in terrorism, in social issues. But the one overriding thing they're interested in is getting reelected. And if they think that it's harder for them to get reelected by cooperating with each other, then they won't cooperate.”
“Members of Congress should be compelled to wear uniforms like NASCAR drivers, so we could identify their corporate sponsors.”
“Members of every major street gang, outlaw biker, and domestic extremist group have been found in a number of military branches.”
Source: Gangs and the Military: Gangsters, Bikers, and Terrorists with Military Training
“Members of legislative bodies are selected by political parties, largely financed or otherwise influenced by private capitalists who, for all practical purposes, separate the electorate from the legislature. The consequence is that the representatives of the people do not in fact sufficiently protect the interests of the underprivileged sections of the population.”
Source: The Albert Einstein Collection: Essays in Humanism, The Theory of Relativity, and The World As I See It
“Members of royal families are born into a world of indulgence and entitlement, and the princelings who grow up that way may never have to develop the emotional musculature that will allow them to show self-restraint.”
“Members of society must obey the law because they personally believe that its commands are justified.”
Source: Questioning Authority: Justice and Criminal Law
“Members of society who are wealthy, or whose livelihood is guaranteed by an institution, or whose religious commitments ensure that they will never have to choose between abortion (or other forms of birth control) and being saddled with the many burdens of parenthood—all these sheltered classes can easily approach all moral problems on an exclusively literate plane, with comforting words that give no hint of numerate realities, including the afflictions that time will bring. Margaret Sanger's experience as a nurse in daily contact with the wretchedly poor made her see the numerate realities that were effectively invisible to the sheltered classes — until she rubbed their noses in raw life. Opening the eyes of the socially blind required the creation of new terms: birth control in 1914 and planned parenthood in the 1930s. Literate approaches frequently deceive, but (with imagination) words can be made to serve the goals of intelligent numeracy. Compassionate souls soon see that all of society benefits when women are freed from the necessity of bearing unwanted babies. (It is remarkable how often a human ostrich who seeks to impose compulsory pregnancy and mandatory motherhood on women lightly belittles a woman's request for an abortion as being no more than a "whim.")”
Source: The Ostrich Factor: Our Population Myopia
“Members of the Academy are mostly urban people. We are an urban nation. We are not a rural nation. It's not easy even to get a rural story made.”
“Members of the Congress, the Constitution makes us not rivals for power but partners for progress. We are all trustees for the American people, custodians of the American heritage. It is my task to report the State of the Union--to improve it is the task of us all.”
Source: Public Papers of the Presidents of the United States: John F. Kennedy, 1962
“Members of the legislature, people who have run for office, know the connection between money and influence on what laws get passed”
“Members of the media, Jim Acosta of CNN and Glenn Thrush, formerly Politico, now the New York Times, and all of them actually think the Statue of Liberty is the symbol of immigration. And they believe the Emma Lazarus poem that is on the pedestal is the equivalent of immigration policy in the United States. They're not the only ones.”
“Members of the media-monetary-military-congressional complex are immoral and have an allergy to the truth.”