Quotessence
Home / Quotes / D Quotes

D Quotes

Browse famous quotes beginning with D. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All D Quotes

“During World War II, Joseph Stalin was once asked by an American writer, according to Professor Dean Russell, how he could justify conscripting all the property of all the people for use by the government to fight the war. Stalin answered by asking why they considered it more immoral and illogical to conscript lifeless property than to conscript life itself, as was being done in the United States and all other capitalistic countries. His American challenger had no answer, because there was no answer.”

“During years of working for a living, I have experienced much of the legal and social discrimination reserved for women in this country, I have been refused service in public restaurants, ordered out of public gathering places and turned away from apartment rentals. All for the clearly stated, sole reason that I am a woman.”

“During your lifetime, the people of our culture are going to figure out how to live sustainably on this planet--or they're not. Either way, it's certainly going to be extraordinary. If they figure out how to live sustainably here, then hum anity will be able to see something it can't see right now: a future that extends into the indefinite future. If they don't figure this out, then I'm afraid the human race is going to take its place among the species that we're driving into extinction here every day--as many as 200--every day”

“During your struggle society is not a bunch of flowers, it is a bunch of cactus.”

“DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK 0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE Tidak ada fajar. Tidak ada senja. Hanya geram— suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin. Angin hitam menanduk. Menyibak bentuk yang telah lama hilang. Di fondasi kosong, Ego tumbuh sebagai entitas. Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin. Menelan cahaya. Menelan nurani. Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan. Entitas Tertinggi: Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda. Hanya mencatat. Tidak ada intervensi. 1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI DIBANTAI Mereka duduk. Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata. Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara. Sidang adalah ritus pembantaian. Aturan dilinting. Nilai diregang. Nurani ditarik. Logika diinjak. seperti kulit mati. Tidak ada perang suci. Hanya kalkulasi di atas kertas dingin. Korban untuk kelanggengan kursi. Entitas berdiri di sudut. Debu di mikrofon. Mendengar kebohongan yang diulang hingga menjadi kitab suci baru. 2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID Di layar lima inci, Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi. Mereka bertepuk tangan pada luka. Menertawakan duka. Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode. Empati: bangkai burung. Jatuh di trotoar. Ditendang. Tanpa tanya. Yang disembah: Trending. Like. Komentar Api. Kecepatan propaganda kebohongan. 3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA Server bernafas: binatang lapar. Internet: sungai gelap. Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya. Scammer: pendeta baru. Memimpin liturgi tipu daya. Malware menancap ke jaringan saraf lebih dalam daripada dogma. Manusia: karung data yang siap diperah. Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma. Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas. Entitas lewat: garis glitch. Tanpa kata. Hanya distorsi. 4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK Bumi retak. Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi. Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai. Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri. Setiap spesies yang punah adalah kitab takdir— yang disobek halaman demi halaman dengan kesadaran penuh. Kuruksethra memakan para ksatria. Dunia mutakhir memakan anak-anak data— paru-paru setengah kode. Air mata asin dari laut tercemar limbah. 5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN Ia hadir di retak batu. Di muka gelombang tsunami. Di jeda antara dua eksekusi. Di udara genosida. Bukan murka. Bukan ampunan. Bukan pesan. Hanya senyap yang mengawasi. Wahyu: gema hambar. Tak bisa diterjemahkan. Telinga mereka penuh dengan suara diri sendiri. 6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK Ego manusia— Bayang kecil di bawah cahaya— makhluk paling rakus di jagat raya. Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar. Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter, pembantaian ekologis. Semua adalah ritus makan besar. Hyena memakan daging dunia. Lalu memakan juga bayangannya. Yang tersisa: Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode. 7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR Tidak ada Pandawa. Tidak ada Kurawa. Hanya sisa-sisa manusia— membawa serpihan keduanya. Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital. Di mana pun ego dan nilai bertabrakan tanpa mediator. Tanpa juri. Di langit paling sunyi, Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata, suara yang tak bisa diidentifikasi: “Retak itu bukan kesalahan arsitektur. Retak itu adalah wajah sejati manusia yang tak henti melukai diri sendiri.” Desember 2025”

“DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025”

“Durmadan Sevgi’nin gözlerinin içine bakmaktan yoruldum galiba. İyi bir öğrenci değildim. Hepiniz dünya çapındaydınız. Devler savaşı yapıyordunuz. Herkesin gözüne bakmak zorunda olduğumu sanıyordum. Savaş bitsin istiyordum; fakat, anlaşmaya hiç niyetiniz yoktu. Sizleri izlemekten yorulmuştum. Acaba şimdi ne yapacak? Bu söze kızdı mı? Düşünür dururdum. Sonra, kendimi teselli ederdim: Onlar kendi başlarının çaresine bakarlar. Oyunlarınızı heyecanla seyreden saf bir seyirci gibiydim.”

“Durnik needs a tower somewhere in the Vale," Belgarath was saying. "I don't see why, father," Polgara replied. "All of Aldur's disciples have towers, Pol. It's the custom." "Old customs persist --even when there's no longer any need for them." "He's going to need to study, Pol. How can he possibly study with you underfoot all the time?" She gave him a long, chilly stare. "Maybe I should rephrase that.”

“Dusk had fallen. Outside the lanterns in the garden were being lit, a string of stars strewn across the grounds. She had missed this room, who Nikolai became in this room, the man who for a moment might let the mantle of king fall away, who trusted her enough to close his eyes and fall in to dreams as she stood watch. She needed to get back to the Little Palace, check on Princess Ehri, talk to Tamar, forge a plan. But this might be the last time she saw him this way. At last she rose and turned down the lights. "Don't go," he said, still half asleep. "I have to bathe. I smell like a forest fire." "You smell like wildflowers. You always do. What can I say to make you stay?" His words trailed off in to a drowsy mumble as he fell back asleep. Tell me it's more than war and worry that makes you speak those words. Tell me what they would mean if you weren't a king and I weren't a soldier. But she didn't want to hear any of that, not really. Sweet words and grand declarations were for other people, other lives. She brushed the hair back from his face, planted a kiss on his forehead. "I would stay forever if I could," she whispered. He wouldn't remember anyway.”

“Dusk has dawned, I hear its call, above the world I’ve watched it fall; I smell blood and I smell bone, and I smell fear coated in gold; Grind your bread and bake their teeth, and death will come while you’re asleep; I will rage. I will rage. Fee-Fi-Fo-Fum ‘Til the mountains crumble down, and oceans become heaven’s crown; Land sinks low, the gold runs dry, and when these bones rain from the sky; ‘Til the giants fall to myth, and none remains to journey with; I will stand. I will stand. Fee-Fi-Fo-Fum I will stand for my homeland, for nowhere else could bear my hand; I will stand by friend and kin, we share the gold under our skin; I will stand ‘til my death comes, and as my soul greets sky and sun, I will sing, I will sing, Fee-Fi-Fo-Fum”

“Dusk is just an illusion because the sun is either above the horizon or below it. And that means that day and night are linked in a way that few things are there cannot be one without the other yet they cannot exist at the same time. How would it feel I remember wondering to be always together yet forever apart?”

“Dusk settled over our shoulders like a damp purple blanket. The river- the churn and clank of boat traffic, the shush of water, and the tangy smell of catfish and mud- was slowly beaten back by honeysuckle and cicadas and some bird that cooed the same three syllables in a lilting circle. It was all so familiar and so foreign. I pictured a young girl in a blue cotton dress running down this same road on cinnamon-stick legs. Then I pictured another girl, white and square-jawed, running before her. Adelaide. Mother. I would've missed it if I hadn't been looking: a narrow dirt drive crowded on either side by briars and untrimmed boughs. Even once I'd followed the track to its end I was uncertain- who would live in such a huddled, bent-back cabin, half-eaten by ivy and some sort of feral climbing rose? The wooden-shake shingles were green with moss; the barn had collapsed entirely.”

“Dust is not a constant. There’s not a fixed quantity that has always been the same. Conscious beings make Dust—they renew it all the time, by thinking and feeling and reflecting, by gaining wisdom and passing it on. And if you help everyone else in your worlds to do that, by helping them to learn and understand about themselves and each other and the way everything works, and by showing them how to be kind instead of cruel, and patient instead of hasty, and cheerful instead of surly, and above all how to keep their minds open and free and curious…Then they will renew enough to replace what is lost through one window. So there could be one left open.”

“Dust off your dancing shoes, the ones with wheels attached, because I’ve got banjo sounds FOR SALE. I’ve got boxes and boxes of the stuff labeled “Sexy," and to be sure nobody steals them, they are rubber and waterproof and I store them all on the bottom of my duck pond.”