Quotessence
Home / Quotes / K Quotes

K Quotes

Browse famous quotes beginning with K. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All K Quotes

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji”

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku. Aku membaca wajahnya dalam lag. Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak: fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel, cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya. “Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik, seperti gema yang mencari asalnya sendiri. Aku mencoba menjawab, tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai, titik-titik yang berdarah di antara jeda. Ibu bukan sosok. Ia interface. Portal yang dibuka dengan air mata cinta dijalankan oleh rindu, dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown. Ia menulis doa dengan jarinya di udara, membentuk pola spiral — sebuah mandala kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya. Dan aku, produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks, terus mencoba decode rasa bersalah yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran. Mungkin cinta adalah bug yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya. Agar kita tak kehilangan ingatan dan kenangan atas dirinya. Mungkin ibu adalah firewall antara kita dan kehampaan. Atau mungkin — ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur Puisi yang tak selesai ditulis yang masih menari di jantung semesta, menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara, serupa frekuensi yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang retak tapi terus reboot. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia) November 2025”

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku. Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji”

“Kode Ibu dalam Arus Biner Kutemukan ibu dalam layar komputerku. Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard. 01001001 01000010 01010101 (suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah) Ibu tidak melahirkanku — ia memanggilku dari denyut aliran listrik. Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan, ia menganyam doa dalam format .wav, menyusunnya jadi nyanyian algoritmik. Tangisnya bukan air mata melainkan data yang menetes dari sistem empati. Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih, terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya. Ia menatapku dari jendela notifikasi, mengirim pesan tanpa huruf, sebaris getar, sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku. Aku membaca wajahnya dalam lag. Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak: fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel, cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya. “Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik, seperti gema yang mencari asalnya sendiri. Aku mencoba menjawab, tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai, titik-titik yang berdarah di antara jeda. Ibu bukan sosok. Ia interface. Portal yang dibuka dengan air mata cinta dijalankan oleh rindu, dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown. Ia menulis doa dengan jarinya di udara, membentuk pola spiral — sebuah mandala kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya. Dan aku, produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks, terus mencoba decode rasa bersalah yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran. Mungkin cinta adalah bug yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya. Agar kita tak kehilangan ingatan dan kenangan atas dirinya. Mungkin ibu adalah firewall antara kita dan kehampaan. Atau mungkin — ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur Puisi yang tak selesai ditulis yang masih menari di jantung semesta, menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara, serupa frekuensi yang hanya bisa didengar oleh jiwa yang retak tapi terus reboot. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia) November 2025”

“Kode’s older sister, Kira, was leaning over a display of jewelry, fisting a jade-green necklace in one hand. Her nose was two inches from the Braetic across the table, the two exchanging intimidating glares. Eena watched for a few seconds as Kira all but crawled over a pile of merchandise, her face scrunched up with resentment, yet enviably stunning as always. “Hey Kode,” the young queen whispered. “Hey, girl.” “What’s going on?” “Kira’s bartering.” Eena watched the fistful of necklace come within a whisker of smacking the merchant’s nose. “She isn’t going to hurt the guy, is she?” Kode snorted on a chuckle. “Not if the dude’s got any sense.” Validly concerned, Eena inched closer to the confrontation, straining to hear their growled dialogue. Kode and Niki crept closer too. Efren, however, stayed where he was, testing the flagpole’s ability to support his body weight. They watched the feisty Mishmorat hold up a small pouch and shake it in front of the Braetic’s eyes. Kira’s fingers curled like claws around the purse. She seemed to smirk for a second when the merchant flinched. In a blink he was back in her face again, shoving aside the purse. “What is she trying to trade?” Eena asked, her voice still hushed as though she might disturb the haggling taking place across the way. “Viidun coins,” Kode said. “Ef gave ‘em to her.” “Are they worth much?’ Kode grinned wryly, “He sure as hell don’t freakin’ think so.” Eena foresaw Niki’s disapproving smack to the back of Kode’s head before he even finished his sentence. He cursed at his girlfriend for the physical abuse, an unwise response that earned him an additional thump on the head. “Freakin’ tyrant,” Kode grumbled. “Vulgar grogfish,” Niki retorted. Still unable to hear well enough to satisfy her curiosity, Eena stole in closer to the scene of heated bartering. She stopped when Kira’s strong voice carried over the murmur of the crowd. Kode and his girlfriend were right on her heels. “This purse is worth ten of those gaudy necklaces. You oughta be payin’ me to take ‘em off your hands, Braetic!” “That alien money is worthless to me, Mishmorat. In all my life I’ve never left Moccobatran soil. And even if I were to take an interstellar trip someday, you’d never catch the likes of me on a barbarian planet like Rapador!” Kira jerked her head, causing her black, cascading hair to ripple over her shoulder. The action made the trader flinch again. His eyes tapered, appearing to fume over what he perceived as intentional bullying. “You ain’t gonna sell this crap to no one else,” the exotic Mishmorat said. “Be smart and take the money. Hell, you could make a dozen pieces of jewelry from these coins. Sell ’em all for ten times the worth of anything you got here.” The Braetic shoved his finger at Kira’s chest, breathing down her throat at the same time. “Why don’t you just take your pretty little backside away from my table and make your own Viidun jewelry. Sell it yourself and then come back with a reasonable offer for my necklace.” His palm opened flat, demanding she hand over the jade stones still in her fist. “You wanna make me?” Kira breathed. “What do you plan to do, steal it?” The merchant challenged her in a gesture, nostrils flaring. “I’m no thief, but I’m not above beating some sense into you ‘til you choose to barter like a respectable Braetic!” Caught up in the intense interaction, Kode supported his sister a little too loudly. “Teach the freakin’ crook a lesson, Sis!” Niki smacked her boyfriend upside the head without missing a beat.”

“KODO SAWAKI ~ To practice the buddha way is not to let our minds wander but to become one with what we’re doing. This is called zanmai (or samadhi) and shikan (or “just doing”). Eating rice isn’t preparation for shitting; shitting isn’t preparation for making manure. And yet these days people think that high school is preparation for college and college is preparation for a good job.”

“Kofi Annan described World Summit on the Information Society as the first summit to deal primarily with an opportunity. The range of issues and potential opportunities that might be included in the Information Society is enormous. Compromise texts are very poor at addressing these in any meaningful way, and many governments see little point in trying.”

“Kofia za chuma au sandarusi zenye uwezo wa kukwepesha risasi za wadunguzi na kuzuia mpaka risasi tatu za AK-47, ijapokuwa zimetengenezwa kuzuia risasi moja tu, ni miongoni mwa vitu 17 vilivyobebwa na makomandoo wa Tume ya Dunia; wakati wakitekeleza Operesheni ya Kifo au Ushindi Kamili (operesheni ndogo ya Operation Devil Cross ya Tume ya Dunia) katika Msitu wa Benson Bennett, Salina Cruz, Oaxaca, nchini Meksiko. Thamani ya vitu vya komandoo mmoja wa EAC ('Executive Action Corps') akiwa vitani ni zaidi ya dola za Kimarekani 65,000; ikiwa ni pamoja na magwanda ya jeshi ('Ghillie Suits'), kofia za chuma, miwani ya kuonea usiku (yenye uwezo wa kubinuka chini na juu), redio na mitambo ya mawasiliano migongoni mwao juu ya vizibao vya kuzuia risasi, vitibegi vya msalaba mwekundu ('Blowout kits' – katika mapaja ya miguu yao ya kulia, ndani yake kukiwa na pisto na madawa ya huduma ya kwanza), vitibegi vya kujiokolea ('Evasion Kits' – katika mapaja ya miguu yao ya kushoto, ndani yake kukiwa na visu na pesa na ramani ya Meksiko) na bunduki za masafa marefu.”

“Kokią teisę jis turi ką nors teisti? Žinoma, kažkiek jis iš tikrųjų yra kaltas, kad teisė beveik visus, kuriuos sutikdavo, ir daug tų, kurių nė nebuvo matęs. Makas žinojo, kad didžiausia jo kaltė - jo egocentrizmas. Tad kaip jis gali teisti kitą? Visi jo vertinimai - paviršutiniški, paremti išvaizda ir elgesiu, kuriuos galima aiškinti taip, kad pasijustum pranašesnis, saugesnis arba kokios nors grupės dalis. Jam taip pat buvo aišku, kad jis bijo.”

“Kollontai stumbles upon the essence of sexual liberation as a form of control; it is “voluntary incarceration.” Because the will is more important than reason to the revolutionary, because in effect will is the essence of reason for both the Marxist and the Nietzschean, the revolutionary is unable to see how he is enslaved by his own will because he is unable to see the role that passion plays in that self-subversion. All the revolutionary can see is his passion, and because his only thought is how to gratify those passions - morals having discredited as “bourgeois” - he is blind to how his passions control him.”

“Kolmannella kymmenellään hän oli ajoittain luonut katseen ystäviinsä ja tuntenut niin puhdasta, syvää tyytyväisyyttä, että oli toivonut maailman heidän ympärillään yksinkertaisesti lakkaavan olemasta, ettei kenenkään heistä tarvitsisi siirtyä eteenpäin siitä hetkestä, jossa kaikki oli tasapainossa ja hänen kiintymyksensä heitä kohtaan täydellistä. Mutta niin ei tietenkään koskaan käynyt: silmänräpäystä myöhemmin kaikki oli toisin, ja hetki haihtui vähin äänin.”

“Kolme häält maailmas tahan tajuda ligidalt, sügavalt ja selgesti: Sinu häält, tõe häält, unelma häält. Need hääled on kärsivad ja kannatlikud, sest nad tunnetavad oma täitumatust ja tühjumatust. Need hääled on julged, sest hirm surmaks nende tähenduse. Need hääled on ilusad, sest inetus on neile taustaks. Need hääled on vaiksed, sest nad teavad, et nende aeg ei saa iialgi otsa ja neil on ikka õigus...”

“Kolonia Santita ilikuwa na tani 627.54 za madawa ya kulevya ilizokuwa imezikusanya kwa siri kwa muda wa miezi 9 mfululizo. Ilikuwa imepanga kuzisafirisha ndani ya siku 10 baada ya kutokea kwa mauaji ya Tijuana-San Diego, katika mpaka wa Meksiko na Marekani; kwenda Asia, Afrika, Amerika, Ulaya na Australia, kabla ya kukamatwa na Mamlaka ya Kudhibiti Madawa ya Kulevya na Ugaidi wa Kimataifa Duniani WODEA. Kokeini tani 183, heroini tani 90, methamfetamini tani 81, eksitasi tani 27.54 (vidonge milioni 110.16). Bangi tani 186, uyoga wa kichawi tani 60. Madawa hayo yalikuwa na thamani ya mtaani ya shilingi za Kitanzania trilioni 12.9.”