Quotessence
Home / Quotes / M Quotes

M Quotes

Browse famous quotes beginning with M. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.

All M Quotes

“Mestre. Say the word without hissing the conurbated villain, and pitying its citizens. As quickly as they can, two million tourists pass through, or by, Mestre each year, and each one will be struck by the same thought as they wonder at the aesthetic opposition that it represents. Mestre is an ugly town but ugly only in the same way that Michael Jackson might be desccribed as eccentric or a Tabasco Vindaloo flambéed in rocket fuel might be described as warm. Mestre is almost excremental in its hideousness: a fetid, fly-blown, festering, industrial urbanization, scarred with varicose motorways, flyovers, rusting railway sidings and the rubbish of a billion holidaymakers gradually burning, spewing thick black clouds into the Mediterranean sky. A town with apparently no centre, a utilitarian ever-expandable wasteland adapted to house the displaced poor, the shorebound, outpriced, domicile-deprived exiles from its neighbouring city. For, just beyond the condom- and polystyrene-washed, black-stained, mud shores of Marghera, Mestre's very own oil refinery, less than a mile away across the waters of the lagoon in full sight of its own dispossessed citizens, is the Jewel of Adriatic. Close enough for all to feel the magnetism, there stands the most beautiful icon of Renaissance glory and, like so much that can attract tourism, a place too lovely to be left in the hands of its natives, the Serenissima itself, Venice.”

“Met concurrentie is op zich niks verkeerd en competitie kan best leuk zijn. Het wordt een probleem als het hele leven in het teken van competitie komt te staan. Het idee dat concurrentie alleen maar ons professionele leven betreft en we thuis lekker kunnen relaxen klopt niet langer. Ik ben een product dat ik zelf aan de man moet brengen, in voortdurende competitie met andere producten in een omgeving die één grote markt geworden is. Omwille van die concurrentie moet ik mezelf aanprijzen en oppimpen, want enkel zichtbaar succes telt mee. Voor wie doe je het eigenlijk? De boodschap is dat we ons de vraag moeten stellen wat een goed leven inhoudt, goed voor mij en goed voor de ander.”

“Met de eerste oogopslag had Onno gezien, dat daar niets stond of lag, zoals het toevallig was neergezet of terechtgekomen. Niet dat het er esthetisch leeg was, of angstig opgeruimd; het was er eerder vol, met boeken en mappen ook op de grond en op de kleine vleugel, maar nooit lag een groter boek op een kleiner, of een map op een boek, niets leek ergens anders te kunnen liggen, – als op een schilderij. Die harmonische compositie strekte zich ongedwongen uit tot alles in de suite; ook van een bepaalde stijl was geen sprake, er waren moderne dingen, antieke, halfantieke, maar alles paste bij elkaar en nergens stootte het oog op een belediging, zoals iets van gekleurd plastic, of een reclamefolder, of zelfs maar een balpen. Ook de schrijftafel lag vol boeken en paperassen, maar alles zorgvuldig gerangschikt, evenwijdig, haaks, zonder dat het een manische indruk maakte. Wat Onno ‘krankzinnigheid’ noemde, was bewondering voor iets dat hij zelf totaal miste in zijn dagelijks leven.”

“Met het grootste gemak zou je de ronde een tunnel kunnen noemen, of een put voor mijn part. Soms dacht ik aan het requiem van Fauré, dat mijn favoriete plaat is. Dan verbeeldde ik me dat ik door de groef van die plaat liep, zoals ik in het noorden van Japan tussen een metershoge muur van sneeuw liep en het leek alsof er helemaal niets anders was, er geen andere mogelijkheid bestond dan de weg te volgen die iemand anders had aangelegd in een verder onherbergzaam gebied. Zo liep ik in gedachten in de groef van vinyl, alsof ik onderdeel uitmaakte van het muziekstuk, alsof ik door het lopen iets aan het scheppen was.”

“META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) I. Tanah dan Akar Tanah basah menempel di kaki. Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah. Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai. Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki. Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar. Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan. II. Suara Suwung Angin malam menekuk dedaunan, membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak. Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa, tetapi ruang yang menahan segalanya. Bilah pisau membelah udara, memotong batas antara hidup dan mati. Jarak hanya sehembus napas. Di dada, sesuatu berdetak, tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan. III. Nadi yang Menembus Ia diam. Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat. Hangat tanpa cahaya. Pedih tanpa luka. Hadir tanpa wujud. Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong, kau merasakan nadi yang menolak penjelasan. Bukan kata. Bukan logika. Bukan rasa bersalah. Ia hanya sisa dari semua kehilangan. IV. Litani Kehilangan Subuh hilang ombak. Suluh hilang cahaya. Tubuh hilang nafas. Tabuh hilang bunyi. Aduh hilang nyeri. Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi: hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung. V. Jejak Kosmologi Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru, Suwung hadir bukan sebagai idealisasi, bukan sebagai kekosongan mutlak, tetapi kesetiaan yang tak bersyarat. Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh, ada suara leluhur, bisik yang melingkupi. Bayangan pokok kelapa merunduk patah. Ranting kering menyentuh jejakmu. Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gading— semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.”

“META CINTA — SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) VI. Piring Logam Gelas kristal retak. Ilusi pecah. Piring logam teguh, utuh, penuh. Ia menahan remuk, menahan jatuh, menahan ilusi. Memberi bukan berarti memiliki. Menanggung bukan berarti menderita. Menahan bukan berarti takut. Ia hanya ada dan sungguh nyata. VII. Ritual Sunya Badai selatan mengamuk, membawa bisik leluhur yang terselubung. Dupa membakar remang, asap menekuk, menembus langit. Kau membungkuk, tangan tidak menyentuh, mata mencatat, tapi hati merasakan setiap ayunan, setiap hembusan. Ritual ini bukan untuk dilihat, tapi untuk diserap oleh kulit, oleh tulang, oleh nadi. VIII. Cinta sebagai Kesadaran Di situlah cinta berdiri: tidak sebagai milikmu, tidak sebagai milik siapa pun. Hanya getaran di dada manusia, menembus kulit, menembus tulang, menembus kesadaran sendiri. Nyala pelita di akar bakau. Nadi yang tetap berdetak di dada. Kesadaran yang menolak lenyap. IX. Fragmen Pengamat Kau berdiri sedikit jauh. Tidak terseret luka. Tidak terseret ilusi. Hanya mencatat. Menangkap getar, menahan nyala, merasakan sunya. Dunia runtuh, tetapi nadi tetap berdetak. Cinta tidak bisa dijelaskan. Tidak bisa dijamah. Hanya dapat dirasakan. X. Sunya Ruri Final Di tanah basah, di akar bakau, di celah antara pohon dan pasir, ada sesuatu yang tidak bernama. Sesuatu yang hangat tanpa cahaya, pedih tanpa luka, menolak kata, menolak logika, menolak kepastian. Ia adalah cinta: bukan jalan menuju kematian, bukan tragedi yang ditakuti, tetapi jalan menuju hidup, jalan yang meneguhkan kemanusiaan, yang menyatakan bahwa meski dunia runtuh, meski tragedi menunggu, manusia tetap manusia, selama nadi itu masih berdetak dan kesadaran menolak lenyap. Desember 2025”

“Metal buildings are the dream that Modern Architects had at the beginning of this century. It has finally come true, but they themselves don't realize it. That's because it doesn't take an Architect to build a metal building. You just order them out of a catalog - comes with a bunch of guys who put it together in a couple of days, maybe a week. And there you go - you're all set to go into business - just slap a sign out front.”