K Quotes
Browse famous quotes beginning with K. This page is a child index of the full Popular Quotes A-Z directory.
“kita menjadi kabilah
yang diburu dan dijadikan penjahat seperti kaum Musa as
oleh agama yang kita pegang dan junjung dengan percaya
dijadikan syariat dan jalan kebenaran; cahaya dan penyuluh
sedang mereka dengan keangkuhan dan kesombongan Firaun
menjulang pedang tajam kebebasan serta tombak kenihilan
untuk merobek agama dan kebenaran Tuhan yang kita miliki
atas nama hak asasi manusia, kesamarataan dan kebebasan berfikir
maka al-Quran mereka jadikan buku dari tangan manusia
yang boleh ditafsir akal sesuka hati dan dimaknakan semahunya
suara-suara mereka lagi mengatakan bahawa nabi-nabi
hanya mitos yang dicipta oleh agama - maksum itu hanya dongeng
dan Islam adalah nama yang diberikan warna penuh kelabu
untuk dilihat dengan penuh sinis dan prasangka gelap.
(Perjalanan 2)”
Source: Perjalanan Sang Zaman
“Kita mungkin melihat hal yang sama namun memahaminya secara berbeda.
Melihat dengan mata tidak ada artinya sampai kabut yang menyelimuti pikiran hilang.
Kabut itu adalah prasangka dan menyakitkan ketika Anda mencoba untuk menyingkirkannya.
Rasa sakit itu adalah bagian dari mengetahui. Selamat datang di alam kebenaran.
~
We might see the same thing yet understand it differently.
Seeing with eyes means nothing until fog that engulfs mind is gone.
That fog is prejudice and it hurts when you try to get rid of it.
That hurt is the part of knowing. Welcome to the realm of truth.”
Source: Master of Stupidity
“Kita mungkin punya keinginan dan ketakutan yang sama, hanya saja kita belum saling terbuka karena sama-sama ingin dipahami.”
“Kita perlu faham bahawa hak manusia perlu diraikan dengan syarat mengikuti panduan syarak. Jika semua hak manusia perlu raikan, maka akan lahirlah manusia yang hidup tanpa undang-undang. Semuanya bebas atas dasar liberal. Nak jadi lesbian? Nak tukar jantina? Semuanya boleh.
Hak manusia yang berlandaskan nafsu ini menjauhi fitrah Muslim yang sebenar. Jangan jadikan hak asasi manusia sebagai alasan untuk membenarkan tindakan. Kita sering kali fikir tentang hak manusia, tapi kita lupa bahawa kita adalah hamba-Nya, dan kita ini hak milik Allah. Bagaimana dengan hak kita sebagai hamba?”
Source: Head With Serban
“Kita perlu faham bahawa hak manusia perlu diraikan dengan syarat mengikuti panduan syarak. Jika semua hal manusia perlu raikan, maka akan lahirlah manusia yang hidup tanpa undang-undang. Semuanya bebas atas dasar liberal. Nak jadi lesbian? Nak tukar jantina? Semuanya boleh.
Hak manusia yang berlandaskan nafsu ini menjauhi fitrah Muslim yang sebenar. Jangan jadikan hak asasi manusia sebagai alasan untuk membenarkan tindakan. Kita sering kali fikir tentang hak manusia, tapi kita lupa bahawa kita adalah hamba-Nya, dan kita ini hak milik Allah. Bagaimana dengan hak kita sebagai hamba?”
Source: Head With Serban
“Kita perlu jatuh cinta atau patah hati untuk dapat membuat puisi yang bagus.”
“Kita perlu pemimpin-pemimpin yang bukan membangun ego mereka, tetapi institusi yang mereka pimpin.”
Source: Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking
“Kita pun akan terus merangkai kata, menjelma kalimat kalimat yang kita tanam sepenuh cinta pada semesta. Semoga tumbuh menjadi berlian kecil di hati pembaca.”
Source: Risalah Cinta
“Kita pun kini paham
bahwa takada yang abadi
–termasuk kita−
dalam puisi.”
“Kita ratusan kaligrafi
tercatat merah
pada nisan-nisan berceracak tua.
(Broome)”
Source: Tidakkah Kita Berada Di Sana?
“kita sangat berbeda, bagai pinang tak terbelah.”
“Kita sangat sukar dan malas untuk memahami dan berjalan antara Baina wasilah wal ghoyyah, mana numpang mana lewat, mana syariah mana tarekat, mana alat mana tujuan. Cukup sulit dan tak punya logika dalam memandang mana latta (tokoh), mana uzza (idola), sungguh keadaan yang sangat mencemaskan tingkat degradasi nilai-nilai akhlak hidup hari-hari ini.”
“Kita sebenarnya paham,
bahwa orang benar pun
akan dipandang bodoh,
jika ia berada di kalangan
orang yang salah;
dan orang yang pintar sekalipun,
akan selalu terasa salah
di mata orang-orang bodoh.
Bukankah benar begitu?”
“Kita sedekat mata kiri dan kanan, hanya saja kita tak pernah bisa saling memandang.”
“Kita selalu bisa memutuskan apakah ingin mengenang seseorang dari sisi baik atau buruk”
Source: Nebula
“Kita semua bisa melakukannya, jika Isra' Mi'raj didefinisikan sebagai perjalanan menuju ruang pemaknaan. Buroqnya? Kesabaran dan pikiran yang terbuka.”
“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.”
Source: House of Glass
“Kita semua melakukan perbuatan yang tidak kita banggakan.”
Source: The Ballad of Songbirds and Snakes
“Kita semua pernah kecewa karena gagal tumbuh di hati orang lain.”
Source: Jangan Sembunyi di Bumi
“Kita semua setuju bukan?
Bahwa hal yang paling susah dari ibadah bukanlah rutinnya,
melainkan perasaan sombong setelah melakukannya.”
“Kita sering membayangkan secara berlebihan sesuatu yang tak kita ketahui.”
Source: The Stranger
“Kita sering tidak mau tahu apa penyebabnya, tetapi fokus pada gejala yang kelihatan dari luar, lalu menilai dan menghakimi.”
Source: Things Left Behind: Hal-hal yang Kita Pelajari dari Mereka yang Telah Tiada
“Kita serumpun bertanam buluh.
Buluh akan patah, diserbu ribut, jika hidup sebatang.
Di belakang kita masih ada seribu rebung,
Kelak, semuanya boleh menjunjung langit.
(Ekspresionisme di Sibolangit)”
Source: Matahari Itu Jauh
“Kita, siapa atau apa? “Kita tak bernama, kakak,” katamu. Cuma sepasang debu semesta. Disatukan rindu di permulaan waktu. Ketika atom pertama meledak dan semesta pecah. Bahkan manusia tak ada, masih dalam rencana.”
“Kita sudah tiba pada fase
berani untuk meniru,
maka menjiplak semestinya
tidak perlu lagi untuk diadu.
Kita sudah lama berkutat
dengan keadaan yang menipu,
jadi untuk percaya,
rasanya sudah terlampau banyak
memakan waktu.
•••
Note:
Jika hendak memakai qoutes
mohon dicantumkan sumbernya.
IG : @aksarataksa
@crobyx
Twitter: @crobyx2”
“Kita tahu, dalam hidup, biarpun ringkas selalu ada sesuatu yang mesti dilepas—mungkin tak ke arah yang lebih baik, mungkin ke bentuk yang lebih buruk. Dan apa yang “lebih baik” dan “lebih buruk” bagi suatu zaman tak pernah ditentukan oleh setiap orang .”
Source: CATATAN PINGGIR 2
“Kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita.”
Source: Anak Rantau
“Kita tak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Tapi kita bisa memperbaiki hari ini dengan banyak kebaikan. Sampai kemudian, semuanya akan diakhiri oleh sesuatu yang bernama kematian.”
“Kita tak bisa menginginkan kejujuran orang lain saja, namun terlebih dahuku kita harus menginginkan kejujuran terhadap kita sendiri.”
Source: Mencari yang Mustahil
“Kita tak bisa menginginkan kejujuran orang lain saja, namun terlebih dahulu kita harus menginginkan kejujuran terhadap kita sendiri.”
Source: Mencari yang Mustahil
“Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to"...Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.”
Source: Catatan Pinggir 1
“Kita tak meng-harap. Kita ber-harap. Tanpa optimisme. Tapi kita tahu bahwa dalam hidup, gelap tak pernah lengkap, terang tak pernah sepenuhnya membuat siang. Di dalam celah itulah agaknya harapan: sederhana, sementara, tapi akan selalu menyertai kita jika kita tak melepaskannya.”
Source: Catatan Pinggir 7
“kita telah benar-benar bermalam bermalam bersama petaka; saat kekasihmu tak kunjung pulang membunuhku yang menyetubuhi malam-malammu.”
Source: Kesengsem
“Kita telah berjanji untuk tidak terlalu bertingkah mesra, tidak pula berjanji untuk mengatakan pada dunia bahwa kita adalah sahabat, tidak! Tidak perlu dan tidak berguna.
Kita hanya perlu mengulurkan tangan, merangkul, menangis, dan berjuang bersama ketika salah satu dari kita menghadapi kekalahan, duka, dan kesulitan.
Serta tertawa, menyiapkan hidangan kemenangan, saling memberi selamat, ketika salah satu dari kita berhasil melakukan sebuah kemenangan sekecil apa pun itu.”
“Kita Telah Menjadi
Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu?
Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya
Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta
Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga.
Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu?
Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu
Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana.
: Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu.
Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya.
Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas.
Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas
Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan.
Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu?
Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu.
Mendadak saja kau merasa;
Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri.
Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati.
Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu?
Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca;
Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal.
Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal.
Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal.
Kita telah menjadi bukan siapa-siapa.
Oktober 2025”
“Kita tentunya juga diperbolehkan merasa ragu. Tapi kita mesti jalan terus. Memilih keraguan sebagai falsafah hidup sama halnya memilih kemandekan sebagai sarana transportasi.”
Source: Life of Pi
“Kita tercipta dari debu-debu semesta, bertaburan melayang-layang berotasi pada poros kehakikian makna, berevolusi mengelilingi ketaksaan hingga bertransformasi menjadi kenyataan mengakar yang tertanam kokoh pada tekanan gravitasi kemanusiaan dan peradaban berparadigma futuristis.”
Source: Antitesis
“Kita terlalu berfokus pada hasil tapi tidak mencintai proses. Padahal tidak ada hasil tanpa di lalui oleh proses. Kita juga terlalu mengharapkan hasil yang besar tanpa mengapresiasi hasil-hasil yang kecil. Padahal hasil besar tersebut adalah kumpulan hasil-hasil yang kecil.”
“kita terlalu sibuk mengukur dalamnya laut di hati masing-masing.
saat berenang dalam keasingan arusnya, kita suka lupa sayang
bahwa laut diantara hati kita memiliki gelombang luka yang sulit kita jinakkan, bahkan dengan cinta
laut cukup terlalu asin untuk membuat goresan luka itu makin perih dan menganga bukan?. ini cukup bagi kita untuk berenang lebih kencang mencari tepian”
“Kita terlau sering berharap kepada sesama manusia, wajar kalau sering di PHP-in. Berharaplah hanya pada Tuhan. Sebab Tuhan tidak pernah memberi harapn palsu
dalam : Sambutan Orang Gila”
Source: Lelaku
“kita tertawa dengan mulut yang sama, tapi kita menangis dengan mata yang berbeda.”
“Kita tidak akan pernah tau kesempatan apa yang akan kita dapatkan dalam hidup jika kita hanya menunggu. Dan perjalanan selalu menuntun manusia terhadap dua pilihan; memulainya atau tidak sama sekali.”
“Kita tidak bisa memenuhi keinginan semua orang, kita hanya bisa melakukan yang menurut kita yang terbaik”
“Kita tidak bisa memilih akan terlahir seperti apa, tapi kita bisa memilih mau menjadi teman-teman terbaik atau tidak.” (hlm 141)”
Source: Komet Minor
“Kita tidak bisa mengubah orang lain. Tapi, kita bisa mengubah diri kita sendiri.”
Source: Man's Defender
“Kita tidak harus menulis sesuatu dengan harapan tulisan itu bisa diterima kehadirannya. Karena yang terutama adalah, tulisan itu harus jujur, setidaknya bagi diri sendiri. Dan sebagaimana kejujuran tidak selalu menyenangkan dan mendapat tempat, ia selalu membutuhkan waktu untuk membuktikan diri dan menyatakan dirinya.”
“Kita tidak perlu apa-apa untuk bisa jadi bahagia. Kita hanya perlu mencintai diri kita (selflove), menerima yang harus diterima, menjalaninya, tidak mencemaskan hal yang memang tidak perlu dicemaskan, dan tidak usah banyak berpikir. "Just do it, & Stop thinking".
Begitulah caranya.”
“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.
Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetapi kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”
Source: Rindu
“Kita tidak perlu merisaukan masalah yang ada, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana jawaban kita dalam mengatasi masalah tersebut. Semudah apapun kesulitan dan masalah yang ada menjadi percuma jika respon kita salah. Sebaliknya, seberat apapun masalah tak jadi soal jika jawaban yang kita berikan benar”
Source: Ada Pelangi di Balik Hujan
“Kita tidak pernah punya waktu untuk menjadi diri kita sendiri. Kita hanya punya waktu untuk menjadi bahagia.”
Source: Mati Bahagia