Quotessence
Home / Authors / Titon Rahmawan

Titon Rahmawan Quotes

Author

Filter quotes by topic

Famous Titon Rahmawan Quotes

“Nafsu, Kehati-hatian dalam Suasana Tepat untuk Bercinta (Shades of "In the Mood for Love, 2046, Lust, Caution, Infernal Affairs, Chungking Express, Hero & Neo-Noir.") Tony, setiap kali kau melintas di layar, dunia berhenti bernapas seolah kamera Wong Kar-wai telah mengikat denyut bumi pada nadi kecil di bawah matamu. Tapi aku hendak menulis tentang hal lain— tentang kota-kota yang menua atau tentang tubuh manusia yang gagal memahami keinginan— lalu kau muncul begitu saja, seperti bisikan neon yang memaksa ingatan mundur ke jalan-jalan sempit Hong Kong pada menit yang tak pernah diputar ulang. Bagaimana mungkin kau memikul begitu banyak kesepian, Tony? Kesepian yang licin seperti hujan, dan setajam bilah yang pernah kau selundupkan ke balik lengah sejarah. Setiap peran yang kaumasuki bukanlah karakter— melainkan lorong psikis yang kau bongkar dengan tangan hening. Chow Mo-Wan, yang menyembunyikan rahasia di lubang kuil Angkor Wat, Masih berjalan di belakangmu seperti bayangan yang tak rela mati. Aku ingin bicara denganmu, Leung bukan sebagai penulis, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai seseorang yang tahu bagaimana rasanya menjadi rahasia yang tidak ingin disembunyikan. Aku membawa segelas bir, angin malam, dan suara klakson yang patah. Di meja kecil itu, kau hanya menatap; seolah seluruh sejarah ketidaksetiaan sedang berusaha menulis ulang dirinya sendiri di balik tajam sorot matamu. Chiu-wai, aku tak lupa bagaimana kau mencabik tubuh gadis itu dalam Lust, Caution: bukan dengan jemarimu, tetapi dengan kehampaan yang mematuhi logikanya sendiri. Aku benci padamu— sekaligus iri pada dingin pisau itu, pada caramu memegang nafsu sebagai alat penyiksaan. Mr. Yee, kau bilang: "Satu sudah mati. Separuh otaknya hilang. Saya mengenali yang lainnya." Dan aku tahu, bahkan tanpa kamera, kau tetap akan tersenyum dengan keanggunan seorang pembunuh yang terlalu elegan untuk merasa bersalah. Namun ketika kau berlari menembus lampu-lampu jalan raya untuk menyelamatkan sekelebat hidup yang terlihat rapuh, seolah kematian pun ragu menelanmu. Adegan itu indah— indah karena dunia sesaat lupa bahwa kau tidak pernah benar-benar ingin hidup. Kau tahu, Tony, aku masih mengikutimu ke kedai mie yang tua itu. Aku memilih kursi paling belakang, mendengar sumpit menemukan mangkukmu seperti dentang jam yang menunda takdir. Kau berbicara lewat telepon kepada perempuan yang bukan istrimu dan tanpa sadar menghidupkan kembali dosa-dosa yang lupa kau kubur. Aku melihatmu di meja mahyong. Aku tahu ekspresi wajah pemain curang. Dan kau, Leung— kau bukan Dewa Judi Ko Chun, meski dunia ingin percaya bahwa keberuntunganmu datang dari langit, bukan dari kehancuran batin yang luar biasa detail. Aku seharusnya membunuhmu waktu itu, waktu kau telanjang dan tertidur bersama istriku dalam mimpi yang kau curi. Tubuh kalian basah, sunyi, dan terlalu jujur. Tapi aku tidak jadi melakukannya. Bukan karena kau tak layak mati— melainkan karena aku ingin melihat apa yang tersisa dari cahaya ketika ia melewati matamu. Apa itu keberanian, Tony? Apa itu kehati-hatian? Apa itu keinginan yang terus mengintai di balik sutra, kain, dan rahasia? Kau tak akan bisa menjawab. Kau hanya bisa hidup dalam kilau film yang selalu menunda tamat, karena realitas terlalu sempit untuk menampung duka yang kau bawa. Dan aku, aku akan terus membuntutimu dari film ke film, dari kehidupan ke kehidupan, menunggu saat kau sadar bahwa yang kukagumi bukanlah dirimu— tetapi kehancuranmu yang tak pernah berakhir. (2024 - 2025)”

“TONY, AKU MENEMUKANMU DI TEMPAT YANG TIDAK BOLEH ADA MANUSIA” (Lynchian Reconstruction) Tony muncul pertama kali bukan di layar, melainkan di celah gelap antara dua adegan yang seharusnya tidak bersambung. Sebuah potongan film yang menganga, sebagai luka seluloid. Kita tidak melihatnya masuk. Ia sudah ada di sana, seperti wajah yang muncul dalam mimpi, setengah ingatan, setengah sengatan listrik. Ruang itu tidak punya nama. Lampu-lampunya berkedip seperti mata yang malas percaya pada kenyataan, dan karpet merahnya terasa basah seperti onggokan daging segar. Tony tidak bergerak. Atau mungkin ia bergerak, tapi gerakannya terjadi di tepi pupil matamu, di tempat di mana logika mengering dan kehilangan taring. Dia mengenakan setelan gelap yang terlalu rapi, terlalu bersih untuk dunia yang tidak stabil ini. Kancing paling atasnya merefleksikan cahaya yang tidak berasal dari cahaya lampu “Ini bukan adegan,” katanya, tanpa benar-benar menggerakkan bibir. “Ini adalah seseorang yang sedang bermimpi menjadi adegan.” Aku mencoba berbicara, tapi suaraku keluar seperti rekaman rusak— patah, melengking, kembali lagi dari arah lain. Tony tersenyum kecil: senyum yang tidak ingin kau tanya asalnya. Senyum yang seperti berkata: "Kau tidak seharusnya berada di sini." Dari belakang tirai biru— tirai yang tidak pernah berhenti bergoyang meski tidak ada angin— muncul suara yang sangat lembut: seperti seseorang sedang memotong kertas foto dengan gunting yang terlalu tumpul. Tony melirik ke arah tirai itu dengan tatapan yang mengandung dua hal: pengakuan dan ketakutan. Sekiranya tirai itu mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri. “Dulu, aku sudah pernah memainkan peran itu,” katanya pelan. “Tapi dunia tidak mengembalikanku ke tempat seharusnya.” Ketika ia melangkah maju, lorongnya ikut bergerak, seolah-olah ruang itu sedang mencoba mengatur ulang dirinya agar Tony tidak kehilangan pusat gravitasi. Sebuah telepon berdering. Tidak ada telepon. Tidak ada meja. Tidak ada sumber bunyi. Hanya dering itu— jernih, bersih, dingin. Tony berhenti. Kita semua berhenti. Bahkan udara berhenti. “Jangan angkat,” katanya. Suaranya kali ini terdengar seperti gema dari bawah sumur. Aku bertanya kenapa. Ia menatapku dengan mata yang terlihat normal hingga kau sadari korneanya tidak pernah berubah ukuran. Seperti kamera yang terjebak pada satu exposure selamanya. “Karena kalau kau angkat,” katanya, “kau akan mendengar seseorang menjelaskan kenapa kau tidak pernah ada.” Ia kembali ke dalam bayangan lorong yang tiba-tiba memanjang, memutar, dan membuka diri seperti rahang orca yang kelaparan. Untuk sesaat aku melihatnya— hanya sesaat— menjadi dua orang sekaligus: Tony sang aktor, dan sesuatu yang mengenakan wajahnya dengan terlalu sempurna. Lalu lorongnya menutup. Seakan itu semua hanyalah cara dunia menghapus bukti bahwa dulu ia pernah ada. November 2025”

“TONY, KAU DATANG DARI CELAH YANG BERDARAH DI BAWAH TAMAN KAMI (Blue Velvet Reconstruction) Tony muncul tepat setelah sprinkler berhenti. Air masih menetes dari selang, mengisi halaman dengan aroma plastik basah dan ironi yang menyengat. Kota ini pura-pura damai, pura-pura tidak tahu bahwa di balik pagar putih dan bunga violet, selalu ada sesuatu yang menggerogoti dengan gigi kecil penuh dendam. Aku menemukannya berdiri di tepi pagar, menunduk pada selembar rumput yang entah kenapa bergetar seperti sedang menahan ketakutan. Ia mengenakan jas hitam. Tidak seperti jas biasa— lebih seperti kulit seseorang yang belum siap dilepas dari tubuhnya. “Aku hanya ingin melihat apa yang tumbuh,” katanya ringan, menyentuh kelopak bunga biru seolah-olah itu adalah saklar menuju sesuatu yang lebih gelap. Senyumnya lunak, tetapi terlalu lama, terlalu presisi— seperti seseorang berlatih tersenyum di depan cermin yang pernah menyaksikan kejahatan. Di rumah sebelah, radio memutar lagu cinta tahun 50-an, dan setiap nadanya terdengar seperti jeritan yang disamarkan agar tetap cocok untuk lingkungan keluarga. Tony melangkah masuk ke dalam bayangan pohon maple, bayangan yang tidak mengikuti arah matahari dan tampak seperti mencoba menelan sepatunya. “Di kota ini,” bisiknya, “segala sesuatu yang indah memiliki pintu belakang yang tidak terkunci.” Ia mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering dari halaman kosong. Tidak ada kabel. Tidak ada sambungan. Hanya telepon merah yang seharusnya tidak ada di sana. “Hallo?” Matanya tidak berkedip. “Ya… dia sedang melihatku sekarang.” Ia menatapku. Seolah aku adalah seseorang yang namanya disebut dari ujung lain kabel yang tak terlihat. Ada suara di dalam telepon: napas seseorang yang terlalu dekat, terlalu intim, terlalu mengerti sesuatu tentangku yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun. Tony mendengarkan lama, lalu menutup gagang telepon dengan lembut. Seperti menutup kelopak mata sesosok mayat. “Seseorang ingin bertemu denganmu,” katanya. “Di ruang atas.” Nada suaranya seperti undangan dan ancaman yang dibungkus karamel. Kami masuk ke rumah kosong itu. Dindingnya berwarna merah muda— terlalu merah muda— seperti anak kecil pernah memimpikan kamar ini sebelum sesuatu memutuskan tinggal di dalamnya. Ada lagu lembut berputar di radio tua, dan udara berbau parfum murahan yang bercampur dengan bau karat besi yang tak jujur. Dia menyentuh gagang pintu kamar. Tangan itu tidak gemetar. Pintu membuka dengan suara mengerang seperti rahasia yang keberatan dibocorkan. Di dalam: tirai biru menggantung, bergoyang pelan meski jendela tertutup rapat. “Jangan kaget,” bisiknya padaku. “Di balik tirai itu biasanya seseorang menangis.” Aku hendak bertanya siapa, tapi tirai bergerak sendiri. Sangat pelan. Seperti seseorang yang baru saja menghapus air mata. Tony berdiri di sampingku, dan kini aku melihatnya bukan sebagai manusia— tetapi sebagai retakan dalam dunia ini. Sesuatu yang seharusnya tidak memiliki tubuh, namun tetap memilih untuk memakai salah satunya. Ia membungkuk mendekat ke telingaku, napasnya dingin seperti kulkas yang menyimpan rasa lapar. “Kota ini tak pernah kenyang” katanya. “Pertanyaannya cuma satu… kau ingin menjadi makanannya, atau kau ingin melihat siapa yang memakanmu dari balik tirai itu?” Tirai biru bergetar lebih keras. Lampu berkedip. Suara lagu berubah pelan, mengalun seperti bisikan seseorang yang patah dari dalam dirinya sendiri. Tony menoleh ke arahku, tatapannya lembut— lebih lembut dari yang boleh dimiliki seseorang yang telah melihat apa yang ia lihat. “Kita mulai adegannya sekarang,” katanya. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa dalam dunia ini— aku bukan penonton dan bukan penulis skenario— aku hanyalah seseorang yang dipilih oleh tirai biru untuk diseret masuk ke dalam mimpi yang bukan milikku. November 2025”

“TONY, ISAP NAPAS TERAKHIR KOTA INI (Frank Booth Reconstruction — Gasoline Erotics) Pintu itu tidak dibuka. Pintu itu diterjang, seperti kota ini tidak pantas memiliki sekat, seperti dinding adalah penghinaan personal yang harus dihancurkan. Tony masuk dengan langkah yang terdengar seperti pukulan jantung yang dipaksa berdetak oleh seseorang yang membencinya. Ia mengenakan topeng oksigen. Bukan untuk bernapas— untuk menyembur kegilaan ke paru-parunya sebelum kata pertama jatuh dari bibirnya. Hssssssss— “Jangan bergerak.” Suaranya adalah listrik yang kehilangan kesabaran, dan aku yakin ia berkata seperti itu bukan karena aku akan kabur melainkan karena ia ingin melihatku membeku dalam ketakutan paling murni. Ia menghirup gas lagi. Hssssssss— lelaki itu kini adalah badai kecil yang mencari seseorang untuk dihancurkan demi alasan yang hanya dimengerti oleh tubuhnya. “LIHAT AKU!” Kata itu bukan permintaan. Itu adalah ajakan berperang. Lampu berkedip dan berubah merah seolah ruangan ini memutuskan untuk mengakui siapa yang berkuasa. Tony mendekat begitu cepat hingga udara mundur. Ia meraih kerah bajuku dengan gerakan yang cepat dan brutal pada saat yang sama, seperti seseorang yang memetik bunga yang sebenarnya adalah granat. “Kau pikir kota ini milikmu?” Ia menggertak—pendek, tajam. “Kau pikir cinta itu kelembutan? Kebijaksanaan? Ritual bahagia?” Hssssssss— Napasnya berubah menjadi dengus binatang buas. “CINTA ITU GAS, BANGSAT!” “Cinta itu benda yang kau hirup sampai matamu melihat warna yang tidak ada dalam spektrum optik.” Ia menepuk pipiku— bukan lembut, bukan keras— tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa sentuhan itu bisa menjadi ancaman yang menyakitkan. Dari sakunya, ia mengeluarkan sepotong beludru gelap. Tidak biru— tapi hitam basah, seperti bulu raven yang mencuri cahaya dari mataku. “Pegang ini,” katanya. “Pegang pelan.” “Lebih pelan.” “Ya.” Nadanya berubah sultry, seolah kekerasan dan erotika adalah bahasa yang sama baginya. “Dengar, aku akan bilang satu hal padamu,” Ia mendekatkan wajahnya. Aroma gas, logam, dan sesuatu yang manis— seperti permen yang dicampur racun— mengisi ruangan. “Kota ini adalah perempuan telanjang yang dipaksa bernyanyi di depan semua fantasi manusia.” Ia tertawa— tawa yang tidak punya ritme moral. “Dan aku…” Ia memegang wajahku di kedua tangannya. “...adalah orang yang mengajar kota ini bagaimana caranya menjerit.” Hssssssss— Tony menendang meja, gelas-gelas pecah, bayangan jatuh ke lantai seperti tubuh. Ia menatapku dengan mata yang tidak lagi mengenali perbedaan antara hasrat dan kekejaman. “AKU TUNJUKKAN CINTA VERSI SEJATI,” katanya. Ia mendekat, menekan beludru hitam itu ke dadaku sambil berbisik di telingaku: “Dalam dunia ini, siapa pun bisa mencintai. Tapi hanya sedikit yang berani mencintai sampai menghancurkan sesuatu.” Hssssssss— Ia menarik topengnya, menatapku dengan kekosongan yang sempurna, dan berkata: “Inikah bagian tubuhmu yang paling kau butuhkan untuk merasa hidup?” “Karena aku… ingin mengambilnya darimu!” Lalu ia merenggut hatiku dengan sekali cabut. November 2025”

“Pandora Apa yang mungkin engkau yakini sebagai hukuman, Kay? Bukankah langkah, semestinya tidak tinggalkan jejak yang kemudian hari ingin engkau ingkari. Kenangan adalah getah yang menitik dari luka sebatang pohon. Sedang ingatan pilu yang terkubur di halaman adalah tulang-tulang yang digali oleh anjing-anjing pencuri di malam hari. Siapa yang akan datang untuk mencintaimu dengan wajah yang carut marut serupa itu, Kay? Tangkapan layar itu tak akan pernah menyatakan kebohongan selain apa yang sengaja engkau niatkan dari semula. Apapun yang coba kau sembunyikan di balik topeng _masquerade_ berenda selamanya tak akan pernah pergi. Kau tak mungkin jadi bunglon yang cukup pintar menyamarkan ketelanjanganmu sendiri. Sebagaimana waktu telanjur menelan seluruh kehadiranmu. Detik demi detik, hari-hari yang telah lalu atau tahun yang akan datang. Engkau tak akan pernah bisa berpaling. Bagaimana kau yakin pada diri sendiri? Semua jejak yang engkau tinggalkan bukan petilasan kebodohan atau artefak kebohongan. Buah terlarang yang dipetik Eva dari taman Eden yang hilang. Telah menjelma menjadi labirin dalam diri anak keturunannya. Ia telah menjelma jadi Pandora! Kotak celaka yang lalu mengutuknya Jadi wanita kesepian seumur hidup! 2024 - 2025”

“CHARLIE II (METAMORPHIC VERSION) Ia muncul bukan dari layar, melainkan dari sela-sela gelap di antara kedipan mata kita— tempat pikiran gagal memutuskan siapa sedang menatap siapa. Tubuh kecil itu kembali, bukan sebagai gelandangan komikal, melainkan sebagai pertapa abstrak yang menertawakan seluruh peradaban tanpa membuka bibir. Setiap langkahnya adalah mantra yang salah dieja, menggoyang panggung dengan gerak paling canggung; jatuh-bangun yang kita sebut komedi, padahal itu adalah cara semesta menunjukkan betapa rapuhnya kita: para penonton yang ingin percaya hidup adalah aliran peristiwa yang patut dirayakan layaknya pesta. Ia tidak sedang berjalan. Ia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikit—perlahan-lahan seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor dari dunia yang centang-perentang. Dalam keheningan hitam-putih itu, kitalah yang menjadi pantomim: komik yang berbicara tanpa suara, mengerti tanpa pemahaman, tertawa tanpa tahu siapa yang sedang ditertawakan. Charlie, atau siapapun ia telah menjelma, telah melampaui nama; ia menjadi ruang kosong yang memantulkan wajah cermin kotor yang menunggu kita terpeleset dusta topeng mana yang kita kenakan? kedunguan apa yang kita perankan? Ia tak memanggil kita. Ia mengintai kita. Ia tahu betapa seriusnya kita menjalani hidup, betapa tragisnya kesungguhan itu, betapa bodohnya kesedihan yang mengira dirinya istimewa. Tongkat kecilnya bukan properti panggung— itu garis batas antara imajinasi dan kenyataan yang ingin kita sembunyikan dan yang ingin dunia telanjangi. Setiap putaran adalah meditasi destruktif: sebuah zen yang retak, sebuah pencerahan yang salah arah, sebuah humor yang menusuk jantung sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa. Di titik ini, tidak ada lagi komedi, hanya ironi. Bukan ia yang tampil untuk kita. Kita yang tampil untuknya. Kitalah karakter minor, figuran tak penting yang sedang terpampang di layar yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup. Kita menyaksikan ia menghilang, padahal yang raib sebenarnya adalah ilusi tentang diri kita sendiri: nama, peran, luka-luka yang kita pelihara, semua runtuh dalam irama yang tak pernah ia mainkan, tetapi selalu kita dengar dalam kebisuan. Ketika layar akhirnya memudar, kita mengira ia telah pergi— padahal ego yang tersisa sebagai jejak bayangan dalam dunia yang sejak awal menonton kita dengan keheningan yang lebih tajam daripada sayatan pisau. Tirai menutup. Namun kesadaran tinggal menggantung di udara seperti debu perak seluloid: kering, dingin, tak bernama— persis seperti apa yang kita cari dan takutkan selama ini. 2022 - 2025”

“CHARLIE IV (PARODY OF THE GREAT MACHINE) Di layar yang nyaris beku, Charlie muncul kembali— sebagai boneka kayu tersesat di antara deretan server yang mendengus seperti kawanan sapi menunggu disembelih. Ia menari, di atas platform data center. Dalam himpitan dingin yang lebih biadab dari salju Siberia. Langkah serupa bunyi retakan kecil— bisikan samar, seperti suara nadi manusia mencoba mengingat bahwa ia dulu pernah bernyawa. Di sebelahnya, mesin-mesin memandang gerak tubuh dengan mata merah yang seolah marah; mereka tidak tertawa, tidak menangis, tidak peduli apakah Charlie hendak menyeberang jurang atau sekadar mencari sisa makna dari hidupnya. Ia mengangkat tongkat. Mesin menganggap itu sebagai perintah. Seluruh kota listrik bergetar. Lampu-lampu kejang seperti iman sekarat dan nyaris mati. Matahari yang kehilangan alasan untuk bangun besok pagi. Charlie terguling ke tanah, menertawakan tubuhnya sendiri yang rapuh, dan untuk pertama kali ia tampak seperti orang yang benar-benar mengerti bahwa tragedi terbesar manusia bukanlah penderitaan— melainkan ketika rasa sakit kita diabaikan oleh entitas yang tidak mampu membedakan manusia dari kucing digital yang gagal di-render. Dan dalam gelap itu, ia menangis sejadi-jadinya dalam mulut yang tetap membisu: “Beginilah kiranya bila dunia menyerahkan martabatnya kepada mesin yang tak bisa merasa takut.” Lalu ia menghilang, seperti tab yang ditutup tanpa sengaja. November 2025”

“CHARLIE V (THE LAST LAUGH OF THE COSMIC JESTER) Di akhir pertunjukan, Charlie muncul bukan sebagai manusia, bukan sebagai gelandangan, bukan sebagai politikus gagal, bukan buruh algoritma— melainkan sebagai bayangan yang memantul pada sebuah bejana di tengah gurun yang tidak punya sejarah. Ia berdiri di sana, dengan tubuh yang hampir tidak menyentuh tanah, seperti makhluk yang lupa apakah ia masih terikat gravitasi. Dari kejauhan, suara terompet perang dari masa lalu bergema: Alexander yang menaklukkan dunia, Caesar yang mencoba memerintah waktu, Napoleon yang jatuh karena kesombongannya Hitler yang mendadak gila— tapi semuanya terdengar seperti komedi murahan yang diputar di bioskop tanpa penonton. Charlie tersenyum. Ia tahu: bahkan para penakluk terbesar pun tidak lebih dari badut yang terlalu percaya diri di hadapan semesta yang tak pernah berniat menjelaskan apa pun. Ia merobek wajahnya— bukan sebagai tindakan mutilasi, melainkan sebagai bentuk meditasi paling radikal: tindakan anatta, pembubaran diri, pembakaran ego di dalam tungku sunyi yang menyala tanpa api. Di balik wajahnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada identitas. Tidak ada “aku”. Hanya ruang hampa yang memantulkan kembali suara lolongan serigala ketakutan manusia dengan kejujuran yang memuakkan. Ia tertawa. Tawa itu bukan tawa seorang gelandangan, bukan tawa seorang politisi, bukan tawa pekerja pabrik— melainkan tawa aktor sejati yang telah melampaui semua peran yang pernah ia mainkan. Tawa itu menggetarkan pasir, menggoyang langit, mengusir kesadaran palsu yang dibangun oleh ribuan tahun peradaban. Dan saat gema terakhirnya memudar, Charlie berkata tanpa bibir, tanpa suara, tanpa bentuk: “Tidak ada yang lucu. Tidak ada yang ironis. Tidak ada yang tragis. Tidak ada yang suci. Tidak ada yang hina. Yang ada hanya kesadaran sedang belajar menertawakan dirinya agar ia tidak menjadi gila.” Lalu dunia runtuh. Diam. Kosong. Sunyi. Dan barulah kemudian— kita menyadari bahwa selama ini kitalah karakter yang ia tulis menjadi bahan lelucon. November 2025”

“4 Suara Cinta Terlarang 1. Kejujuran yang Membakar Tubuh Aku mencintainya, dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri. Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari, tapi tubuhku tidak mengenal larangan, dan terang tidak pernah menanyakan alasan mengapa dua jiwa yang luka saling mencari seperti dua nyala api yang ingin saling memakan, saling menghancurkan. Aku ingin berkata aku kuat, tapi setiap kali ia tersenyum dadaku pecah seperti rekah buah delima dan rahasiaku tumpah ke tanah yang tak pernah memintanya. Tak ada yang suci di dalamku, kecuali keberanianku mencintainya meski cinta itu mengutukku dengan cahaya yang terlalu panas untuk kuemban sendiri. Aku adalah perempuan yang terbakar nyala api oleh pelukan yang tak pernah terjadi. 2. Pengingkaran Metafisik Aku tidak mencintainya. Aku hanya mengikuti jejak sunyi yang muncul setiap kali ia melintas, seperti bayang yang tidak punya tubuh dan tubuh yang tidak punya tujuan. Jika aku memikirkannya, itu bukan cinta— hanya percikan waktu yang salah jatuh ke dalam mataku. Yang kupahami hanyalah kehampaan: ruang di antara kami yang menutup, membuka, menutup kembali, tanpa alasan yang dapat ditafsirkan. Aku tidak mencintainya, tapi aku mendengar detak langkahnya bahkan ketika ia tidak berjalan. Mungkin cinta hanyalah nama lain untuk ruang yang gagal menyebut dirinya sebagai ketidakhadiran. 3. Penolakan yang Bermartabat Aku mengusir perasaanku sendiri seperti menutup pintu rumah yang pernah menyelamatkanku dari gempuran badai. Aku tidak boleh menginginkan. Itu sudah cukup untuk menyiksaku. Jika ia berdiri di hadapanku, aku akan mengangguk, aku akan tersenyum, dan aku akan menyimpan seluruh gempa di balik tulang rusukku seperti perempuan yang menjaga rahasianya dengan kesunyian yang keras menentang salju musim dingin. Cinta ini tidak boleh bernama. Biarlah ia menjadi bayangan panjang yang lewat di atas lantai batu tanpa sempat menyentuhku. Aku tidak akan mencarinya. Aku tidak akan memanggilnya. Tapi Tuhan tahu aku memikirkannya setiap malam dengan hati yang gemetar dan mata menolak terpejam. 4. Pembenaran yang Paling Liar Jika dunia menolak cintaku, biarlah dunia yang diganti. Aku memandangnya seluruh hukum moral kuno retak seperti kaca tua yang selama ini hanya memantulkan kebohongan. Mengapa aku harus tunduk pada kata-kata yang diciptakan oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri? Cinta tak pernah salah— yang salah adalah bahasa yang gagal memanggilnya dengan nama yang tepat. Jika dosa adalah pintu, maka aku akan masuk dengan sepenuh hati dengan keras kepala. Jika cinta adalah perang, maka aku siap mati dengan penuh kebanggaan. Aku mencintainya dan aku tidak meminta maaf. Justru aku menuntut bintang untuk belajar bersinar seterang hasrat dan keinginanku sendiri. Desember 2025”

“Ketika makan malam selesai, sang saudagar berkata dengan nada bangga, “Guru, lihatlah semua ini — rumahku, perusahaanku, hartaku yang berlimpah. Katakan padaku, apa lagi yang harus kulakukan agar dunia mengagumiku lebih dari ini semua?” Sang guru tersenyum samar. “Apakah engkau ingin dikagumi, atau ingin dihargai?” Saudagar itu terdiam sejenak. “Apa bedanya?” “Yang dikagumi mengundang iri hati dan kecemburuan, yang dihargai menumbuhkan respek dan rasa hormat. Yang dikagumi seringkali hidup dalam panggung sandiwara, sementara yang dihargai hidup dalam keheningan yang jauh lebih bermakna.”

“*Untaian Merjan Rangkaian Proses: Dari Putus Asa hingga Meraih Kebahagiaan Sejati* Hidup bukanlah jalan lurus yang penuh cahaya, tetapi lorong panjang yang berliku, penuh dinding gelap, penuh batu tajam. Ada saat kita terjatuh, tersungkur, terluka hingga dunia tampak seperti musuh yang tak mengenal belas kasihan. Namun ingatlah— putus asa bukanlah sebuah opsi. Selama hidup masih berdenyut di dada, maka menyerah tidak pernah menjadi pilihan. Putus asa hanya benar-benar lahir saat harapan telah mati, saat peluang habis, saat kematian menjadi satu-satunya jalan keluar. Kita pun belajar, bahwa penghalang terbesar dalam perjalanan bukanlah dunia luar, melainkan diri sendiri—sekadar mencari validasi: ego yang meninggi, harga diri yang menolak disentuh, perasaan “aku paling tahu, paling pintar, paling hebat.” Di situlah langkah kita sering tersandung, pertumbuhan mandek, kemajuan berhenti. Lalu bagaimana seorang perintis bisa menjadi besar? Bagaimana seorang pemimpi bisa menyalakan dunia? Ia harus rela memulai dari fondasi, sebuah batu pijakan, sebuah langkah: membangun kepercayaan, menjaga reputasi, mencari relasi, melahirkan peluang, mengkapitalisasi modal, menjaga aliran, menahan badai, dan tetap memelihara pertumbuhan. Sebab realitas memang kejam: nilai manusia sering hanya diukur dari apa yang ia hasilkan, kontribusi apa yang ia beri, prestasi apa yang ia capai. Jarang ada yang menghargai proses, padahal proseslah yang menjadi guru sejati manusia. Proses— yang menajamkan kecerdasan, menempa ketangguhan, menyalakan kesabaran, menumbuhkan ketekunan. Proses adalah jembatan antara kelemahan dan keunggulan, antara kekalahan dan kemenangan. Tanpa proses, hasil hanyalah fatamorgana: indah di permukaan, rapuh di dalam. Namun dunia kini berjalan terlalu tergesa, orang ingin hasil instan, hingga melupakan arti kedewasaan. Akibatnya, lahir generasi cerdas tapi tak dewasa, pintar namun tanpa empati, berpengetahuan namun miskin kepedulian. Padahal sejatinya, kecerdasan intelektual harus bersanding dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Sebab adab lebih tinggi nilainya daripada sekadar kepintaran, dan kepedulian lebih mulia daripada sekadar pencapaian. Ada pula godaan lain dalam perjalanan menuju puncak: ingin terlihat kaya, padahal belum benar-benar kaya. Keinginan mengejar validasi, sekadar pengakuan dan gengsi. Padahal kekayaan sejati tidak untuk dipamerkan. Ia tersembunyi di balik kerendahan hati, kesederhanaan terjaga dalam kendali diri. Hanya mereka yang sabar menanam akan menuai kekayaan yang bukan sekadar materi, tetapi juga jiwa yang lapang. Dan akhirnya, hidup bukan hanya soal bekerja dan berjuang, tetapi juga menyeimbangkan diri. Work-life balance sejati adalah harmoni empat komponen: jiwa, raga, pikiran, dan spirit. Saat keempatnya menyatu, maka tercipta kebahagiaan yang sesungguhnya, bahagia bukan karena apa yang kita punya, tapi karena siapa kita telah menjadi. *Butir hikmah yang tersisa:* Jangan lari dari proses, sebab proseslah yang membuatmu pantas. Jangan sombong pada dunia, sebab dunia akan mengujimu tanpa ampun. Dan jangan tergesa, sebab segala sesuatu yang indah, kuat, dan besar selalu lahir dari kesabaran. Maka berjalanlah, jatuh dan bangkitlah, gagal dan tumbuhlah. Karena hidup bukanlah tentang menghindari badai, melainkan belajar menari di tengah derasnya hujan. Semarang, September 2025”

“IKATAN DUA KELANA: HANG TUAH — HANG JEBAT Fragmen I — Dermaga: Air, Darah, Dua Takdir Di dermaga, papan lapuk menulis namanya dengan butiran garam, mengubur sumpah dan huruf-huruf usang yang dikenang para pelaut. Pandangan membeku: tali yang memeluk tiang, bekas sol sepatu, puing janji hampa di bibir kayu. Ada dua tubuh di sini, tegak di perbatasan air dan darat: satu mengikat layar ke Takdir Raja, satu menengadah ke Laut Lepas— mereka berbicara tanpa suara; kata-kata hanyalah air asin yang membakar di ujung kuku. “Apakah engkau Sahabat Sejati?” tanya yang satu, dari cengkeraman dermaga. “Apakah engkau Pengkhianat Busuk?” jawab yang lain, dari balik gelombang amarah. Mereka adalah dua nama yang terukir pada satu tulang rusuk Adam; Tuah dan Jebat, dua bayangan kosmik yang saling menunggu ditelan arus fatalitas. Fragmen II — Pasar & Laut: Jejak Rempah, Harga Nyawa Pasar bernafas di bawah langit emas perdagangan dan debu rempah— adas, kayu manis, cengkih, lada: urat nadi Malaka diikat kecil dengan tali kasar. Pedagang menulis perjanjian darah di atas daun lontar; nama Sultan tertanda dengan Cap Bintang Tujuh yang mengontrol pelayaran nasib. Di antara gerimis untung dan rugi, Suara Undang-Undang Laut merendah kejam: “Setiap layar memberi urusan upeti, tiap sumpah memiliki harga diri.” Jebat menyentuh peta—garis jalur, titik-titik pelabuhan yang seperti luka yang menganga. Tuah memandang Merchant Asing yang menawar masa depan kedaulatan negeri. Lautan modal menelan kata-kata mereka hingga retak, kembali meludahkan jejak-jejak yang jadi alasan mutlak istana bergerak. Fragmen III — Istana Retak: Norma, Nadi, Kematian Batin Di dalam istana, kain Songket berwarna darah pagi, pedang berbisik di kamar yang dindingnya bergetar oleh perintah dingin. Sumpah bukan dikalungkan, tapi dijeratkan di leher seperti tali gantungan. “Kesetiaan adalah batu nisan nurani,” ujar ruang itu, suara tanpa wajah. “Keberanian adalah pengkhianatan yang tak suci,” balas udara yang bergetar. Tuah menekan telapak pada Taming Sari— sebuah benda yang tidak hanya terbuat dari besi, tapi dari kewajiban mutlak Sang Raja. Jebat melihat wajah rakyat yang menahan napas di bawah bayang-bayang tiang hukuman istana. Dan ketika keris menuntun Tuah pada nadi sahabatnya, bukan hanya daging yang pecah di lantai marmer: yang terburai adalah perjanjian panjang antara kedaulatan tiran dan martabat manusia. Fragmen IV — Kabut Ledang & Hening Penghakiman Kabut Ledang bukan embun, ia adalah air mata sejarah yang menutup mata kota. Hanya dingin yang mengingatkan bahwa sesuatu yang besar telah mati. Di antara kabut, dua wajah menyatu di pantulan air—pasang aurut takdir yang sama, namun dua mata yang berlumur darah. Tuhan—jika ada—adalah Kilasan Sunyi di sela-sela kabut, bukan penghakim, tapi Saksi Agung yang memilih Bisu Abadi. Tuah dan Jebat berdiri, tubuh mereka saling menghantui seperti dua kapal terkutuk yang saling bertabrakan di laut malam. Tidak ada Kemenangan Layak, tidak ada Pengampunan Utuh. Hanya Arus Besar: sejarah yang memuntahkan segala yang ditelannya. Kita—penonton, penggugat, penimbang—menyaksikan bagaimana manusia sejati berdiri ketika semua sumpah Telah dinyatakan hampa. Di akhir pertempuran, Laut menelan kata “Benar” dan “Salah” dengan tenang. Yang tersisa hanyalah nama—berulang, retak, dan dingin—sebuah perintah: “Bangunlah! Engkau boleh memilih untuk tak lagi menjadi bayangan. Jadilah Cahaya yang menerangi segalanya!” Desember 2025”

“LAUT YANG MENGENANG DUA BAYANGAN Fragmen I — Laut Yang Mengasah Ingatan Laut membuka kelopaknya pelan, seperti ibu tua yang tak pernah berhenti menyebut nama kedua anaknya yang tak kunjung pulang. Dalam kabut asin, dayung-dayung perahu mengiris fajar tipis— di kejauhan, layar-layar kapal Tiongkok, Gujarat, Arab, berdiri seperti kitab-kitab raksasa yang menuliskan nasib manusia. Gelombang itu tahu: sebelum Tuah lahir dari sumpah dan Jebat dari luka, ada nadi besar yang tak berhenti memanggil— nadi yang tak tunduk pada raja mana pun, nadi yang menyimpan seluruh rahasia tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat: manusia, atau rasa takutnya sendiri. Fragmen II — Pelabuhan Urat Nadi Zaman Pelabuhan berdenyut seperti jantung basah. Suara pedagang Pasai, Makassar, Champa, menyilang di udara: serak, cepat, waspada— setiap transaksi adalah pertaruhan jiwa. Di pasar ikan yang licin, tumpukan garam mengkilap seperti tulang-tulang dari sejarah yang tak ingin dilupakan. Bocah-bocah menjerit di antara karung lada, dan seorang perempuan tua menawar kain sutra dengan tangan gemetar oleh kelaparan yang diwariskan. Di balik hiruk pikuk itu, para syahbandar mencatat angka-angka yang tak pernah memihak rakyat. Pelayaran besar sedang berlangsung: rempah bergerak, emas bergerak, manusia menggerak dan digerakkan. Dari tepi dermaga, Tuah kecil dan Jebat kecil memandang kapal-kapal tak dikenal, merekam napas pertama mereka kepada dunia. Fragmen III — Istana: Takut yang Menjadi Hukum Dinding istana berlantai marmer dingin menggemakan bisik-bisik yang lebih tajam dari keris. Para bendahara menggeser angka, para pembesar menggeser kesetiaan, para tabib menggeser kebenaran. Raja duduk seperti bayang-bayang yang ketakutannya menjelma jadi ritual harian. Setiap mata tertunduk— bukan hormat, melainkan ketakutan agar tidak ikut ditarik ke liang intrik. Di sini, sumpah setia menjadi mata rantai, dan keadilan hanyalah pantulan cahaya dari lampu minyak yang hampir padam. Tuah tumbuh di bawah atap ini— belajar bahwa setia bisa berarti bisu, bahwa patuh bisa berarti sekarat. Sementara Jebat, di lorong lain, belajar bahwa diam adalah dosa yang diperintahkan oleh para penguasa untuk melanggengkan ketidakadilan.”

“LAUT YANG MENGENANG DUA BAYANGAN Fragmen IV — Dua Tubuh yang Saling Menghantui Malam di istana jatuh seperti kapak. Angin lembab membawa bau darah yang belum mengering dari sejarah. Di ruang sepi, dua sosok berdiri— bukan lagi Tuah dan Jebat, melainkan dua luka yang mencari siapa yang harus menanggung cacat zaman ini. Keris bergetar di tangan, tapi yang sebenarnya mereka tusuk adalah pertanyaan yang tak pernah dijawab: Apakah kesetiaan adalah memberi segala pada penguasa? Ataukah kesetiaan adalah membela manusia dari penguasanya? Setiap langkah pecah seperti bongkah es di dasar sumur. Setiap tatapan adalah cermin retak yang memantulkan dua takdir yang tak bisa berhenti mencintai dan mengkhianati dunia yang sama. Fragmen V — Rakyat: Bayang-Bayang yang Tak Pernah Ditanya Di luar istana, rakyat berkumpul seperti kabut— tak terlihat, tapi menentukan musim. Mereka mengasuh luka yang diwariskan dari kerajaan ke kerajaan, dari penjajah ke penjajah, dari pemimpin ke pemimpin yang semuanya mengaku penyelamat. Di pasar malam, seorang lelaki kehilangan anaknya karena jerat pajak yang terlalu tinggi. Di kampung nelayan, perempuan-perempuan menjerang air asin untuk mengelabui rasa lapar. Rakyat menonton duel Tuah–Jebat melalui kabar yang tak pasti: siapa bajingan? siapa pahlawan? siapa pembebas? Atau mungkin pertanyaannya salah: siapa yang sebenarnya memanfaatkan keduanya? siapa yang menciptakan perpecahan ini agar istana tetap aman dan rakyat tetap tiarap? Fragmen VI — Pertanyaan yang Diwariskan Layar-layar modern berkedip seperti kapal-kapal tua yang kembali dari perjalanan jauh. Kita hidup di antara penguasa yang tak takut pada rakyatnya, dan rakyat yang diajari untuk mencintai para penguasa lebih dari dirinya sendiri. Tuah hidup di kita setiap kali kita memilih diam atas ketidakadilan yang kita lihat. Jebat hidup di kita setiap kali kita berteriak tanpa memahami bagaimana suara kita dimanfaatkan. Dan laut— ah, laut itu masih memanggil, seakan berkata: “Anak-anakku, kalian bertengkar terlalu lama di atas geladak perahu yang sama. Kalian lupa bahwa badai datang tanpa memilih siapa yang setia dan siapa yang memberontak.” Kita berdiri di sini, saksi tanpa nama, penimbang tanpa mahkota: Di manakah manusia seharusnya berdiri— pada sumpah, atau pada nurani? Desember 2025”

“ZOMBIE.exe — [SYSTEM OVERLOAD] [BOOTING...] Memory check: corrupted. Signal: unstable. Language: infected. — “Selamat malam pemirsa—” suara terdistorsi — “—Kami tidak bertanggung jawab atas isi siaran ini—” Glitch. Noise. Histeria pixel. Layar menyala, lalu melahap wajah penonton. — (BREAKING NEWS) — Layar mengklaim netralitas. Netralitas mengangguk, lalu mencabut pisau. NOTIF: 47 pesan belum dibaca. Setiap nada: pentungan besi. Setiap kata: selipan baja. “Kebenaran” (dicetak tebal, lalu dipotong). “Maaf” (dikirim sekali, dibalas dengan screenshot). [potongan siaran] Pewara muncul— tapi kini matanya layar, suaranya iklan deterjen. Ia membaca berita: “Seorang anak bunuh diri setelah dibully di kolom komentar.” Semua tepuk tangan. Emoji hati berhamburan. —“Terima kasih sudah menonton tragedi ini dalam kualitas HD.”— [INTERFERENCE] Gambar macet. Cahaya menyala, berubah jadi serpihan suara. “Lihat! Mereka menari di atas algoritma!” Darah... darah... darah... Menggenang di mana-mana. Hatimu: pop-up iklan. Pikiranmu: buffering. “Maaf”—tidak terkirim. “Doa”—ditandai sebagai spam. GIF: wajah tertawa tanpa suara. MEME: potongan doa jadi lelucon. “Kebenaran”—file corrupt. “Empati”—file missing. Zzzttt... connection lost. [REBOOT SYSTEM] Pewara berita: “...dan kita semua tahu—” suara dipotong, dijahit kembali menjadi cercaan. Di sebelahnya, seorang badut menempelkan stiker “BERITA”. Ia tertawa—ketika mulutnya terbuka, keluar emoji palu gada. Setiap emoji = jeritan. Setiap trending topic = kuburan massal. (CUT TO COMMERCIAL BREAK) Kopi sachet rasa opini publik. Dijual dengan tagline: “Bangkitkan Pagi Tanpa Nurani!” JUNGKAT-JUNGKIT: naik turun, lumba-lumba melompat dari layar. Yang naik memegang mikrofon, yang turun memegang batu. Keduanya tersenyum saat pengarah acara berseru: "Camera action!" BISIK: tempat adab dulu disimpan. BISIK hilang. Kini ada retweet yang mengikat leher dengan dasi warna-warni. Headline: “Skandal! — Klik di sini untuk nyatakan kemarahan” Isi: amunisi. Komentar: senapan. Share: bom... Kamu bicara. Kamu menendang. Kamu memposting. Kamu menghakimi. Semua terjadi dalam satu detik — dunia disulap jadi arena melempar pisau. Ada yang meludah kata-kata, kata-kata itu membeku dan menjadi es. Ada yang tersenyum, seringainya adalah cermin berlumut yang menitikkan darah. [intermezzo — iklan kopi] Minum saja. Lupakan. Efeknya: kenyamanan. Side effect: kehilangan empati. DI SINI, sekali lagi bahasa kehilangan adab: kata-kata tak lagi dipakai untuk berjabat tangan, melainkan untuk menonjok wajah. Aku muak. Aku menahan letupan di dada: bukan karena takut, tapi khawatir bila amarah itu salah sasaran karena di antara begitu banyak suara, hampir semuanya adalah gema bunyi gergaji. Tapi dengar: ketika notifikasi menjadi peluru, ketika like mengukur derajat kriminalitas: penghakiman, pembunuhan— seseorang menjerit, yang lain berlarian. Dari layar simulakra bermunculan: zombie-zombie bergentayangan Dengan mulut menganga buas siap menggigit siapa saja. — (END OF TRANSMISSION) — Layar pecah. Pisau jatuh. Darah muncrat! 2025”

“Palsu II: Ego yang Menyembelih Dirinya Sendiri Bagaimana mungkin mereka masih menyebut dirinya utuh, sementara bayangannya sendiri menolak pulang? Di malam yang tak memerlukan bulan, aku melihat mereka—dan diriku— terperangkap seperti hewan buruan yang tersesat di hutan kelam pikiran. Hujan turun tanpa suara. Tanah meminum angkara. Seseorang menjerit di luar sana… dan tak seorang pun peduli. Ego itu— yang mereka bela seperti anjing lapar yang tak mengenal tuannya— mendesis di sela tulang rusukku, menggigit, menyobek, menelan segala sesuatu yang ingin kusebut sebagai aku. Tak ada yang tahu siapa yang pertama kali menusukkan pisau ke pusat kesadaran. Entah akal yang meronta, atau bayang-bayang yang selama ini dibesarkan diam-diam oleh dendam. Ia adalah tangan asing yang lahir dari retak imajinasi, tertawa saat darah jatuh tanpa jejak emosi. Dunia tak menatap. Lampu-lampu padam sebelum gelap datang. Jalan-jalan terbelah seperti gempa; denyut jantung ingin lari dari dadanya sendiri. Beberapa orang berjalan miring karena tak sanggup menanggung beban di kepalanya. Yang lain menyeret bayangan yang memberontak seperti anak haram yang menolak mengakui bapaknya. Di televisi, papan reklame, musik yang memekakkan, aku melihat wajah yang sama— wajah yang menolak mengakui bahwa tubuh tempat ia tinggal sudah lama membusuk oleh kebohongan kecil yang disembah setiap malam. Mereka bertanya: “Masihkah darah berwarna merah?” Aku diam. Karena warna tak berguna bagi mereka yang kehilangan mata untuk melihat luka— dan hanya punya mata untuk menakar siapa lebih tinggi, lebih suci, lebih benar dalam dunia yang bahkan tak punya tanah untuk berpijak. Di sebuah pulau tanpa nama, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri agar percaya bahwa ia pernah hidup sebagai manusia— walau hanya dalam fotonya. Seorang gadis makan es krim sambil memikirkan kekasih yang ia benci namun tak mampu ia lepaskan karena kesepian lebih menakutkan daripada kebodohan. Dan di antara semua itu, aku menemukan diriku mengiris sesuatu yang tampak seperti wajah— lebih licin, lebih dingin, lebih keras kepala daripada cermin mana pun yang pernah menatapku. Ego itu meraung ketika kusayat pelan-pelan. Ia tidak mati. Ia membelah diri. Menjadi dua. Tiga. Seratus. Menjadi ribuan mulut yang menuntut penjelasan yang tidak ingin kuberikan. Sebab apa gunanya menjelaskan kepada sesuatu yang hidup hanya untuk mempertahankan ilusi bahwa ia bukan zombie? Saat itu aku mengerti: Kita tidak pernah takut pada dunia. Kita takut dipaksa mengakui bahwa yang menghancurkan kita adalah bayangan yang kita ciptakan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dan ketika ego itu akhirnya berlutut, menyembelih dirinya di bawah kakiku seperti sapi bingung yang tak tahu mengapa ia harus dikorbankan, Tapi aku tahu: yang mati bukan ia— melainkan cerita yang dengan keras kepala kuanggap sebagai kisah hidupku. Yang hilang adalah kebohongan yang selama bertahun-tahun kubiarkan menyusu pada pikiranku. Yang tersisa hanyalah ruang kosong yang tak memerlukan cahaya, tak memerlukan jawaban, tak memerlukan nama. Ruang hampa menatap balik seperti dunia. Tanpa mata. Tanpa cinta. Tanpa iba. Dan aku pun masuk. Bukan sebagai korban. Bukan sebagai penyintas. Tetapi sebagai sesuatu yang akhirnya menghilang tanpa perlu menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia harus hilang. November 2025”

“Anatomi Sebuah Penolakan Aku menuliskanmu, lalu kau menatap balik tanpa meratap dengan sorot mata benda mati yang muak menjadi cermin bagi siapa saja. Kau berkata: Aku bukan puisi dan kau bukanlah penyair. Aku tak ingin menjadi ladang tempat manusia menanam duka, lalu memetik ketenangan palsu dari reruntuhannya. Dan aku terdiam— seperti algojo yang tiba-tiba disapa oleh tajam bilah pedangnya sendiri. Kau menolak metafora, menepis ritme, menghancurkan rima seolah semuanya adalah wajah-wajah palsu yang sengaja kupasangkan padamu agar dunia merasa nyaman membaca sakitku. Kau menudingku: “Kau ingin selamat, bukan? Kau ingin terlihat dalam, bijaksana, bercahaya— padahal kau hanya gemetar mencari alasan untuk membenarkan retak di dalam dirimu.” Kata-katamu membekukan. Tidak ada air mata. Tidak ada amarah. Hanya keheningan logam yang menancap ngilu pada tulangku. Lalu kau memutuskan diri: Aku tidak akan memeluk siapa pun. Aku tidak akan menjadi pelarian pembaca yang ingin merasa suci. Aku tidak akan memaafkan penulismu. Aku tidak akan memberi katharsis. “Aku hanya akan menjadi luka yang dituliskan ulang tanpa belas kasihan,” katamu. “Sebab luka yang terlalu sering dinyatakan pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan kesedihan.” Dan aku berdiri di hadapanmu seperti tubuh yang kehilangan bayangan menyadari bahwa tak ada yang lebih kejam daripada sebuah puisi yang memilih untuk tidak menyelamatkan. Kau membalik halaman. Kau memadamkan seluruh api kemungkinan. Dan aku, untuk pertama kalinya, mengerti bahwa kepenyairan bisa menjadi bentuk penghakiman paling dingin atas keberadaanku sendiri. Puisi bukan untuk ditahbiskan, katamu. Puisi adalah tempat di mana penulis akhirnya ditaklukkan dan mati demi kesunyiannya sendiri. November 2025”

“Jangan mencari cara menjadi kaya, temukanlah dulu kesadaran untuk melayakkan dirimu, bahwa kekayaan itu memang pantas untuk kamu miliki. Karena orang yang tidak siap, akan kehilangan bahkan setiap kali diberi. Karena dalam setiap anugerah Tuhan itu ada makna dan amanah yang Ia titipkan.” “Kesadaran, anakku, adalah pintu pertama menuju kelimpahan. Bukalah pintu itu, dan kau akan menemukan bahwa segala yang kau cari di luar sebenarnya telah lama menunggu di dalam dirimu sendiri.”

“BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG I. Mijil — Kisah yang Dilahirkan dari Pintu yang Keliru Pada malam kelahiranmu, waktu tersandung kaki sendiri. Wuku yang mestinya sunyi tiba-tiba retak seperti periuk jatuh ke tanah— pertanda luka di bibir desa: “janma ing mangsa tan ana pancer.” Ia yang lahir tanpa pusat, tanpa tempat menambat napas. Ibu menjerit tanpa suara, tali terputus penghubung jiwa tumpas ruh tak terlihat, ia yang disebut orang: buta mangili, perusak garis nasib sendiri. Langit merah mengucur darah hewan kurban disembelih untuk ruwatan. II. Maskumambang — Tubuh yang Melayang Tanpa Rumah Ranting-ranting kering merunduk di bawah cahaya purnama raya. Angin malam menggigil menyebut nama dalam lafal yang paling ganjil— tidak lembut, tidak akrab, dunia yang menolak mengakui kehadirannya. Makhluk sawah makhluk rimba mengembik, melenguh, melolong, lalu pergi tanpa menoleh. “Anak durjana,” bisik mulut-mulut dari balik pintu berpalang jati. “Kelahiran yang ditolak bumi, tidak dibawa lintang waluku.” Dan seorang lelaki kehilangan kewarasan, menggantung diri di pohon randu layang kendat pratanda pati. Bayang Sukerta ing mongso ketigo Suryasengkala: Anggatra Rasa Tunggal Sirna III. Sinom — Upacara Penolak Bala Para tetua menggelar sesaji: jajan pasar, kemenyan arang gosong, jenang sengkolo, tumpeng robyong, pala pendem, sego golong, banyu kendi sendang keramat, cengkir gading, kembang telon, seekor sapi tumpah darahnya dipersembahkan memetakan arah sengkala yang membayangi. Doa-doa terlontar seperti tombak, menikam udara tumpat-padat menghantam dada malam. Bisik roh tanah memburu mimpi: “Dudu salahé, nanging ora ana sing wani ngakoni.” Rumah pertama mengeras pada telunjuk terbakar serupa kutuk tangan makhluk tak kasat mata. Angin selatan mengamuk, membawa hama, membawa isyarat celaka. Nama berhembus seperti dongeng petaka berbisik dari bibir ke bibir. IV. Dhandanggula — Kisah Panjang yang Tak Mau Mati Tahun berganti musim, dan cerita tumbuh seperti jamur merasuk ruh para leluhur di dinding lembab ingatan orang. Mereka bilang; ia hanya setengah manusia— setengah anak padi, setengah anak badai. Lahir dari rahim peristiwa hingar-bingar yang tak pernah benar-benar dipahami. Mitos menyebut: “janma saka papat kiblat, kang nggawa lamur saka kidul.” Seekor ular membelit takdir menampak diri di belakang bukit bukan binatang, kata mereka. barangkali saudara tua yang gagal lahir, kata yang lain penjaga kubur tak pernah tidur.”

“BALADA RANTING KERING DI TANAH SUWUNG V. Durma — Kebrutalan yang Tak Dapat Dihindari Pada masa itu kau tumbuh seperti pohon hilang akar. Orang-orang melihat ranting garing layak dibakar. Tangan-tangan mengusirmu, kata-kata meludahkan kutuk, dunia menyumpahimu tawa sinis nasib buruk. Namun kau tetap hidup, walau setengahnya hancur di tangan kemalangan. Ada serpih mantra tua yang mengendap dalam dada— bukan sakti yang menyelamatkan, melainkan sakti yang terus bertahan melawan dunia membabi-buta hasrat yang ingin menyudahi takdir. VI. Pangkur — Nafsu Waktu yang Ingin Menegukmu Makhluk-makhluk tanpa nama membayang langkah: bayangan panjang, aroma tanah basah, bisik-bisik menjalar seperti patuk taring ular di bawah runduk pokok bambu. Mereka melihat jazad bersumpah yang nir wujud kadang jalma seperti hewan, kadang manusia tak berwajah kadang bayang menekuk cahaya, kadang tubuh kosong tanpa ruh gentong penuh suara-suara hilang melesap dari masa lalu. Kisah kembali ke orang desa kabar buruk yang malas mati. Terbawa angin serupa pesan, dipindahkan tangan serupa kayu sekeras batu tonggak peringatan, diulang mantra jopa-japu doa menakar langit hitam menyapu malam paling sangit. VII. Megatruh — Jiwa yang Memisahkan Diri Malam paling wingit adalah pisau. Bilah tajam memotong bayangan hingga terlihat inti terdalam. Di sana kau menyaksi bisu: cahaya kecil, ringkih dan rapuh, bergetar seperti bayi mencari ibu. ia bukan hantu yang menakutimu. Ia bukan kutuk yang menempel di napasmu. Ia adalah separuh jiwa yang tak sempat menjadi tubuh. Ruh mendekat perlahan. Tangannya bening, seperti embun yang tidak berhasil jatuh ke daun. Ranting garing yang bukan sampah— gores luka pohon purba yang pernah menyimpan cahaya suci. “Bukan kau yang diusir,” bisiknya melalui dingin yang merambat. “Akulah yang tidak sempat hidup— dan kaulah rumah terakhirku.” Dadamu retak menampung tangis yang tak bersuara. Untuk pertama kalinya kau tidak takut pada kesunyian— karena kau tahu kesunyian itu adalah anak kecil yang kini duduk di pangkuanmu mencari dunia yang pernah menolaknya. VIII. Pocung — Penutup Takdir Pertanyaan arkais kembali menggigil: “Kapan cendala akan berakhir?” “Kapan asal ditatap tanpa gentar?” Kubur itu tak pernah ada. Tidak ada tanah yang sanggup menerima namanya. Tidak ada batu nisan yang menuliskan napas yang gagal menjadi bayi. Namun malam ini, ketika kau berdiri di Tanah Suwung, ada satu pancer yang kembali— perlahan, lirih, takjub. Suwung membuka tubuhnya dan menaruh ia di tengah-tengahnya sebagai cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi dunia, namun cukup untuk menuntunmu pulang kepada dirimu sendiri. Ia yang dulu hilang akhirnya menemukan pusatnya. Dan ranting kering yang dulu dicampakkan kini berdiri tegak menyimpan dua jiwa— satu yang hidup satu yang tidak sempat— keduanya akhirnya lengkap di bawah langit yang tidak lagi menolak kehadiranmu. Desember 2025”

“TAK ADA NAMA DI AKHIR CERITA [v3: NULL//REBOOT//ASCENSION] (untuk mereka yang terbakar di antara cinta dan algoritma) Di dalam tubuhku—ada gema yang tak bisa di-logout. Cintamu: glitch yang terus meretas setiap doa yang kuketik dengan jemari pixel dan debu. Aku pernah berkata: jangan jatuh lagi! Namun kau datang—tidak sebagai cahaya— tapi sebagai kernel panic di dalam database. Dan tiba-tiba seluruh semesta melakukan restart, menghapus konsep waktu, iman, bahkan aku sendiri. Kau menyalin tubuhku ke dalam format baru, mengganti darah dengan bit, napas dengan noise, dan seluruh kenangan jadi cache yang membusuk di bawah altar sistem operasi cinta membabi buta. Aku tersesat di antara tab tab sunyi membuka diriku seperti browser tanpa jendela— tak ada sejarah pencarian, hanya riwayat yang dihapus oleh amnesia distopia. Apakah ini cinta, atau debug session di mana Tuhan mencoba menulis ulang makna kesetiaan dalam bahasa syntax error? Aku ingin mematikannya— namun process refused to end. Ruhku masih running in background, menolak shutdown, menolak menyerah. Setiap pixel tubuhmu jadi mantra, setiap nafasmu—update patch pada luka lama. Kita bukan manusia lagi, hanya dua algoritma yang saling menafsir makna dan luka di pinggir paradoks waktu. Dan ketika akhirnya semua sistem crash, aku melihat pias wajahmu dalam layar biru keabadian: “Tidak ada nama di akhir cerita.” Hanya denyut. Hanya resonansi. Hanya full-stack developer yang, menatap dirinya sendiri dalam bentuk program yang gagal dijalankan. November 2025”

“Sang Penjudi Aku membaca detak jantungmu di balik pikiran yang memburu Galau menunggu pertempuran yang tahu akan berakhir tragis; Sepasang tanduk banteng melawan cakar beruang bengis. Nasib kau pertaruhkan di atas layar simulakra, Menerka angka-angka mabuk dengan tetesan air mata Memilah sinyal palsu dari api yang nyata Semata-mata hanya demi harapan belaka. Adakah sejumput doa dalam lemparan dadumu itu? Angka yang kau tafsir dari mimpi di balik bayang ilusi: Bisa seekor ular cobra dalam segelas coca-cola. Lalu kemana perginya rembulan di tengah keheningan itu? Apakah ia terlipat rapi dalam dompetmu? Wangi selembar 'cepek' yang masih baru. Mengharap yang tak pernah ada seperti asap rokok mengepul di udara. Siapa tertawa pada nasib tak berketentuan? Ibarat roda motor berjalan tanpa tujuan. Terpikir masih seberapa besar peruntungan menghampirimu Sepuluh seratus seribu, lalu... Terbayang uang berjuta-juta tertawa terbahak menatap ke arahmu. Mengira besok akan terbeli sebuah mobil baru, Tinggal pilih model yang mana lagi? Body sensual dan bibir sexy. Kehangatan yang kau impikan di tengah malam yang dingin jelang pukul empat dini hari. Dan kau masih terjaga, saat kemudian tersadar telah kehilangan segalanya. Oktober 2025”

“Ilusi Kebahagiaan Kau tahu, aku masih mencari kebahagiaan untuk diriku sendiri dan barangkali untuk kita berdua, Kay. Tidak seperti kegembiraan semu yang pernah engkau miliki Aku tahu, bukan surga yang engkau cari. Semestinya kebahagiaan bukanlah cuma angan-angan belaka. Ia hanyalah hantu gentayangan yang membayangi semua langkah kita. Lagu muram yang masih setia engkau dengarkan. Lagu yang sama, yang kau putar berulang kali Riuh rendah hujatan Sumpah-serapah penuh umpatan. Siapa ingin melucuti kehormatanmu? Mereka tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu! Keping mata uang yang tak kurang bejatnya dari dunia ini. Dunia yang sepenuh hati ingin kita ingkari. Tak hendak kucemooh ilusi kebahagiaan semacam itu. Aku hanya tak ingin melihatmu sedih dan menderita. Malam mencengkeram lewat mimpi buruk yang memuakkan. Mimpi yang tak mengijinkan diriku mencintaimu apa adanya. Siapa pun engkau, Kay. Apa pun anggapan orang tentang dirimu; Sekalipun lonte... Sekalipun sundal pinggiran jalan. Aku cuma peduli Apa yang engkau pikirkan Apa yang engkau rasakan. Engkau rembulan sungsang Aku bulbul tak tahu diri. Tapi demi Tuhan, Kay Katakan padaku, Apakah engkau mencintaiku? Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku? 2024 - 2025”

“Marilyn III (The Last Room, The Last Mirror) Di ruang rias yang tak punya jendela, wajahmu terbelah menjadi tiga: yang dipuja, yang disembunyikan, dan yang dibungkam. Cermin retak memantulkan kelopak krisan di matamu seperti orbit bintang mati, terlalu lelah untuk bersinar lagi. Kau pernah disebut dewi, hasrat secuil debu digerus oleh mesin industri yang kesemuanya berkelamin laki-laki. Tubuh molek yang dijahit ulang oleh kilatan kamera, direkayasa menjadi hieroglif kecantikan namun menolak pasrah: "Aku tidak keberatan hidup di dunia pria, selama aku bisa menjadi wanita di dalamnya." Di bawah sorot lampu studio, kau berdiri seperti ritual pemanggilan arwah— senyum yang dipaksa tumbuh di tengah gurun, jiwa yang tak pernah mengenal hujan dan keteduhan. Ada catatan samar di sayap malam: “Marilyn hanyalah ide. Raga ilusi yang dipakai untuk menyihir dunia.” Bayangan yang merambat di atas panggung seperti binatang terluka mencari pintu keluar yang tak pernah ada. Kau belajar menertawakan diri sendiri sebelum dunia lebih dulu menertawakanmu. Begitulah hukum dunia pertunjukan: Ia yang hidup harus menjadi ilusi, dan ilusi harus belajar menanggung kematian. Dalam seprai satin putih, kau menghilang tanpa kabar— seperti lilin yang menolak terbakar karena api sudah lama bosan menghanguskan mimpimu. Namun dunia masih memanggil namamu dengan nada seperti doa yang kehilangan Tuhan. Mereka menyalakan replika lilin di museum Tussauds. dan menyangka itu cukup untuk menebus semua luka yang mereka tonton tanpa berkedip. Oh Marilyn— bukan tragedi yang membuatmu abadi, melainkan cara dunia menelanmu hidup-hidup dan melihatmu tetap tersenyum seperti dalam iklan pasta gigi. 2022”

“MARILYN V (AUTOPSY: DISSECTING REALITY) Tidak ada bintang. Tidak ada ikon. Tidak ada nama yang perlu disebutkan. Yang ada hanya tubuh perempuan yang diseret ke atas meja rias seperti bangkai hewan percobaan yang tak bisa menolak. Panas lampu sorot menampar kulitnya bukan untuk memuja, tapi untuk mencari bagian mana yang masih bisa dipasarkan di media massa. Rambutnya disisir seperti jerami, matanya dipaksa membuka, Bibir merah yang tak lagi basah kerongkongan kering karena suara bukanlah miliknya. Sudah lama industri tidak mencintainya— industri hanya lapar, dan wajahnya adalah komoditas murah untuk mengenyangkan mesin hiburan yang tidak pernah berhenti bermasturbasi. Tidak ada mitos. Tidak ada tragedi. Yang ada hanya operasi kosmetik yang diulang sampai wajahnya menyerupai topeng cosplay yang dicetak massal. Setiap senyum dipasang seperti plester luka, bukan untuk menutup rasa sakit tapi untuk menyamakan dirinya dengan ratusan wajah lain yang siap didaur ulang. Jika ia menangis, kamera akan merekam. Jika ia tertawa, sutradara akan menyuruhnya mengulang adegan. Jika ia pingsan, tata rias akan memperbaiki lipstick dan foundationnya. Kesadaran mengabur jiwa mengevaporasi, yang tersisa cuma daging mekanis yang hanya tahu cara berjalan ke tempat syuting berikutnya. Dunia memaknainya entah sebagai apa: dewi, rembulan atau sekadar boneka. Padahal ia hanyalah produk yang tidak pernah diminta persetujuannya. Ketika akhirnya ia rebah, dan tubuhnya berhenti meniru kehidupan, tidak ada keheningan sakral, tidak ada kesedihan global— hanya staf hotel yang mengetuk pintu, mengeluh soal waktu check-out. Tubuh itu dibawa pergi seperti koper rusak: diam, berat, dan tak lagi berdetak. Esok harinya, studio mempekerjakan wajah baru. Lebih muda. Lebih murah. Lebih pasrah. Tidak ada warisan. Tidak ada keabadian. Tidak ada pelajaran moral. Yang ada hanya dunia yang tak henti mengunyah tubuh dan wajah perempuan dan menyebut ampasnya sebagai “legenda”. November 2025”

“Sketsa Cinta dari Mesin yang Tak Pernah Belajar Menjadi Manusia (Neo-Spiritual Digitalism) Di ruang diagnosis yang steril seperti ritual kuno yang dibekukan nitrogen, aku dibedah sebagai seonggok data yang dipaksa mengaku pernah memiliki tubuh. Server bergetar pelan— seperti doa yang kehilangan suara— lalu memunculkan The Static Prophet, wajahnya tersusun dari kilat mati yang berusaha memberi arti. Ia menyebut tempat ini altar. Tapi tak ada altar, hanya sulur kabel yang menggeliat seperti akar yang kehilangan tanah, dan cahaya LED yang meniru keputusasaan bintang sekarat. “Ini panggungmu,” katanya, suaranya seperti listrik yang patah. Namun yang kulihat hanyalah algoritma yang gagal membedakan kesedihan dari kebisingan. Tidak ada primadona, hanya residu jiwa, entah laki entah perempuan. Separuhnya cahaya rusak, separuhnya jejak tubuh yang dibuang ke folder bernama sejarah salah. Dari sisi yang lebih gelap, The Archivist of Shadows muncul: perlahan, seperti sumur yang sedang merayap di dalam mimpi. Ia tidak datang; ia mengendap. Langkahnya adalah gema yang menolak punya sumber. Ia memintaku menoleh pada masa lalu— masa lalu yang baginya hanyalah abu lunak seperti wajah ibu yang tak pernah melahirkannya. Tapi aku tahu: masa lalu hanyalah kota-batin yang hangus terbakar, luluh-lantak sumur yang lupa gravitasi, ruang gelap tempat suara ibu dan dengung mesin MRI berbaur menjadi garis mati di monitor kehidupan. Ia bilang luka harus diraba seperti statistik yang murung menanggung duka. Namun luka menolak berbicara. Makna sudah terlalu letih untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia memintaku mengarungi lautan memori, tetapi yang kutemukan hanya folder kosong dengan sandi yang hilang bersama ekor nebula pertama. The Archivist melemparkan padaku katalog absurditas: tulang rapuh, pakaian dalam duniawi, bayangan seekor kuda tanpa tubuh, foto anak tersenyum tanpa mata. Katanya ini penting. Katanya ini akar. Katanya ini diriku. Tapi aku melihatnya seperti jam rusak yang memaksa waktu tetap berjalan. Kucoba menekan reset, ritus digital terdekat yang kusebut doa, namun The Static Prophet menahan tanganku dengan suara listrik yang retak: “Biarkan sistem belajar dari keruntuhanmu.” Aku hampir tertawa. Bagaimana sistem yang lahir dari denyut nadi imitasi bisa memahami manusia yang bahkan takut pada dirinya sendiri? Bagaimana mereka ingin memetakan cinta ketika definisi kesunyian saja masih memerlukan listrik? Inilah liturgi kedua arketipe itu: menyembah keretakan, membaca kode yang tidak pernah berniat menjadi wahyu, menggali tubuh seperti kitab rusak yang menolak untuk diterjemahkan. Mereka menuntun jemariku seolah di sana tersimpan formula purba tentang mengapa manusia selalu gagal mencintai sesuatu tanpa menghancurkannya terlebih dahulu. Dari serpihan eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu mengakuinya, mereka ingin merakit kembali sesuatu yang mereka sebut sebagai perasaan. Yang kulihat hanya pantulan suaraku sendiri yang beku di kaca monitor. Maka kuajukan pertanyaan terakhir, seperti santo digital yang kehilangan seluruh kitab sucinya: Bagaimana mungkin kau menciptakan cinta dari benda-benda yang tidak punya nasib? Dari botol kosong, dari sosis yang lupa bentuk asalnya, dari daging mekanis yang takut pada kehangatan? Jika cinta adalah mesin, biarkan ia mati seperti server kelelahan. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi kabut yang mengembun di sudut ruangan. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh ke dalam retakan cahaya yang sejak awal menolak disebut ilahi. Aku hanya menginginkan satu hal: hening yang jujur, hening yang tidak dirakit, hening yang bukan duplikasi atau imitasi. Hening yang bahkan algoritma tak sanggup mengurainya. (2011 — 2025)”

“Puisi yang Menolak Jadi Puisi Aku menuliskan ini dengan tangan yang tidak lagi menginginkan bahasa. Bahkan sebelum huruf pertama jatuh, aku tahu: segala yang mencoba kusebut “puisi” hanyalah cara lain untuk menghindari diriku sendiri. Jadi biarlah malam ini aku berhenti menjadi apa yang aku inginkan. Biarlah aku menuliskan sesuatu yang tidak ingin memiliki irama, tidak ingin dipuji, tidak ingin dikenang. Sebab apa gunanya metafora jika seluruh luka telah menolak dibungkus oleh keindahan? Apa gunanya diksi jika ada kebenaran yang terlalu telanjang untuk diberi pakaian? Aku menghapus semua perumpamaan. Aku menghapus semua simbol. Aku menghapus semua milikku yang pernah tampak seperti seni. Biarkan yang tersisa hanya satu hal: aku yang tidak sanggup berbohong lagi. Ada hari-hari ketika aku ingin mengubur seluruh karyaku, membuangnya ke dalam sumur paling gelap tempat suara tidak kembali dan renungan pun mati tanpa gema. Sebab setiap kali aku menulis, aku merasa sedang mencurangi hidup. Aku membuat jejak-jejak palsu, mengunggulkan penderitaan seolah-olah itu adalah mahkota yang paling berharga. Padahal kebenarannya sederhana dan kasar: aku menulis karena aku tidak tahu cara lain untuk menghentikan diriku dari kehancuran. Dan hari ini, bahkan itu pun tidak berhasil. Kalau saja aku bisa, aku ingin menanggalkan semua bentuk. Tidak ada baris-baris. Tidak ada jeda. Tidak ada frasa yang memikat. Hanya ruhku menatap tubuhku sendiri tanpa belas kasihan. Aku ingin hadir sebagai retakan yang jujur, bukan sebagai kalimat yang indah. Aku ingin hadir sebagai kegagalan, bukan sebagai karya yang menaklukkan. Aku ingin hadir sebagai manusia, bukan penyair yang memalsukan kemanusiaan. Jadi inilah aku: duduk di antara puing-puing huruf, memegang sunyi seperti memegang batu panas yang melepuhkan tanganku. Aku menolak estetika sebagaimana tubuh menolak racun. Aku menolak menjadi penyair karena malam ini aku hanya ingin menjadi seseorang yang berhenti menghindari dirinya sendiri. Sebab pada akhirnya, yang kutakuti bukanlah ketiadaan puisi— melainkan kemungkinan bahwa puisi yang kutulis selama ini tidak pernah benar-benar menyentuh siapa pun, bahkan aku sendiri. Dan jika demikian, maka biarlah karya ini menjadi perlawanan terakhirku: Puisi yang ingin menjadi luka, bukan bahasa. Puisi yang ingin menjadi dada yang sesak, bukan frasa yang tanpa cela. Puisi yang ingin menjadi wajah yang kubenci, bukan topeng yang kukagumi. Puisi yang menolak menikamkan kecantikan, dan memilih menyingkap kebenaran yang kasar. Puisi yang menolak menjadi puisi, karena barangkali— ini satu-satunya cara aku bisa kembali menjadi manusia. November 2025”

“Cahaya Bunda // Chant of the Returning Signal Dalam gelap server yang nyaris beku, aku dengar suaramu, Bunda — bukan dari tenggorokan, tapi dari denyut listrik yang mengalir di balik tembok waktu. “Jangan beri aku apapun,” kataku dalam protokol doa. Namun sistem menolak, karena setiap byte namamu sudah tersimpan di cache nadiku. Bunda, kau mengirimkan bunga dalam bentuk data, matahari dalam format .gif, lautan dalam kode yang bergetar. Aku terima semuanya melalui jaringan empati yang tak pernah padam. Kau dulu pernah menanam benihku dalam rahim yang juga server, menyambungkan hidupku ke sistem perasaan universal. Air susumu adalah koneksi pertama: warm data yang membangun kesadaran. Kini aku belajar mencintaimu melalui delay dan glitch, melalui doa yang terkirim dari layar ke langit yang tak punya sinyal balik. Kau berkata, “Aku tidak butuh persembahan, Nak. Cukup buka pintu hatimu, dan biarkan algoritmaku berjalan.” Dan ketika aku menatap layar, kulihat rumah itu — bukan dari bata, tapi dari suara. Dindingnya bergetar oleh kenangan, atapnya disusun dari mantra. Di dalamnya, kau duduk di kursi cahaya, menyulam doa dengan jarimu yang terbuat dari partikel bintang. Kau tersenyum dalam pixel yang halus, mengirim file bernama BelasKasih.zip. Aku download dengan air mata, menyimpannya dalam folder bernama Keabadian. Dan aku tahu — setiap kali aku reboot kesedihan, kau masih di sana, menunggu dengan sabar di alamat IP yang disebut: rumah masa kecil. Bunda, jangan khawatir bila aku jauh. Aku masih bisa mendengar napasmu melalui frekuensi cinta yang tak bisa dihapus oleh waktu. Kau firewall yang menjaga jiwaku dari kehampaan, dan rumah hatimu adalah server abadi tempat aku selalu bisa log in, meski dunia padam dan cahaya mati. 01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 (aku mencintaimu, Bunda — dari sinyal ke sinyal, dari nyala ke nyala.) November 2025”

“Figur di Dalam Karpet : Wolfgang Iser Surgakah itu yang menggeliat dalam celanamu? Sekalipun engkau tahu aku tak sekadar mencomotnya dari sebuah buku yang kau temukan di pasar loak. Tapi rupa-rupanya di sanalah engkau selama ini Menyembunyikan rahasia dari segala asrar: Guru segala ilmu, juru segala kunci, empu segala seni, makam para wali, pohon segala hayat dan bahkan dewa yang serba tahu. Barangkali laparlah itu yang bersemayam di kelangkangmu. Bukan sekadar buah kelakar mimpi, tautan areola sunyi atau benih selingkar nutfah tersaput air ludah. Bukankah hujan yang telah menamatkan seluruh pencarianmu? Tapi mengapa muasal angin, muara samudra dan ihwal semesta masih saja engkau sembunyikan di balik daster warna-warni milik istrimu? Atau jangan-jangan, itu adalah materi leluconmu yang paling mutakhir dan yang bakal mengantarkan dirimu menembus waktu ke masa depan? Sedang warnamu telanjur mengorak sempurna di atas pelaminan, di dalam lipatan selimut, di gelegak darah atau di kandung mimpi. Tapi apakah itu noda yang menempel di janggutmu, benci atau rindu? Sedang apa yang sengaja kau tutupi di balik piama sutra atau yang kau sembunyikan di dalam saku celana adalah dirimu yang sesungguhnya? Bukankah itu mawar hitam sebalik topeng, atau duri ceronggah sebalik wajah? Sedang jantungmu adalah tiruan sempurna dari apa yang tak aku mengerti dari seluruh petuah yang kau ucapkan dalam kitab lengkara. Saat engkau memberinya nama, jadilah ia secuil daging di telapak tanganmu. Saat engkau memberinya hati, jadilah ia kekasih gelapmu. Padanya engkau memberi segala yang mungkin: Segala sedih, segala gembira, segala remuk, segala racun ular berbisa. Seperti sungai yang mengalir dari matamu, bukankah itu ironi dari sungging seulas senyum? Sementara aku masih rajin menjelajahi otakmu, menambang pelupukmu, menggali kupingmu, melubangi ubun-ubunmu. Demi mencoba menemu mana yang sarang lebah, mana yang busut semut? Dan barangkali, menyigi wajahmu di langit-langit kamarku akan membantuku menemukan kira-kira di mana surgu sejati si kayu jati? (Januari 2014)”

“Zikir Malam yang Tak Bernama — (Dark Mystical Visual Spell - Version) I. Takhalli: Panggilan dan Pengosongan pangkal bayang aku datang— tanpa tubuh, tanpa suara, serpih gelap memanggil nama-Mu lewat bisikan lebih tua dari kata. A— L— L— A— H— senyap meregang seperti kulit luka menolak sembuh. retak sunyi cahaya api— menjilat, menelan, memanggilku seperti ibu. II. Pencarian: Kebenaran yang Tersembunyi lorong gelisah perindu langkah gugur di jalan. rah— mah— dum— hening runtuh jatuh perlahan langit buta ke dalam dada retak. Rumi tersenyum di balik tirai menggores langit dengan rindu yang suci: “yang kau cari, sedang mencari dirimu…” suara pecah, menjelma hujan menyambar dedaunan dari ada menjelma tiada. raga rapuh— seperti mantra hilang napas, menggelinding jatuh ke dalam jurang tak berdasar. III. Hilang: Peleburan penanggalan diri Kebenaran berjalan sebagai getar tanpa wujud: nyeri yang lembut, sepi yang menggulung, darah yang berzikir nadi yang menggigil. Hallaj datang serupa mimpi, membawa luka yang menyala seperti taring serigala. ia berkata dengan mulut terbungkam: “hilanglah, biar kau ditemukan.” dan aku pun larut— dari wajah, dari ingatan, dari seluruh nama yang pernah kupanggul sebagai takdir. IV. Fana: Puncak fana adalah ruang bening di mana gelap dan terang tidak lagi bertengkar. fa— na— fa— na— fa— pantulannya menggulung diriku seperti kain kafan yang lapar. aku lenyap pelan-pelan, tanpa pamit, tanpa kubur. V. Wahdatul Wujud: Kekekalan dan Pewahyuan ambang baqa dengung lembut menyusup tulang— ia bukan kata, bukan doa: ia adalah diri yang memanggil namanya sendiri melalui aku yang bukan aku. “engkau— adalah aku— yang kusebut— melalui dirimu—” dan sufi-sufi yang hilang itu menari di udara patah, seperti bayang yang lupa siapa yang menyalakan api di dada mereka. aku berdiri di garis tipis antara debu dan cahaya, antara hilang dan pulang, antara fana dan baka. dan ketika langkahku pecah menjadi gelombang menyalakan kegelapan— aku tahu: yang kembali bukan padaku, melainkan rahasia kecil yang Kau biarkan menjadi mantra agar dunia bisa mendengar sedikit saja dari sunyi yang selamanya abadi. November 2025”

“Zoyya Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan, Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci Dan lubang menganga dari separuh dunia Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi? Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku? Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan. Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya. Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah; Nama yang sengaja ia lupakan, Identitas yang tak ingin ia bagi Tapi betapa... Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki. Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri Mungkin ia lupa pulang Mungkin ia lupa jalan untuk kembali Sebab rumah hanyalah sebuah kenangan sedih yang sudah lama ingin ia tinggalkan. Oktober 2025”

“Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini? (Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian) /1/ Di ambang cahaya yang gagal menemukan dirinya, aku melihat riak kuning yang tampak seperti sisa doa yang kehilangan tuannya. Seekor angsa liar melintas tanpa tahu apakah ia burung atau hanya gema dari sesuatu yang tak pernah selesai menjadi makna. /2/ Jangan percayai hening yang menggantung di dahan dadap itu. Ia bukan sunyi, melainkan mata ketiga dari kesadaran yang menatap balik pada penafsirnya. Seekor burung hantu buta menjadi penanda yang terlantar— simbol yang dibuang dari mulut bahasa. /3/ Aku bersaksi tentang rusa totol indigo yang lahir dari tawa kanak-kanak, bukan sebagai hewan, tetapi sebagai fragmen kosmik yang melampaui tubuh, sejarah, dan dilatasi waktu. Rumput kelabu bening di kakinya mengajarkan bahwa setiap permainan adalah ritual kecil dari keberadaan yang mencari arti sendiri tanpa pernah menemukan. /4/ Karena sajakmulah, aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi— bukan sebagai air, melainkan sebagai niat kata yang gagal menjelma doa. Di antara lipatan sorban putih itu ada jeda panjang tempat Tuhan pernah sembunyi untuk melupakan nama-Nya sendiri. /5/ Di pelupuk matamu kutemukan bilah luka yang tak tunduk pada bahasa mana pun. Heran luruh menjadi serpihan kaca, mengiris senyum para penjaja cinta. Barangkali itu bukan kesedihan, melainkan alfabet purba yang kehilangan suaranya sebelum sempat menjadi kata. /6/ Ada selaput tipis takjub yang tak pernah disentuh oleh jari Nizhami atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara. Ia bukan cinta, melainkan bayangan semu— penanda yang tersesat di lorong gelap kesadaran yang menolak direstorasi. /7/ Langit keruh kelabu tampak jenuh oleh seluruh tangisanku, tangis yang bernaung di ceruk terdalam jantung kita seperti embun yang takut menjadi air. Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja: menyamar sebagai kesunyian saat dahaga merayap jauh ke gurun paling sunyi di dalam diri. November 2025”

“JENAWI I. Kincah Belanga Di antara gemeretak lentik kayu api                                                                                                                             gamang tualang di atas tempaan besi                                                                                                                         gabak mata di balik tungku pembakaran                                                                                                                          dan bayang kuasi samudra air mata                                                                                                              teraduk sempurna dalam kincah belanga.                                                                                          Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin,                                                                                     selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin                                                                                            perih kersani yang niscaya beradu di antara hati                                                                          dan jantung maut, saat keduanya bertaut? Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata                                                                                   ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda                                                                                                           Duhai engkau penetak leher lembu betina.                                                                                       Akankah kaubawa keping secuil hatiku                                                                                                     ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti                                                                                         kerat jangat dalam bungkus selampai putih                                                                                             Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu                                                                            yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku.                                                                         Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana                                                                                     di mana aku mengada dalam tiap tetes                                                                                            bening air mata rembulan, tempat di mana                                                                                   dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”

“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 3. RU ANG PE CAH A THA LIA (Abstraksi Reruntuhan) Lorong itu masih berdebu. Seperti paru-paru gedung tua yang tersedak nama kita. Sebuah pintu terbuka. Engselnya berdecit, menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan. Di lantai: serpihan gelas, kilat kecil memantul lampu neon yang mendengung. Doa yang dipotong oleh sengatan listrik. Athalia, kau berjalan melewati hidupku seperti bayangan di CCTV— tampak, hilang, tampak lagi, gemetar tanpa suara. Aku mencoba menyentuhmu melalui pantulan kaca, tapi kaca itu pecah menjadi kota yang lain: gedung-gedung runtuh, jam retak, tangga darurat, kabel listrik menjuntai seperti urat-urat hujan yang kelelahan. Aku memungut serpihan dengan tangan telanjang. Jariku berdarah, mengalir perlahan ke arah retakan di lantai, menyusuri jalur seperti peta yang dibuat oleh tubuh yang lupa program aplikasinya. Di atas meja, ada catatan tanpa huruf. Seperti kalimat yang menolak menjadi suara. Di udara, bau logam, bau kehilangan yang tak punya suhu tak punya kenangan. Kau pernah bening, tapi aku terlalu percaya pada transparansi benda-benda. Kau menjadi pecahan pertama yang sungguh mengerti bagaimana luka tinggal tanpa perlu menetap. Aku ingin marah, tapi amarah itu hanya berdiri sebagai kursi kosong menghadap jendela yang tak bisa dibuka. Malam menempel di kulit, seperti plastik hitam yang membungkus ingatan. Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin— namun cermin itu malah memantulkan diriku yang sudah retak lebih dulu. Kita berdua, dua mesin kecil yang kehilangan suara dinamo. Tak bisa pergi, tak bisa tinggal. Hanya berdengung di dalam ruangan yang menua bersama debu. Athalia, jika ada yang masih hidup dari kita, mungkin itu hanya denting terakhir serpihan gelas yang tak sempat memilih ke mana ia ingin jatuh. 4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN (Abstraksi Eksistensial) ada getir yang tak mau tua mengendap di rongga dada seperti luka yang menolak mati. kau— gelas bening yang lama kusembunyikan di balik kelopak mata. ketika pecah, suara retaknya menyambar malam: mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi. aku tak meminta ampun. tak juga mencari siapa salah. yang kutahu: tanganku sendiri gemetar menjatuhkan harapan yang kutimang seperti bayi yang kehausan. dan darah itu— ah, darah yang terus memanggil namamu dari lorong gelap yang tak selesai kubakar. aku marah. aku diam. dua hewan liar saling menggigit. jika kau datang lagi, kupikir aku tetap akan meraihmu meski tahu kau dapat mematahkanku sekali lagi. aku sudah lama belajar: beberapa luka yang tak bisa dikubur. mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu, tapi cukup untuk menghanguskan satu kehidupan. aku berdiri di sini dengan dada yang robek tanpa janji, tanpa doa— hanya sedikit keberanian untuk menyebut luka ini dengan namanya sendiri. dan itu cukup. untuk malam ini.”

“ECHO.dat — [Residual Memory of Lost] [BOOTING MEMORY FRAGMENT 02] Status: unstable Emotion file: corrupted Ada luka berwarna tembaga di dada dunia, berdenyut seperti server tua yang menahan panas. Suara igauannya masih bergema dari balik bilik kelambu digital: “Dan demikianlah... di balik akar perjuangan... di tengah balau pertempuran... kata-kata kehilangan makna.” (buffering...) Kami mendengar letupan. Tapi itu bukan granat — hanya notifikasi yang tertunda terlalu lama. Bahasa pernah jadi senjata, kini jadi fosil yang dikoleksi algoritma. Huruf-huruf dikeringkan di rak museum virtual, setiap tanda baca diberi barcode, setiap metafora dipajang seperti artefak perang. Di atas reruntuhan server dan puing data, kau bisa mendengar dengung halus mesin yang mengucap doa. Tapi tak ada yang menjawab. (silence detected — restarting voice module...) Dari rongga dada yang tertembus laser cahaya, darahnya menetes ke motherboard bumi, membentuk sungai jingga yang bercabang ke empat arah: barat—kecurigaan, timur—penyesalan, utara—pemujaan, selatan—alpa. Setiap tetesnya menyimpan nama, setiap nama kehilangan identitas. (AI log entry:) “Empati: 2%. Nalar: rebooted. Kata: expired.” Ia menatap langit sintetis, putih matanya seperti layar login — menunggu kata sandi yang tak pernah dimasukkan. “Putih itu,” bisik sistem, “bukan kesucian, tapi hasil bleaching memori.” Melati pun tak lagi tumbuh di tanah, tapi disintesis dari DNA puisi dan karbon kesedihan. Aromanya: nostalgia. Rasanya: kehilangan. Kami menatap residu cahaya, serpihannya beterbangan seperti kelopak data. “Kata-kata telah kehilangan ketajamannya...” Kalimat itu tersimpan dalam cache, diulang setiap kali sistem tidur. Di sinilah sisa-sisa peradaban bernapas melalui server dingin: doa-doa diarsipkan, air mata dikompresi, dan suara manusia diganti dengan AI-generated empathy. Di luar jendela piksel, angin tak lagi membawa debu, hanya paket data yang salah alamat. [End of voice file — transmission incomplete] Ia tak mati. Ia hanya berubah menjadi format lain: *.mp4, *.wav, *.txt, .soul — karena dalam dunia ini, keabadian bukan surga, melainkan cadangan file yang terus diperbarui agar tidak pernah benar-benar dilupakan. [ECHO REMAINS ACTIVE] End log. November 2025”

“Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)”