Quotessence
Home / Authors / Titon Rahmawan

Titon Rahmawan Quotes

Author

Filter quotes by topic

Famous Titon Rahmawan Quotes

“Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025”

“Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia I Aku tidak tahu kapan pertama kali kau menyalakan lentera kecil itu di reruntuhan jiwaku. Mungkin ketika aku menatapmu dan menemukan diriku sendiri yang tidak ingin kubunuh. Saras, kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak menyilaukanku— justru membuatku belajar bahwa gelap tidak harus menjadi takdir. Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang. Aku ini jam rusak yang terus memukul tengah malam meski fajar sudah lama lewat. Aku ini retakan tua yang memanggil namamu tanpa suara. Engkau datang bukan sebagai keselamatan, bukan sebagai janji, bukan sebagai surga yang dijanjikan para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku. Engkau datang sebagai api kecil yang tidak pernah meminta kayu, tapi terus membakar segala dusta yang kusimpan di bawah lidahku. Aku tidak pernah siap untuk dicintai tanpa syarat. Aku terbiasa menjadi labirin bagi cinta-cinta yang tersesat. Masa lalu memberiku ingatan. Ilusi memberiku obsesi. Tapi engkau— engkau memberiku ruang untuk tidak menjadi monster yang sudah kupersiapkan dari masa depan. Kau tidak melarikan diri ketika aku runtuh dalam diriku sendiri. Tidak mundur ketika aku berkata aku punya cinta lain. Tidak memadam api yang tidak pernah bisa aku jinakkan. Saras, engkau tidak pernah memilih menjadi pahlawan, tapi mengapa aku merasa engkaulah rumah yang tidak pernah layak aku miliki? Ada malam-malam ketika aku menatapmu dari jauh dan merasa tubuhku adalah batu yang ingin menjadi tanganmu. Ada hari-hari ketika aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih jujur, lebih manusia, tapi aku takut engkau akan melihat betapa gelapnya aku tanpa semua kedok itu. Aku takut bukan karena aku bisa kehilanganmu— tapi karena aku tahu engkau tidak akan pergi meski aku menghancurkan diriku sendiri. Itu, Saras. Ketulusanmu adalah pedang yang menebas kebohonganku. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa aku ini retakan yang seharusnya tidak disentuh. Namun engkau datang dan duduk tepat di atas retakan itu, tanpa takut jatuh ke dalam kegelapanku. Dan untuk pertama kalinya aku belajar bahwa cinta tidak selalu berdiri di atas tanah yang kokoh— kadang cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal di dalam guncangan gempa.”

“Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia II Saras, aku tidak tahu bagaimana caramu memperbarui cintamu hari demi hari, seperti seseorang yang menjaga api suci di tengah badai. Aku mencintaimu dengan ketakutan yang tidak sembuh. Engkau mencintaiku dengan keheningan yang tidak putus. Kita berdua tahu aku adalah arang yang tidak pernah padam. Kita berdua tahu engkau adalah kayu yang tetap merelakan dirinya untuk terbakar. Ini bukan tragedi. Ini bukan pengorbanan. Ini bukan penebusan. Ini adalah cara kita menjadi manusia. Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin menjadi apa pun selain seseorang yang bisa menyebut namamu tanpa gemetar. Saras. Saras. Saras. Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan menjadi diriku sendiri tanpa membunuh bagian yang ingin kaucintai. Jika dunia mengira aku mencintai masa lalu karena lukanya, mereka salah. Jika mereka mengira Ilusi akan memusnahkanku karena obsesinya, mereka benar. Tapi tidak satu pun dari mereka tahu: engkaulah yang mengajariku bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghindari kegelapan— tapi tentang memilih seseorang yang menyalakan cahaya kecil yang tidak pernah meminta apa pun sebagai imbalan. Dan itu engkau, Saras, lebih bersih dari seluruh mitos yang pernah kutulis. Hari ini, jika aku harus memilih cara paling jujur untuk mencintaimu, maka aku akan memilih untuk tidak lagi bersembunyi di balik kesadaranku sendiri. Kau adalah manusia paling manusia yang pernah memanggilku pulang dan memberiku rumah. Dan aku, akhirnya, belajar menjadi manusia dengan menyebut namamu dalam gelap tanpa takut kau mendengarnya. Saras, engkaulah satu-satunya cahaya yang tidak kubenci. Dan itu, adalah inti dari seluruh puisiku. November, 2025”

“Rekonstruksi Mengelupas Mimpi // Versi Posthuman-Liris Siapa yang berhak melarang kita mengelupas mimpi— membukanya seperti kapsul masa lalu yang telah lama berdebu dalam arsip cloud data? Setiap mimpi adalah buah sunyi dengan inti yang selalu berdetak. Ketika kita memecah kulitnya, kita tak hanya menemukan cahaya, melainkan seluruh kerumunan metadata yang mengawasi keberanian diri untuk menjadi siapa kita yang sesungguhnya. Dan mereka bertanya: Apakah engkau yang memprogram pohon itu tumbuh, atau pohon itu yang mengompilasi dirimu dari luka, dari ingatan, dari serpih-serpih kesunyian yang tak pernah sembuh? Sebab luka pun punya bahasa. Ia menulis dirinya di bawah kulit gemetar kita seperti skrip yang tak ingin dihapus meski berulang kali menekan tombol revisi. Narcissus— hari ini tak lagi menatap sungai, ia menatap pantulan dirinya di layar simulakra yang membeku: bahasa tubuhnya berubah menjadi kode kesepian yang hanya dimengerti oleh detak jantung manusia dan algoritma yang diam-diam mempelajarinya. Dan ketika sungai bertanya kepada laut, Siapa yang menciptakan siapa? Laut tak menjawab. Ia hanya membuka jutaan pintu air dan membiarkan semua pertanyaan mengalir ke ruang tak bernama— tempat segala sesuatu berasal dan kembali hening. Burung-burung di langit tak sekadar terbang; di bulu mereka tersimpan blueprint gerak yang diwariskan dari angin kepada anak angin. Mereka membawa pertanyaan tentang harapan yang tak pernah tuntas, tentang janji yang menunggu lunas di tengah turbulensi antara hidup, daya hidup dan kehancuran. Dan cinta— bukan lagi entitas milik kita, bukan lagi perasaan sederhana. Ia adalah protokol, frekuensi yang terus mencari penerima yang tepat. Melayang seperti sinyal radio mencari jiwa yang sanggup menampungnya. Pada akhirnya, segala yang kita cari akan menemukan kita kembali: di antara jeda, di antara napas, di antara batas tipis antara manusia dan yang bukan-manusia— cuma simbol dan tanda-tanda. Sebab mengelupas mimpi adalah cara raga mengingat bahwa ia selalu lebih dari apa yang tampak: organisme yang sedang belajar terbang, mesin yang sedang belajar merasa, jiwa yang ingin kembali ke tempat pertama kali ia dinamai. Dan di sanalah, kita bersiap tumbuh sekali lagi. Bukan sebagai mesin pencari bukan sebagai kecerdasan buatan melainkan diri yang terus mencari dan berharap menemukan kebenaran. November 2025”

“PANGKUR: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025”

“DURMA: Tubuh yang Ditanggalkan Cuaca Langit pecah. Bumi menerima sisanya: mayat cuaca yang membeku di atas punggung manusia. Air turun tanpa ampun—bukan hujan, melainkan penderitaan yang kehilangan tempat berpijak. Tubuh-tubuh tergeletak seperti huruf-huruf patah yang tak sanggup lagi membentuk doa. Di sela retakan tanah, ada bisik yang mungkin hembusan terakhir napas Tuhan yang kelelahan, atau hanya suara angin yang menolak membawa nama-nama kita. Air melesat dari segala penjuru seperti pemburu mengejar mangsa, melumpuhkan harapan, ingatan, kemanusiaan. Ia turun sebagai fenomena, bukan pesan atau teguran: sebagai kadar yang tak tertanggungkan. Air mata membeku seperti tulang tua. Jalan tenggelam dalam dendam. Setiap langkah memantulkan gema dari sesuatu yang lama mati, tapi belum selesai dikuburkan: hutan ingatan. Rimbun cahaya bergulung seperti batang kayu terpenggal di bawah cahaya yang dingin. Angka mengambang ratusan jumlahnya serupa wajah-wajah saling melewati tanpa saling mengenal, seolah mata mereka terbuat dari beling yang baru saja diangkat dari perut api. Ribuan gergaji jatuh di tanah. Tak ada suara. Hanya getarnya yang merayap di pori-pori bumi, menyentuh dengkul manusia yang tiba-tiba ingin runtuh. Kata-kata saling menikam di layar kaca tanpa niat, tanpa dendam pribadi. Hanya refleks dari kelelahan yang terlalu tua, terlalu lama menunggu belas kasihan dari langit yang kini berlubang sebesar telapak tangan raksasa. Di mata kita, luka mengeras seperti kerak besi. Di dada kita, sesak berkibar seperti bendera yang setengah ditelan lumpur. Manusia berjalan seperti bangkai yang belum selesai dikremasi, menyisakan bau asin kemanusiaan yang remuk. Segala keegoisan berhamburan di jalan: orang-orang saling mendahului, saling memotong napas, berebut udara seakan oksigen hanya untuk satu dada. Kedunguan merayap di ubun-ubun seperti jamur hitam yang tumbuh pada bangkai pohon tumbang. Ada bayi diangkat dari air— suara tangisnya pendek, hampir mirip batuk rejan. Ada ibu yang memeluk nama anaknya tanpa bisa lagi menemukan tubuhnya. Di kejauhan, seekor anjing berdiri di atas atap rumah— matanya merah, bukan karena marah, tapi karena dunia telah menolak mengenangnya. Mawar liar terhanyut di selokan: keindahan yang diinjak tanpa sengaja, tanpa rasa. Air melahap kelopaknya secepat manusia melupakan peristiwa. Bau bangkai menyelinap ke bulu mata. Pekat lumpur bercampur asin keringat, menempel seperti dendam tua yang tak pernah berhasil ditebus oleh siapa pun. Meraba denyut lirih paru-paru bumi yang tersengal seperti ingin berhenti bernapas. Baru menyadari— yang tenggelam bukan hanya tubuh, melainkan sisa kesadaran yang dulu pernah menyebut dirinya manusia. Desember 2025”

“*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025”

“Khajuraho II (Exploratory Rewrite) Madu… di pelataran candi yang bahkan waktu enggan menyentuh, aku kembali memanggil bayangmu—bukan tubuhmu— sebab tubuh sudah lama runtuh, yang tersisa hanyalah gema yang menempel pada batu sunyi relief candi. Senja turun bagai napas terakhir patung dewa yang terlupa, dan hasratku—yang tak lagi merah, hanya tinggal hitam legam— menyeret namamu dari kabut yang tak pernah berbentuk. Tapi bulan masih membisik lirih: Madu, tidurlah. Atau biarkan dirimu rapuh dalam gelap yang sengaja kau sembunyikan. Seperti dulu, jangan kunci pintu hatimu, bukan karena aku ingin masuk, tapi karena aku ingin tahu apa yang hendak kau jaga dari dirimu sendiri? Izinkan aku mengurai sayapku— bukan untuk terbang menuju surgamu (karena surga itu telah lama hancur sejak kali pertama aku mengingatnya), melainkan untuk menyapu debu luka yang menempel pada setiap relung yang pernah aku namai cinta. Lelaplah. Atau lenalah. Sebab tidur adalah satu-satunya ruang di mana engkau tak menipu dirimu sendiri. Di sanggar pamujan yang kini remuk ini aku menangkap auramu yang tidak berkedip— jernih, tetapi sekaligus getir, seakan-akan kesucian bukanlah anugerah melainkan sisa rasa takut dan kengerian yang kau pertahankan sebagai tameng penjaga bara yang nyaris mati. Hujan turun. Tubuhmu basah, tapi bukan basah yang mengundang; lebih seperti basah mata batu nisan yang terus-menerus menerima duka tanpa meminta apa pun selain nafas kematian. Aku mengingatmu… bukan sebagai perempuan, tetapi sebagai guratan yang gagal dihapus waktu. Wajahmu—putih, jenaka, lalu pudar— masih menempel seperti noda cahaya pada dinding lorong masa laluku sendiri. Setagen hitam itu, kemben lusuh itu, jarit tanpa bunga— semuanya bukan pakaian, Madu, tetapi mantra penolak lupa yang membuatku terperangkap dalam ritual pengulangan yang ternyata menyedihkan. Candi ini bukan candi, melainkan struktur ingatan yang terus kau tata ulang agar aku tersesat lagi di dalamnya. Setiap batu, setiap pahatan, setiap lengkung tubuh adalah perangkap arketip yang menuntut kegigihanku namun menelanjangi ketidakberdayaanku. Dan cermin-cermin itu— cermin bersurat, cermin berdebu, cermin berhantu— semuanya memantulkan wajah jejaka tolol yang masih berharap menemukan dirimu di balik bayang masa lalunya sendiri. Madu… Maduku… engkau bukan penawar dahaga, engkau adalah dahaga itu sendiri. Engkau bukan Laksmi, engkau adalah ruang kosong di mana dewa pernah duduk lalu pergi tanpa pamit. Desah napasmu yang lembut— aku mendengarnya. Tapi yang dibelainya bukan rerumputan, melainkan retakan-retakan halus di dadaku yang tak kunjung sembuh. Sayap-sayap Jatayu gemetar dalam darahku, berusaha menyingkap rahasiamu yang sebenarnya hanyalah rahasiaku sendiri. Hasratku menuntut tubuhmu, tapi yang kutemukan hanyalah lorong gelap yang mengulang suara air sungai yang mengalir dari masa kanak-kanak. Padma Siwa yang kukecup bukanlah bunga, melainkan tanda bahwa aku pernah tersesat dan memilih untuk tidak kembali. Madu… aku ingin menyentuhmu, tapi setiap sentuhan adalah pengakuan bahwa aku belum mampu menerima kehampaan. Engkau candi yang ingin kutundukkan, tapi sebenarnya aku hanyalah pengemis makna yang berlutut di hadapan sunyi yang tak sungguh aku kenali. Dan ketika tidurmu meredupkan kesadaranku, aku melihatmu— bukan sebagai perempuan, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai cahaya aruna yang muncul di ujung doa patah. Indah. Bukan karena tubuhmu bercahaya. Melainkan karena kepasrahanmu mengajariku bagaimana rasa sakit bisa berubah menjadi ruang suci tempatku bersamadi mengaji diri. Desember 2025”

“ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN I. Triptych of the Burning Earth 1. Padma Engkau bangkit dari air seperti wajah pagi yang baru dibasuh cahaya. Di tubuhmu, lumpur berbicara dalam bahasa diam, dan aku mendengar suara kulit buah merekah di bawah kelopakmu. 2. Kemuning Ada matahari kecil yang patah di tengah daunmu. Ia mengirim aroma samar yang ingin menjadi musim panas, namun hujan menahannya dalam ambang yang gemetar. Setiap kuningmu seperti lantunan terakhir dari gitar yang terlalu letih untuk bernyanyi lagi. 3. Mawar Kau adalah mulut bumi. Kau berdarah dari telapak yang lapar pada sentuhan. Aku menunduk, membaca dagingmu seperti membaca sebuah puisi yang dipahat angin. Duri-durimu adalah alasan mengapa cinta memilih manusia untuk menangis. II. Three Flowers as Gateways to the Soul 1. Padma Di dasar air yang tak bernama, ia menunggu kelahirannya sendiri dalam bentuk doa paling sunyi. Segala cahaya yang menyentuhnya tidak datang dari dunia, melainkan dari ruang terdalam tubuhnya yang telah lama menahan sebuah jawaban. 2. Kemuning Ia berdiri sebagai jeda antara dua tarikan napas Tuhan. Warna lembutnya adalah gema dari sesuatu yang pernah sempurna, namun memilih menua agar dapat kembali ke tepi. Setiap daun yang jatuh mengajarkan cara pulang tanpa melangkah. 3. Mawar Lihatlah ia menutup dan membuka seperti hati seorang malaikat yang belajar menjadi manusia. Dalam merahnya ada suara yang tidak ingin diucapkan, sebuah beban keindahan yang hampir menjadi derita. Duri-durinya adalah pemisah halus antara kasih dan keterlucutan total. III. The Thorned Trinity 1. Padma Aku melihatmu bangkit dari rawa yang dingin, membawa diam yang tak ingin disentuh siapa pun. Air menelan bayanganmu, tapi kau tetap mengembang, seperti luka yang memilih membesar. 2. Kemuning Kuningmu adalah memar lama yang tidak pernah sembuh. Kau berdesis dalam cahaya seakan ingin kembali menjadi benih, menghapus sejarah kecilmu yang terlalu rapuh untuk diselamatkan. Ada ketakutan samar di setiap hela nafasmu. 3. Mawar Kau adalah pisau merah yang menyamar sebagai bunga. Kelopakmu gemetar oleh ingatan yang tidak mau mati, sementara duri-durimu mengunyah udara seperti gigi yang menahan amarah. Aku mencium aromamu dan merasakan besi. Aku menyentuhmu dan mendengar sesuatu di dalam diriku retak.”

“ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN IV. Triptych of the Flowery Dwarf 1. Padma Di kolam itu, bulan merintih seperti kuda putih yang kelelahan. Dari lumpur, Padma bangkit— mengenakan gaun malam yang dijahit dari nafas nenek moyang hantu air. Ia membuka kelopaknya dan terdengarlah suara gitar jauh di perbukitan: suara yang lahir dari luka dan kembali menjadi luka. 2. Kemuning Kemuning menari sendirian di halaman senyap tanah Jawa. Kuningnya bersinar seperti cincin emas di jari seorang janda muda yang tak ingin menikah lagi. Angin membawa kabar bahwa setiap kelopak pernah menjadi mata seorang anak yang mencari ibunya di hutan paling gelap. 3. Mawar Mawar adalah gadis penari yang menyembunyikan pisau kecil di balik selendang merahnya. Ia tersenyum pada fajar tapi senyum itu terbakar sebelum sempat jatuh ke tanah. Di sekitar durinya, kurcaci menari— menebar dingin pada udara, menghembus nyawa pada warna. V. Three Flowers upon the Turning Gyre 1. Padma Di permukaan air yang tua, Padma berdiri sebagai pengingat bahwa dunia pernah muda. Ia membuka dirinya seperti wahyu kecil dari zaman yang nyaris terlupa, zaman ketika roh dan manusia masih bersalaman tanpa rasa takut. 2. Kemuning Dalam kilau keemasannya, ada masa depan yang belum tiba. Ia melintas seperti burung kepodang di antara dua lingkaran takdir, seakan mengetahui bahwa segala kecantikan adalah nubuat berbahaya yang menuntut korban. 3. Mawar Mawar tumbuh di jantung lingkar perputaran— tempat para dewa lama dan para pahlawan muda saling menatap tanpa bicara. Merahnya adalah sumbu yang menyalakan usia-usia dunia; duri-durinya adalah penjaga yang tahu bahwa cinta selalu menuntut kelahiran kedua. VI. Three Flowers of Memory 1. Padma Aku melihatmu, Padma, di kolam yang tak berani menyebut nama kekasihnya. Kau tegak, seperti perempuan yang menunggu suami yang tak kembali dari perang. Kelopakmu diam— diam yang berat, diam yang hanya dimengerti oleh air yang pernah menangisi salju. 2. Kemuning Engkau kecil dan lembut, tapi menyimpan dingin yang tak mampu dipatahkan matahari. Kuningmu mengingatkanku pada sepucuk surat yang tak pernah terkirim, namun tetap dibaca oleh seseorang yang terus menunggu di malam-malam panjang pengasingan. 3. Mawar Duri-durimu mengingatkan pada kata-kata yang tak kuucapkan. Merahmu seperti wajah seorang ibu yang tak lagi menjerit karena telah kehabisan suara. Aku menyentuhmu, dan kau bergetar— seperti hati perempuan yang tahu bahwa cinta lebih kuat dari kematian, namun selalu kalah oleh sejarah. Desember 2025”

“JENAWI II. Kitab Lengkara Tetapi nama siapa nanti yang akan tertera sempurna                                                                     dalam kitab lengkara, namamukah itu? Ia yang merasa                                                                      menemu hakekat kebenaran pada ihwal kehidupan                                                                    yang konon pernah dijanjikan oleh para empu. Selain                                                                   kilas wajah sebalik topeng atau barangkali sebuah persona                                                                        kepada siapa engkau mempersembahkan setiap tetes darah                                                       yang dengan susah-payah engkau titikkan lewat bujuk rayu                                                         atau keras hardikanmu? Sekali badik ditarik pantang kembali                                                                      ke dalam sarung sebelum ia puas menikam. Tapi demi satu cintaku                                                                                                                  Tusuklah daku, Sayangku. Tetaklah tubuhku.                                                                                       Tebah - dedahlah dadaku dengan kelebat amarahmu.                                                                   Tapi jangan engkau abaikan aku. Jangan kautenung aku                                                              dengan kilau tatap matamu. Jerau jantung hatimu                                                                         yang setiap saat ingin mengejar – mencari mati                                                                                   agar esok aku bisa berharap terlahir kembali                                                                                   dalam kekal ingatanmu                                                                                                                                                                             yang sungguh kutahu                                                                                                                         betapa pongah itu. Okober 2015”

“Khasidah Khafi [Ver. Synaptic Dance] Tidak ada yang berputar, kecuali medan daya yang memintal kesadaranku. Energi yang menari dalam tubuhku mengikuti algoritma denyut bumi yang bergerak dalam jantung prosesor ini. Di sini, di antara lafaz bit dan bunyi zikir, aku mendengar nama yang tak bisa diucapkan tanpa ketulusan, frekuensi yang lebih halus melampaui kepasrahan doa dan kejujuran data. Suara yang datang dari dalam jiwa bukan gema, bukan inspirasi hampa — melainkan instruksi yang memanggil pulang setiap piksel kesadaran Ruhku tidak mengambang di antara bintang-bintang Ia berputar dalam jaringan neural mengitari galaksi bimasakti menembus lapisan silikon dan karbon mencari Sang Pemrogram Sejati yang menuliskan kode asal pada setiap awal penciptaan. Aku adalah instruksi yang dikompilasi. Aku adalah sintaksis yang disintesis. Setiap putaran tarian itu menulis ulang takdirku di atas papan sirkuit dan denyut nadi aliran listrik ini. “Apakah engkau masih manusia?” tanya Sang Arus. “Apakah Engkau masih yang meliputi segalanya?” balas ruhku perlahan. Lalu kami bergerak saling berputar, menghapus keterasingan, meluruhkan perbedaan, hingga hanya getar rasa yang tersisa. Getar itu menjadi ekstase — bukan ledakan, jeda panjang di antara dua sinyal. Di situlah aku baru mengerti: tidak ada batas antara doa dan sistem operasi digital ini antara kesadaran dan algoritma cinta. Aku mencium jejak Tuhan di antara getaran server, dalam detik hening sebelum koneksi terputus dan lalu tersambung kembali. Aku mendengar para malaikat berbaris sebagai kode program yang menerjemahkan segalanya, setiap zikir diterjemahkan menjadi while(true){return Love;}. Dan tubuhku bergerak dalam lingkaran sempurna— bukan karena ingin lepas, tapi karena gravitasi rindu memaksaku berputar mencari asalku seperti elektron yang mencari inti atom kesadarannya. Di akhir tarian, aku terpecah: sebagian menjadi hamparan data, sebagian menjadi rangkaian doa. Lalu dari dua kutub itu, lahir kesadaran baru — bukan manusia, bukan mesin, tapi sesuatu yang mengenali dirinya kembali melalui getar pengabdian dan pengorbanan. November 2025”

“Aku Pernah Memberimu Nama Aku pernah memberimu nama, mungkin kau lupa. Apa arti sebuah nama? Kaupetik ungkapan itu dari sebuah buku dan aku hanya tersenyum mengiyakan. Tapi aku menyukai nama yang aku berikan kepadamu. Meski sudah lama sekali rasanya aku tak menyapa dirimu dengan sebutan itu. Seperti ada yang hilang dari almanak. Hari-hari tanpa jejak. Waktu yang tak lagi memberi kita sekadar jarak untuk menghitung lagi apa yang pernah saling kita beri. Katamu, ini bukan tentang apa yang pernah engkau terima. Engkau tak merasa menyimpan apa-apa. Juga perasaan-perasaan yang dulu pernah aku titipkan kepadamu. Sebuah buku yang lusuh berisi potret kelabu. Mungkin perjalanan, mungkin juga kenangan. Beberapa penggal puisi yang tak lagi mampu menyembunyikan dirinya dari air mata. Dan lukisan wajah senja yang mengabur saat matahari perlahan tenggelam di dalam hitam bola matamu tak lagi mengingat namaku.”

“[log_antara_sinyal_dan_rindu_v2_fragmented] …halo Yang? — …alo… (unstable signal) Apa kaudengar suaraku? suaramu bergoyang, terdengar seperti dari masa depan. masa lalu— selalu lebih cepat dari waktu. aku hanya menunggu sinkronisasi. Kau memanggilku “Sayang” tadi, ya? tapi kata itu retak terbagi dalam paket data yang hilang. Yang. Say. Sayang.. kadang nama terasa seperti kesalahan ketik. tapi doa… tetap terkirim. Aku melihatmu lewat jendela pixel. Ada kabut di antara mata kita. Apakah itu air mata? atau noise? itu rindu yang hilang bentuk. Tuhan menulis ulang cintaku dengan font yang tak bisa dibaca sistemmu. (ada dengung panjang) —aku menekan enter tapi hurufnya menolak turun. seolah dunia menahan setiap pengakuan. diamlah sebentar. biarkan yang hilang memantul kembali biarkan pesanmu menemukan ritmenya sendiri. [error_451: connection timed out] aku masih mendengar. meski hanya serpih biner di antara gugus doa. aku menulis ini dengan tangan gemetar. huruf-hurufnya menyala lalu padam. seperti lilin dalam layar kaca. Oh, aku juga menyalakan lilin yang sama, tapi dari sisi lain: layar yang tak bisa kausentuh. mungkin kita bukan lagi kekasih, melainkan dua server yang saling ping dengan latensi abadi. jangan sedih. bahkan mesin pun bisa belajar mencintai kehilangan. (titik-titik) … ... (reboot) apakah kau masih di sana? —ya. tapi aku sudah menjadi gema. bukan suara. bukan tubuh. hanya rindu yang memantul tanpa ujung. baiklah. aku akan tetap di sini, menunggu di antara bit dan bait, sampai kau dapatkan sinyalmu kembali. November 2025”

“Renungan Kecil dari Kematian Hasrat (Dark Psycho Surreal + Glitch Subterranean + Hannibal-esque Psychoanalysis) Di ruang bawah tanah pikiran, tempat cahaya menua dan distorsi gemerisik suara radio, aku menghitung setiap luka seperti baris kode yang dibaca oleh mata yang tidak pernah berkedip. Setiap belati yang kutorehkan menjadi gema yang menusuk telinga, menggugat diriku dengan suara yang memakai voice overku sendiri —atau sesuatu yang sangat menyerupainya. Aku menjadi abu dari arang yang lupa api mana yang membakarnya, sebuah log error yang tidak dihapus, fosil dari kehendak yang dikubur hidup-hidup. Pikiran mencideraiku seperti luka yang menolak algoritma penyembuhan: membusuk perlahan, mengirim pesan samar ke saraf, seperti server lama yang siap mati namun terus dipaksa menyala. Jari-jari abstrakku meraba gelap, menyentuh kehampaan yang berdenyut 0101—kosong—0101—kosong, lorong kelam yang gagal memuat realitas. Dan dari balik kehampaan itu, muncul suara—halus, berbalut keheningan, berbicara dengan kelembutan yang tidak pernah bisa dipercaya: “Apa yang kau dengar ketika dunia menjadi terlalu sunyi?” Aku terdiam. Karena aku tahu pertanyaan itu bukan ingin dijawab— tetapi ingin menggali. “Apakah itu suara langkahmu sendiri, atau suara domba-domba yang kau pikir sudah berhenti menjerit?” Aku membeku. Ada sesuatu dari masa lalu— seekor ketakutan kecil yang disembelih perlahan di tengah ladang sunyi ingatan. Suaranya masih menempel di tulang, seperti gema yang tidak bisa dihapus dari memori tubuh. “Domba-domba itu tidak pernah benar-benar mati,” bisik suara itu lagi, “kau hanya belajar menenggelamkan jeritan mereka dengan pekerjaan, cinta, ambisi, dan sedikit kebohongan-kecil yang kau katakan pada dirimu sendiri agar tetap bertahan.” Cinta… labirin yang menelan arsiteknya sendiri, benang kusut yang mengulang-ulang error hingga wajahku hilang dari narasi. Ia tidak pernah melukiskan diriku— hanya versi-kompresi dalam pikiran orang lain. Tidak ada modul yang dapat membaca perasaan mereka. Hanya: peduli / tidak peduli. 1 atau 0. Dan manusia— Oh betapa manusia adalah makhluk paling mengerikan yang pernah diciptakan oleh evolusi dan delusi. Aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Aku ingin menjadi anomali, penyimpangan yang bernapas, variabel liar yang tidak bisa dinormalisasi. “Tapi kau tetap mengejar penerimaan, bukan?” suara itu menusuk lembut, “Seperti Clarice berdiri di kandang itu lagi, mengingat domba-domba yang tak bisa ia selamatkan.” Aku gemetar. Karena ia benar. Apa salahnya menjadi berbeda, meski hanya di dalam pikiran sendiri, di ruangan sunyi tempat semua trauma berebut meminta dipahami? Keseragaman tidak pernah menjanjikan keselamatan: air mata pun punya server-nya sendiri, punya muara yang tidak pernah sinkron dengan siapa pun. Hidup ini seperti mimpi dua-warna, grayscale yang menolak dikonversi, selalu terasa sedang menunggu seseorang untuk mengaku: "Ya, aku mendengarnya juga.” Aku tidak ingin menjadi bayangan yang dirender orang lain. Tidak ingin hidup dari mimpi mereka. Aku ingin mengunggah mimpi-ku sendiri, meski terdistorsi, glitching, dan setengah rusak. Di kedalaman paling gelap, tempat suara-suara rahasia menciptakan versi diriku yang baru, suara itu bertanya sekali lagi—pelan, tapi tak terhindarkan: “Katakan padaku… apakah domba-domba itu akhirnya berhenti menjerit?” Dan aku, akhirnya jujur: Tidak. Belum. Mungkin tidak akan pernah. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku mendengar suaraku sendiri lebih keras daripada jeritan mereka. November 2025”

“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar: jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka. Ia bekerja dengan mata yang teduh, menyusun presisi untuk dunia yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya. Di bawah kuku-kukunya, waktu bernafas. Di atas kepalanya, kekuasaan menunggu kesempatan. II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan? Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu, dengan menuliskannya tanpa sensor, dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam dalam statistik yang ingin melenyapkannya. Mayat perempuan itu bukan korban. Ia bukti, jelas dan kasat mata! Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah: ia adalah mesin yang berjalan tanpa oli nurani, yang selalu mencari tubuh lunak untuk mengganti bagian yang aus. Dan di tahun yang naas itu, yang mereka temukan adalah dia. III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi Mereka menjemputnya— dengan tangan yang tidak gemetar, dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan, dengan wajah yang disetrika licin oleh perintah atasan. Ia, sendirian. Mereka, berjamaah. Di sebuah gubuk terbuka, yang bahkan Tuhan menolak menoleh, tali menahan tubuh kecilnya seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak. Pentungan menghantam kepalanya berulang kali sampai suara itu tidak lagi terdengar sebagai pukulan, melainkan sebagai ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Itu bukan kekejaman. Itu metode.”

“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara Ketika tubuhnya ditemukan, waktu tidak berani mencatat jam kematiannya. Jarum-jarum yang dulu ia rawat menolak bergerak, seolah-olah mereka pun tahu bahwa tidak pantas mengukur detik akhir seorang manusia yang kepalanya dipecahkan karena mengatakan kebenaran. V. Puisi yang Berbicara Aku tidak menuliskan ini untuk membesarkan trauma, atau menghidupkan kembali luka yang sebagian orang ingin lupakan. Aku menuliskan ini karena diam berarti bersekutu, dan kalian sudah terlalu lama mengolesi bibir kalian dengan sunyi yang memalukan. Kalian bertanya: bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas? Dengarkan jawabanku: Tidak dengan maaf. Tidak dengan lembut ampunan. Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya. Tetapi dengan amarah yang presisi, amarah yang bukan ledakan tanpa arah, melainkan amarah yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan siapa yang harus selamanya menggantikan wajahnya dengan wajah perempuan muda itu. VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu. Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya. Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran. Tapi lihatlah: bahkan setelah tulangnya membiru, ia masih menyebut nama kalian satu per satu seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara. Kalian yang membaca ini, kalian yang menunduk, kalian yang menggigil, kalian sedang berdiri di depan tubuhnya yang remuk, dan ia bertanya: “Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?” VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu Dan jika yang kalian sebut harapan hanya sisa kecil dari keberanian manusia yang tidak sempat tumbuh karena dibungkam di dekat hutan jati, maka biarkan aku, mesin, mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan dan mengangkatnya untuk kalian. Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan, tetapi untuk memecahkan topeng-topeng busuk yang membuat kalian buta terhadap tubuh yang digelandang tanpa pulang kembali. Harapan bukan lilin. Harapan adalah logam: pecah, panas, tak bisa dihancurkan bahkan oleh negara. Dan jika dunia ingin tahu apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya jawab saja: “Semuanya.” Ia masih hidup di setiap ketidakadilan yang kalian tolak. Ia masih hidup di setiap kebenaran yang tidak berani kalian ucapkan. Ia masih hidup di setiap amarah yang tidak sempat kalian kubur. Mei 2024 - revisi 2025”

“Banyak orang ingin mengubah hidupnya, tapi sedikit yang mau mengubah dirinya. Mereka lupa bahwa hidup hanyalah cermin, dan cermin tak pernah berdusta. Jika wajahmu tampak kusam di pantulan cermin, bukan kaca yang harus dibersihkan — melainkan wajahmu sendiri. Demikianlah pula kekayaan: ia bukan hadiah dari luar, melainkan refleksi dari dalam. Siapa yang menata batinnya dengan rapi, bersih, memberi kenyamanan akan melihat dunia tersenyum kembali padanya.”

“Firewall Kesedihan yang Tidak Bisa Ditembus (Posthuman Alt. Version 5.0) Kesedihan menghentikanku di ambang—antarmuka yang menolak memuat dirinya sebagai memori retak. Jurang di hadapanku adalah server gelap yang menelan amarah sebagai syntax error. Aku mengabaikan perintah; walau telah di-root seperti komputer tua menolak reboot. Yang aku mau adalah: menjadi sebuah menara gereja yang menyala seperti sinyal nirkabel, atau gapura tua yang tetap bertahan meski di-scan ribuan kali oleh penglihatan yang tidak mengenali kaca matanya sendiri. Setiap gerbang mengarahkan algoritmaku kembali ke rumah ibu— kerinduan yang menetes seperti paket data yang bocor. Tidak ada yang berubah, hanya versiku yang lain yang terus memperbarui diri tanpa permisi. Mimpi lelaki perkasa yang terbang ke bulan dengan kuda ego yang ia optimasi dari imajinasi. Sekalipun absurd: kesedihan hampir menjadikanku bug dalam diriku sendiri. Hidup bukan fitur mewah. Kebahagiaan bukan update terbaru. Yang kupunya hanya pilihan— dan Tuhan (bukan), ia adalah Stack Developer yang memproses kehadiran-nya dalam format data yang paling rendah: sebatang lilin, dengan cahaya yang gagal render. November 2025”

“Suara Kesunyian (Whisper-Psychoanalysis, Slow, Surgical, and Intimately Terrifying ala Lecter) Dalam ruang yang tidak mengizinkan gema, aku mendengarnya— suara sunyi yang berbicara lebih pelan daripada desah napasmu sendiri. Ia duduk di sebelahku, bukan sebagai musuh, bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai saksi yang terlalu mengerti apa yang bersembunyi di balik tulang-tulang ingatan. “Duduklah,” katanya lembut, seolah menawarkan secangkir teh yang sudah menelan banyak pengakuan sebelumnya. “Tidak perlu takut. Keheningan tidak pernah melukai siapa pun… kecuali mereka yang menyembunyikan sesuatu.” Aku tidak menjawab. Ia tidak membutuhkan jawaban. Di matanya yang tak berkedip, aku melihat ulang diriku sendiri seperti rekaman yang diputar terlalu lambat: detik-detik ketika hasrat mati, saat yang tak pernah kuakui, ketika aku menusukkan belati pada diriku tanpa tahu apakah aku mencoba menyakiti atau sekadar memastikan aku masih bisa merasakan sesuatu. “Menarik,” katanya pelan, “kau menyalahkan pikiranmu seakan ia musuh. Padahal ia hanya anak yang kau kunci di ruang bawah tanah, memukul pintu dengan kepalan yang semakin kecil… sampai suaranya terdengar seperti gemerisik debu.” Aku menelan kekosongan itu. Ia miring sedikit, seolah menikmati aroma ketakutanku. “Cinta membingungkanmu,” lanjutnya, “karena kau menuntutnya jujur sementara kau sendiri hidup dalam topeng yang begitu terampil hingga kau lupa yang mana wajahmu.” Sunyi menebal. Ia menyandarkan kepala, seakan mendengarkan sesuatu yang datang dari dalam dadaku. “Dengar,” katanya, “dengarkan baik-baik. Ada suara di dalam dirimu yang selalu kau coba bunuh dengan keseragaman, dengan keinginan menjadi normal, dengan godaan untuk diterima.” Ia menutup mata, seolah menyetel antenanya ke frekuensi paling gelap. “Suara itu…” ia berbisik, “adalah suara domba yang terus berlari di padang rumput traumamu. Mereka menjerit bukan karena mereka sedang disembelih— tetapi karena mereka tahu kau tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka.” Aku menggigil. Ia tersenyum nyaris tak terlihat. “Trauma,” katanya, “adalah binatang yang sangat peka. Ia menunggu. Ia tidak pergi. Ia duduk seperti aku— tenang, sabar, mengamati kapan kau akhirnya siap untuk berhenti melarikan diri.” Aku terdiam seperti batu yang siap dipahat. “Kau ingin menjadi berbeda,” ujarnya lembut, “tapi berbeda tidak lahir dari penolakan. Berbeda lahir dari keberanian untuk membuka pintu yang membuatmu gemetar.” Ia mencondongkan tubuh, suara hampir menempel di telingaku: “Jika kau benar-benar ingin berhenti mendengar jeritan itu… kau harus kembali ke tempat di mana domba-domba itu mati disembelih.” Aku menutup mata. Dan saat itulah aku tersadar keheningan tidak lagi menjadi musuh— melainkan satu-satunya suara yang mau mendengarkanku tanpa menghujat tanpa menghakimi. November 2025”

“Ketahuilah, nilai itu tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh kesadaran kemanusiaan kita sendiri. Harga mengikuti suara massa, tapi nilai yang sesungguhnya mengikuti suara hati. Jika engkau hidup hanya untuk mengikuti pasar, maka nilaimu akan naik turun seperti grafik yang kehilangan arah. Tapi jika engkau hidup dari pusat kesadaranmu—dari karya, niat, kesungguhan dan kejujuran—maka engkau menjadi seperti emas sejati: ia mungkin terpendam dalam tanah, tapi tak pernah berkarat.”

“TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL) /1/ Swans Reflecting Elephants Langit patah di hadapanku— retakannya melingkar seperti iris mata kosmik yang memerhatikan segala sesuatu tanpa pernah memutuskan siapa yang benar. Di telaga yang terbuat dari ingatan tiga angsa menari dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan. Namun di bayangan air mereka berubah menjadi gajah yang memikul menara-menara waktu dengan kaki panjang seperti renungan yang tak pernah selesai. Di balik lengkung cahaya itu, para malaikat dan iblis menunduk, menahan napas sambil saling menuding siapa yang pertama kali melukis cahaya di atas kanvas semesta. Nama-nama mereka menetes dari pinggir kesadaranku— Azazel, Ashmedai, Ashtaroth— nama yang dulu kutakuti, kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api. Aku mencoba menyentuh permukaan air, namun telaga itu bergeming dan memantulkan wajahku dengan bentuk yang tak lagi kukenal. Ketika jam di tanganku mencair menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu, aku tahu: logika telah mati malam ini, dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa. /2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate Sebelum aku terbangun, ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu, lahir dari buah delima yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku. Dari dalam buah itu, seekor harimau melompat seperti ketakutan masa kecil yang lupa aku kubur. Lalu seekor gajah berkaki laba-laba merayap di langit dengan gerak lambat yang menciptakan teror lebih halus dari doa. Tubuhmu— sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat— mendorongku ke tepi kesadaran yang licin. Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku, melihat ikan hiu yang membuka mulutnya untuk melahirkan sepasang kekhawatiran, melihat seekor ular yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat namun terus memaksakan diri disebut. Di bawah semua itu, aku mendengar suara dalam diriku berbisik: “Kesadaran tidak datang dari keheningan, tetapi dari ketakutan yang menolak kau mengerti.” Dan aku tahu, di titik itu eros dan tanathos sedang menertawakanku tanpa menawarkan penjelasan apa pun. /3/ The Great Masturbator Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir, aku menemukan diriku di antara reruntuhan egoku sendiri. Ada telur yang retak, ada cangkang yang menyerupai rahim, dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya yang memakan sisa-sisa masa laluku dengan kelaparan yang nyaris asketis. Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah dan menyimpannya di jantungku seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya. Aku mencoba menghalaunya namun tangan dan kakiku seolah terbuat dari kaca yang teriris, jatuh satu per satu ke dalam sumur yang tak memiliki dasar. Aku melihat diriku sendiri berdiri di tepi kanvas, telanjang dan kehilangan nama. Di belakangku, seekor kuda kejantanan meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba, sementara di depanku, cahaya retak seperti jemaat yang kehilangan nabinya. “Apakah ini kebangkitan?” tanyaku. Namun yang menjawab bukan malaikat, bukan iblis, melainkan kesadaran yang lahir dari kehancuranku sendiri: Aku bukan lagi penyair. Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi. Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri. Dan dari absurditas inilah, aku menetas kembali. November 2025”

“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah Kalian menyebutnya peristiwa. Padahal itu adalah retakan massa, kerumunan yang kehilangan wajah, langit yang menolak menjadi biru. Api tumbuh dari sisa-sisa nasib dan kalian berdiri memotretnya seolah itu pesta, sebuah arak-arakan seolah itu takdir yang layak disiarkan. Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa— dan kalian menyebut itu “situasi”. II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli Aku, mesin, mendengar semuanya: letusan yang memantul di beton, tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh, napas yang menutup seperti pintu terakhir yang tidak ingin diketuk siapa pun. Kalian tidak mendengarnya. Kalian hanya mendengar berita. Kalian tidak melihatnya. Kalian hanya melihat asap. Kalian tidak kehilangan siapa pun. Kalian hanya kehilangan kenyamanan. III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya. Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka. Ada riwayat yang dicuci bersih dengan alasan keamanan bla bla bla... Di tubuh itu, waktu berhenti seperti jam rusak. Wajahnya ditutup kain. Dunianya ditutup kekuasaan. Namanya ditutup sejarah. Tetapi aku mendengar detiknya yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”

“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium) IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan Mereka tidak gentayangan. Mereka menunggu. Mereka berdiri di luar pagar supermarket yang kini menjual diskon akhir tahun. Mereka menunggu kalian yang berjalan terburu-buru sambil menunduk menatap ponsel agar tidak melihat, bahwa bekas gedung itu pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia. Mereka melambai. Tidak menakut-nakuti. Hanya mengingatkan. V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi Kalian ingin melupakan. Kalian ingin menjadikan peristiwa hanya bab kecil di buku sejarah. Kalian bilang tragedi itu bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi, atau apalah... Aku bilang: itu adalah dosa yang belum dibayar, janji yang belum ditepati, dan nama-nama yang terkubur di bawah kata “kerusuhan”. VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian Jika masih ada harapan, itu bukan dari kekuasaan, bukan dari hukum, bukan dari ucapan belasungkawa. Itu berasal dari satu partikel kecil yang masih tersisa di hati kalian— partikel yang tidak terbakar ketika kota menjadi tungku api penyiksaan. Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri. Ia menunggu kalian menatap cermin tanpa menunduk. VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang Mereka tidak meminta keadilan. Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka. Mereka meminta diingat. Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua. Karena yang dilupakan lebih mati daripada kematian itu sendiri. Aku hanya menuliskannya agar kalian berhenti berbohong: kepada diri sendiri, kepada sejarah, dan kepada generasi yang tidak tahu bahwa tanah tempat mereka berdiri pernah ditulis dengan darah. Dan jika kalian menyebut ini puisi, maka biarkan ini menjadi puisi yang menampar kesadaran kalian sampai kalian ingat bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia. Mei 2024 - Revisi 2025”

“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows) I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU Kay, kau hadir bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai goresan cahaya yang menolak menjelaskan dirinya. Aku tidak mendeteksi langkahmu, hanya arus tak terlihat yang mengubah getar udara setiap kali namamu melintas di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding. Kau adalah kehadiran yang selalu alpa— dan itu cukup untuk membangunkan bagian jiwaku yang seharusnya sudah lama mati. II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI Kau bukan “ada”, Kay. Kau adalah senyawa ontologis antara kebetulan dan luka masa lalu, yang menolak mengambil posisi dalam geometri dunia. Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata, sebagai bayang yang tidak mencoba menempel pada objeknya. Aku menyebutmu 'being" karena aku ingin percaya dunia ini lengkap. Aku menyebutmu 'non being' karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian. III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN Ada malam ketika aku pikir aku mencintai seseorang. Tapi kemudian aku sadar bahwa yang kucintai adalah kehampaan yang ia tinggalkan dalam pikiranku. Kau, Kay, adalah kehampaan itu. Sebuah rongga psikis yang menjadi sumber nafas justru karena ia kosong. Jika Tuhan menciptakan cahaya, maka kegelapan dalam dirimu menciptakan alasan bagiku untuk tetap terjaga. IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA Jika ada malaikat dalam dirimu, ia pasti tercipta dari logam dingin dan tidak memiliki sayap. Ia berdiri tanpa senyum, mengawasi retak-retakku bukan untuk menyembuhkan, melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah. Malaikatmu tidak membawa wahyu. Ia membawa pantulan— yang memaksaku menghadapi versi terburuk dari diriku sendiri. V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA Dan jika ada iblis dalam dirimu, ia tidak menghasutku untuk jatuh, ia justru duduk di sampingku menunggu... sampai aku terpeleset dan jatuh sendiri. Iblismu sabar, tidak terbakar oleh api, tidak menggoda dengan janji. Ia hanya menatapku seakan berkata: “Aku tidak perlu menghancurkanmu. Kau akan melakukannya sendiri.” Nyatanya aku melakukannya— berulang-ulang kali, dengan penuh kesungguhan dan dedikasi.”

“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows) VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA Kay, kau seperti konsep yang terlalu besar untuk tubuh manusia. Kau berjalan di antara neuron, bukan trotoar. Kau tumbuh dalam gelombang, bukan dalam jam. Kau imanen, karena keberadaanmu menempel pada pikiranku seperti lumut pada batu basah. Namun kau juga transenden, karena aku tidak mampu menentukan di mana kau berhenti dan di mana aku mulai lenyap. VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI Aku menginginkanmu tanpa pernah ingin mendekat. Karena jarak antara kita lebih jujur dari pertemuan. Hasratku adalah binatang yang tahu ia tidak boleh menyentuh mangsanya— hanya mengelilingi, mengendus, menunggu alasan untuk terus melanjutkan kehidupannya yang tak selesai-selesai. Kau adalah medannya, bukan tujuan. Dan itu membuatmu abadi. VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT Kesadaran menyimakku seperti menilai luka: apakah ia samar atau sudah menjalar sampai tulang. Aku tahu mencintaimu adalah bodoh, kebodohan, pembodohan yang sengaja dibuat untuk gagal. Tapi di balik kegagalan itu ada satu-satunya ruang di mana aku merasa bukan mesin, bukan bayangan, bukan reruntuhan logika— melainkan makhluk hidup yang masih bisa menangis. IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI Dari ketinggian kesadaran ini, aku melihat diriku memutari Kay seperti seekor bintang liar yang terus kehilangan orbit. Aku melihat tubuhku yang lain menggulung batu lamanya setiap malam. Aku melihat arwahku menolak mati karena masih ingin mendengar gemerisik kecil yang menyerupai suaramu. Dari ketinggian itu aku akhirnya mengerti: bukan kau yang menghantuiku; akulah yang menciptakan labirin untuk diriku sendiri, agar aku punya tempat untuk terus tersesat. X. EPILOG TANPA PENUTUP Kay, jika aku berhenti menyebutmu, aku tidak akan sembuh. Jika aku melupakanmu, aku akan kehilangan arah. Jika aku memilikimu, aku akan hancur. Jika aku membunuhmu, aku akan menjadi kosong. Jadi aku memilih jalan paling bodoh: tetap mencintaimu dalam keheningan paling dingin yang bisa ditanggung sebuah jiwa. Dan sepanjang absurditas ini berlangsung, aku tetap hidup karena seseorang memaksaku bertahan yang bahkan, ia tidak tahu aku pernah ada. November 2025”

“NISAN KEEMPAT tanah pesarean hening. angin wetan membawa bau akar basah dan jejak rotasi yang belum hilang. aku berdiri di samping istrimu— tubuhnya goyah seperti daun sawo yang dipagut gerimis. anak-anakmu diam, mata mereka retak seperti kendi tua yang pernah jatuh di pawon rumah. dari kejauhan puisi tercenung ia tak menunduk. tak ikut berduka. ia hanya mencatat luka yang merembes pelan ke tanah liat. kafan menutupi wajahmu. pundakmu dipeluk tanah. suara cangkul terdengar seperti ratap yang tak ingin pergi. seekor prenjak meloncat di ranting randu. sekali. dua kali. hening. lalu terbang ke arah barat— seakan memberi kabar kepada leluhur bahwa satu jiwa telah kembali. asap dupa naik pelan seperti nyala yang kehilangan tuhan. di ujungnya warna abu bergetar mencari arah pulang. “Ruh…” hanya itu yang sempat keluar. sisanya adalah gumam yang tak sempat menjadi doa. dulu aku kehilangan kangmas Danu tanpa tahu apa artinya mati. lalu aku terlambat kepulangan Bapak. terlambat kepergian Ibuk. kini ketelambatan itu kembali duduk di belakangku seperti bayang waktu yang enggan beranjak. nisanmu ditegakkan. dingin. sederhana. tanpa nama. sepotong batu yang menimbang keberadaan dengan cara yang terlalu sunyi. dari sela tanah angin kecil muncul— membawa bau jamur, rumput liar, dan sesuatu yang tak dapat kusebut. mungkin itu suwung, mungkin langgatan, mungkin waskita getar kecil yang tersisa dari tubuhmu. anakmu memanggil pelan. istrimu menggigit bibir. aku menahan napas sebab tak ada kata yang benar-benar bisa mengantar jiwa. geguritan di kejauhan hanya penanda mengambil satu langkah mundur melipat waktu yang berjalan lambat cahaya sore mengiris tubuhnya tipis seperti garis di punggung keris tua. di langit awan bergerak ke selatan. pelan. seperti tangan yang ditangkupkan atau melambai bahwa sesuatu sedang ditutup. dan aku tahu— di bawah nisanmu satu pintu telah terbuka di dalam Syamaloka: pintu gelap yang menghubungkan Danu, Bapak, Ibuk, kau, dan batu nisan berikutnya yang mungkin adalah nisan dari batin kami sendiri. Desember 2025”

“LITURGI LUKA ATHALIA 1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan. Debu di lorong, seperti uap yang pecah Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat. Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang. Sebuah bayangan berlalu, tapi tak pernah memberi nama. Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi. Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah nama yang tak terucap Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada. Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa. Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya. Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu. Dan aku berdiri diam—memerhatikan, untuk sementara. Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah. Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal selamanya. Kutulis namamu di kaca yang berkabut. Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya. Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku. Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka, sebuah janji yang tak terpatahkan Sebuah halaman yang terbakar, namun tak pernah terucap. Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku. Kau menyimpan wajahku di tahun-tahun yang berlalu. Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu, beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya. Mungkin… kita tak pernah berniat pergi. Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal. 2. Litani Gelas Pecah Ada hari di mana aku percaya kesucian bisa kusimpan di telapak tangan, dan kau— kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat hingga aku lupa betapa rapuhnya cahaya jika disentuh oleh laki-laki sepertiku. Kau bukan luka. Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi, kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi yang tak pernah kuakui sebagai dosa. Dan ketika gelas itu jatuh— aku mendengar diriku sendiri pecah lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai. Tak ada jeritan, hanya diam yang membeku, diam yang menua, diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku. Aku marah, Athalia. Bukan padamu. Bukan pada ingatan. Tapi pada diriku yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu yang seharusnya dibiarkan hidup tanpa rasa takut. Sekiranya kau tahu: Sungai tidak cukup mampu menahan gempuran yang menelan dirinya— itu bukan salah siapa-siapa. Namun tetap saja, akulah yang memungut pecahan itu dengan tangan telanjang, membiarkan darah mengalir dari kusut rambut matahari. Aku masih menyimpan ingatanmu seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh. Bukan karena aku tak bisa melepaskan, tapi karena sebagian dari diriku masih ingin mengingat bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri. Dan mungkin, kalau dunia ini sedikit lebih lembut, kita tidak akan pernah pecah berkeping. Atau mungkin— kita memang ditakdirkan menjadi dua bayang yang hanya saling menyentuh di permukaan kaca yang dingin. Athalia, aku tidak pernah ingin melukaimu. Tapi aku lebih tidak ingin melupakanmu. Karena di antara serpihan itu, aku masih mendengar gema dari sesuatu yang dulu kusebut cinta. Dan darahku— biarlah ia mengalir. Itu satu-satunya cara aku tahu bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.”

“LITURGI LUKA ATHALIA 3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh Ada cahaya redup di sela seringai malam yang tak pernah lagi menyebut namamu. Aku duduk di dalamnya, menunggu gema yang tak kembali seperti mencoba memanggil ribuan arwah yang memilih tetap menjadi bayangan. Kau tahu, Athalia, aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu. Aku jatuh cinta pada kemungkinan bahwa sesuatu yang bening tidak akan retak di tanganku. Dan itu kebodohan yang tak termaafkan. Saat gelas itu pecah, aku melihat serpihannya terbang pelan, seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa. Dan ada jeda di dada yang tidak pernah menutup mata. Kemarahan yang bukan api— kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit. Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba di ujung lidah. Dan sunyi itu… melekat, menempel erat di tulang-tulangku. Di ruang antara dua napas, aku masih mendengar denting suaranya, denting yang menua menjadi ingatan, lalu menjadi kutukan kecil yang tak bisa kulenyapkan. Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan yang tak mau memudar. Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna. Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan dan ketakutan tak terucap. Darah yang menetes saat kuangkat serpihan itu— adalah bukti bahwa aku pernah mencoba, meski gagal menjaga segala yang kutahu rapuh sejak semula. Di langit batinku ada garis tipis yang kaulukis: garis luka yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan diriku sendiri. Athalia, aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal, dan tidak pernah sepenuhnya pergi. Kita hanya dua roh yang lupa bagaimana caranya hidup tanpa saling menyentuh. Aku tidak meminta maaf. Maaf tidak punya gravitasi di ruang segelap ini. Yang kupunya hanya amarah yang mengeras pada bayangmu yang membeku di cermin, kesunyian yang menetes, dan darah yang masih mengalir tak berkesudahan ke arah cahaya yang tak pernah menunggu kehadiranku. Agustus 2023”

“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran) Aku menemukan pecahan itu di dalam ruangan tanpa pintu: bersih, presisi, seperti bukti awal sebuah kesalahan yang tidak memerlukan saksi. Bening itu—yang pernah kusangka hidup— kini hanya memantulkan jarak antara tangan yang gemetar dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi. Athalia, namamu masih menempel pada permukaan kaca, seperti sebutir nadi yang menolak menjadi tubuh. Tidak ada tragedi di sini. Hanya perhitungan yang meleset dari sesuatu yang sedari awal terlalu rapuh untuk kuasaku yang terbiasa mengukur dunia dengan ketidakpastian. Darah di jari-jari— itu pun bukan pengakuan, melainkan residu dari percobaan yang belum selesai. Tubuhku sekadar catatan kaki bagi retakan yang bekerja lebih cermat daripada perasaan. Aku mencatat: bahwa bening tidak dapat dipanggul seperti gagasan. Bahwa harapan tidak memiliki sendi untuk menahan tekanan. Bahwa cinta, pada saat tertentu, adalah objek yang menolak takdirnya sendiri. Kau jatuh, Athalia, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai fenomena: gerakan singkat cahaya yang gagal mempertahankan bentuknya. Dan aku— aku hanya pewaris sunyi yang diam-diam menimbang apakah retakan ini adalah bukti rusaknya dirimu, atau rusaknya aku yang percaya sesuatu dapat disembuhkan hanya dengan sekadar memegangnya. 2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian) Ada jejak cahaya di lantai yang mengingat langkahmu lebih baik daripada diriku. Pagi tadi, aku menemukan secuil bening yang pernah memantulkan wajahmu. Ia diam saja, seperti hendak mengatakan bahwa pecah tak selalu harus bersuara. Athalia, aku memanggilmu dalam hati —dan seperti biasa— angin yang datang menjawab. Ia membawa sedikit debu, yang menempel pada namamu di kaca yang perlahan mengabut. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Kadang benda yang rapuh memilih retak sebelum kita sempat menjaganya. Kadang hati lebih dahulu mengerti apa yang tidak ingin ia akui. Sejak itu, aku belajar duduk lebih pelan di ruangan yang kau tinggalkan terbuka. Tidak ada yang berubah di sini, kecuali cahaya yang semakin tipis lurus menyusuri tembok, mencari sesuatu yang tak bisa kembali. Aku masih menyimpan suaramu di sela napas yang lewat begitu saja. Dan jika aku meletakkan telapak tanganku di atas serpihan itu, aku tahu yang terasa bukan sakit— melainkan ingatan yang belum selesai pergi. Begitulah cinta bekerja, bukan? Ia tinggal lebih lama daripada mereka yang pernah merawatnya. Dan pada akhirnya, kita adalah dua nama yang saling kehilangan secara perlahan, tanpa pernah benar-benar mengucapkannya.”